Judul sebelumnya; CASANOVA'S PARTNER
"Maukah kau menikah denganku?"
Glory terus merengek kepada Elang, sampai ada saatnya ketika dia lelah ditertawakan oleh teman ranjangnya.
Glory menghilang dan kembali dengan sejuta rahasia yang pada akhirnya terkuak setelah belasan tahun tersimpan.
Skandal ini, dimulai sebelum mereka menjadi ipar. Dan kisah pun disambung ulang setelah keduanya menjadi mantan ipar.
"Kau gadis 17 tahun itu, Glo?" tukas Elang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA EMPAT
"Uaaaahh!"
Gerald memencar mata ke segala sudut ruangan klasik keemasan ini. Istana milik Alex Miller rupanya seperti desain rumah yang ada di dalam dongeng.
Selama ini, meski Gerald tahu ibunya wanita karir yang kaya raya, ia tak pernah tinggal di tempat mewah karena memang Glory sengaja menyembunyikan mereka.
Tak boleh terlihat mencolok, berpakaian serba sederhana, mobil, rumah, semuanya hanya untuk memudahkan urusan keseharian mereka, bukan untuk pamer atau lain halnya.
"Kau suka?" Suara berat yang mengalihkan atensi kekaguman Gerald. Bocah itu menutup mulutnya dengan spontan melihat sosok Alex Miller yang selama ini hanya dia lihat di foto.
"Kau ini Kakek ku?" tanyanya sontak saja.
Alex tertawa gemas, 'kau?' anak ini berbeda dengan cucu- cucunya yang dididik di negara Indonesia ini rupanya. Tapi, Alex maklum sebab budaya setiap negara berbeda- beda.
"Tuan Alex Miller, kau kah ini?"
"Benar!" Alex merentangkan tangan, dia yakin selama hidup diasingkan, Gerald haus kasih sayang seorang Kakek.
Namun, ternyata dia salah cukup besar karena Gerald justru duduk acuh di sofa tanpa mau menerima pelukannya. Bahkan, terlihat tak tertarik mendekatinya.
"Rumah Anda sangat bagus, Tuan!" puji Gerald sambil mencoba berayun ayun di atas sofa putih dengan kayu keemasan.
"Ini mirip sekali dengan sofa yang ada di film berjudul Cinderella!" tambahnya kagum.
Sontak, Alex meredup senyum, tangannya pun kian turun, dia kecewa jujur saja. Kecewa saat anak tampan itu mengacuhkan tawaran pelukannya.
Di Indonesia, entah Dilkash atau Galensky selalu menerima pelukannya. Tapi Gerald si mungil, justru mengabaikannya.
Padahal Alex kira, Gerald haus kasih sayang seorang Kakek mengingat bagaimana anak itu langsung setuju untuk ikut bersama orang suruhannya dengan alasan ingin bertemu Alex Miller.
"Kau berani ke sini tapi tidak memelukku?"
Gerald tertawa lalu mengayunkan tangannya seperti bicara dengan tenan saja. "Kita belum cukup mengenal untuk saling memeluk, Tuan. Ingat, Mommy bilang orang jahat bisa berada di mana saja."
Walau Alex salur dengan prinsip anak itu, tapi dia kecewa karena tak mendapatkan pelukannya. "Tapi aku Kakek mu, Sayang."
"Yah, benar." Gerald mengangkat kedua bahunya enteng. "Tapi kita belum saling mengenal."
Gerald membuka tutup teko besar berwarna emas yang diletakan di atas nakas. Sungguh, semua yang ada di sini terlihat berkilau dan menakjubkan.
"Gerald tidak mau dipeluk seseorang yang belum Gerald kenal lebih jauh."
Ok, Alex setuju, lagi pula menjadi cucunya juga harus memiliki pribadi yang kuat, terutama berprinsip. "Jadi apa alasan kau mau datang ke sini hm?" tanyanya lagi.
"Gerald mau melihat sendiri, bagaimana hidup mu yang luuuaar biasa ini. Sekaligus, memeriksa, apakah wajah mu lebih tampan dariku atau tidak."
Alex tertawa. "Kau jelas lebih tampan."
"Aku rasa juga begitu ... Tuan ini tidak setampan Gerald," kata anak itu.
