Akibat kecelakaan yang dialaminya, Ryan Jamaluddin justru kembali ke masa lalu, di mana waktu itu dia sedang di rawat di rumah sakit dengan kesulitan ayahnya untuk biaya pengobatannya.
Mampukah Ryan Jamaluddin untuk mengubah kehidupan keluarganya di masa lalu, agar ayahnya tidak menderita dan diremehkan orang lain, termasuk sang Paman?
Lalu misteri pembunuh ibu dan ayahnya di masa lalu juga harus dipecahkan. Apakah Ryan Jamaluddin mampu melakukan semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laura Adela
Keesokan paginya, Ammy membaca laporan yang telah diberikan Sekretarisnya.
"Ternyata ini adalah perbuatan anakku sendiri." Ammy terus memijat-mijat dahinya dan membaca laporan tersebut dengan teliti.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu.
Tok Tok Tok
"Masuk…"
Dari balik pintu, Pak Kurniawan, sekretaris Ammy, masuk dengan wajah penuh kepanikan.
"Permisi Nyonya."
"Ada apa Pak Kurniawan?" tanya Ammy yang sedikit penasaran dengan ekspresi Pak Kurniawan. Ia pun merasakan perasaan yang tidak enak.
"Nyonya, Nona Laura telah tiba di bawah. Dan…" Kurniawan tampak ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Maksudmu Laura sudah datang? Bukankah Aku memintanya datang siang ini? Kenapa dia malah datang sepagi ini?"
Ammy meminta Laura datang pada siang hari karena Ammy ingin memikirkan alasan apa yang dapat ia buat agar Laura tetap mau melanjutkan kerjasama mereka.
"Baiklah, bawa Laura ke ruang meeting. Aku akan menemuinya di sana."
Mendengar perintah Ammy, wajah Pak Kurniawan semakin pucat. "Ta-tapi…"
"Ada apa Sekretaris Kurniawan? Apa ada hal penting yang belum Kamu sampaikan padaku?"
Glup
Pak Kurniawan menelan ludahnya, dan mencoba menjelaskan permasalahan yang terjadi.
"Mohon maaf Nyonya, karena kedatangan Nona Laura yang mendadak, jadi Saya tidak memberi instruksi apa-apa pada petugas keamanan."
"Akhirnya, ketika Nona Laura datang, petugas keamanan yang berjaga mencegatnya dan memintanya untuk memperlihatkan kartu identitas dirinya."
"Saat Nona Laura mengeluarkan Paspornya, tangan petugas keamanan tersebut malah menyentuh tangan Nona Laura. Hal ini membuat Nona Laura marah besar."
"Akibatnya, sekarang Nona Laura sedang bertengkar dengan petugas tersebut."
"Apa?!"
Brak!
Amy langsung berdiri dan menggebrak mejanya dengan keras. Ia kemudian segera turun ke Lobby bersama Sekretaris Kurniawan.
***
Ryan yang baru saja tiba di gedung ST Tower, melihat ada banyak orang berkerumun di depan pintu masuk.
Merasa penasaran, Ryan akhirnya mampir sebentar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Ketika Ryan mendekat, dia mendengar suara orang yang sedang berdebat.
Di sana, dia melihat seorang wanita bule berusia sekitar 30 tahunan sedang bertengkar hebat dengan seorang petugas keamanan dari perusahaan ST.
Wanita itu terus berbicara dengan bahasa Indonesia yang sedikit kacau. Melihat wanita tersebut, Ryan pun terkejut. "Laura Adela? Sedang apa dia di sini?"
Di kehidupan yang sebelumnya, Ryan dan Laura cukup akrab. Pada saat itu Ryan telah menjadi ketua tim investasi ST, dan kebetulan dia ditugaskan untuk merayu Laura untuk mau bekerja sama dengan ST.
Dari pertemuan itu, Ryan akhirnya tahu mengapa dia ditugaskan untuk merayu Laura. Sebelumnya, Laura sempat akan bekerja sama dengan ST.
Namun saat itu, Laura menemukan adanya tindak penggelapan dari Laporan Keuangan ST. Dan CEO saat itu tidak dapat memberi penjelasan dengan baik.
Akhirnya, kerjasama tersebut batal. Pihak ST telah beberapa kali mengirim utusannya untuk merayu Laura agar mau bekerjasama dengan ST. Namun semuanya gagal. Sampai akhirnya, giliran Ryan yang menjadi utusan ST untuk merayu Laura.
Pada awalnya, semua tidak berjalan lancar. Sampai suatu ketika, Ryan sadar bahwa Laura dulunya adalah anak seorang nelayan seperti dirinya. Memanfaatkan hal ini, Ryan berhasil membuat Laura mau bekerjasama dengan ST. Bahkan hubungan mereka sangat dekat hingga berakhir di ranjang.
