NovelToon NovelToon
My Perfect Husband

My Perfect Husband

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Tamat
Popularitas:60.2k
Nilai: 5
Nama Author: Alfianita

Pernikahan memang sesuatu hal yang amat diinginkan oleh setiap orang. Namun, seorang gadis yang bernama Dania tidak menginginkan pernikahan yang terjadi.



Skandal pernikahan yang terjadi semata-mata hanya ingin memenuhi hutang sang Ayah nya.


"Saya siap menikah dengan putra Anda, Nyonya Sofia. Tapi saya mohon ... Jangan penjarakan Ayah saya!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfianita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~MPH25~

...Tidak apa jika kamu ingin menangis. Karena kamu adalah manusia biasa dan tangisan adalah salah satu ungkapan tentang sebuah rasa. Dan hal itu sangatlah... lumrah. ...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di sebuah rumah kosong hanya dua insan sebagai penghuninya. Rumah itupun jauh dari kalangan warga.

Di dalam rumah itupun seorang perempuan terus saja mondar-mandir karena dirundung rasa panik.

“Apa polisi akan tahu tempat persembunyian kita sekarang? Bagaimana kalau kita akan tertangkap nanti?”

“Arrrgghh! Sial sekali aku harus mengalami kecelakaan itu. Aku nggak mau dipenjara!” umpat kesal seorang perempuan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Bandara Husein Sastranegara, bandara udara utama yang ada di Jawa Barat. Pasti pembaca yang berdomisili Jawa Barat sudah tahu kan.

Dan bandara tersebut Gavin berdiri dengan mengenakan kemeja hitam dan celana hitam. Tidak lupa pula dengan kacamata yang selalu bertengger di hidung mancung nya.

Gavin menyapu area sekitar bandara. Banyak sekali orang yang mau pergi dan datang. Karena Bandara Husein Sastranegara memang melayani rute internasional. Menjadi salah satu pintu masuk utama dan pintu keluar langsung bagi warga asing yang datang maupun pergi dari atau provinsi Jawa Barat.

“Katanya sudah sampai, tapi mana sih? Kenapa batang hidungnya pun tak nampak?” gumam Gavin sambil sesekali menatap jam hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.

Di sisi lain gadis remaja yang usianya sembilan belas tahun masih sibuk dengan ponselnya. Dan untuk mengisi keheningan gadis itupun selalu memakai earphones di telinganya.

Tidak lama kemudian ponsel gadis itupun berdering. Dengan separuh kesal gadis itupun menerima panggilan telepon dari seseorang.

“Halo!”

“Iya, halo. Assalamu'alaikum, anak gadis orang.”

“Ck! Sok akrab banget. Dimana sekarang? Aku sudah di lobi nih,” ucap Agatha dengan santainya.

Setelahnya panggilan itupun diputus sepihak oleh Agatha tanpa mendengar lagi ucapan Gavin.

Gavin menghela napas panjang sebelum menemui Agatha, adik kandung dari Aryan. Setelahnya Gavin separuh berlari ke lobi dan mencari keberadaan Agatha. Gavin tidak mau jika Agatha akan marah karena terlambat menjemput.

“Paling tidak keluar buat mencari, bukan duduk dan mendengarkan musik. Disini saya sudah panik, Nona Agatha.” Suara bariton khas lelaki maco menelisik telinga Agatha.

Agatha yang mengenal suara itupun mendongak. Setelah itu cengiran dari gigi runcing nya menyambut kedatangan Gavin.

“Capek, Bang. Enak itu kalau nunggunya sambil duduk. Hehe...”

“Ya sudah. Mau ke rumah sakit atau pulang? Pulang tak ada orang, yang ada hanya bibik.”

“Ke rumah sakit saja,”

Tidak menunggu waktu lama lagi. Keduanya segera menuju ke rumah sakit cinta sehat. Rasa rindu yang membuncah telah memenuhi hati Agatha. Hingga rasanya tak sabar untuk segera bertemu dengan orang yang dicintainya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

‘Lagi-lagi kenapa aku kalah sama Nia sih. Haruskah aku sekarang memakai tongkat saja biar bisa menjadi lelaki hebat untuknya?' Aryan bermonolog dalam hatinya.

[Den Aryan : Kalau mau kesini sekalian bawakan aku tongkat. Tongkatnya ada di dalam mobil mu.]

Dengan ketikan cepat Aryan mengirim pesan pada Gavin.

“Ok, kalau begitu aku akan pakai tongkat saja. Hitung-hitung...”

“Olahraga siang.” Dania tiba-tiba menyela ucapan Aryan.

“Tidak perlu berusaha terlalu keras jika memang sakit rasanya. Aku tak apa kok, beneran.” Lain di mulut lain di hati. Begitulah Dania saat ini.

