"Aku ingin mengakhiri semua nya"
Kalimat itulah yang selalu menempel dalam fikiran Anindita. Sampai saat ini ia belum mengetahui alasan kandas nya hubungan nya dengan Vano.
Hingga disuatu tempat, ia bertemu dengan pengusaha muda tampan bernama Fernan Wiratama,tak lain adalah Kakak dari Vano Wiratama. Dan takdir berkata lain Anindita harus selalu bersama Tuan Muda Fernan. Karena apa? Penasaran? Ikuti kisah nya.
Akankah Anindita bisa melupakan sang mantan kekasih? atau malah terjerat cinta dengan tuan muda tampan?
Up : setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan (Part 2)
Anindita melebarkan mata nya. Jantung nya berdegup kencang. Keringat dingin bercucuran ditubuh nya. Wajah nya menunduk ketika melihat seorang pria tampan yang baru saja muncul di pintu utama hotel.
Ada apa Vano datang kesini?. Hati nya bergejelok menahan tanya. Ia siap dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi dikeluarga baru nya.
Anindita pamit pergi pada Siras dan Jima. Ia segera pergi berjalan menunduk sebelum pria itu melihat nya.
Zira dan Zein tidak sengaja melihat Anindita lewat segera mereka berjalan cepat, melihat raut wajah Anindita dengan penuh tanya. Terlihat tatapan kosong di mata nya. Segera Dua sahabat itu menarik pelan lengan Anindita ke ruang tunggu VVIP.
"Kau kenapa Anin? Ada apa? " tanya Zira kuatir melihat Anindita yang hanya terdiam.
Anindita menggeleng pelan. lidah nya seketika membeku. Sulit untuk mengatakan apapun. Itulah yang di rasakan Anindita saat ini.
Zira dan Zein menghela nafas, ada sesuatu jika Anindita sudah tidak mau berbicara. Pikir mereka. Yah persahabatan mereka terjalin cukup lama dari sejak awal kuliah mereka sudah bersahabat. Sehingga mereka sangat mengenali karakter sahabat nya.
"Apakah ada sesuatu yang kau pikirkan Anin? Emmm atau ada sesuatu yang kau lihat? " Zein memicingkan matanya melihat raut wajah Anin, ia mencoba menanyakan hal ini karna Zein tau ketika Anin melihat sesuatu yang menurut nya shok Anin pasti sulit untuk mengungkapkan nya.
Anin mengangguk. Pertanyaan Zein tepat sasaran. Tinggal sedikit menggalinya lagi. Pikir Zein.
Anin melihat sesutau yang membuat nya shok? Selama ini tidak ada yang Anin takutkan, bahkan makhluk goib pun seperti nya berani. Lantas sesuatu apa yang membuatnya seperti ini?. Batin Zein. Otak nya berpikir keras.
Zira hanya bisa diam melihat Zein yang sedang berfikir. Ya, Zira memang sedikit kadang loading. Zein memang lebih pintar daei Zira, pintar melihat dan menebak dari ekspresi seseorang.
"Apa kau melihat seseorang?"
Anindita mengangguk kembali.
" Kau mengenal nya? "
" Sangat mengenal nya? "
" Kau menyimpan banyak kenangan dengan nya? "
" Apakah seseorang itu pria?. "
Semua pertanyaan Zein dijawab anggukan oleh Anindita.
Di detik pertanyaan terakhir, yang akan di tanyakan Zein, ia merasa jantung nya berdetak dengan kencang. Sebisa mungkin ia mencoba tenang. Zein menghela nafas nya.
" Apakah seseorang itu adalah___" Zein menggantungkan kalimat nya. Mlirik ke arah Zira. Zira menatap Zein seolah memancarkan ketegangan di wajahnya sama seperti yang dirasakan Zein. Ia melanjutkan kalimat nya.
"Adalah Vano? . "
Anindita terdiam menundukan kepala. Hingga ia berani untuk mengatakan nya.
" Ya. " Jawab nya pelan.
Deg!
