NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:240k
Nilai: 4.5
Nama Author: Betti Cahaya

Mariam Musa dan Medina.

Medina mengetahui bahwa jauh di dalam hati Musa masih tersimpan cinta yang besar untuk Mariam. Medina sangat mencintai Musa, dan walau bagaimanapun dia tetaplah seorang istri yang ikut menderita kala melihat suaminya berjuang melupakan cinta pertamanya.
Terlebih setelah takdir mempertemukan mereka dalam situasi yang sulit.
Keihlasan Medina yang harus jatuh bangun mengejar Mariam.
Hanya untuk sebuah pengabdian agar suaminya bahagia.
Medina bodoh, tidak!
Ridho suami dan ridho Allohlah yang dia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Betti Cahaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku hanya berbagi bukan kehilangan

Ikhlas memang tidak mudah, tapi karena aku meminta pertolongan hanya kepada Alloh dan Alloh telah menolongku, tekatku sudah bulat, Alloh menyederhanakan perasaanku, cara berpikirku, dan menyederhanakan keinginanku, sehingga semua terasa mudah.

Fokus pada tujuanku saat ini, meyakinkan Mas Musa dan membujuk Mba Mariam. Soal bagaimana rumah tangga ini akan berjalan, biar waktu yang menjawabnya. Tidak ada jaminan aku akan bahagia, dan juga tidak ada kekhawatiran kalau aku akan terluka.

Kenapa harus takut? Tidak ada hakikat memiliki yang benar-benar memiliki, bukan? Aku belajar pada Mba Mariam, suaminya yang begitu sempurna memahami, mengerti, tidak pernah gagal membahagiakan Mba Mariam, dan tidak pernah ada wanita lain di hatinya, tapi harus terpisah karena takdir dan kematian. Mba Mariam harus kehilangan.

Aku hanya harus membagi suami, tidak sepenuhnya kehilangan seperti Mba Mariam. Lagi pula, tanpa harus membagi, hati suamiku memang tidak pernah tergenggam olehku. Aku membagi fisik suamiku pada Mba Mariam, dan Mba Mariam akan membagi hati suamiku padaku. Impas bukan? Kenapa permintaanku dianggap berlebihan? Baik aku atau pun Mba Mariam tidak ada yang benar-benar memiliki Mas Musa.

"Assalamualaikum ...." salam seorang pria yang agak mirip Mas Musa, menyusul di belakangnya satu orang lelaki yang biasa mengantar-jemput Ibu.

Pria itu masuk melewati kami dan mendatangi Ibu, dia memeluknya seolah sudah sangat lama tidak bertemu. Terlihat mimik wajah Mas Musa sedikit terkejut akan kedatangannya.

"Subhannalloh ... Harun, Alhamdulillah ... kenapa pulang enggak ngasih kabar dulu? Ibu kangen sekali, Allohu Akbar ... anak ibu akhirnya pulang," seru Ibu mertuaku seketika, nampak kebahagiaan yang luar biasa dari seorang ibu yang lama tidak berjumpa dengan anaknya.

"Alhamdulillah, Bu, ibu sehat, kan?"

Harun. Jadi inilah kakak iparku, yang lama bermukim di Mesir, bahkan berkeluarga di sana. Seorang kakak yang ingin sekali dilampaui pencapaiannya oleh Mas Musa.

Pertemuan Ibu dan anak yang telah menciptakan keharuan, melupakan sejenak masalah rumah tanggaku. Kemudian, Mas Harun beralih ke Mas Musa, mereka berpelukan erat.

"Ini Medina, istriku," Mas Musa memperkenalkan aku.

"Cantik sekali menantumu, Bu," puji Mas Harun. " Salam kenal Ukhty."

"Bawa istrimu ke sini, biar kami juga tahu!" kata Mas Musa mendengar ucapan Mas Harun.

"Iya, nanti, sekarang belum dulu."

Aku meninggalkan mereka, beranjak ke dapur untuk membuat minuman dan beberapa camilan untuk Mas Harun dan Pak Iwan, supir keluarga Mas Musa. Saat aku kembali mereka sedang asyik berbincang saling melepas rindu, Pak Iwan pun ikut terbawa. Aku memposisikan diri di dekat Mas Musa, meskipun dengan sedikit canggung aku berusaha ikut menimpali percakapan mereka.