Aryan mampu menangkap wajah sendu dan mata sembab Dania. Rasanya ikut teriris melihat Dania yang tidak seperti biasanya, suara cempreng dan kerap adu mulut dengannya.

Dan Aryan mengakui jika merindukan sosok Dania yang suka absurd. Bukan Dania yang sedih seperti ini.

Aryan tidak sanggup lagi melihat Dania berpura-pura kuat. Sedangkan Aryan tahu betapa rapuhnya hati Dania seperti saat ia dulu.

Aryan mendorong kursi rodanya untuk mendekati Dania.

“Tidak apa jika kamu ingin menangis. Karena kamu adalah manusia biasa dan tangisan adalah salah satu ungkapan tentang sebuah rasa. Dan hal itu sangatlah... lumrah.” Aryan menggenggam jemari Dania yang ada di atas brankar, sisi tangan Bu Ratih. Dan Aryan mengusapnya lembut dengan ibu jarinya.

“Aku pernah berada di posisi kamu, Niaa. Aku adalah putra sulungnya, tapi harus menjadi laki-laki kuat setelah kepergiannya.”

“Dan aku juga harus dihadapkan dengan sebuah janji. Janji ada untuk aku tepati. Aku harus menjaga dua bidadari tercantik di bumiku.”

“Tapi aku merasa gagal setelah kecelakaan itu. Aku sering mengurung diri karena merasa tidak pantas untuk menjaga mereka.”

Aryan menghela napas beratnya, kembali dirasakan dadanya sesak mengingat semua yang sudah berlalu. Di sanalah seorang Aryan berada di titik terendah. Seakan bangkit untuk memulai kehidupan kembali tak ada nyali.

Tes...

Aryan tidak bisa lagi menahan tangisnya. Meskipun tidak terisak tetapi air mata lolos begitu saja jatuh dari mata elangnya.

‘Mas Aryan... menangis?’

Hati Dania ikut merasa perih melihat betapa pedihnya seorang Aryan menahan masalah hidupnya selama ini. Dan kini Dania tahu mengapa Aryan mengurung diri dan menolak untuk dijodohkan dengan siapapun.

“Terima kasih, karena Mas Aryan sudah menguatkan aku disini. Sekarang aku tahu bukan hanya aku saja yang akan kehilangan segalanya.”

“Semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan sementara. Dan akan diambil sewaktu-waktu Allah menginginkannya.”

Dania mengusap air mata Aryan, lalu mengusap air matanya. Dan dengan kejutan besar Aryan kembali merasakan degup jantung yang abnormal.

Dania memberikan pelukan pada Aryan, menyalurkan kekuatan dalam menghadapi segala ujian apapun yang diberikan Allah pada hamba pilihanNya.

Deg... Deg... Deg...

Jantung keduanya berpacu dengan hebat. Dania mampu merasakan debaran jantung Aryan, begitu juga dengan Aryan yang merasakan debaran jantung Dania. Keduanya benar-benar menggila.

Namun, pelukan itu serasa enggan untuk dilerai begitu saja. Keduanya masih berada dalam mode nyaman.

“N-Nia...”

Suara Bu Ratih yang lirih tetapi masih mampu di dengar seketika mengejutkan Dania dan Aryan. Pelukan itupun telah dilerai, lalu keduanya menatap Bu Ratih yang sudah membuka mata.

“Nia, pencet tombolnya untuk memanggil dokter.” Aryan menunjuk ke arah dinding di atas brankar.

“T-tidak perlu, Den Aryan. I-Ibu hanya ingin b-bicara sama Dania.” Binar mata bahagia telah terpancar di mata Bu Ratih.

“Dania, Ibu bahagia melihat kalian berdua seperti tadi. Semoga kalian seperti itu selamanya. Semoga rumah tangga kalian sakinah, mawaddah, warohmah.” Bu Ratih mengucapkan dengan terbata-bata.

Dania tersenyum tipis, lalu ia menatap Aryan yang ikut mengembangkan senyum.

“Doa Ibu adalah dukungan kami.” Dania mengusap punggung Bu Ratih yang tidak diinfus.

“Nia... jaga adik-adikmu. Maafkan Ibu! I-Ibu...”

Tutttt... Tutttttttt...

Kembali suara dari layar monitor telah melengking yang memekik telinga bagi pendengarnya. Meremas hati bagi yang melihatnya.

Lagi-lagi Dania dihadapkan dengan rasa kehilangan untuk selamanya. Baru saja tadi pagi tanah yang masih dipenuhi taburan bunga kini harus ada lagi kesedihan itu.

“Menepi lah Bu! Sekarang Ibu tidak lagi merasakan sakit apapun. Semoga Ibu tenang di sana dan bertemu Bapak.” Dania berusaha untuk menegarkan hatinya.

Aryan dan Dania keluar dari ruangan itu setelah dokter melakukan tindakan. Namun hasilnya kembali nihil setelah beberapa kali dokter melakukan kejut jantung.