Jantung Zira dan Zein terasa ingin meloncat dari sang pemilik raga. Ya, cepat atau lambat Anindita pasti akan tau kebenaran nya. Kebenaran bahwa Vano adalah adik dari suaminya . Dan hari ini resmi jadi adik ipar ya. Ini yang ditakutkan kedua sahabat nya. Anindita mengetahui kebenaran nya setelah menikah. Mereka ingin memberitahu Anindita tentang Vano. Tapi itu tidak mungkin bisa, jika Anindita mengetahui sebelum menikah ia pasti akan membatalkan pernikahan nya. Dan itu pasti akan membuat sang penguasa negri ini akan murka karna telah menolak perjodohan sang Nenek.
"Aku tahu kalian mengetahuinya sebelum aku. " Ucap nya pelan. Anindita menatap kedua sahabatnya yang berada di depan nya menatap nya dengan sendu. Mengartikan sebuah kekecewaan disana " mengapa? Mengapa kalian tidak mengatakan ini sebelum aku menikah?. " ucap nya serak. Butiran kristal jatuh dari bola mata bulat indah nya.
Zira dan Zein segera memeluk Anindita yang sesenggukan. Mereka tahu ini akan terjadi. Anindita pasti akan marah dan kecewa tapi bagaimana lagi tidak ada yang bisa dilakukan oleh mereka. Tidak ada yang bisa melawan sang raja pemilik negri ini. Mungkin dengan menikah pun Anindita bisa melupakan Vano. Pikir mereka.
"Maafkan aku. " Ucap Zira dan Zein bersamaan. Air mata lolos dipipi mulus mereka. Tidak bisa dipungkiri mereka merasakan sakit apa yang saat Anindita rasakan saat ini.
" Kau pasti tahu mengapa kami tidak mau memberi tahu mu. Kau pasti tau alasan nya. " Ucap Zien serak.
" Dan ini sudah takdir Anin. Tuan Fernan mungkin adalah jodohmu. Dan kami ingin kau bisa melupakan Vano. " Ucap Zira mengusap lembut punggung Anindita.
"Vano memutuskan ku karna ada alasan tertentu yang dia sembunyikan. Aku yakin itu."
Ucap Anindita menunduk. Meyakinkan kedua sahabat nya.
"Apapun alasan nya. Dia sudah menyakitimu, dia mengecewakan mu, mengapa dia tidak mau terbuka dengan mu? Kalian bisa selesaikan dengan baik bukan? Kalian bisa berjuang bersama-sama. Itu lebih baik bukan? " Ucap Zein sesak. Dia tahu dirinya saat ini masih mencintai Vano. Walau seharusnya dia senang Vano sudah tidak berhubungan dengan Anindita. Tapi ini lebih sakit jika Nindita bersedih. Menangis karna Vano seorang laki-laki yang bisa dikatakan pengecut.
Anindita menggeleng pelan walau jauh dari lubuk hati nya ia membenarkan ucapan Zein.
Vano tidak mau terbuka dengan nya. Pikir Anindita.
"Terus bagaimana dengan ku saat ini dan kedepan nya?" ucap nya serak dadanya sesak. "dang mungkin aku menikah dengan kakak dari mantan kekasihku? Bagaiman mungkin aku bisa selalu bertemu dengan Vano yang sekarang sudah jadi adik ipar ku? Walau aku sudah tidak ada lagi hubungan special dengan nya. Tapi kita pernah bersama, menjadi orang yang special dalam hidup kita. Aku yakin Vano tidak akan rela jika kakak nya menikah denganku. Dan.. Dan bagaiman jika Vano mengetahui nya?. " Ucap Anindita putus asa. Air mata nya semakin deras di pipi mulus nya. Ia tidak tau akan terjadi apa kedepan nya. Apakah akan ada perang sodara atau kah mereka akan tetap berdamai.
" Apapun yang terjadi kau harus kuat Anin. Kami tahu kau wanita yang hebat. Kau wanita yang tangguh. Kau harus menerima takdir ini. Takdir yang membuat mu harus hidup bersama Tuan Muda Fernan. Dan kau jangan menyesali nya. Aku yakin setelah ini kau akan mendapatkan kebahagiaan, percayalah! " Ucap Zein dengan teratur dan meyakinkan Anindita untuk bisa menerima takdir tuhan.
