Pernikahan Yang tidak diinginkan, akhirnya terjawab sudah, jalan terakhir adalah perpisahan.
Siapa sangka jika kenyataannya telah ternoda sebelum nikah dengan lelaki lain. Hancur sudah harapan suaminya ketika istrinya mengatakan hal yang jujur saat malam dimana sang suami meminta haknya.
Sungguh sangat terkejut saat Devan mengetahui kebenaran soal pengakuan istrinya telah direnggut mahkotanya, dan saat malam itu juga Liyan diceraikan.
Sungguh terluka hatinya, dan dikembalikan kepada orang tuanya.
Kedua orang tuanya murka, itu sudah pasti. Dengan tekad serta keputusan yang diambil, yakni mengasingkan putrinya jauh dari kota.
Siapa sangka, jika kenyataannya telah hamil.
Siapa dia? Lianva.
Penasaran? yuk ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu yang begitu cepat
Vando masih tertunduk, rasa sakit ketika mendapat penghinaan dari Tuan Boni.
"Pergilah. Cari sendiri wanita yang kau sukai. Jangan pernah kembali, pintu rumah ini tidak akan lagi menerima tamu seperti mu." Ucap Tuan Boni sengaja mengusirnya.
"Pa. Mau sampai kapan akan terus-terusan seperti ini? Vando sudah mengakui kesalahannya, juga sudah meminta maaf. Apa salahnya jika Papa memaafkan, dan memberi alamat kepadanya. Juga, Vando akan bertanggungjawab atas perbuatannya, juga dengan Liyan, Pa."
"Diam! kamu, Zivan. Jangan ikut campur urusan Papa. Asal kamu tahu, ayah mana yang terima ketika putrinya diren_ggut kehormatannya. Sekalipun meminta maaf dan akan bertanggung jawab, kata maaf saja belum cukup dengan kekecewaan yang diterima. Sekarang juga, pergi dari hadapanku."
Tuan Boni benar-benar sudah murka terhadap Vando. Kata maaf bagi beliau tidak lah cukup untuk membayar rasa sakit dan kecewa yang didapat oleh Tuan Boni.
Vando yang sudah diusir oleh Tuan Boni dan tidak diizinkan lagi untuk mendatangi rumahnya, tidak ada pilihan lain selain pergi meninggalkan tempat kediaman keluarga Tuan Boni.
Zivan yang mengerti akan rasa kecewa yang tengah dirasakan oleh Vando, hatinya terketuk untuk mengejarnya.
Vando yang sudah keluar dari rumah Tuan Boni, kini hanya menatap sedih tidak tahu harus mencari perempuan yang dicintainya itu entah dimana.
Sudah banyak yang dimintai untuk mencari keberadaan Liyan, tetap saja tidak ada hasilnya. Semua laporan yang diterima semuanya nihil.
"Vando!" Zivan berlarian mengejar Vando yang baru saja keluar.
Vando sama sekali tidak menoleh, ia hanya berdiri sambil memperhatikan jalanan.
"Ada apa?"
"Aku hanya ingin memberitahukan mu."
"Apa?"
"Kamu mencari keberadaan adikku, 'kan?"
Vando segera menoleh.
"Iya, kenapa?"
"Liyan berada di kampung. Soal lokasi, aku tidak mengetahuinya. Yang jelas, dia tidak ada di sekitaran kota. Tadi pagi aku mendengar kabar, tapi benarnya aku sendiri gak tahu. Liyan tinggal di kampung, itu saja. Kamu bisa melacak sendiri tempatnya. Maaf, hanya itu yang bisa aku lakukan. Selebihnya kamu cari sendiri." Ucap Zivan yang lupa jika ibunya mempunyai kampung halaman.
Karena sesuatu yang mendadak, otaknya pun sulit untuk berpikir maupun mencernanya terlebih dahulu.
Vando mengangguk.
"Terima kasih atas informasinya. Semoga yang kamu katakan ada benarnya. Baiklah, aku pamit. Kalau ada kabar soal Liyan, hubungi aku." Jawab Vando.
"Aku doakan, semoga kamu dan Liyan dipertemukan kembali." Ucap Zivan memberi semangat kepada Vando.
Karena tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Vando memilih untuk segera pulang. Pastinya, Vando ingin secepatnya menemukan keberadaan orang yang dicintainya.
Sampainya di rumah, Vando cepat cepat mencari keberadaan Liyan lewat bantuan anak buahnya di setiap jalur penghubung ke kampung.
Cukup lama dalam proses pencariannya lewat orang ke orang suruhan, membuat Vando kelelahan duduk di depan laptopnya.
Bahkan, tidak hanya butuh sehari dalam penyelidikan, rupanya butuh berhari-hari untuk mendapatkan titik terang.
