Mendapati suaminya bercinta dengan adik kembarnya hingga hamil seolah belum cukup membuat Rana menderita, hingga Mamanya meminta Rana untuk berbagi suami dengan adik kembarnya itu, Rania. Karena merasa dirinya ikut andil menjadi penyebab perselingkuhan itu, Rana pun harus mengikhlaskan suaminya menikahi Rania, meski hatinya luar biasa hancur dan kecewa. Belum lagi sikap Rangga yang semakin lama semakin mengabaikan keberadaan Rana, demi Rania yang sedang mengandung anaknya.
Hadirnya sosok Ananta yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya, membuat Rana sadar akan rumah tangganya yang mulai tidak sehat lagi. Rana pun menjadi bimbang, antara berpisah dengan Rangga dan kembali pada mantan kekasihnya itu, atau tetap mempertahankan rumah tangganya dan membuat Rania pergi dari kehidupan mereka?
Follow IG @si_nicegirl
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nicegirl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
“Silahkan diminum tehnya, Ta!” seru Rania pada Ananta yang datang untuk menemui Rana. Menurut info dari Rania, Rana beserta kedua orangtuanya sedang menjenguk salah satu keluarga mereka yang sedang sakit.
Alih-alih meminum teh yang sudah disuguhkan Rania, Ananta malah bertanya,
“Kira-kira jam berapa Rana pulang?”
“Ck, Ta. Kamu jangan becanda deh, aku Rana kenapa kamu tidak bisa mengenaliku?”
Ananta menyandarkan punggungnya ke sofa, ia memberikan tatapan menyelidiknya pada Rania,
“Mungkin kamu bisa menipu pria lain, tapi tidak denganku, Rania. Aku tahu persis apa yang membedakanmu dengan Rana.”
Rania beringsut mendekati Rangga,
“Apa?” tanyanya dengan suara menggodanya.
“Salah satunya, Rana selalu bisa menjaga dirinya untuk selalu terlihat sopan pada …”
“Memangnya aku tidak sopan?” potong Rania dengan dongkol.
“Pada lawan jenisnya!” Ananta melanjutkan ucapannya yang terputus tadi.
Rania terlihat merajuk, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya yang sedikit terbuka, sepertinya sengaja memperlihatkan belahan bukit kembarnya yang menggoda,
“Entah apa yang sudah Rana ceritakan padamu mengenai aku, dan aku yakin pastinya sangat tercela ya kan? Kamu seharusnya membuka lebar-lebar kedua matamu itu, supaya kamu dapat melihat dengan jelas siapa sebenarnya Rana,” tukasnya.
“Seharusnya, kamu tidak perlu menjatuhkan saudaramu sendiri hanya demi mencapai keinginanmu. Sebaiknya aku permisi!”
Ananta baru saja berdiri tapi Rania menahan lengannya,
“Ok, aku minta maaf. Aku hanya ingin menguji kesetiaanmu pada kakak kembarku itu. Aku takut kamu sama dengan mantan kekasih Rana sebelumnya.”
Ananta tetap bergeming, ia menghentak tangannya hingga terlepas dari cengkraman Rania,
“Duduklah Ta, sebentar lagi Rana dan orangtuaku juga pulang. Umm, mungkin setengah jam lagi,” bujuk Rania.
Karena ada masalah yang harus ia bahas dengan Rana malam itu juga, mau tidak mau Ananta pun kembali duduk, tapi bukan di sofa sebelumnya, melainkan di sofa lain yang hanya diperuntukkan untuk satu orang saja.
Melihat sikap dingin Ananta, Rania pun bersungut pelan, “Ck, dingin sekali kamu! Aku heran kenapa Rana mau dengan balok es macam kamu!”
Ananta mendengar itu, namun ia lebih memilih untuk diam dan terus menatap layar ponsel yang tengah ia pegang.
“Minumlah dulu tehnya, Ta. Kata Rana kamu sangat menyukai teh ini, dan Rana sendiri yang memintaku membuatkannya untukmu.” Rania mendekatkan cangkir tehnya ke Ananta setelah lama mereka terdiam.
Melihat Ananta yang tetap diam dan hanya menatap ponselnya saja, Rania pun mendesah pelan. Ia mengeluarkan ponselnya untuk memperlihatkan isi pesan singkatnya pada Ananta,
“See? Masih tidak percaya?”
Setelah membaca pesan singkat dari Rana pada Rania itu, Ananta pun meraih cangkir tehnya dan meminumnya perlahan.
Rania nampak tersenyum puas saat Rangga menghabiskan tehnya,
“Mau Aku buatkan lagi?”
“Tidak perlu, terima kasih.”
Dengan santai Rania bersandar pada sofanya sambil terus menatap Ananta yang kini tengah menekan keningnya,
“Kamu kenapa, Ta?”
Merasa ada yang tidak beres dengan dirinya, Ananta menatap tajam Rania,
“Apa yang kamu masukkan ke dalam minuman itu?” tanyanya.
