Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamunan Membawa Petaka
"Adira...."
Suara lantang tak segera menyudahi lamunan panjang Adira.
"Adira...."
Balpoint pun dilemparkannya hingga mendarat tepat mengenai tangan yang sedang bertopang dagu.
Adira tersentak.
"Kalau kamu mau melamun, silahkan tinggalkan ruangan ini."
Adira menunduk," Maaf Pak... saya hanya..."
"Hanya apa?"
Adira semakin menunduk," Maaf... saya tidak akan mengulanginya lagi."
David menyandarkan punggungnya, memperhatikan satu persatu karyawan yang ikut finally meeting membahas ulang tahun Wirrbel yang persiapannya sudah mencapai sembilan puluh persen.
"Saya paling tidak suka jika ada karyawan yang tidak bisa fokus dalam bekerja, apalagi sedang meeting seperti ini."
Wajah Adira memerah saking malunya, tangan yang tersembunyi dipangkuannya pun terjalit basah dan berkeringat.
"Mana laporan keuangan yang saya suruh untuk direvisi ulang?"
Dengan kaki bergetar, Adira berdiri dan memberikan file laporan keuangan yang David minta.
"Ini Pak."
David menyambarnya, membacanya sekilas kemudian melemparnya ke tengah meja, hingga beberapa lembar kertas itu keluar dari tempat asalnya.
"Apa laporan macam itu yang sudah kamu revisi?"
Semua mata tertuju kepada Adira yang sepertinya sangat ketakutan.
"Tapi saya sudah merevisi seperti apa yang Bapak minta kemarin." Ucap Adira terbata.
Suasana ruangan menegang, menyayangkan jawaban Adira yang seharusnya diam, tidak perlu menjawab. Karena karyawan sudah tahu bagaimana David, satu saja kesalahan maka dia akan sangat jeli mengetahuinya.
"Jadi sekarang kamu ingin mengatakan kalau saya yang salah?" Bentak David.
Air mata Adira menitik," Maaf Pak, bukan seperti itu maksud saya."
David terhenyak lalu melempar pandangannya ke arah lain, tak menyangka Adira akan menangis karena kemarahannya.
"Ambil file itu dan revisi hari ini juga, dan sebelum semua itu selesai kamu tidak boleh pulang." Ucap David sedikit merendahkan nada suaranya.
David melihat Ibu Dina," Ibu Dina saya tidak ingin kejadian ini terulang lagi... saya tidak ingin meeting dengan laporan yang masih mentah, tidak ada perkembangan sama sekali."
Ibu Dina menunduk hormat," Maaf Pak, kesalahan ini saya pastikan tidak akan terulang lagi."
Kemudian David berdiri,"... Kita akhiri meeting hari ini, besok kita lanjut lagi setelah laporan keuangannya selesai di revisi ulang."
"Baik Pak." Jawab semua karyawan.
David meninggalkan ruangan dengan sekilas melihat kucuran air mata Adira yang saat itu juga ia hapus.
"Harusnya meeting sekarang kelar hari ini. Emang dasar anak magang nggak pernah bisa diandelin. Katanya punya otak encer, eh ternyata padet."
"Anak magang emang bisanya bikin sikon ancur."
Sindir beberapa karyawan wanita yang melihat judes kearah Adira dan berlalu pergi meninggalkan ruangan rapat.
Adira hanya bisa diam, menulikan pendengaran dari kata-kata pedas yang mereka tujukan kepadanya.
Perlahan Adira mengambil file itu, menyusun dan membacanya. Adira mencebik dalam hati, bodoh... ternyata benar dia yang salah, ini bukan laporan yang sudah di revisi, sepertinya dia salah mengambil file yang ada dimeja saking tergesanya.
"Dira kamu tidak apa-apa kan?"
Adira menggeleng," Maafkan saya Bu, gara-gara saya Ibu jadi kena marah sama Pak David...," Adira menghapus air matanya kembali,".... tapi bener kok Bu saya sudah merevisinya, hanya saja saya salah mengambil file, harusnya bukan yang ini." Menunduk menyesali keteledorannya.
Ibu Dina menghela nafasnya, mengelus pundak Adira," Tidak apa-apa, lain kali kamu harus lebih teliti lagi, jangan sampai mengulangi kesalahan seperti ini."
