PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ervano. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melihat pada Naima. Gadis itulah yang sudah memberikan tamparan tadi. Mata gadis itu menatap nyalang pada Ervano. Dia sama sekali tidak menyangka pria yang dekat dengannya bisa melakukan hal yang melecehkan harga dirinya sebagai wanita.
“Ima, maafin aku.. aku..”
“Aku ngga nyangka, bang. Serendah itu pikiran abang sama aku!!”
“Ngga, Ima. Ngga begitu. Aku… ngga sengaja. Aku khilaf, maaf.”
“Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan tidak menyentuh yang bukan miliknya. Terima kasih, bang. Aku cukup tahu kelakuan abang seperti apa. Mulai sekarang, lebih baik kita ngga ketemu lagi. Aku tidak membenci abang, tapi bukan berarti aku bisa terus berteman dengan abang.”
Setelah mengatakan itu, Naima segera pergi meninggalkan Ervano dengan perasaan marah, kecewa sekaligus malu. Ervano hanya bisa memandangi kepergian Naima tanpa bisa melakukan apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alden's Angels
Hari Minggu siang, Alden sudah berada di bioskop. Sesuai janjinya, dia hendak mengajak Cyra menonton. Mereka datang secara terpisah. Alden datang sendiri, sementara Cyra datang bersama dua orang bodyguard-nya, Zayn dan Fabian. Kehadiran Zayn, tidak masalah untuk Alden, berbeda dengan Fabian. Pria itu sudah menyiapkan jebakan batman untuknya.
Alden segera menuju tempat pembelian tiket, dia memang sudah memesan tiket sebelumnya secara online. Kebetulan genre film yang mereka sukai sama, karenanya dia tidak kesulitan memilih film yang akan ditonton. Mereka akan menonton film action yang dibintangi aktor Hollywood ternama spesialis action.
Baru saja Alden mengambil tiket, Zayn, Fabian dan Cyra sudah datang. Pria itu segera mendekat lalu memberikan tiket di tangannya, masing-masing satu tiket. Tanpa curiga, Fabian mengambil tiket yang diberikan oleh pria yang tengah mati-matian mengejar sang adik.
“Studionya udah buka, kalian masuk aja dulu. Aku mau beli popcorn sama minuman.”
Zayn hanya menganggukkan kepalanya. dia mengajak Cyra untuk lebih dulu masuk. Berbeda dengan Fabian, pria itu memilih menunggu di dekat pintu studio. Jangan sampai Alden duduk di dekat adiknya.
Ketika Alden tengah membeli popcorn dan minuman, tiga orang perempuan dengan dandanan cetar membahenol datang menghampirinya. Mereka adalah asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman Juna, Abi dan Anfa. Alden sengaja membawa mereka nonton untuk memberikan mengerjai Fabian. Salah seorang di antaranya menepuk pundak Alden seraya membuka kacamata hitamnya.
“Mas Alden,” sapanya.
“Eh bi Menul udah datang. Ini tiket buat kalian. Pesan popcorn dan minuman dulu buat teman nonton.”
“Terima kasih, mas.”
Dengan senang hati ketiga wanita itu memesan popcorn dan minuman. Bukan itu saja, dia juga menambah pesanan lain. Alden membebaskan mereka memesan apa saja, yang penting mereka bisa melakukan tugasnya dengan benar.
“Pokoknya jangan lupa seperti yang aku briefing semalam ya,” Alden mengingatkan.
“Siap mas Alden.”
“Alden’s Angels, siap bertugas?”
“Siap, mas.”
Setelah membayar semua pesanan, Alden lebih dulu pergi meninggalkan mereka. Pria itu berjalan menuju studio 3. Sesuai dugaannya, pasti Fabian memilih menunggunya lebih dulu. dia memberikan popcorn dan minuman, lalu masuk ke dalam studio. Keduanya berjalan menapaki anak tangga, mencari nomor kursi mereka. Lampu di dalam studio juga masih menyala.
Pandangan Alden langsung tertuju pada Zayn dan Cyra yang sudah duduk berdampingan. Posisi mereka ada di tengah, seluruh kursi yang berada di deretan mereka sudah penuh, hanya menyisakan satu kursi kosong saja. Alden segera menuju ke sana, ketika Alden hendak memasuki deretan, Fabian menahannya.
“Eh, mau kemana?”
“Duduklah, itu kan kursiku,” Alden menunjukkan tiketnya.
“Ini penuh semua, kamu ngga salah beli tiket?”
“Ngga. Coba lihat, kursi kamu di mana?”
Fabian melihat tiket di tangannya. Ternyata tiket miliknya berada di deretan B sebelah kanan. Sedang sang adik berada di deretan C sebelah kiri. Dengan santai Alden memasuki deretan, lalu duduk di kursi yang masih kosong, tepat di samping Cyra. Pria itu kemudian melihat pada Fabian dengan senyum penuh kemenangan.
