Misteri kasus orang hilang sejak tahun 1986 hingga 2017 membuat semua orang menjadi takut, bahkan pihak berwajib pun tidak bisa melakukan banyak hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HousingAmoeba45, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25: Memori
Raezha dan Nita datang lagi ke tempat malam tadi. Tidak seperti malam tadi, kali ini mereka sampai pada pagi hari sehingga tidak masih cerah dan tidak ada yang akan berpikir aneh-aneh kalau seseorang melihat mereka berdua. Mungkin.
Mereka berhenti di bawah dedauan pohon rindang nan lebat, Nita berdiri membelakangi pohon yang meneduhkan mereka. "Jadi, kayaknya aku semakin yakin kalau kamu beneran anomali." Seringai Nita terukir di wajahnya.
"Ya mana mungkin lah, lebih masuk akal kalau yang dibilang Listya itu ternyata kekuatan superku. Kan keren." Ucapnya dengan perasaan bangga membayangkan kekuatan supernya yang bisa jadi ia miliki.
Seringainya masih terukir di wajah Nita. "Heh, ngayal." Ia terkikik kecil dan mengejek Raezha mendengar khayalannya.
"Ya bisa aja kan." Cengirnya.
Nita hanya menggelengkan kepalanya, setelah itu ia melanjutkan pembicaraan penting yang terpotong kemarin malam. Tangannya menyilang sambil bersandar di pohon di belakangnya. "Soal malam tadi, aku sempat tanya Listya tentang kelompok itu tapi ia juga tidak tau banyak. Wajar sih soalnya dia jarang banget keluar fasilitas." Ucapnya sembari melihat-lihat sekitar berpikir apa yang bisa menjadi petunjuk untuk mengungkap kelompok.
Gerak-gerik Nita malah membuat Raezha heran, bingung, sekaligus pensaran apa yang ingin dicapai atau tujuan Nita untuk mengetahui kelompok itu. "Kamu kok kayaknya obsesi banget dengan kelompok itu?" Tanya Raezha.
Wajah Nita mendongak sedikit melihat Raezha, ia menjelaskan kenapa ia sangat ingin mengetahui kelompok tersebut. "Jelas untuk membongkar dalang dibalik semua bencana anomali ini, dan...." Jawabanya serius, namun ekspresinya langsung berubah menjadi murung seperti diliputi kesedihan, lalu ia menurunkan wajahnya. "Untuk balas dendam atas kematian Ayahku."
Raezha merasa iba mendengar curhatan Nita. "Begitu ya..., maaf sudah nanya, aku tidak tau kalau pertanyaan bakal bikin kamu teringat sesuatu yang menyakitkan." Balas menyesali pertanyaannya.
Nita melihat Raezha lagi. "Kamu gak salah kok, akunya memang enggak mau melupakan ini sampai semua monster-monster itu habis tak bersisa dan dalangnya terbongkar." Ucapnya. Nita tidak menyalahkan Raezha karena pertanyaan ia tanyakan, justru Nita malah merasa kalau pertanyaan itu penting agar mereka saling mengetahui motif tujuan masing-masing.
Tenang rasanya saat Raezha mendengar Nita tidak mempermasalahkan pertanyaannya, tetapi jawaban Nita juga menjadi pertanyaan baru bagi Raezha. "Tapi motif kelompok itu masih belum jelas, ya memang aneh sih kenapa ada orang selain instansi khusus yang coba dekat-dekat dengan makhluk berbahaya." Pikir Raezha, tangan kanannya memangku dagunya.
Berpikir tanpa petunjuk adalah sia-sia, Nita memandangi Raezha yang ikut berpikir keras. Raezha sadar Nita sedang memperhatikan dirinya, ia melihat ke Nita dan sedikit memiringkan kepalanya seperti orang bingung.
Pipi Nita memerah tersipu malu, seketika ia berbalik dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. "Aku ngapain sih." Lirihnya dengan yang terus memerah.
Nita berusaha menenangkan batinnya dan mengendalikan dirinya. ia menarik dan menghembuskan napasnya.
Setelah cukup tenang dan stabil, ia berbalik lagi melihat Raezha meski batinnya masih ada sedikit perasaan yang berdebar-debar.
Raezha kebingungan heran melihat perilaku aneh Nita. "Kamu enggak apa-apa?" Tanyanya mengkhawatirkan Nita.
Nita malah semakin terbawa perasaan setelah melihat Raezha mengkhawatirkannya, ia berupaya untuk terus tetap tenang dan mengendalikan batinnya. Sepertinya ia berhasil. "Aku enggak apa-apa kok, santai aja." Ucapnya sambil menghela napas perlahan.
Nita mengalihkan topik pembahasan agar Raezha tidak terus-terusan mengkhawatirkan, ia berdeham lalu memulai aksinya. "Kayaknya bakal sia-sia kalau kita membahas kelompok itu tanpa ada petunjuk jelas." Selanya sangat berharap Raezha terkena umpan topik Nita.