Adira mengangguk," Iya Bu, sekali lagi saya minta maaf."
Ibu Dina melihat jam yang melingkar ditangannya," Ini sudah waktunya istirahat, kita makan siang yuk?"
"Ibu duluan saja, nanti saya menyusul."
"Ya sudah kalau begitu."
Setelah kepergian Ibu Dina, Adira menyeret kursi untuk kembali dia duduki, menyangga kepala dengan kedua tangan dengan bertumpu diatas meja. Baru pertama dalam seumur hidupnya, dibentak seperti tadi dihadapan banyak orang, memalukan, menyakitkan, menyedihkan, seperti orang bodoh yang tidak becus bekerja.
Adila ini semua karena kamu....
Bayangan Adila dan Aditya terus menggerogoti isi kepalanya, seperti sengaja menari-nari dipelupuk mata, enggan untuk menjauh pergi. Apalagi saat melihat raut wajah Adila yang merona malam itu, sepertinya dia mulai menaruh hati kepada Aditya....
"Dil... aku boleh masuk?"
Adila yang menelungkupkan wajahnya dibantal langsung berbalik dan bangun. Menandakan kalau ia boleh masuk duduk bersamanya.
Setelah menelan salivanya beberapa kali, Adira mulai membuka suara, menemukan kata yang cocok untuk mengawali pertanyaannya.
"Tumben kamu nggak takut gelap, tadi kan mati lampu."
Adila tidak menjawab.
"Kamu baik-baik aja kan?"
"Gue nggak papa."
"Yakin?"
"Yakin."
"Terus dari tadi kamu disini?"
Adila tak langsung menjawab, seperti sedang memikirkan sesuatu, hingga kata Iya keluar dari mulutnya dengan terpaksa.
"Serius kamu disini?"
Adila mengangguk perlahan namun tidak meyakinkan.
"Tapi tadi aku kesini kamu nggak ada."
Adila yang pandai bicara, pintar berkilah, seketika itu hanya bisa diam, tidak bisa menyanggah.
Adira menarik tangan Adila dalam genggamannya," Boleh aku tanya sesuatu?"
Adila mengangguk.
"Ada hubungan apa kamu dengan Pak Aditya?"
Adila terhenyak, namun buru-buru ia menarik tangan dari genggaman Adira.
"Apaan sih lo tanya begituan, ketemu juga baru kemarin sama tuh orang." Ucapnya dengan memalingkan muka, menutupi kegugupannya.
"Udah sana gue mau tidur, ngantuk."
Adira menarik selimut yang hendak Adila pakai untuk menutupi tubuhnya.
"Terus tadi digudang kalian ngapain?"
Adila terperangah," Jadi lu..."
"Iya aku lihat semuanya."
"Emmm... tadi dia hanya nolong gue karena lihat gue yang ketakutan, trus kita sembunyi di gudang karena si Pak Satpam yang dateng buat benerin listrik."
"Apa ciuman itu juga karena menolong?"
Adila diam, matanya terbang melihat langit plavon." Semuanya mengalir gitu aja, gue juga nggak tahu kenapa bisa gitu. Tapi yang jelas dia hanya nolong gue."
"Dan kamu?"
"Maksudnya?"
"Kamu menikmati ciuman Pak Aditya?" Adira menelisik sorot mata Adila, ingin mencari kejujuran yang ada disana.
"Kamu menyukainya?" Tanya Adira lagi karena belum juga mendengar jawaban Adila.
Wajah Adila seketika merona,"Gue nggak tahu."
Adira mengusap bahu Adila," Aku tidak mau kamu kecewa, pikirkan semuanya sebelum kamu berani melangkah lebih jauh."
Adila pun diam tak menjawab, pikirannya semakin menerang jauh.
******
"Hey...." Tepukan dibahu membuat Adira tersentak.
"Mas Andri... bikin kaget aja."
"Ngelamunnya dilanjut lagi....?" Gurau Andri.
Adira hanya tersenyum menanggapinya.
"Lamunin apa sih, kayaknya dalem banget."
"Ah nggak kok." Kilahnya.
Andri tersenyum, tak berani memaksa Adira untuk mengatakan masalah pribadi kepadanya.
"Makan siang bareng yuk?"
