Rumah tangga bahagia yang semua orang inginkan, tapi tidak untuk rumah tangga Safira dan Rayan suaminya..sekian tahun mengarungi bahtera rumah tangga tak membuat hati Rayan mencintainya hingga Safira memberikan kesempatan kedua untuk suaminya, tapi lagi-lagi ia di patahkan oleh kenyataan yang membuat Safira sakit hati dan juga kenyataan masa lalu suaminya yang belum usai, apakah Safira akan terus bertahan, atau melepaskan. ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilaimuet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Safira hanya diam bagaimana ia akan mengatakan. yang sebenarnya, ia juga takut akan di usir dari kontrakan itu, walaupun sekarang ia tidak bisa menutupi kejadian yang sebenarnya,
"Mbak apa yang mbak pikirkan," tanya Dewi.
"Tidak ada Dewi hanya saja kamu sudah tahu akan kehamilan mbak." ucapnya lirih.
"Mbak jangan pikirkan kehamilan mbak, yang terpenting sekarang mbak sehat dan juga janinnya. Kata dokter mbak harus di rawat di rumah sakit ini, " Dewi menjelaskan semuanya..
"Tok bagaimana pekerjaan mbak wi, kalo mbak di rawat." Safira juga memikirkan tentang pekerjaannya.
"Mbak gak usah kawatir pak Zain yang akan menangani semuanya, nanti setelah pak Zain kembali aku akan kembali ke pabrik ya mbak mau bekerja," ucap Dewi.
"Tapi wi,,," Safira bingung apa Zain yang akan menunggunya disini.
"Jangan begitu mbak pak Zain baik kok, mbak jangan kawatir, bukanya pak Zain itu kakak ipar Mbak." ucap Dewi.
deg
"Ka-kamu tahu dari mana.." Safira bertanya.
"Dari pak Zain kah mbak, aku juga kepo kenapa atasan kita bisa tahu mbak jadi waktu di dalam mobil aku bertanya kepada pak Zain tentang mbak, maaf ya mbak udah lancang, habisnya aku kepo." jawab dewek dengan nyengir kuda.
Safira hanya menghela nafas kasar, bagaimana tidak Zain mungkin sudah tahu akan kondisinya, sebenernya ia ingin menyembunyikan kehamilannya dari kakaknya Zain tapi apa mau dikata keadaan yang tidak mendukung, mungkin sebentar lagi akan menjadi rumit, Safira juga bingung jika nanti menjawab alasan dia pergi, apalagi kakaknya Zain juga tidak akan tinggal diam.
"Mbak kalo begitu dewi ke pabrik saja ya.." Dewi undur diri saat zain yang sudah datang.
kriek.
Dewi juga tahu akan hal itu jika yang membuka pintu adalah bosnya ia buru-buru untuk pamit karena ia juga sudah berjanji tadi.
"Baiklah mbak, kalo gitu aku pamit dulu, cepat sehat ya mbak, nanti setelah pulang dari pabrik aku akan kembali jengukin mbak." Dewi pun langsung pergi dengan menunduk wajahnya kearah Zain ganda hormat nya.
Sedangakan safira, bingung dengan tatap Zain yang seakan ingin memakan dirinya hidup-hidup.dengan menelan ludah kasar ia harus bersikap apa, apalagi melihat Zain yang membuat hatinya tidak tenang seakan ia adalah pelaku kejahatan.
"Makan lah pasti kamu lapar." ucap Zain menyodorkan bungkusan makanan.
"Terimakasih kak." Safira pun menerimanya.
"Safira apa alasan kamu pergi dari Rayan." Zain Tampa basa-basi.
"Maaf kak, Safira sudah di talak oleh mas Rayan jadi Safira sekarang bukan istri masa Rayan lagi." jawab Safira.
Dan Zain tertegun akan ucapan Safira yang menyatakan adiknya sudah menceraikannya, hingga ia pergi sejauh ini, apalagi dalam keadaan hamil, Zain juga gak habis pikir apa yang ada di otak adiknya sehingga membuang istri seperti Safira yang lembut dan juga Solehah,
"Apa yang mendasari Rayan mentalak kamu Safira." ucap Zain lagi.
"Dia ingin kembali ke cinta masa lalunya kak, jadi aku mohon sama kakak jangan beri tahu mas Rayan, karena aku sudah iklas jika memang itu membuat masa Rayan bahagia," jawab Safira lirih.
"Apa kamu tidak mencintainya hingga kamu akan mengiklaskan dirinya Fira."
"Apapun keputusannya Sekarang aku bukan siapa-siapa, hubungan kita sampai disini, dan aku akan menata masa depanku bersama anakku kak." Safira berusaha untuk tak menangis di depan zain.
"Apa kamu tidak ingin memberikan kesempatan jika Rayan ingin memperbaiki hubungan dengan kamu"
"Gak mungkin kak, sedari awal hingga sampai detik ini aku sudah memberi banyak kesempatan hingga aku sendiri memberi kesempatan kedua untuk diriku agar bisa membuat dirinya bahagia, tapi aku sadar sebesar apapun usahaku tak akan menyentuh hati mas Rayan hingga detik ini, "
"Kakak gak tahu akan masalah kalian tapi Kakak janji akan menjagamu Fira, bagaimana pun amanah kakek harus kakak tunaikan, maafkan adik kakak yang sudah menyakiti kamu, hingga sedalam ini, kakak tidak akan mengatakan apapun kepada keluargaku tapi satu hal kamu harus mau menerima semua apa yang kakak berikan, anggap kakak ini sebagai kakak kamu, jangan anggap kakak sebagai kakak ipar kamu." Zain menekan kata-kata nya.
Safira hanya diam saja, apa yang mau dikata, ia juga bingung dengan hatinya ia mengatakan bahwa memberi banyak kesempatan untuk Rayan tapi di sia-siakan, tapi ia juga masih berharap jika Rayan mau mau memperjuangkan walaupun itu sangat sulit. Baginya satu kali kesempatan tak membuat ia mencintainya.
"Sekarang kamu makan Fira, kakak tak ingin keponakan kakak sampai kenapa-kenapa, kakak akan berusaha untuk melindungi kamu dengan baik, jaga baik-baik dia hingga dia lahir, setelah melihat kamu makan kakak akan kembali ke pabrik untuk mengecek saja setelah selesai kakak akan kembali kesini lagi." ucap Zain.
"Terimakasih kak, tapi Safira mohon jangan kasih tau mas Rayan jika aku ada disini, aku gak mau menganggu kebahagian mereka." Safira yang gak ingin Rayan terbebani dengan kehadiran calon bayinya nanti,
"Baiklah jaga dia, kakak tidak akan memberi tahu keberadaan kamu, biar dia berjuang sendiri jika dia menyesal." Zain pun pamit pergi dan di balas oleh anggukan Safira.
Safira hanya ingin hidup damai Tampa bayang-bayang keluarga Rayan tapi apa mau dikata ia tidak bisa menjauh, karena Zain akan sekali mengikutinya. Apalagi dalam keadaan hamil seperti ini akan sangat beresiko jika ia berpergian.
"Maafkan mama nak, jika mama membuat kamu seperti ini apa kamu capek, mama ajak bekerja. maafkan mama juga jika mama tidak berdaya membawa kamu." Sesal Safira.