"Yah, kau harus bahagia Anin. Jangan biarkan dirimu selalu bersedih dan menderita. Sebentar lagi kan mau jadi Nona Muda Fernan Wiratama." Ucap Zira meggoda Anindita mencubit hidung nya agar mencairkan suasana yang sedih ini.
" Bagaimana aku bisa bahagia jika aku berada di kandang Macan." Ucap Anindita mengerucutkan bibir nya.
Zira dan Zein terkekeh.
Sementara disana Fernan sangat marah pada Anindita karna ia menghilang tanpa diketahui nya. Anindita menghampiri Fernan yang sedang berdiri menyalami tamu.
"Dari mana saja kau!? Sudah ku bilang jangan membantahku! Ucap nya tegas." Akan ku hukum kau malam ini. " ucap nya dengan tertawa ngeri senyuman menyeringai muncul di bibir seksi nya."
Seketika tubuh Anindita merinding.
Hukuman? Hukuman apa? Apa aku akan di mutilasi atau aku akan dibuang ke tempat yang paling jauh? Aaaaa tidak! Tuhaan tolong aku.
*anin berkali berbohong tapi tidak disalahkan
*fernan berbohong langsung disalahkan dan tidak mudah dimaafkan fernan hadir mengemis dulu baru dimaafkan
*anjn tinggal dengan lelaki lain tidak disalahkan
*fernan bawah karina tinggal dirumahnya, (anin juga ada disitu) dianggap kesalahan besar tidak mudah dimaafkan dan harus mengemis maaf dulu
*anin salah paham lihat fernan pelukan dengan karina kesalahan fernan dan harus mengemis maaf dulu baru dimaafkan
*fernan lihat anin pelukan dengan devan bukan kesalahan
kesalahan anin dan fernan banyak yang sama tapi karena pemikiran yang egois dan munafik oleh authornya jadi semua yang dilakukan fernan kesalahan fatal tapi semua yang dilakukan anin bukan kesalahan dan dibenarkan
kalian bangga buat novel yang kelihatan sekali kemunafikannya kayak gini, ini sama saja kalian bangga memamerkan pola pikir dan imajinasi kemunafikan kalian sendiri
* pelakor kalian laknat tapi pebinor kalian puja2 bahkan kalian spesial kan bisa berkali kontak fisik dengan istri orang (munafik)
* karina diajak fernan tinggal dirumah kalian laknat tapi anin kabur dari rumah dan tinggal dirumah lelaki lain bahkan anak panggil anin mama mereka tingg kayak sebuah keluarga kalian benarkan (munafik)
* fernan tidak tegas pada karina kalian laknat tapi anin tidak tegas pada devan dan vano kalian benarkan (munafik dan murahan)
* intraksi fernan dengan wanita lain kalian bela tapi intraksi anin dengan pria lain kalian benarkan bahkan pelukan kalian benarkan (munafik)
*anin salah paham fernan pelukan dengan karina kalian buat anin tegas pergi dan fernan harus mengejar dan mengemis maaf tapi saat fernan melihat anin pelukan pada devan kalian buat fernan kayak orang bodoh Terima begitu saja (munafik)
*saat anin tidak percaya fernan, maka fernan salah karena tidak bisa menjaga kepercayaan tapi saat devan tidak percaya anin tetap devan salah karena harus saling percaya (munafik)
*fernan membohongi anin adalah kesalahan fatal, fernan dihukum, dan harus mengemis maaf pada anin tapi anin membohongi fernan dibenarkan
* dan masih banyak lagi kemunafikan dalam novel ini yang dibela oleh author
Thor jadi novelis wanita jangan egois benar semua kesalahan anin dibela dan dibenarkan semuanya, tapi giliran fernan buat salah, dilaknat habis2an, jadi wanita dewasa sedikit jadi bisa buat novel adil