(17+)
Mengenal seorang laki-laki bernama Dika, dia adalah teman sepupuku, kakak kelasku waktu SMP, dia itu anak yang usil sekali dan suka menggodaku, lulus SMP Dika meninggalkan kota ini dan melanjutkan sekolah di ibukota bersama kepindahan keluarganya, disaat Dika jauh, Vania merasa kehilangan dan merasa mencintai Dika.
Vania... gadis tomboi yang pintar dan banyak prestasi menunggu kabar dari Dika tak juga kunjung ada, kemudian saat di SMK Vania bertemu dengan Arman, laki-laki yang selalu mengisi hari-harinya dan akhirnya Vania melupakan cinta pertamanya dan mulai mencintai Arman.
Tapi... di saat Dika bekerja di Negeri Jepang dan mulai mapan, Dika menghubungi Vania, dan menginginkan menjadi istrinya.
Simak kisah selanjutnya, apakah Vania memilih Dika sebagai cinta pertamanya? atau Arman yang selalu ada untuk Vania, atau memilih laki-laki lainnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariyanti Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Puncak Gunung Arjuna
Pagi hari aku bersiap-siap untuk berangkat naik ke puncak gunung Arjuna.
Aku lihat Mbak Dyah juga sudah siap untuk berangkat.
"Mbak, ayo!" ajakku.
"Iya Vania, Arman gak jemput kamu?" tanya Mbak Dyah.
"Iya Mbak, mungkin sudah di bawa" jawabku.
Kami menuruni anak tangga dengan membawa tas ransel kecil.
Bertemu dengan Ibu kost di ruang tamu.
"Bu, Dyah sama Vania pamit mau mengikuti kegiatan alam ke gunung Arjuna" pamit Mbak Dyah.
"Hati-hati kalian" pesan Ibu kost.
"Iya Bu" kataku, dan kami bersalaman kepada Ibu kost kami.
Dibawa sudah menunggu Arman dan Riko, aku dibonceng Arman, Mbak Dyah diboncemg Riko, dua sepeda motor meninggalkan rumah kost.
Sampai di halaman sekolah, Kak Toni sudah berada di sana bersama dengan teman yang lainya.
"Oke, semua sudah siap?" tanya Kak Toni.
"Siap Kak" jawab kami serempak.
"Sebelum berangkat, mari kita berdoa sesuai dengan keyakinan kita" kata Kak Toni.
"Berdoa mulai" lanjut Kak Toni.
Kami semua menundukkan kepala berdoa untuk kelancaran dan keselamatan kami selama perjalana pergi dan kembali lagi ke kota ini.
Beberapa tas kami masukkan ke dalam mobil, setelah semua barang masuk, baru kami yang masuk.
Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi.
Dua mobil berjalan beriringan meninggalkan kota ini menuju Tretes, Mojokerto.
Aku melihat pemandangan menuju ke Tretes, melewati hutan kecil, ya hutan jati.
"Vania... kamu suka?" tanya Arman yang duduk di sampingku.
"Iya Man" jawabku.
"Man gak minum? aku bawa minuman tadi" kataku.
"Nanti saja Vania" jawab Arman.
Tak terasa perjalanan sudah tiga jam, kami sampai di pos tretes, kami turun dari mobil dengan membawa barang bawaan kami.
Terlihat Kak Arif sedang mendaftarkan kami untuk masuk ke puncak Arjuna.
Kami menunggu dengan duduk di tanah sambil ngobrol-ngobrol ringan.
Tak lama kemudian Kak Arif menghampiri kami.
"Perjalanan kita lanjutkan dengan jalan kaki antara tiga puluh menit sampai empat puluh lima menit menuju Pet Bocor" kata Kak Toni.
Kemudian kami berjalan beriringan.
Lumayan juga perjalanan ini, batinku.
Aku harus semangat, masih lama perjalanan menuju ke atas, kata hatiku.
Arman memandangku.
"Capek?" tanya Arman.
"Tidak, aku seneng" jawabku.
Tak terasa perjalanan setengah jam lebih lima menit sudah kami lalui.
Sampailah kami di Pet Bocor, di sana kami beristirahat melepas lelah, aku memberikan botol air kemasan ke Arman.
"Ini Man" kataku.
"Terima kasih Vania" jawab Arman.
"Vania? kamu masih kuat?" tanya Kak Toni.
"Masih Kak" jawabku bersemangat.
"Bagus" kata Kak Toni.
"Bisa kita lanjut lagi?" tanya Kak Toni.
"Selanjutnya kita menuju ke pos kedua, yaitu Kop-kop an, perjalanan sekitar 2,5 jam, di sana ada warung, juga air, kalian bisa beristirahat di sana, bisa melaksanakan sholat dhuhur di sana" kata Kakak pemandu.
Kami bersiap berjalan menuju pos 2 kop-kopan.