Waktu menunjukan hampir tengah malam, aku tidur di kamar utama bersama Ibu, Mas Musa bersama Mas Harun di kamar tamu dan Pak Iwan di depan tv, maklum rumah kontrakan tempat tinggalku tidak besar.

Kehadiran Mas Harun telah berhasil membuat semua melupakan sejenak masalah rumah tangga yang sedang aku hadapi. Ibu terus saja mengulum senyum di bibirnya, dia sangat bahagia berkumpul lagi dengan kedua putranya.

"Nduk, besok sebelum Ibu pulang, Ibu akan mencoba bicara lagi pada keluarga Mba Mariam, dari awal Ibu percaya niatmu baik dan tulus," ucap Ibu membuatku terkejut, padahal Mas Musa belum memberikan keputusan yang pasti.

"Nggih, Bu," jawabku sambil merebahkan tubuhku yang sangat lelah ini ke ruang kosong di kasur sebelah ibu mertuaku.

"Terimakasih ya, Nduk. Ibu salut sama pengorbanan dan ketulusanmu, maafin anak ibu ya, belum bisa bikin kamu bahagia, sementara kamu malah sibuk memikirkan bagaimana membuat Mizan bahagia," Ucap Ibu mertuaku menunjukan rasa bersalahnya.

"Jangan seperti itu, Bu, bahagianya Mas Musa, dukanya, lukanya, sedihnya, masalahnya semua milik Medina juga," jawabku.

Menjelang subuh aku bergegas bangun, tidurku sangat tidak nyaman, keputusan Ibu telah mengusik pikiranku. Badanku memang terasa lelah, tapi hati dan pikiranku tidak mau berhenti.

Saat melewati kamar tamu, sayup-sayup terdengar suara Mas Musa yang sedang bersimpuh. Rupanya dia juga menghabiskan malam untuk bermuhasabah diri. Tentu saja aku iri, andai Mas Musa mencintaiku seperti dia mencintai Mba Mariam.

Andai aku tidak jatuh cinta padanya, akan sangat mudah bagiku menutup mata dan membiarkan cinta mereka seperti angin lalu. Aku berjalan mengendap-endap agar Mas Musa tidak mendengarku.

Semua ini adalah suratan, aku harus ikhlas. Aku harus kuat seperti Sayidina Aisyah R.A. yang tidak memiliki keturunan dan harus berbagi suami, ini bukan hal buruk, aku pasti bisa, aku harus bisa.

Air wudhu telah membuatku segar, aku harap dosa-dosaku akan ikut terbasuh sampai ke bawah kuku. Aku bersimpuh selayaknya hamba yang memohon kekuatan, kelapangan hati, dan lebih banyak lagi kesabaran. Aku tidak  tahu apa yang menungguku di depan sana.

Aku sibuk beraktifitas di dapur untuk membuat sarapan. Mas Harun, Mas Musa, Ibu, dan Pak Iwan sedang mengobrol. Kemudian kurasakan kehadiran Mas Musa di belakangku.

"Mas butuh apa?" tanyaku.

"Hem ... enggak, Mas cuma mau bantuin kamu, Dek,"

Mas Musa membantuku mencuci sayuran dan memotong-motongnya. Kami melakukannya dalam diam. Aku tidak tahan.

"Mas, bagaimana?" tanyaku memberanikan diri.

"Apanya, Dek?"

"Keputusanmu?"

"Oh ... i-itu, mas belum juga menemukan keyakinan," ucap Mas Musa.

"Apalagi yang membuatmu ragu, Mas? Sepertinya, susah sekali meyakinkan dirimu."

"Mariam juga belum tentu mau menerimanya, jangan berpikir terlalu jauh, Dek."

Aku tidak berpikir terlalu jauh, aku hanya berusaha memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Kami hanya diam, Mas Musa banyak sekali membantuku, sehingga semua selesai lebih cepat.

