Tania dianggap sebagai pembawa sial karena semua pria yang berpacaran dengannya selalu berakhir dengan kematian tragis.
Hingga seorang detektif kepolisian bernama Zayn pun turun tangan karena ingin mengusut misteri kematian adiknya setelah berpacaran dengan Tania. Dia menyamar dan berpura-pura menyukai Tania untuk mendapatkan informasi darinya.
Namun, apakah yang akan terjadi ketika Zayn akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Tania? Dan apa yang harus dilakukannya ketika berada di persimpangan dilema ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita Kematian
Berita terkini, mobil seorang detektif kepolisian yang bernama Zayn Argantara ditemukan hancur karena ledakan. Setelah diselidiki, mobil tersebut mengalami kecelakaan tunggal dan meledak saat menghantam batu besar. Disekitarnya, terdapat beberapa potongan daging yang sudah hancur dan pakaian yang diperkirakan milik pengemudinya, yaitu Zayn. Demikian seilas info.
"Oh jadi kamu teman Zayn? Ada apa?" tanya Hamdan. Disana juga ada Tania dan Arum.
Beberapa menit lalu mereka kedatangan seorang pria yang bernama Surya. Ia mengaku sebagai teman Zayn karena sebelumnya Hamdan, Arum, juga Tania tidak mengenalnya.
"Begini, saya ingin menyampaikan kabar bahwa Zayn Argantara yang diberitakan meninggal pagi ini,,,,,," Surya terlihat ragu mengatakannya. Sedangkan Tania tampak sangat tegang.
"Zayn Malik yang kalian kenal adalah Zayn Argantara."
Tania terdiam. Sepertinya ia mulai mencerna semuanya. Namun air matanya mengalir deras.
"Apa?? Jadi Zayn adalah korban dari kecelakaan mobil itu?" Arum terkejut mendengarnya.
"Tapi kenapa dia berbohong? Maksud saya, dia adalah detektif tapi menjadi investor saya." Hamdan.
"Sebenarnya tujuannya berbohong adalah untuk mengungkap kematian adiknya yang bernama Zidan, mantan pacar Tania. Dan beberapa hari ini kami menyelidiki kasus kematian semua mantan pacar Tania. Tujuannya hanya satu, yaitu demi membersihkan nama Tania. Dan Tania, aku juga ingin menyampaikan padamu bahwa Zayn sangat mencintaimu."
Mendengar penuturan Surya, Tania langsung berteriak histeris. "Mas Zayn!!!!!! Mas Zaaaaaayn!!!!" Ia berlari ke belakang. Mengagetkan Bi Erna yang sedang memasak.
Hamdan, Surya, dan Arum segera mengejarnya. Tania berhasil mengambil sebilah pisau. Ia ingin menusuk perutnya sendiri, namun Surya segera menahannya. "Lepaskan!! Lepaskan aku!!!" Tania mencoba berontak namun Surya terus mendekapnya dan menjauhkan pisau dari tangannya. Hamdan, Arum, juga Bi Erna pun turut memaksa mengambil pisau itu.
"Biarkan aku mati!! Aku nggak mau menjadi penyebab orang meninggal lagi! Biarkan aku mati!!" Tania mencoba kembali berontak. Ia bahkan menginjak kaki Surya dengan heelnya hingga Surya mengaduh kesakitan. Dengan kesempatan itu, Tania langsung menghujam perutnya dengan pisau tersebut. Darah bercucuran dari perutnya. Ia ambruk ke lantai dengan darah yang sangat banyak dan pisau yang terus menancap.
"Jangan cabut pisaunya nanti darahnya bertambah banyak. Ayo kita bawa dia ke rumah sakit," ujar Surya.
Mereka segera mengangkat Tania ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Tania langsung dimasukkan ke ruang UGD. Surya, Hamdan, Arum, Bi Erna, dan Maman si supir menunggunya di luar.
"Surya, kamu bilang kalian menyelidiki kasus kematian mantan pacar Tania. Lalu mana buktinya? Ayo kita antar ke kantor polisi jika benar itu kasus pembunuhan berantai," ujar Arum.
"Maaf, Tante. Saya memang menyimpan buktinya. Namun bukti itu hilang saat saya pergi ke TKP tempat Zayn meninggal. Seseorang sempat menabrak saya hingga saya terjatuh. Mungkin saat itu bukti itu jatuh ke dalam laut."
"Ya Allah, Tania! Kenapa semua jadi begini." Arum menangis di pelukan Hamdan. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa keponakan yang sangat ia sayangi harus menderita seperti ini.
Dokter keluar dari ruang UGD.
"Bagaimana kondisi keponakan saya, Dok?" tanya Arum dengan panik.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi nyawa keponakan ibu tidak bisa kami selamatkan. Dia kehilangan banyak darah sehingga nyawanya tidak dapat tertolong."
"Ya Allah, Tania!!!!" Arum berteriak histeris. Hamdan berusaha menenangkan dirinya. Namun ada yang aneh dari wajah Hamdan. Ia juga menangis, namun bibirnya sedikit menyunggihkan sebuah senyuman.
"Sabarlah, sayang. Mungkin ini memang jalan takdir Tania. Kita harus menerimanya dengan ikhlas." Hamdan mengusap punggung Arum yang berada di dalam pelukannya.
"Dok, bolehkah kami membawanya pulang?" tanya Hamdan.
"Maaf, Pak. Izinkan kami melakukan outopsi pada jenazah."
"Tapi kenapa, Dok?" tanya Hamdan.
"Kami hanya ingin memastikan bahwa ini memang bunuh diri, bukan dibunuh."
"Tapi dia memang bunuh diri, Dok?" Hamdan tetap bersikeras.
"Tidak, biar kami memeriksanya dulu. Kami melihat beberapa luka memar di tangannya. Dan juga memastikan bahwa tubuhnya tidak mengkonsumi zat berbahaya pada otak. Misalnya obat yang membuat korban berhalusinasi atau panik secara berlebihan." Dokter menatap Hamdan dengan tatapan berbeda.
"Itu karena tadi kami mencoba menolongnya. Kami menarik pisau dari tangannya."
"Maaf, Pak. Tolong izinkan kami melakukan outopsi terlebih dahulu." Sang dokter tetap memaksa.
"Ya sudah, kalau begitu kami akan menunggu kabar dari dokter." Hamdan akhirnya mengiyakan.
Hamdan dan Arum pulang, sedangkan Surya masih berada di rumah sakit. Dia akan menginterogasi dokter mengenai Tania.
*****
Di rumah Tania, Arum tak henti-hentinya menangis. Seluruh tetangga pun mulai berdatangan. Ada yang ingin tahu perihal gadis yang bunuh diri, atau hanya sekadar ingin mengucapkan bela sungkawa.
Begitu juga di rumah Zayn. Para tetangga dan relasi kerja juga mulai berdatangan dan mengucapkan bela sungkawa.
Takdir memang tidak ada yang bisa menebak, yang baik harus meninggal dengan cara tragis. Apakah kisah ini akan berakhir dengan kematian para pemeran utamanya? Atau kemenangan akan diraih oleh penjahatnya.