Dengan hati dongkol, Fabian segera menuju kursinya. Baru saja dia mendudukkan diri, muncul Alden’s angels, mereka duduk mengapit Fabian di tengah-tengah. Menul berada di samping kanan Fabian, Denok di samping kiri pria itu, sementara Sumi di samping Denok. Fabian berdehem sebentar, dia merasa tidak nyaman duduk di antara tiga wanita dengan dandanan menor dan wangi parfum yang begitu menyengat.
Tak berapa lama kemudian lampu studio mulai padam. Layar lebar di depan mulai menyala. Setelah beberapa iklan, film pun dimulai. semua penonton mulai terhanyut dalam jalannya cerita. Sebenarnya Alden’s angles tidak terlalu mengerti tentang film action produksi Hollywood. Menul adalah penggemar berat drama ikan terbang, Sumi penggemar serial India, hanya Denok saja yang menyukai film action, itu pun hanya film yang dibintangi bang Haji Rhoma Irama.
Awalnya mereka menonton dengan tenang, tapi ketika adegan sudah semakin menegangkan, dan banyak terdapat adegan baku hantam dan tembakan, Alden’s angels mulai berulah.
“Ya Allah gusti, meni sadis kieu. Teu kuat abi mah, teu kuat, Gusti tulungan atuh eta jagoanna!” Menul berbicara cukup kencang.
“Ya ampun nenek Tapasya, tolongin eta si bule dengan kejulidanmu,” Sumi.
“Hajar weh.. tah kitu, habeg.. tong eleh geleng. Puas siaaa!!!”
Denok yang gemas sang pemeran utama terus terkena pukulan, mulai memberikan semangat ketika adegan baku hantam terjadi. Fabian menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, kemudian pandangannya tertuju pada Alden yang ada di bagian sebrang. Bertepatan dengan itu, Alden menoleh ke arahnya. Sebuah senyum diberikan oleh Alden. Fabian hanya mendengus kesal. Ternyata pria itu sedang mengerjainya.
“Ya Allah… ya Allah.. paeh teu eta jagoannya,” Menul.
“Moal paeh, maenya boga lalakonna paeh, teu seru atuh (ngga akan mati, masa pemeran utamanya mati, ngga seru dong),” Sumi.
“Eta musuhna di tukangeun, kalakah ka dinya, belegug siaaa! (itu musuhnya di belakang, malah ke sana, dasar bego!),” Denok
“Heh!! Bisa pada diam ngga?!” kesal Fabian.
“Punten, kang, terlalu menjiwai,” seru Denok sambil terkikik.
“Ih si akang meni judes,” Sumi.
“Aduh… sieun aaah.”
Tiba-tiba saja Menul memeluk lengan Fabian, kemudian menyembunyikan wajahnya ke lengan pria itu. Lumayan, kapan lagi dia bisa memegang pria ganteng seperti Fabian. Refleks Fabian langsung melepaskan pegangan Menul di tangannya.
“Jangan pegang-pegang!”
“Woi!! Berisik mulu lo pada! Diam napa!” seru penonton yang ada di bagian belakang.
“Norak banget sih! Belum pernah nonton di bioskop ya!”
“Tau tuh, nonton bawa bini tiga, berisik semua!” sambung yang lain.
Mata Fabian membulat mendengar ucapan orang terakhir. Kesal dengan kelakukan tiga wanita aneh di dekatnya, Fabian segera berdiri. Pria itu bergegas menuruni anak tangga dan keluar dari studio. Melihat Fabian keluar dari studio, sontak Alden langsung tertawa. Zayn langsung menoleh pada pria itu.
“Itu pasti kerjaan kamu ya?”
“Hahaha.. sorry bang, adek abang yang satu abisnya julid banget, hahaha..”
Tak ayal Zayn pun ikut tertawa mendengarnya. sudah terbayang wajah Fabian yang jarang tersenyum kecuali pada pelanggan, semakin kusut ketika direcoki Alden’s angels. Cyra pun tidak bisa menahan senyumnya. Dari sekian pria yang mencoba mendekatinya, hanya Alden saja yang tahan banting dengan kelakuan Fabian.
Cyra menolehkan kepalanya, melihat pada Alden. Pria itu terlihat semakin tampan ketika sedang tersenyum. Buru-buru Cyra mengalihkan pandangannya kembali ke layar lebar, ketika Zayn melihat padanya. Sang kakak hanya menyunggingkan senyum tipis. Sepertinya Alden sudah bisa membobol dinding tebal yang dibangun sang adik untuk para pria yang berusaha mendekatinya.
