Karya ini menceritakan tentang kehidupan seorang manusia yang sulit bahkan hampir tidak mau berbaur dengan sesama. Bahkan selama hidupnya, hanya ia habiskan untuk keluarganya saja. Kehidupan dengan tetangga dan sekitar tak ia pedulikan. Bahkan untuk menyapa pun sangat enggan dilakukan. Hingga akhirnya ia di temukan telah mati membusuk dirumahnya. Tak ada seorang pun yang mengetahui akhir hayatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endah puji astuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Gangguan Bu Nuri Di Desa
Desas desus tentang makam Bu Nuri yang jebol rupanya sudah sampai ke tetangga desa. Bahkan Pakdhe Mitro, tukang bakso yang sering lewat depan rumah kami sekarang tak pernah lagi terlihat. Katanya dia lebih memilih untuk berjualan di desa sebelah dari pada di desanya sendiri.
"Pakdhe Mitro kan sakit, Mbak." ucap Ayu saat aku membahas Pakdhe Mitro yang tak pernah lewat. Jujur, aku rindu sekali makan bakso miliknya. Selain harganya yang murah, rasanya pun tergolong enak. Pas untuk kantong warga desa seperti kami ini.
"Lah, sakit apa? Sejak kapan?" tanyaku penasaran.
"Sudah hampir dua mingguan. Siti yang bilang. Katanya di atas gerobak baksonya di duduki oleh Bu Nuri mulai dari perbatasan desa hingga gang depan rumahnya." ucap Mira.
"Jangan bercanda kamu, Mir." bantahku.
"Yasudah kalau ndak percaya. Mbak Ayu lihat saja sendiri ke rumahnya. Mira sudah lihat kemarin." jawabnya enteng.
"Kamu lihat sama siapa?" tanyaku.
"Sama Lik Tarni, mamaknya Siti lah, siapa lagi." jawabnya.
"Siapa yang sakit, Nduk?" tiba-tiba Ibu muncul dari luar.
"Pakdhe Mitro, Bu. Kata Mira, beliau sakit." jawabku.
"Oh, ya? Sakit apa? Kok Ibu baru dengar?" Ibu duduk di kursi depan Mira duduk.
"Sudah hampir dua mingguan, Bu. Pakdhe Mitro sawanen." jawab Mira asal.
"Hush, ndak ilok ngomong begitu." bantah Ibu.
"Memang, Bu. Pakdhe Mitro sawanan karena di atas gerobaknya ada Bu Nuri lagi duduk sambil ongkang-ongkang kaki." jelas Mira membuatku bergidik. Sekilas aku kembali mengingat kejadian di kamar mandi. Kaki yang putih dan pucat itu menjuntai kebawah, tepat berada di depan mataku.
"Kamu kata siapa, Nduk?" tanya Ibu.
"Siti, Bu. Kan Mira sering main kesana. Lagi pula rumah Pakdhe Mitro dan Siti kan berdekatan."jawabnya. Ibu mengangguk-angguk.
"Coba nanti Ibu mau lihat ke rumah Pakdhe Mitro sebentar." Ibu bangkit, berjalan keluar.
"Ayu ikut, Bu." Ibu mengangguk.
"Kondisi Pakdhe Yoso bagaimana, ya, Bu?" tanyaku penasaran.
"Sehat, Nduk. Kemarin Bapak sempat telpon Mas Anto, katanya Bapaknya sudah sehat. Sudah bisa di ajak mengobrol banyak. Meskipun kadang masih sering melamun dan menangis sendiri." jawab Ibu.
"Pasti teringat sama Budhe Sumi." ucapku lirih.
"Bisa jadi, Nduk. Apalagi Budhe Sumi itu kan istrinya, wanita pilihan yang di cintai oleh Pakdhe Yoso untuk menemani hidupnya. Tapi takdir berkata lain. Budhe Sumi harus meninggalkan Pakdhe Yoso terlebih dahulu." ucap Ibu sambil mengusap ujung matanya dengan lengan bajunya. Ku tahu Ibu menangis.
Pakdhe Yoso akhirnya di bawa oleh Mas Anto ke Jakarta. Di sana, setidaknya Pakdhe Yoso ada teman di rumah. Ada Mbak Tuti atau Mbak Wahyu yang jam kerjanya di atur oleh shift, jadi di rumah tak selalu kosong, Pakdhe Yoso tidak akan terlalu kesepian jika berada di rumah. Sedangkan kambing-kambingnya, di gadaikan kepada kerabatnya untuk di pelihara. Nanti memakai sistem bagi hasil jika kambing sudah beranak pinak.
Sesampai di rumah Pakdhe Mitro, rupanya disana juga ada beberapa tetangga yang memang bertugas untuk membantu berjaga. Katanya, Pakdhe Mitro kadang-kadang akan berteriak histeris seperti ketakutan. Makanya Yu Sarmi, istrinya, meminta bantuan saudara maupun tetangga untuk menemaninya berjaga. Di tambah, Yu Sarni sedang dalam kondisi hamil saat ini. Jadi sangat tidak memungkinkan untuk menjaga suaminya seorang diri.
"Sepurane, ya, Yu. Aku baru dengar kalau suami mu lagi sakit begini." ucap Ibu sambil menyalami Yu Sarmi, istri dari Pakdhe Mitro.
