Joshua Adrian Waldgrave patah hati mengetahui calon istrinya mencintai pria lain dan jatuh terpuruk dalam kesedihan. Ia lebih memilih menghilang selamanya dari kehidupan wanita yang dicintainya dan menutup pintu hatinya untuk wanita lain. Setelah bertahun-tahun tidak mendengar kabarnya, mantan tunangannya meninggal, karena kecelakaan.
Sementara itu ditempat lain seorang gadis bisu dan memiliki cacat di wajahnya menyimpan dendam selama bertahun-tahun terhadap orang-orang yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya. Jalinan takdir mempertemukannya dengan Joshua yang mengharuskan pria itu terikat kepadanya, karena janjinya kepada seseorang di masa lalu yang tidak dapat ia tolak. Janji yang mengharuskannya menjaga gadis itu seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan maaf
Phillippa turun dari bis dan berjalan pulang menuju toko bunga. Ia mendapat giliran bekerja pada siang hari. Ketika ia memasuki toko, Tristan telah menunggunya. Phillippa terkejut dan ia benci melihat pria itu. Ia masih belum melupakan rasa sakit hatinya, karena pria itu telah mempermainkan perasaannya.
Pergilah!
"Aku tidak akan pergi sebelum kita bicara. Aku mohon."
"Philly, sebaiknya kalian berdua bicara di luar saja. Di sini banyak pembeli,"kata Angelica.
Phillippa dengan enggan menuruti Angelica. Mereka berdua keluar dan duduk di taman kecil.
Apa yang kamu inginkan dariku?
"Aku ingin minta maaf. Seharusnya aku tidak mempermainkan perasaanmu. Aku menyesalinya."
Phillippa menatap pemuda itu untuk mencari kebenarannya.
"Aku tahu pasti kamu tidak akan percaya dengan penyesalanku ini. Kamu wanita yang baik seharusnya aku tidak bersikap jahat kepadamu."
Gadis itu menghela napas panjang, lalu menulis lagi.
Aku memaafkanmu.
"Sungguh?"tanya Tristan dengan wajah senang.
Phillippa mengangguk.
"Terima kasih dan apakah kita bisa kembali seperti dulu? Maksudku menjadi sepasang kekasih."
Maaf. Aku tidak bisa.
Tristan nampak kecewa."Aku mengerti. Sebaikya kita berteman saja."
Gadis itu mengangguk.
"Sebaiknya aku pergi tidak ingin menganggu kerjamu lebih lama lagi. "
Phillippa memandangi kepergian Tristan sampai pemuda itu hilang dari pandangannya. Jalanan nampak sangat sepi, ia berjalan kembali menuju toko bunga, tapi tiba-tiba saja ada perampok yang mencoba mengambil tasnya. Phillippa berusaha mempertahankan tasnya, tapi ia mendapatkan pukulan dari perampok itu sampai terjatuh tersungkur ke jalan. Perampok itu tiba-tiba terjatuh di depan Phillippa. Ia melihat Joshua sedang berkelahi dengannya. Ia sangat ketakutan dan menangis dengan keras.
🎵🎵🎵
Joshua baru saja makan siang bersama dengan Barbara dan sedang menuju kantornya, ketika ia tidak sengaja melihat Phillippa diserang orang tak dikenal. Ia segera menghentikan mobilnya secara sembarang dan langsung menghajarnya. Perampok itu tidak sadarkan diri setelah Joshua memukulnya. Joshua menelepon polisi dan orang-orang mulai berdatangan untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Apa kamu terluka?"tanyanya dengan wajah panik dan cemas sambil memeriksa tubuh Phillippa.
Phillippa masih menangis. Ia bersyukur masih hidup. Joshua langsung memeluknya dan dan gadis itu menangis dalam pelukan Joshua dab mengayun-ayunkan tubuhnya ke depan dan kebelakang untuk menenangkannya. Setelah gadis itu mulai tenang, Joshua melonggarkan pelukannya dan menghapus air matanya dengan jarinya. Barbara melihat semuanya dengan diam.
Joshua mengantarkan Phillippa ke toko bunga setelah memberikan keterangan kepada polisi dan Angelica terkejut melihat Phillippa datang dengan wajah basah oleh air mata."Apa yang terjadi?"
Joshua kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada Angelica dan gadis itu terkejut dengan cerita Joshua.
"Ini salahku seharusnya aku tidak menyuruhnya keluar."
Angelica kemudian menatap Phillippa dan berjongkok di depannya."Maafkan aku."
Phillippa menulis dengan tangan gemetar.
Tidak perlu minta maaf.
Angelica memeluk Phillippa.
"Jika kalian membutuhkanku, kalian bisa menghubungiku. Aku harus segera kembali ke kantorku,"kata Joshua.
"Terima kasih sudah menolongnya."
Joshua mengangguk, lalu pergi. Di dalam mobil akhirnya Barbara bicara yang keberadaannya sejenak terlupakan oleh Joshua.
"Siapa gadis itu? Sepertinya kamu mengenalnya dengan baik."
"Namanya Phillippa. Dia salah satu murid di sekolahku."
"Tadi kamu terlihat sangat peduli kepadanya."
"Tentu saja, karena dia murid di sekolahku."
"Hanya itu?"
"Iya hanya itu. Kenapa?"
"Tidak apa-apa hanya ingin tahu saja."
Barbara kembali terdiam. Ia merasa ada sesuatu diantara mereka.[ ]