"Ehem ... kalian seperti pengantin baru saja, so sweet," goda Mas Harun pada kami. Aku senang ketika masakanku habis tak bersisa, aku berusaha keras belajar memasak seperti Mba Mariam.

"Ayo bersiap-siap, kita akan kerumah Mba Mariam," ajak Ibu setelah semua selesai bersantap pagi.

"Rumah siapa, Bu?" tanya Mas Harun.

"Mba Mariam," ulang Ibu, Mas Musa terlihat tidak nyaman saat Mas Harun ikut mendengar nama Mba Mariam.

"Mariam?"

"Iya, ibu mau melamar dia."

"Apa? Melamar?"

"Iya Run, ibu akan melamar Mba Mariam."

"Untuk siapa, Bu?"

"Untuk Mizan."

"Apa?! Mizan sudah beristri, Bu," ucap Mas Harun dengan heran.

"Ini permintaan Medina, dia ingin Mba Mariam menjadi madunya. Suami Mba Mariam baru meninggal beberapa bulan yang lalu," tutur Ibu mertuaku.

Mas Harun langsung menengok ke arahku, dia sama seperti Mas Musa dan Ibu, sama-sama meragukan keputusanku.

"Bu, kita kan belum sepakat," sela Mas Musa.

"Udah nurut aja sama ibu, istrimu sudah setuju."

Mas Musa tidak membalas ucapan ibu, dia hanya menelungkupkan tangannya ke wajahnya.

"Apa kamu belum juga membuat keputusan, Zan?" Mas Musa menggeleng pelan, sementara hatiku bergejolak karena sakit dan bahagia yang menyatu.

"Kalau Mizan nggak mau, lamarkan Mariam untukku saja, Bu."

Tiba-tiba ... Buuuugkkk ...!

....

1
Laela Syarif
😭😭😭
Aku siapa: Lanjutin dong
total 1 replies
Uswatun Khasanah
bener bener menguras emosi
🇮🇩 ♏🌹🅰️ 🇵🇸
Semua Allah... Aq makin benci Medina. Smua krna sikap ingin tahu, tdk sabaran & gegabahnya Medina. Smua krna kehausan Cintanya Medina, bukan hanya Mariam yg jd tumbal, tp 2 anak jd yatim piatu. Hal ini hrsnya jd beban lahir BaThiN Medina seumur hidup. Demi cinta Musa, byk org jd korbannya Medina.
🇮🇩 ♏🌹🅰️ 🇵🇸
Betuuuul... Smua ini gara2 Medina. Yg salahkan Mariam, nda ada otaknya smua. 😪😪😪
🇮🇩 ♏🌹🅰️ 🇵🇸
Kau tllu byk ikut campur urusannya org lain, Medina Setaaaaaang...!!! Jengkel tong lama2 ku liat kelakuanmu!!!
Vhina El husna
kasian sama medinanya
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Sbnre yg sdg km tuai adalah hasil dr Ketidak sabarnmu, Din.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Gak ada yg bisa berbuat Adil selain Allah SWT.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ya Allah... Beratnya jd Mariam.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Lanjoet
🇮🇩 ♏ Q 🎱 🇵🇸
Sabar... Sabar... Sabaaaaar....
🇮🇩 ♏ Q 🎱 🇵🇸
Gak usah mcm2 deh. Kesian si Medina. Kek gak punya hati aja sih Mariam. 😪😪😪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kadang... Lebih baik gak tahu. Drpd tahu & sakit hati sdri.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bidadari Surga bnr2 panjang sabarnya ya Medina.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Pedihnyaaaa... 🤧🤧🤧
Wiwit Verina
kenapa tokoh medina dibuat gini bgt ya? emang author pernah liat wanita model gini? 😁
emang ada gitu hehehee
Aku siapa: Adaa sayaang
total 1 replies
Wiwit Verina
rmang didunia nyata ada ya yg kaya medina? 😂
Sulati Cus
kyknya si adam adalah sabiru
Sulati Cus
pasti hati ketar ketir dlm tidur pun kau sebut sbg istri pasti kecewa baru baca udah agak2 emosi
Wiwin Dwi Messiana
kapan ya lanjutan Adam,sabira?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!