"Iya, ndak apa-apa, Mbak. Minta doanya saja untuk kesembuhan suamiku. Kasihan saya kalau lihat dia seperti ini terus, ditambah..." Yu Sarmi tampak mengelus perutnya yang sudah tampak membulat.
"Sabar, Yu. Ini ujian. Sudah di mintakan obat sama Kyai Soleh?" tanya Ibu.
"Kemarin sempat ke Kyai Soleh. Tapi hanya sekali. Setelah itu, saya belum berani bertemu dengan beliau lagi." ujar Yu Sarmi menunduk lirih.
"Loh, kenapa?" Ibu memegang tangan Yu Sarmi.
"Malu aku, Mbak. Yang dulu saja saya belum bisa bayar, masa iya saya minta bantuan Kyai Sholeh lagi. Mau di taruh di mana muka saya, Mbak?" jawab Yu Sarmi tampak sedih.
"Astaghfirullah. Kyai Sholeh mengobati pasiennya tidak di pungut biasa, Yu. Semua ikhlas karena Allah. Kalau ndak percaya, coba tanya sama tetangga yang lainnya." pinta Ibu. Seketika wajah Yu Sarmi terlihat berbinar. Tampak ada harapan baru di wajahnya.
"Loh, Mi. Kirain aku kamu sengaja ndak manggil Kyai Soleh karena kamu tidak percaya dengan hal-hal yang seperti itu." ucap salah seorang tetangga. Yu Sarmi tampak kikuk. Dia menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Yasudah. Kalau begitu minta tolong salah satu panggilkan Kyai Soleh untuk kesini, ya. Tolong, kasihan Kang Mitro. Istrinya lagi hamil begini." pinta Ibu. Seketika salah satu warga ada yang bersuka rela menjemput Kyai Soleh dengan sepeda motornya. Tak lama berselang, pemuda itu membawa serta Kyai Soleh di belakangnya. Tak lama, tampak beberapa sepeda motor berhenti juga di depan rumah Pakdhe Mitro. Rupanya Kyai Soleh membawa serta beberapa santrinya.
Alunan doa dan ayat suci Al Quran di lantunkan. Beberapa bacaan ada yang di pertegas.
"Berikan ini untuk suamimu minum. Boleh sedikit untuk campuran air mandinya." Kyai Soleh memberikan botol berisi air kepada Yu Sarmi.
"Suami saya kenapa, Kyai?" Yu Sarmi tampak khawatir.
"Dia hanya syok saja. Saking takutnya makanya dia seperti ini. Nanti lambat laun dia akan sadar sendiri." ucap Kyai Soleh. Beribu-ribu ucapan terimakasih Yu Sarmi ucapkan pada Kyai Soleh dan beberapa santrinya yang mulai berpamitan.
"Sebenarnya, seberapa.menyeramkannya wujud hantu Bu Nuri yang di temui oleh Pakdhe Mitro itu, ya, Bu? Sehingga bisa membuat Pakdhe Mitro ketakutan dan trauma sampai sekarang?" tanyaku pada Ibu setiba di rumah.
"Ibu tidak tahu, Nduk."
"Loh, memangnya Mitro belum sembuh toh, Dik Tri?" Budhe Narti yang kebetulan sedang main kerumah pun ikut nimbrung.
"Belum, Mbak. Mbak Narti kok tahu kalau Kang Mitro sakit?" tanya Ibu penasaran.
"Weeee... la dalah. Memangnya kamu ndak tahu po, Dik Tri?" Budhe Narti kembali bertanya. Ibu menggeleng.
"Nggak hanya Pakdhe Mitro, Bu. Della, anaknya Mbak Sita juga sama. Dia kena sawan hantunya Bu Nuri setelah pulang jalan-jalan kesorean. Pulang ya lewat pertigaan situ." Mira bercerita sambil dagunua mengarah ke rumah Bu Nuri.
"Sawan bagaimana?" tanya Ibu.
"Ya, nangis kejer ndak mau diam. Sudah di tolongi sama Bapaknya, tetangganya, bahkan Ibunya sendiri tetap ndak mau diam. Akhirnya di suwuk sama Kyai Soleh dan di mandikan kembang sawanan. Baru si Della mau diam." ujar Mira.
"Lalu Della bagaimana sekarang?" tanya Ibu.
"Mbak Sita pulang ke rumah orang tuanya di Pati. Setidaknya hantu Bu Nuri tidak akan sampai Pati hanya untuk mengganggu Della." ujar Mira. Budhe Narti mengangguk-angguk membenarkan ucapan Mira.
"Kenapa kamu banyak tahu soal hal seperti ini, Mir? Ibu saja tidak tahu sama sekali." Ibu tampak murung. Sepertinya hanya beliau yang ketinggalan berita.
"Ibu, sih. Setiap Mira mau cerita, Ibu langsung memotong ucapan Mira. Akhirnya Mira urung bercerita, deh." jawab Mira memberikan alasan. Budhe Narti terlihat menahan tawa. Sedangkan aku hanya diam saja.
by the way ,cerita ini tamat kah krn kampung nya sudh jadi kampung mati.Mira dan Ayu pun sudah dewasa dan berkeluarga...😗
maghrib maghrib udh keluyuran 👻👻👻