Tepat pukul sepuluh pagi Bu Ratih dinyatakan telah meninggal dunia. Dan akan segera dikebumikan di pemakaman umum di kota Bandung.

Dan rencananya makan Bu Ratih akan bersebelahan dengan makan Pak Handoko.

Setelah mengurus pemandian jenazah, segera jenazah Bu Ratih dibawa ke rumah Nyonya Sofia. Dan di sana sudah banyak sekali warga yang ikut turut berduka.

Warga tahu jika Dania adalah perempuan baik yang berhati mulia. Sehingga mereka ikut bela sungkawa mendengar kematian Bu Ratih setelah kematian Pak Handoko.

“Bu, Dania sudah ikhlas. Dania janji akan menjaga Danu dan Dewi. Ibu dan Bapak tenang saja di sana.” Dania mengusap batu nisan Bu Ratih lalu menciumnya.

“Bu, Danu juga sudah ikhlas. Dan sebagai anak laki-laki Danu akan kuat. Danu akan menjaga Mbak Nia dan Dewi.” Danu melakukan hal sama, mengusap batu nisan Bu Ratih dan menciumnya.

Setelah semua warga silih berganti meninggalkan makam Dania menyadari bahwa adiknya tidak berada di sana. Seketika itu Dania merasa panik, ia pun menyapu halaman sekitar.

“Danu, dimana Dewi? Kenapa tidak ada di sekitar sini?”

“Danu juga tidak tahu Mbak. Tadi ada kok di samping Danu. Tapi...”

Dania masih tidak menemukan keberadaan Dewi. Kembali rasa panik melanda keduanya. Dania dan Danu tidak mau kehilangan Dewi. Keduanya berlari keluar dari tempat pemakaman umum untuk mencari keberadaan Dewi.

Aryan yang memakai tongkat pun ikut mencari. Meskipun rasanya sulit untuk melangkah cepat tetapi Aryan terus berusaha sambil menahan nyeri di kakinya.

“Woi, my sister in law!” teriak seorang perempuan.

Dania seketika menoleh mendengar teriakan itu. Begitu juga dengan Danu dan Aryan. Ketiganya memusatkan pandangan mereka pada Agatha.

Pletak!

“Aduh! Sakit tahu Bang. Kenapa juga harus dijitak sih?” gerutu Agatha sambil mengusap kepalanya yang kena jitak.

“Sama kakak ipar itu harus yang sopan. Salam dulu kek,” ucap Gavin.

Dania merasa asing dengan Agatha tetapi tidak dengan gadis yang berdiri di samping Agatha. Saat pertama kali melihat gadis itu Dania berlari dan menghampirinya.

“Kamu darimana, Dek? Mbak dan kak Danu khawatir kamu kenapa-napa. Jangan pergi lagi ya!” ucap Dania lalu memeluk Dewi.

“Maafkan Dewi, Mbak Nia. Dewi...”

“Sudah, jangan maaf-maafan! Belum waktunya untuk lebaran, hehe...” sambung Agatha dengan cengiran.

Agatha mengusap puncak kepala Dewi. Setelah itu tatapannya beralih pada Aryan yang berdiri dengan dua tongkatnya.

“Kangen! Pengen peluk.” Agatha tersenyum, lalu menghampiri Aryan.

Aryan menyambut Agatha dengan hangat. Bahkan saat Agatha memeluknya Aryan ikut menumpahkan kerinduan yang memang perlu untuk diobati segera.

‘Siapa sih nih orang? Nggak sopan banget.’ Dania penasaran dengan adegan di depannya.

“Dania!” panggil seorang laki-laki.

Dania menoleh dan laki-laki itupun menghampiri Dania. Bukan hanya menghampiri Dania saja tetapi laki-laki itu... memeluknya.

Bersambung...

1
anikbunda lala
jangan2 authornya 😩
anikbunda lala
capek ya bacanya ...lompat2
anikbunda lala
lebay ngidamnya
anikbunda lala
opo meneh
Lina Katarina
kasian si barac
Althaf_Nur11
Air mata kalau menetes itu bunyinya kayak gimana, Kak? Serius nanya. 😁
desi
Knp si harus ada kata tes….😂
Alfiatul Khoiriyah
Kecewa
Althaf_Nur11: kecewa dimana nya kak?
total 1 replies
Alfiatul Khoiriyah
Buruk
Althaf_Nur11: oh iya kak, tidak apa-apa kok. Terima kasih sudah mampir/Kiss/
total 4 replies
Fitri Nur Hidayati
hilang malunya y niaa.
Fitri Nur Hidayati
isabella dipanggil Bella, jadi pacarnya Raka sekarang y thor
Althaf_Nur11
Terima kasih Kak🥰
Fitri Nur Hidayati
wow tajam.banget ucapannya dania. tapi it's oke lah. kan si aryan nya juga galak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!