Adira diam, menimbang-nimbang ajakan Andri yang merupakan karyawan tetap yang bekerja satu divisi dengannya, wakil dari Ibu Dina di Divisi umum.
"Ayo nggak usah mikir, aku yang traktir."Tawarnya.
"Udah gajian ya?" Tebaknya.
"Buat traktir kamu doang mah nggak usah nunggu gajian kali."
Adira terkekeh," Kalau begitu aku simpen ini dulu."
Andri mengacungkan jempolnya tanda oke.
Menuju lantai dasar, Andri tak hentinya mengajak Adira berbicara. Sifatnya yang supel dan juga humble menjadi kelebihannya untuk cepat dekat dengan semua orang, termasuk Adira yang notabene perempuan pendiam dan tidak pandai bergaul.
"Kita makan di Restoran sebrang sana yuk?"
"Kenapa nggak di kantin aja Mas?"
"Kalau dikantin kan kamu udah sering, sekali-kali makan diluar, disana makanannya enak-enak, kamu harus coba."
"Tapi beneran nggak ngerepotin?"
"Kan aku yang ngajak"
Adira tersenyum," Makasih ya Mas."
"Iya santai aja."
Sampai di lobby, tak jauh darinya, Adira melihat David dan juga Aditya berjalan keluar gedung, menuju mobil yang sudah terparkir menunggu mereka.
Tak kunjung lama sebuah taxi berwarna biru berhenti, menampilkan sosok Moza yang turun dengan membawa sebuah bungkusan ditangannya.
"Dit...."Serunya.
Aditya yang baru saja dibukakan pintu oleh David, menoleh.
"Moza..."
Moza berjalan mendekatinya," Kamu mau kemana?"
"Mau pergi makan siang dengan David."
"Bagaimana kalau kita makan siang dikantor aja, kebetulan aku bawa makanan kesukaan kamu...," Mengacungkan bungkusan yang dia bawa,".... sambil ada sesuatu yang ingin aku bahas juga sama kamu, tentang proyek di Yogya."
"Ya sudah kalau begitu....David maaf sepertinya kita tunda acara makan siang kita."
"Tidak apa-apa Pak Aditya."
"Pak David juga bisa makan bareng sama kita. Kebetulan makanan yang aku bawa banyak, cukup untuk tiga orang."
"Terima kasih sebelumnya Bu Moza, biar saya makan diruangan saya saja, kebetulan masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini."
"Oh ya sudah kalau begitu."
Dengan sumringah Moza berjalan beriringan dengan Aditya, dan David berjalan membuntutinya. Adira yang tadinya ingin menghindar, mau tak mau harus berpapasan dengan mereka.
"Eh Adira... akhirnya bisa ketemu kamu disini."
"Iya Mbak."
"Kamu mau makan siang juga"
"Iya..."
"Berdua saja?" Selidiknya sambil tersenyum melihat Andri.
"Iya Mbak..."
"Emm... sweetnya, ya udah selamat makan berdua ya."
Adira hanya tersenyum menanggapi sindiran halus Moza yang secara tidak langsung menganggap dirinya ada hubungan spesial dengan Andri. Dan tatapan dingin dari David, seketika membuatnya menunduk, tak berani menatapnya balik.
"Kita duluan ya Dir.... yuk Dit."
Adira mengangguk dengan melihat Aditya, yang dimana aditya pun melihat kearahnya, menyiratkan sorot mata yang tidak bisa ia jabarkan.
Adira menghela nafas dalam, melihat Aditya sekarang, dia kembali teringat Adila. Sebenarnya seperti apa perasaan Aditya kepada Adila??? apa mungkin kejadian semalam hanya murni sebuah pertolongan semata??? Tapi bagaimana dengan Adila....
"Dir ayo..." Andri menarik tangan Adira yang hanya diam tak bergerak.
"Eh iya...."
"Tunggu Adira..." Ucap David yang seketika membuat Andri melepaskan tangannya dari Adira.
"Kamu sudah merevisi laporannya?"
"Sebenarnya sudah Pak, hanya saja tadi saya salah mengambil file." Jawab Adira sambil menunduk takut.
"Kalau begitu bawa laporan itu keruangan saya sekarang juga." Titahnya seperti harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
"Ba...baik Pak."