Cukup lama dalam penyelidikan, tetap saja hasilnya nihil. Bukan hanya satu minggu satu bulan, kini tidak terasa sudah melewatkan tahun berganti tahun lamanya. Nihil. Ya! Nihil yang didapatkan. Sulit dan sangat rumit untuk melacak keberadaan orang yang dicintainya. Bahkan sekian lamanya tidak ada waktu untuk merawat diri, hari-harinya hanya disibukkan di kantor dan melakukan pencarian.
Perempuan yang slalu datang untuk menggoda, sama sekali tidak membuatnya tertarik sama sekali.
.
.
.
Di lain tempat, yakni di perkampungan. Kini tidak terasa anak baru saja dilahirkan, rupanya sudah tumbuh menjadi anak pandai berbicara, dan mempunyai keaktifan yang positif.
Liyan hidupnya sudah berubah. Meski masih tinggal di rumah ibu Arum, penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhannya dengan putranya.
Aditya, dengan setianya masih melajang dan bertahan untuk mendapatkan Liyan, perempuan yang dicintainya.
Sedangkan Liyan sendiri, justru mulai dilema, antara pulang ke kota atau akan tetap berada di kampung.
Masa depan anaknya adalah yang paling utama, itu yang dipikirkan oleh Liyan. Namun, terasa berat untuk bertahan di kampung yang mana penghasilannya yang pas pasan.
Liyan tengah melamun, yakni memikirkan masa depan anaknya.
"Kamu sedang ngapain, Liy? kangen kota ya?" tanya Aditya ikutan duduk di sebelah Liyan di bawah pohon yang masih area perkebunan.
"Aku lagi mikirin bagaimana caranya agar aku bisa dapat penghasilan tambahan. Kebutuhan ku tidak sedikit, Savan butuh biaya pendidikan yang berkualitas. Aku tidak akan membiarkan putraku nasibnya jauh di bawahku." Jawab Liyan sambil menatap lurus ke depan.
"Aku siap menanggung biaya pendidikan untuk Savan. Berapapun akan aku beri untuknya. Savan sudah aku anggap anak aku sendiri, meski aku sendiri belum menikah." Ucap Aditya.
Liyan langsung menoleh.
"Tidak usah. Savan putraku, biar menjadi tanggung jawabku. Uang kamu simpan saja, siapa tahu bentar lagi akan menikah dengan perempuan yang mau menerima mu." Jawab Liyan.
"Enggak, Liy. Aku akan tetap menunggumu. Aku tau, aku bukan orang kaya seperti mu, tapi aku punya ketulusan untuk mencintaimu, dan membahagiakan kamu, juga Savan." Ucap Aditya.
"Aku tidak tahu, aku sendiri masih fokus untuk kebahagiaan putraku, Savan." Jawab Liyan dengan perasaannya yang tidak karuan.
"Kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan memaksa kamu. Sudah sore, sudah waktunya untuk pulang. Ayo, kita pulang. Biarin aja, Yena pulang sendiri, dia ada tugas dari pihak atasan. Jadi, kita pulang duluan." Ucap Aditya mengajaknya pulang.
Liyan yang tidak ada pilihan lain, pun mengiyakan.
namanya juga novel ya...
suami selingkuh dengan saudaramu, suami menghamili saudaramu, dan akhir kalian pisah, dan suami hidup dengan dikejar banyak ma wanita dia hidup normal saja setelah berpisah dan akhir dia menikah dengan saudaramu sedangkan author terpuruk, tapi malah author dibuat bucin yang terus berharap pada mantan suami, author dibuat mengejar dan berjuang untuk mantan suami, apakah adil jika author diperlakukan seperti itu, renungkan lah, karena jawaban author menentukan karakter author
jika author tidak masalah jika diperlakukan seperti itu, tidak masalah berati author sportif
tapi kalau author merasa tidak adil, maka itu lah yang author lakukan pada devan
kalau novel pemeran utama pria, dan pemeran wanita korban ini yang terjadi
*pemeran utama pria menyesal dan dia yang berjuang dapat kesempatan
*kalian hadirkan lelaki lain pahlawan bagi pemeran utama wanita
sekarang ini novelnya pemran utama wanita melakukan kesalahan pada pemran utama pria tapi apa yang terjadi
*tetap saja pemeran utama pria yang dibuat salah dan menyesal dan berjuang
*tetap saja dihadirkan lelaki lain jadi pahlawan, kalian tidak berani hadirkan wanita lain yang jadi pahlawan bagi devan
author coba kau bayang diposisi devan adil tidak author untuk dia
*calon istrinya selingkuh dan sesudah menikah dia tau istri hamil anak saudaranya sendiri tapi kalian buat dia seolah2 salah dan menyesal, dia yang author buat berjuang dan mengejar cinta,
adil tidak kalau author diposisi devan????
lihat dari segala sudut pandang jangan hanya melihat dari sudut pemeran utama wanita karena itu sangat membuat kalian jadi egois
sedihnya 😢