Saat itu Diana tidak akan pernah menyangka bahwa dirinya akan berubah nasib menjadi tahanan cinta seorang pria tampan dan juga kaya. Dia dibawa paksa untuk menikah dengan pria yang tak dikenalnya itu.
Akankah Diana bisa melalui semuanya dengan sabar? ataukah dia akan berusaha kabur dari genggaman pria tersebut?
🌸🌸🌸🌸
Nantikan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leticia Arawinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Diana menyentuh tangan Evans yang sedang memeluknya.
"Hmph! suamiku, apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Diana dengan serius.
"Oh, begini. Istriku bisakah kamu tidur di kamarku lagi? aku mau terus bersamamu setiap hari, apa istriku mau?"
"Eum.. bukannya sebelumnya kamu melarang ku?" tanya Diana lagi.
"Maafkan aku istriku, saat itu aku terlalu pengecut tapi sekarang aku tidak mau jauh darimu, mau ya?" ucap Evans sambil memohon.
"Baiklah tapi janji jangan buat aku kecewa lagi"
"Iya istriku"
Evans menjadi lebih senang lagi karena Diana mau kembali ke kamarnya dan mau tidur bersama dengannya setiap hari.
Setelah membahas masalah sekamar kembali, kini keduanya mencoba mendatangi Lucas yang seharian terus bersama dengan bibinya.
Itupun karena keduanya terlalu lama berada di kamar Diana hingga waktu yang di lewati ternyata sudah lama berlalu hingga langit sudah menjadi gelap.
"Evans, apa tidak apa-apa kalau kita kesana sekarang?" tanya Diana merasa cemas.
"Kita kan orang tuanya Diana, kenapa kamu ragu? tidak apa-apa, Lucas pasti senang kita ke kamarnya" jawab Evans mencoba menenangkan Diana.
"Hmph! baiklah, kuharap seperti yang kamu bilang Evans"
"Iya istriku"
Kebetulan pintu kamar Lucas terbuka sedikit sehingga Evans dan Diana masuk setelah terlebih dahulu mengetuk pintu.
"Lucas? kamu belum tidur nak?" tanya Evans menghampiri Lucas yang sedang bersama pengasuhnya.
Rupanya Kirana barusan pergi setelah cukup lama bersama dengan Lucas.
"Belum papa" jawab Lucas dengan riang.
Diana tersenyum menatap Lucas begitupun dengan Lucas.
"Sini nak, mama kangen Lucas" ucap Diana sambil merentangkan tangannya.
"Iya mama"
Lucas menghampiri Diana dengan cepat lalu memeluknya dengan hangatnya.
"Papa juga peluk" ucap Lucas meminta Evans memeluk mereka juga.
"Baiklah"
Dengan senang hati Evans memeluk Diana dan juga Lucas dengan penuh kasih sayang.
Kebersamaan yang mereka rasakan sangat indah dan tak ingin terpisahkan oleh apapun sehingga Evans merasa kehadiran Kirana menjadi ancaman bagi Diana.
"Lucas sekarang papa tanya, kenapa Lucas tidak main dengan mama?" tanya Evans dengan serius.
Lucas menjadi bingung karena tidak mengerti dengan situasinya dan takut melihat Evans menatapnya tajam.
"Evans, jangan seperti itu! Lucas kan masih kecil, dia belum mengerti" ucap Diana merasa cemas.
"Hmm.. maaf sayang, papa tidak bermaksud membuatmu bingung" kata Evans.
Diana ingin menanyakan hal yang sama namun dia tidak mau membuat Lucas bingung karena pertanyaan yang terlalu berat.
"Lucas sayang, tadi siang mama kan panggil Lucas. Biasanya Lucas selalu menghampiri mama, apa yang Lucas sedang tidur?" tanya Diana dengan perlahan.
"Tidak! Lucas dengar mama tapi ada bibi" jawab Lucas dengan tegas.
"Oh, begitu. Apa bibi bilang sesuatu ke Lucas?" sambungnya lagi.
"Bibi bilang sedih kalau Lucas tidak main sama bibi" jawab Lucas.
Evans dan Diana saling bertatapan dengan menganggukkan kepala seolah sepaham dengan pemikiran mereka.
Mereka menemui titik terang tentang garis beras yang bisa di simpulkan kenapa Lucas tidak merespon kedatangan Diana.
"Yasudah, Lucas sudah makan?" tanya Diana.
"Sudah mama"
"Anak mama pintar ya" kata Diana.