Dengan wajah polosnya Rania menyangkalnya, “Apa maksudmu? Aku tidak memasukkan apapun selain dari bubuk teh!”
Tidak percaya begitu saja dengan Rania, Ananta pun berusaha menghubungi asistennya, hanya saja belum sempat ia menekan nomor daruratnya, kesadarannya telah lebih dulu hilang.
Entah berapa lama Ananta tidak sadarkan diri, sampai akhirnya ia terbangun karena suara ribut-ribut yang sangat memekakkan telinganya.
“Aku tidak tahu, Ma, Pa! Tiba-tiba saja Ananta masuk dan memaksaku melakukan itu!”
“Bohong! Aku sama sekali tidak percaya, Ananta bukan pria seperti itu!”
Mendengar suara Rana, kedua mata Ananta pun terbuka sepenuhnya. Sontak saja ia langsung terduduk saat menyadari kalau ia terbangun di tempat yang asing, dengan tatapan penuh amarah orangtua Rana.
“Kau sudah bangun? Puas sekali kau melecehkan putriku sampai tertidur begitu pulas!” Raung papa Rana, ia ingin berderap maju namun mama Tian menahannya.
Melecehkan?
Ananta yang belum sepenuhnya sadar pun menatap mereka satu-persatu, lalu terakhir ke Rania yang sedang nangis sesengukan di sisi tempat tidur, wanita itu hanya mengenakan selimut tipis yang membalut tubuhnya, punggung telanjangnya terlihat jelas di antara helaian rambut panjangnya.
Terbiasa menghadapi situasi yang tidak terduga, Ananta pun tetap terlihat tenang. Melihat pakaiananya yang tercecer di lantai, tanpa melihat dirinya sendiri pun Ananta sudah bisa menebak kalau ia tidak mengenakan apapun di balik selimutnya.
Rania telah menjebaknya, ia tahu betul itu. Namun menjelaskan sekarang itu akan terlihat kalau ia sedang membela dirinya sendiri. Namun kalau ia tidak menjelaskannya, maka ia akan kehilangan Rana.
Jadi, dengan suara dinginnya Ananta pun bertanya pada Rania,
“Kenapa kamu melakukan hal yang menjijikkan seperti ini?”
Rania yang semula membelakangi Ananta, perlahan memutar tubuhnya agar dapat melihat Ananta,
“Aku? Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu setega itu padaku, Ta? Tidak mungkin kan kamu salah mengira kalau aku adalah Rana?”
Bagus sekali akting Rania. Ananta harus memberikan empat jempolnya atas usaha wanita itu untuk menjebak, dan berhasil!
Alih-alih menjawab Rania, Ananta mengalihkan perhatiannya pada Rana, yang ia yakini menjadi satu-satunya yang masih memiliki akal sehat di antara mereka,
“Na, kamu percaya padaku kan kalau aku tidak melakukan itu pada adikmu?” tanyanya penuh harap.
Ananta melihat dengan jelas kalau Rana mempercayainya sepenuhnya. Selama mereka bersama, tidak sekalipun Ananta bersikap tidak sopan padanya dengan menyentuhnya diluar keinginannya. Rana tahu betul kalau Ananta menghormati wanita seperti ia menghormati ibunya sendiri.
“Ya Ta, aku percaya padamu,” jawab Rania tanpa keraguan sedikitpun.
Jawaban Rana sontak saja membuat Rania murka,
“Kanapa kamu lebih percaya orang asing daripada adikmu sendiri, Na? Apa aku sehina itu hingga menjebak kekasihmu?” raungnya. Ia menurunkan sedikit selimutnya untuk memperlihatkan beberapa bercak merah di tubuhnya,
“Kamu lihat ini, siapa lagi pelakunya kalau bukan Ananta? Dia memaksaku, Na! Memaksaku! Dan kamu dengan entengnya berkata percaya padanya? Kamu sangat menyakiti hatiku!”
Rania menghambur ke dalam pelukan mama Tian, yang langsung memberikan tatapan menusuknya pada Rana,
“Kamu sungguh keterlaluan, Na! Pa, urus anak kesayanganmu itu!” geramnya sebelum membawa Rania keluar dari kamar Rana.
Ananta tersentak dari lamunannya saat mendengar seseorang membuka pintu kerjanya, ia memutar kursi kerjanya ke arah pintu masuk, dan mendapatkan Jessica melangkah mantap ke arahnya,
“Ini berkasnya, Bos!”
“Letakkan di atas meja sana, Jes.”
“Rana baru saja datang, Bos. Apa rencana kita siang ini jadi?” tanya Jesica sambil meletakkan dokumen yang ia bawa di atas meja yang Ananta tunjuk tadi.
“Ya. Pastikan semuanya berjalan dengan lancar. Tegaskan juga pada setiap karyawan untuk ikut serta dalam acara ini!” jawab Ananta dengan tegas.
Hanya dengan cara itulah ia dapat makan siang bersama dengan Rana. Sudah lama sekali ia tidak melakukannya.