Pernikahan terpaksa ini sungguh menyakitkan..
Apalagi jika benih cinta mulai muncul secara sepihak..
ah begitu sakit rasanya..
Tapi aku harus kuat, Aku tak ingin membuat banyak hati kecewa karena sikapnya padaku..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mynamei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PSH - 25
Fel saya baru berangkat dari kantor, tunggu!
Pesan singkat tersebut di kirimkan oleh Rey karena kesibukannya hari ini membuatnya hampir lupa jika ia hendak mengantar Fely ke rumah sakit, ah lebih tepatnya ia sendiri yang ingin menemani Fely...
Fely membaca pesan itu, lalu ia duduk di area parkir sambil menunggu kabar kedatangan dari Rey..
"Fell...." Sapa Fahri
"Hay... " kata Felly sedikit kaku dan dingin
"Ngapain disini? biasanya di DPR" Tanya Fahri penasaran
"hemm gapapa cuma mau pengen suasana baru aja sih" kata Fely
"hemm gitu yaa, oh iya selamat yaa yaa paling tidak kamu sudah masuk tiga besar acara lomba itu" kata Fahri menjadi ikut kikuk karena sikap cuek Fely
"iya Makasih RI..." jawab Fely
"kedua temanmu mana?" Tanya Fahri
"oh mereka masih ada ujian" kata Fely
"oh iya aku lupa kalo gadis cantik di samping aku ini juga pintar, matakuliah tingkat aku saja kamu lahap dengan mudah" kata Fahri terkekeh membuat Fely merasa malu sekaligus senang melihat senyum Fahri, seolah menyejukkan hati...
"siang bolong, menggoda aja" kata Fely menggelengkan kepalanya
"karena udah siang, makan yu" Kata Fahri berdiri dan menarik pelan tangan Fely
disaat yang bersamaan mobil yang di kendarai Rey berbelok menuju area parkir, dengan jelas Rey menangkap kejadian itu dengan kedua matanya..
Fely yang belum menyadari kedatangan Rey dengan cepat melepas tangan Fahri..
"Aku ada janji, lain kali yaa"Kata Fely ramah
"hemm baiklah, aku anggap itu janji dan akan aku tagih" Kata Fahri masih dengan posisi berdirinya
"seperti anak kecil aja kamu Ri.. kata Fely terkekeh
Fahri juga ikut terkekeh kala itu..
tawa kecil Fely terhenti ketika dering ponselnya...
"Asssal....
"saya di depanmu, cepatlah" kata Rey memotong ucapan Fely dan langsung menutup sambungan itu..
Mata Fely menuju ke arah mobil sedan mewah yang berjarak sekitar sepuluh meter dari posisinya duduk...
"Fahri maaf aku duluan yaa, sodaraku sudah datang..." Ucap Fely berdiri
"oh ya.. baik hati-hati ya Fell...." Kata Fahri melepas langkah Fely menjauh
"ingat janjimu yaa" teriak Fahri membuat Fely menoleh dan memberikan jempolnya pada Rey...
***
kenapa orang ini jutek banget! kalo sibuk kenapa harus di paksakan? dia kan tau aku juga gak mau banget kok pergi kontrol...
Batin Fely...
Kemacetan Ibu Kota sepertinya tak mengenal waktu, bahkan disiang bolong seperti ini tak membuat kepadatan merengang barang sedikit...
"Bang... Abang udah makan siang?" Tanya Fely hati-hati
"belum, kamu laper?" tanya Rey dingin
"enggak kok bang, Fely biasa ga makan siang" ucapnya Jujur membuat Rey berfikir apa maksudnya terbiasa tak makan siang, namun Rey enggan menanyakan hal tersebut...
****
"tunggu disini aja biar saya yang daftar" Kata Rey menitah Fely agar duduk di kursi tunggu..
Fely menurut saja kala itu..
Tak lama Rey kembali..
"Dokternya sedang istirahat, dan mulai lagi jam 2 katanya.. kita makan siang dulu aja yu?" Kata Rey sudah sedikit melembut
"dimana?" Tanya Fely dingin
"Di sebrang sini aja..." kata Rey menunjuk ke arah luar gedung
Fely mengangguk mengikuti Rey..
Jalan cukup ramai, tak terdapat JPO terdekat untuk menyebrang membuat mereka terpaksa berlarian kecil untuk menyebrang dengan mengulurkan tangan agar mobil bisa mengurangi kecepatannya..
Spontan Rey meraih jemari Fely, di genggamnya dengan erat, Tidak ada penolakan dari Fely, ia sedikit tersenyum melihat tangannya kini berada dalam genggaman Rey...
Sampai di dalam restoran tersebut Rey melepas genggaman itu, seolah ia salah tingkah akan perbuatannya sendiri...
"mau makan apa?"
" ikut aja ,... hemm Fely sholat dulu yaa, gapapa kan ?" tanya Fely seolah mengharuskan Rey mengizinkan
"oh iya..." Jawab Rey kaku..
Rey melihat Fely berjalan menuju arah mushola restoran tersebut, ada rasa malu dalam dirinya, disisi lain ada rasa kagum pada diri Fely..
Rey memesan dua porsi makanan dan minuman yang sama...
Fely meninggalkan ponsel serta dompetnya, dengan rasa penasaran Rey memegang ponsel itu...
ponsel nya lumayan mahal untuk sekelas dia yang katanya hidup susah di Jakarta...
Batin Rey kemudian mengklik tombol samping ponsel itu, Rey tersenyum melihat foto Fely tengah menjulurkan lidahnya dengan satu mata tertutup..
manisnya.....
Meski ponsel itu tidak terkunci dengan mode pengaman apapun, namun Rey tidak ingin membukanya, menurutnya ini bukan saatnya bersikap jauh seperti itu....
Rey menyadari sikap dingin Felly hari ini, entah itu karena sikapnya juga atau karena ucapannya soal menikah lagi..