"Lho, kenapa cuma anak mama? Lucas kan anak papa juga" celetuk Evans.
"Iya deh iya, anak mama dan anak papa pintar ya" ucap Diana dengan menambahkan Evans di dalam perkataannya.
Semuanya tersenyum senang karena saling menyayangi dengan cara masing-masing.
"Lucas tidur ya, sudah malam" ucap Evans sambil mengelus kepalanya.
"Iya tapi Lucas mau tidur sama mama dan papa" jawab Lucas dengan penuh harap.
Dalam benak Evans yang senang saat tahu Diana akan tidur di kamarnya lagi kini justru harus mengalah karena anaknya sangat ingin tidur bersama dengannya dan juga Diana.
Sedangkan dalam benak Diana sangat senang karena bisa terbebas dari gangguan Evans yang selalu ingin menyentuhnya di setiap sedang berduaan.
"Baiklah, mama juga mau tidur sama Lucas. Ayo sayang" Diana menggandeng Lucas untuk menuju ke tempat tidurnya.
"Diana, kamu sepertinya sangat senang ya? padahal malam ini kamu kan janji mau tidur di kamar kita lagi" tanya Evans sedikit kecewa.
"Sstt! Evans, ini kan permintaan Lucas. Lagian kita kan sudah berduaan dari tadi" bisik Diana tak ingin di dengar oleh Lucas.
"Hmph! baiklah, kali ini saja ya" Evans membalas membisikkan ke telinga Diana.
"Iya iya"
Evans mengangkat tubuh Lucas agar bisa dengan cepat naik ke ranjang besar di kamar Lucas kemudian dengan perlahan Evans menurunkan Lucas untuk tidur di tengah-tengah mereka.
"Tidur ya sayang" ucap Diana sambil menepuk-nepuk Lucas.
Sedangkan Evans menggenggam tangan Lucas yang mungil itu dengan perasaan yang senang. Kini bersama dengan Diana rasanya sudah seperti angan-angannya saat menjalani kehidupan rumah tangga dengan ibu kandung Lucas meskipun sekarang bukan dengan sosoknya melainkan dengan Diana pengganti ibunya Lucas yang memiliki sifat baik seperti ibu kandung Lucas.
"Diana, aku sangat senang karena kamu wanita yang baik dan penuh kasih sayang. Aku tidak menyesal sudah menjadikanmu istriku" benak Evans.
Evans tersenyum menatap wajah Diana yang sedang menatap Lucas dengan penuh kasih sayang.
Kemudian Evans memeluk Lucas hingga menjangkau Diana dalam pelukannya.
Dibawah atap yang sama di atas kasur yang sama, kini Evans tidak merasakan kesepian lagi dan hanya akan ada kebersamaan yang indah dengan anak dan istrinya yang sekarang.
"Aku tidak ingin semua ini berakhir, kuharap Evans tidak akan mempertanyakan kontrak pernikahan kami dan akan terus menjadikanku istrinya" benak Diana sambil menatap wajah Evans yang kini sedang memejamkan matanya.
Banyak kekhawatiran yang Diana rasakan karena selama ini Evans tidak pernah menegaskan hubungan mereka yang terjalin karena kontrak.
Namun Diana kini sudah sangat nyaman bersama dengan keluarga barunya ini apalagi Lucas selalu menjadi penyemangat baginya dan juga Evans yang kini bersikap baik kepadanya.
Kirana yang mengetahui bahwa Diana dan Evans sedang tidur di kamar Lucas menjadi geram dan tidak terima.
"Seharusnya itu menjadi posisiku, lancang sekali perempuan jal*ng itu merebut Evans dan juga Lucas" gumam Kirana setelah mendengar kabar itu dari salah satu pelayan.
Dia mengepalkan tinjunya dan memukul meja dengan cukup keras hingga melemparkan gelas ke tembok karena sangat kesal dan emosinya meluap mendengar kebahagiaan yang dirasakan oleh Diana.
Sifat Kirana yang tempramental itu semakin terlihat jelas saat keinginannya tidak terpenuhi. Dia yang berfikir akan dengan mudah menempati posisi adiknya yang sudah meninggal justru sekarang harus menelan pahitnya kenyataan yang menyakitkan.
"Awas saja Diana, nikmati saja sekarang tapi kedepannya aku lah yang akan menggenggam penuh atas diri Evans yang sudah seharusnya jadi milikku" ucapnya dengan penuh amarah.