Film yang berdurasi 110 menit itu akhirnya selesai juga. lampu studio kembali menyala. Semua penonton bersiap untuk keluar dari studio. Alden, Zayn dan Cyra memilih duduk lebih lama, menunggu penonton lain keluar lebih dulu. Ketika kepadatan penonton mulai berkurang, barulah ketiganya bangun dari duduknya.
Saat menuruni anak tangga, mata Zayn menangkap sosok yang dikenalnya berada di bagain depan. Wanita itu berjalan keluar dari studio. Bergegas Zayn mengejarnya. Dia menerobos barisan penonton lain yang tengah keluar. Hal tersebut tentu saja membuat Alden dan Cyra terkejut. Keduanya bergegas menyusul Zayn.
Zayn terus berlari mengejar wanita yang dikenalinya tadi. Sesampainya di luar studio, pandangannya berkeliling. Dia mencari ke arah lain, namun wanita itu tidak ditemukannya juga. sebuah tepukan di pundak mengagetkan pria itu.
“Bang, cari siapa?” tanya Fabian.
“Feli..”
“Feli? Felicia mantan abang maksudnya?” Fabian nampak terkejut.
“Iya.”
“Abang salah lihat kali.”
“Ngga, aku yakin kalau itu Feli.”
“Feli udah meninggal, bang. Abang pasti salah lihat.”
Zayn tersadar ketika mendengar ucapan Fabian. Felicia memang sudah meninggal dalam kecelakaan tunggal. Mayatnya ditemukan di dalam mobil yang terbakar. Tubuh Felicia memang habis terbakar hingga sulit untuk dikenali. Namun wanita itu memiliki tato yang sama di pergelangan tangan dan juga mengenakan cincin pertunangan darinya. Tes DNA juga membuktikan kalau itu adalah Felicia.
Alden dan Cyra yang sudah keluar dari studio segera mendekati Zayn. Wajah pria itu masih terlihat bingung. Cyra bergegas mendekati sang kakak.
“Abang kenapa?”
“Tadi abang lihat perempuan yang mirip Feli katanya,” jawab Fabian.
“Bang, kak Feli sudah meninggal. Abang jangan terus memikirkannya.”
“Tapi abang yakin kalau itu Feli, dek.”
“Bagaimana orang yang sudah meninggal bisa muncul lagi. Berhenti menyalahkan diri abang sendiri. Kematian kak Feli bukan kesalahan abang. Abang terlalu memikirkannya, makanya sampai melihat orang yang mirip dengannya.”
Zayn mengusap wajah dengan kedua tangannya, mungkin saja dia salah mengenali orang. Alden yang berada di dekat mereka hanya terdiam saja. Namun otaknya terus memikirkan apa yang ketiga orang ini perbincangkan.
“Bang Al.. terima kasih buat acara nontonnya. Tapi aku harus pulang sekarang,” ujar Cyra membuyarkan lamunan Alden.
“Eh iya, hati-hati.”
Sambil memegangi lengan sang kakak, Cyra meninggalkan Alden. Di sampingnya, Fabian mengikuti. Sementara Alden berjalan menuju sudut yang agak sepi. Dia mengambil ponselnya, lalu menghubungi Dion, ketua tim keamanan keluarga Hikmat.
“Halo, mas Alden.”
“Halo, om. Aku boleh minta tolong?”
“Soal apa, mas?”
“Tolong selidiki perempuan bernama Felicia. Kabarnya dia sudah meninggal. Aku ngga tahu pasti penyebabnya meninggal dan kapan. Apa om bisa mencari tahu? Dia pernah ada hubungan dengan Zayn. Dia seorang AKP di kantor polrestabes Bandung, bagian reskrim. Bang Tamar mengenalnya.”
“Baiklah, saya akan berusaha mencari tahu soal dia.”
“Terima kasih, om.”
“Sama-sama.”
Panggilan keduanya berakhir. Alden berjalan keluar dari bioskop. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Menul memanggilnya. Pria itu berhenti untuk menunggu tiga diva itu mendekat, baru kemudian mereka berjalan bersama. Alden harus mengantarkan mereka sampai ke rumah tempat mereka bekerja dengan selamat. Jangan sampai ada yang menculik ketiganya. Percayalah, sang penculik dijamin menyesal jika sampai menculik mereka.
🍄🍄🍄
Seperti yg kubilang di novel ini aku akan banyak libur, bisa tiap 4 atau 3 bab. Kalau sudah genap 20, 40, 50-80 bab aku pasti libur. Ini biar retensi yg dipatok NT tercapai. Belajar dari pengalaman Azzam, aku up tiap hari, double up, malah bikin retensi ambyar. Jadi harap maklum. Biar kita sama² enak, kalian bisa tetap baca karya ini dan aku bisa dapat benefit dari tulisanku🙏 Jangan lupa klik bintang 5 biar pop novel ini naik ya🙏