Tidak ada teori dan hipotesis yang dapat dihubungkan untuk melahirkan konklusi dari kelompok misterius itu. "Ya, ada benarnya juga." Angguknya setuju dengan Nita. Umpan pengalihan isu Nita ternyata benar-benar disambar.
Dalam hatinya Nita sangat bersemangat dan senang karena umpannya berhasil disambar serta akhirnya Nita bisa mengalihkan fokus Raezha. Terlintas suatu ide dari kepala Nita yang akan menjadi pergantian topik mereka. "Gimana kita balik ke dalam fasilitas aja dulu, aku agak lapar karena belum makan dari pagi tadi." Usulnya, secara kebetulan perut Nita benar-benar keroncongan. Sekarang ia harus menahan malu karena suara keroncong perutnya yang meminta makanan.
Raezha bisa mendengar jelas suara keroncongan dari perut Nita, sementara Nita berusaha menahan malu dengan cara menutupi perutnya menggunakan kedua tangannya. "Aku juga belum makan dari pagi tadi, jadi ayo." Raezha menerima ajakan Nita, lalu ia berbalik badan dan berjalan kembali ke pintu masuk fasilitas BARUNO.
Nita segera mengejar langkah Raezha dari belakang, mengikutinya sampai mereka kembali ke dalam fasilitas.
Langkah besar Raezha mengharuskan Nita mempercepat laju langkah kakinya agar bisa mengikutinya dari samping, suara ketukan sepatu di lantai keras menggema di sepanjang koridor dan sesekali juga disertai suara gesekan sepatu. Setelah berbelok ke kiri dan berjalan lurus, mereka bisa melihat beberapa meja yang setiap meja dikelilingi oleh tiga kursi, ukuran tempatnya juga besar dan luas. Jelas bukan kursi plastik yang biasa ada di acara kondangan.
Semakin mereka mendekat semakin mereka bisa melihat beberapa jenis makanan yang tersaji rapi di dalam piring saji dengan ukuran cukup besar untuk menampung banyak porsi dan diletakkan di atas meja saji yang terbuat dari beton. Juga sudah ada beberapa piring, mangkuk sendok, garpu, sumpit, dan beberapa minuman di ujung . Kantin fasilitas BARUNO bahkan terlihat lebih mewah dan proper dibandingkan institusi polisi dan militer, mungkin ini contoh nyata dari anggaran yang tidak dikorupsi dan kerjakan sepenuhnya oleh arsitek dan tukang profesional.
Raezha dan Nita menghampiri meja kecil yang digunakan untuk menaruh piring, mangkuk, sendok, garpu, dan sumpit. Mereka berdua mengambil piring, sendok, dan garpu, lalu berjalan ke meja dengan banyak makanan tersaji, yang mereka ngambil nasi dulu baru lauknya. Belum makan namanya kalau tidak makan nasi.
Meletakkan piring berisi lauk pauk di atas meja bundar, mereka berdua duduk di kursi menghadap satu sama lain. Kantin fasilitas BARUNO terlihat sepi, hanya ada beberapa juru masak yang bekerja menyiapkan makanan untuk makan siang nanti. Lalu kenapa tetap menyajikan makanan? Itu karena para peneliti terkadang terlambat sarapan, jadi kantin diharuskan tetap menyajikan makanan meski jam sarapan sudah berlalu.
Suapan per suapan masuk ke mulut mereka, mengisi kekosongan di dalam perut sampai porsi di piring tersisa setengah. Suara langkah sepatu kaki yang keras mengentak ke lantai menuju ke kantin, entakannya semakin keras dan terdengar familiar, muncul sosok agak besar dari koridor.
"Raezha, Nita, kalian di sini rupanya." Sapa Herlambang menghampiri meja mereka berdua, sosok itu adalah Herlambang.
Raezha dan Nita menoleh ke Herlambang yang menghampiri meja mereka. "Ada apa? Nyariin kami?" Sahut Raezha sekaligus menanyakan kedatangan Herlambang.
Herlambang berhenti di depan mereka berdua, menatap mereka berdua dengan piring mereka yang sisa setengah porsi. "Sesudah kalian makan, aku mau kalian ke kamarku, ada yang mau aku tunjukkan sekalian diomongin." Pintanya, raut ekspresinya terlihat serius namun di saat bersamaan juga tetap mempertahankan gayanya yang santai.
Raezha dan Nita saling tatap sebentar sebelum melihat Herlambang lagi. "Ada apa dulu nih?" Tanyanya penasaran.
"Pas di sana nanti kalian bakal tau kok, selesaiin dulu sarapan kalian, gak usah cepat-cepat soalnya aku enggak buru-buru." Jawab Herlambang santai, ia duduk di kursi yang masih ada di meja mereka. Setiap meja ada tiga kursi.
Seusai sarapan, Raezha dan Nita mengikuti Herlambang ke kamarnya. Sepertinya Herlambang ingin menunjukkan sesuatu yang sangat penting tanpa diketahui orang lain selain mereka berdua.