Mengingat semua ini, Ryan langsung menghampiri Laura. "Entschuldigung, was ist das Problem Miss?" (Permisi, ada masalah apa Nona?)
Mendengar ucapan ini, Laura menengok ke arah Ryan. "Sprichst du Deutsch?" (Kamu bisa berbahasa Jerman?)
Ryan menjawabnya dengan sopan dan senyuman hangat. "Ja, aber mein Deutsch ist immer noch nicht gut. Wenn ich das wissen darf, was ist das problem?" (Iya, namun bahasa Jerman Saya masih kurang bagus. Kalau boleh tahu, ada masalah apa?)
Laura kemudian mulai menceritakan apa yang sedang terjadi dalam bahasa Jerman.
Pada intinya, Laura merasa telah dilecehkan oleh petugas keamanan ini. Dia meminta petugas tersebut meminta maaf.
Akan tetapi petugas tersebut tidak mau dan memaki-maki balik Laura. Hal ini karena pihak keamanan tidak begitu paham dengan maksud perkataan Laura. Oleh karena itu, Laura emosi dan terjadilah keributan ini.
"Ok, ich werde Miss helfen, dieses Problem zu lösen." (Baik, saya akan membantu Nona untuk menyelesaikan masalah ini.)
Setelah itu, Ryan melihat ke arah petugas keamanan berbadan tambun tersebut. "Bisakah Bapak meminta maaf pada Nona ini?" tanya Ryan sopan.
"Saya tidak mau. Saya tidak salah apa-apa kok. Wanita ****** ini yang seharusnya meminta maaf pada Saya!" ucap petugas keamanan bernama Bowo dengan nada tinggi.
Ryan lalu mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Bowo.
Setelah Ryan membisikinya, wajah Bowo menjadi pucat. Ia kemudian langsung berlutut di depan Laura. "Maafkan saya Nona."
Melihat hal ini, Laura sangat puas. "Baiklah, jangan diulangi lagi." Ucap Laura dalam bahasa Indonesia yang aneh.
Laura mengalihkan pandangannya pada Ryan. "Kannst du mich zu Ammy bringen?" (Bisakah kamu mengantarkan saya menemui Ammy?)
"Miss gemein ist CEO Ammy?" (Apakah maksud Nona adalah CEO Ammy?)
Laura menganggukkan kepalanya. "Ja, das ist wahr." (Ya, itu benar)
"Gut, gerne." balas Ryan sambil tersenyum. (Baik, dengan senang hati.)
"Das ist nicht notwendig." (Itu tidak perlu.)
Dengan munculnya suara ini, dari dalam muncul Ammy bersama dengan Sekretaris Kurniawan. Dia kemudian segera berjalan ke depan Laura dan meminta maaf.
"Verzeihen Sie uns, Fräulein Laura." (Maafkan kami Laura.)
Laura membalas permintaan maaf Amy dengan sedikit sinis."Ich hoffe, Sie können Ihrem Wachmann den Wert der Höflichkeit beibringen." (Saya harapa Anda dapat mengajari petugas keamanan Anda tentang nilai kesopanan.)
"Wir machen es gleich." (Akan segera kami lakukan sekarang juga.)
Ammy kemudian melirik ke arah Kurniawan. Melihat lirikan ini, Kurniawan langsung bergerak.
"Mulai sekarang, kamu dipecat!"
Ucapan ini membuat Bowo terkejut. Ia pun berlutut dan memeluk kaki Kurniawan sambil menangis.
"Aku mohon Pak, jangan pecat saya, aku mohon, hiks hiks hiks."
"Lepaskan aku!" Kurniawan menendang tubuh Bowo hingga ia jatuh terguling-guling di lantai.
"Cepat bawa sampah ini keluar dari sini!" Para bodyguard Ammy pun langsung muncul dan melempar tubuh Bowo ke trotoar.
"Apakah Anda sudah cukup puas?" tanya Ammy pada Laura. Kali ini, mereka bercakap-cakap menggunakan bahasa Indonesia.
"Saya sangat puas." senyum Laura. Dia kemudian melihat ke arah Ryan dan bertanya, "Siapa namamu?"
"Nama saya Ryan, Ryan Jamaludin." ucapnya sambil menjabat tangan Laura.
"Nama saya Laura Adela, Kamu bisa panggil Aku Dela."
"Baik Nona Dela."
"Tidak perlu pakai Nona, cukup Dela."
"Baik Dela."
"Hahahahaha… Aku benar-benar menyukai pria sepertimu. Sampai jumpa lagi, Ryan." Setelah itu, Dela pergi bersama Ammy dan Kurniawan menuju ruang meeting.
jangan lupa mampir ya kak. biar tambah semangat iklan sbg sponsor
E tapi 2014 ada taruhan bola ya. Aku lupa loh
Diriku tandain buat baca chapter pertama
penasaran !!