"Kau tidak memanggil ku Grandpa?" Alex semakin sedih mendengar sebutan Tuan di depan namanya, sementara anak itu anak ke dua Glory Alexa Miller.
"Kau mau aku panggil Grandpa?" tanya Gerald dengan wajah polosnya.
Alex menghela napas. Bocah ini sama sekali tidak menganggapnya Kakek setelah cukup tahu jika dia ini ayah dari ibu kandungnya.
"Aku ayah your Mom. Tentu saja aku berhak dipanggil Kakek oleh mu." Alex blak blakan saja, meski masih sedikit kesal dengan anak itu, tapi dia kakek Gerald asli.
"Ku kira kau tak mengakui ku," tepis Gerald dan Alex tercenung dibuatnya.
"Kau menelantarkan kami. Kau bahkan tidak pernah mau mencari tahu tentang kami. Kau sudah tahu kami, tapi baru mengambil ku ke sini. Aku tahu kau juga sering mengintip ku di sekolah," imbuh Gerald kemudian.
Alex terdiam sedikit kaget, jadi rupanya Gerald sudah paham jika dirinya sering mengawasinya diam- diam. Lewat Lucas, bahkan Alex sering menjaga anak itu.
"Jadi aku kira, kau sama sekali tidak sedang mengakui ku, tapi sedang ingin memisahkan ku dengan Daddy Elang ku," tuduh Gerald.
Daddy Elang pahlawan bagi Gerald. Karena setelah tahu rahasia jika dirinya seorang anak yang lahir dari rahim Glory, Daddy Elang segera berusaha untuk mengakuinya.
Tidak dengan Alex Miller yang justru menyuruh Lucas menikahi ibunya, Gerald peka hal itu karena saat di perjalanan tadi, Gerald sempat mendengar bisik- bisik Lucas bersama orang- orang suruhan kakeknya.
Gerald, meski diam begitu cukup peka untuk hal apa pun. Makanya, dia lebih suka diculik dari pada dibully anak tak berayah, itu cukup sensitif bagi telinga dan hatinya.
Alex bangga dengan kepandaian analis anak itu, tapi dia juga bersedih. "Kau cerdas sekali. Tapi anak sekecil kamu, tidak boleh berbicara tidak sopan dengan Kakek mu."
"Kalau begitu pulangkan aku," enteng Gerald.
"Rumah mu si sini." Alex duduk di sofa, meraih tangan cucunya. Menatap lekat wajah tampan bocah itu. "Kau akan tinggal di sini."
"Aku tidak suka dengan rumah ini. Terlalu berkilau, aku tidak suka."
Alex mengangguk. "Baiklah, kita cari rumah yang sesuai dengan kesukaan mu. Apa pun yang kau mau akan Grandpa turuti. Apa kau tidak tertarik dengan tawaran ini?"
"Gerald cuma minta satu hal darimu. Dan Gerald akan panggil Grandpa setelah itu."
"Apa pun." Alex bersedia menurutinya asal anak tampan ini menyebutnya Kakek.
"Suruh Mommy Gerald menikah dengan Daddy Elang. Tuan, akan diberi apresiasi dengan memanggil Grandpa," syarat Gerald.
"Mereka tidak saling mencintai. Untuk apa mereka menikah hm?" sanggah Alex.
"Apa aku harus mengajari Kakek tua? Kalau cinta akan menyatukan mereka setelah cukup banyak waktu yang dilewati bersama?"
Seketika Alex tertawa, tak peduli sekurang ajar apa pun anak ini. Tapi Gerald cukup berbeda dengan Dilkash dan Galensky yang terbilang minim sekali kata.
Lihatlah, dia bisa tertawa hanya karena celotehan pedas anak ini. "Kau manis sekali."
"Tuan Alex." Alex lalu mengalihkan pandangan ke kanan.
Di sana, Miko sang asisten personal yang sudah dari tahun ke tahun mengikutinya ke mana- mana, bicara. "Nona Glory dan dua cucu mu yang lain datang," infonya.
lanjut lagi cerita berikutnya
moga ga meniru cassanovanya daddymu juga.🤦♀️🤦♀️
cukup sepupuan jangan ada ikatan lebih itu lebih aman.🤭
Noah masih butuh waktu Mau karna ga mudah buat dia.