"Zahra hanya ingin menikah jika dengan kak Rafif, Abi" ucap Zahra yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut mendengarnya
Zahra adalah anak tunggal dari pasangan Abi Ahmad dan Umi Khadijah. Kedua orangtuanya sepakat untuk menjodohkan putri satu-satunya itu dengan anak sulung sahabatnya. Tapi siapa sangka, pada akhirnya Zahra menikah dengan Rafif anak kedua dari sahabat Abinya.
Mereka menikah setelah seminggu menjalani proses ta'aruf yang batal di lakukan oleh Zahra dan anak sulung dari sahabat Abinya. Zahra memilih jalan itu untuk membantu Daffa, orang yang seharusnya di nikahkan dengannya karena Daffa saat itu juga memiliki masalah lain yang tidak memungkinkan dirinya untuk menikah dengan Zahra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangat Cantik
Rafif lalu merangkak naik ke atas tempat tidur dan membalutkan tubuhnya pada selimut yang sama dengan Zahra. Rafif memperhatikan Zahra yang memunggunginya seperti biasa selama mereka menikah. Rafif sadar, jarak mereka ternyata sejauh itu bahkan dalam satu tempat yang sama. Lelaki itu menatap lama Zahra yang entah sudah tertidur atau belum, tak lama kemudian entah apa yang mendorongnya hingga kini lelaki itu mendekatkan dirinya pada Zahra dan mulai melingkarkan tangannya memeluk Zahra dari belakang
Zahra yang baru saja memejamkan matanya dibuat sangat terkejut hingga ia kembali membuka matanya dan melihat dengan jelas tangan Rafif yang melingkar di badannya. Posisi Zahra masih sama bahkan ia tidak bergerak sedikitpun hingga membuat Rafif yakin istrinya itu sudah tertidur, nyatanya tidak demikian. Gadis itu masih termenung meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sedang bermimpi, seluruh tubuh gadis itu menghangat seketika saat merasakan tangan Rafif melingkar lebih jauh hingga bisa merasakan tubuh lelaki itu menempel pada tubuh bagian belakangnyanya
"Apa ini? apa kak Rafif sudah tidur dan tidak sadar memelukku? Apa yang harus ku lakukan? berbalik? tidak tidak, aku takut ketika berbalik dan mendapati kak Rafif belum tertidur dan menatapku malah akan membuat situasi kami menjadi canggung. Tapi bagaimana ini? rasanya aku ingin meledak, kenapa udaranya begitu panas sekarang" batin Zahra mengeluhkan perilaku Rafif yang sangat tiba-tiba dan diluar dari dugaan Zahra
Bagaimana tidak, selama hampir kurang lima bulan lebih pernikahan mereka, baru kali ini Rafif memeluknya seperti ini. Zahra ingin menyangkal bahwa mungkin itu hanya mimpinya saja, tapi rasanya sangat nyata. Bahkan kehangatan pelukan Rafif entah kenapa bisa membuat Zahra merasa nyaman
Sama halnya seperti Zahra, Rafif masih terjaga pada waktu ini dengan posisi masih memeluk Zahra. Ia mengira mungkin Zahra sudah tertidur hingga ia tidak merasakan Rafif memeluknya padahal tidak demikian
Pasangan suami istri itu larut dalam pikiran mereka masing-masing.
***
Bacaan-bacaan doa dan surah-surah pendek dari masjid membangungkan Rafif. Lelaki itu membuka matanya dan mendapati Zahra yang masih tertidur lelap dengan posisi menghadap ke arahnya. Jarak mereka sangat dekat saat ini, hati Rafif merasa tenang melihat paras polos nan cantik dari wajah Zahra
"Kenapa aku tidak tau jika gadis kecil ini sangat cantik ketika sedang tertidur" gumamnya terus memperhatikan wajahnya Zahra yang sangat mendatangkan ketenangan saat menatapnya
"Sebenarnya bagaimana perasaanku terhadapmu, Zahra? aku hanya merasa kita semakin akrab setiap harinya. Aku tidak tau apa aku mulai menyukaimu atau bagaimana, Aku sangat suka melihat mu ketika kau tersenyum dan menampakkan binar dari matamu tapi aku sangat tidak suka melihatmu sedih, aku tidak suka jika kau bertemu dengan lelaki lain, aku tidak suka jika kau menyimpan perasaanmu sendiri. Aku juga penasaran sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadapku" batin Rafif merasa bimbang akan perasaannya.
Adzan subuh yang mulai berkumandang membuat Rafif tersadar dari lamunan pikirannya. Ia pun membangunkan Zahra dan mengajaknya untuk Sholat subuh bersama.
***
Pagi harinya, Zahra terlihat baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya. Ia berjalan melewati Rafif yang tengah mengancingkan kemejanya dan berjalan ke arah meja riasnya dan segera mengeringkan rambutnya
"Hari ini mau kemana?" tanya Rafif tidak lepas memandangi Zahra yang saat ini sedang menyisir rambut panjangnya
"Sepertinya tidak kemana-mana kak, aku hanya akan tinggal dirumah saja hari ini" jawab Zahra yang langsung salah tingkah saat melihat pantulan bayangan Rafif dari cermin yang saat ini menatapnya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun
"Baiklah kalau begitu" ucapnya tanpa sedikitpun bergeming dari tempatnya yang terus bisa melihat Zahra
"Aku turun dulu menyiapkan sarapanmu" Zahra segera berjalan keluar dari kamarnya dengan terburu-buru tanpa melihat Rafif sedikitpun
Bayangan kejadian semalam saat Rafif memeluknya terus saja menari di hadapannya. Rasanya tiap mengingat kejadian itu, hati Zahra seperti ingin meledak. Ada rasa tertentu yang tidak bisa di gambarkan oleh gadis itu saat tangan Rafif menyentuhnya.