Perjalanan lumayan menguras energi, jalur yang panjang dan juga menanjak dengan bebatuan.
Tapi aku masih mampu untuk melewatinya.
Keringat keluar dari tubuh kami semua, tapi semangat tak pantang menyerah.
Dua jam setengah kami lalui, akhirnya kami sampai di pos 2.
Sampai di kop-kopan aku rebahkan tubuhku di tanah lapang bersandar tas ransel, beberapa menit kemudian, aku bangun dan mengambil air mineral dari dalam tas ku untuk aku dan aku berikan kepada Arman
"Mbak Dyah, mau minum?" tanyaku ke Mbak Dyah.
"Sudah bawa aku" kata Mbak Dyah.
Kak Toni mendekati kami.
"Vania, ada botol kosong?" tanya Kak Toni
"Ini Kak" kataku sambil memberikan botol kosong ke Kak Tony.
"Adik-adik yang punya botol kosong bisa diisi air untuk bekal kita nanti" kata Kak Toni.
Teman-teman mengisi botol kosong dengan air, setelah itu membeli gorengan di warung yang ada di pos 2
Setelah cukup istirahat dan melaksanakan sholat ashar kami melanjutkan perjalanan.
"Adik-adik selanjutnya kita menuju pos 3 biasa disebut pondokan, jalan yang kita tempuh masih lumayan sekitar empat jam an, kita nanti melewati tanjakan aras-arasan, tanjakan naga, jadi tetap berhati-hati sampai di pos pondokan" kata Kakak pemandu menjelaskan.
Kami melanjutkan perjalanan, walaupun lelah tapi kami masih bersemangat, melihat pemandangan alam di sepanjang jalan lelah kami sirna.
Tak terasa waktu empat jam sudah kami lewati, aku lirik jam di pergelangan tanganku menunjukkan jam 6:15.
Kami beristirahat di pos 3 yaitu di pondokan, aku minum air yang aku beli di warung di pos, aku buka tas ranselku untuk mengambil roti, aku bagi dengan Arman, kulihat teman-teman juga sedang membuka bekal masing-masing.
Kak Toni menghampiriku, aku lihat sepertinya Arman tidak begitu suka aku didekati Kak Toni.
"Vania, kamu mau ini" kata Kak Toni sambil membawa beberapa kue.
"Terima Kasih Kak, ini Vania sudah bawa bekal juga, mungkin untuk teman lainya" kataku.
"Iya Kak, coba tawarkan pada yang lainya" sela Arman.
"Vania, aku tidak menyangka kamu masih kuat sampai perjalanan di sini" kata Kak Arman memujiku.
"Kak Toni, jangan dilihat dari postur Vania, Kak Toni tidak tau, kalau Vania ini mengharumkan kabupaten kita di provinsi" kata Arman.
"Arman, apaan sih, gak enak Vania" kataku menyela.
"Maksudmu apa Man?" tanya Kak Toni penasaran.
"Vania ini atlet atletik lari jarak jauh Kak, tahun ini juara dua tingkat provinsi" kata Arman.
"Waw... hebat juga kamu" kata Kak Arman bangga.
"Sudah pensiun Kak" kataku kemudian.
"Kenapa?" tanya Kak Toni.
"Mau fokus belajar saja Kak" jawabku.
"Adik-adik kita mendirikan tenda di sini atau lanjut perjalanan sekitar 30 menit lagi kita sampai di Lembah Kidang" kata Kakak pemandu.
"Lanjut Kak" kata kami serentak.
"Oke, kita lanjutkan perjalanan" kata Kak Tony.
Kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Lembah Kidang, mungkin disana nanti kita mendirikan tenda untuk bermalam.
Sudah mulai gelap jalanan yang kami lalui, dan kami beberapa kali berpapasan dengan beberapa pendaki.
"Vania ini senternya" kata Arman sambil memberikan senter kepadaku.
Akhirnya kami sampai di Lembah kidang, kami segera mendirikan tenda, setelah tenda berdiri, aku masuk ke dalam tenda, sudah ada Mbak Dyah di sana sedang merebahkan tubuhnya.
"Gimana Vania? kamu suka?" tanya Mbak Dyah
"Iya Mbak pemandangannya bagus, lelahku terbayar melihat pemandangan alam, hijaunya dedaunan Mbak" jawabku.
"Vania, kamu merasa gak didekati sama Kak Toni?" bisik Mbak Dyah.
"Iya Mbak, Arman juga merasa risih sih, tapi gak mungkin juga Vania berlaku kasar sama dia, yang bisa Vania lakukan hanya menghindar atau menolak halus pemberianya" jawabku.
"Mbak Dyah, aku bawa mi instan sama telur asin, buat mi yuk" kataku.
"Memang bawa alat masak?" tanya Mbak Dyah.
"Arman bawa Mbak, kita buat apinya saja" kataku.
semangat kak😍