Asih, bunga desa itu berlari diantara pekatnya malam. Dari kejauhan terdengar teriakan orang-orang yang mengejarnya dengan marah.Suara riuh membuat Asih semakin ketakutan dan melayang menuju kompleks pekuburan di desa itu yang masih terbuka liang lahatnya. Perempuan itu masuk ke liang lahat dan tanah kuburanpun tertutup disertai suara gemuruh dan getaran hebat seperti gempa. "Semua mundur. Biar aku yang akan mengunci perempuan itu didalam kuburnya!!” teriak Ahmad
Asih bunga desa yang terlibat cinta terlarang dengan pak Lurah yang tampan dan tajir dinikahi secara siri oleh pak Lurah.Namun untuk menutupi pernikahan siri mereka, Asih kemudian dinikahkan dengan Ibrahim tanpa diceraikan terlebih dahulu oleh pak Lurah. Asih yang sombong karena kecantikannya kembali berselingkuh dan dinikahi seorang konglomerat yang akan membangun Mall di desanya.
Bagaimanakah nasib Asih selanjutnya ? Akankah Asih memilih salah satu diantara ketiga suaminya itu ? Ikuti dan dapatkan jawabannya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhaken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25. Menjaga Asih
Hujan turun dengan derasnya seolah dicurahkan dari langit. Malam yang gelap semakin terasa sepi. Hanya bunyi gemuruh yang saling bersahutan disertai kilatan cahaya dilangit membuat malam terasa makin mencekam.
Asih meringkuk di balik selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Beberapa kali Asih menutupi kedua telinganya begitu mendengar suara gemuruh di langit yang memekakkan telinga.
"Harusnya malam ini aku bertemu Prabowo. Tapi cuaca malam ini benar-benar nggak kenal kompromi, Siaal !!" umpat Asih.
Beberapa kali Asih mencoba melihat situasi diluar rumah melalui celah jendela kayu di kamarnya, barangkali hujan sudah reda dan dia bisa keluar malam ini.
Tapi hujan masih turun dengan derasnya. Bahkan jalanan setapak di depan rumah Bapak sudah mulai digenangi air.
"Aaarghh...!" Asih menghela napasnya kasar.
Tiba-tiba pintu kamar Asih terbuka. Perempuan itu terkejut melihat Ibrahim yang masuk ke kamarnya.
Asih terlihat tak suka.
"Ngapain kamu masuk ke kamarku?" tanya Asih dengan wajah masam.
"Kenapa ?. Kiita ini suami istri Asih. Wajar kalau kita tidur sekamar," jawab Ibrahim tak menggubris protes Asih.
"Ap..Apaa..!?" Asih membelalakkan matanya, Terkejut. Tak biasanya Ibrahim seberani ini.
"Tapi aku nggak suka !!. Ini kamar pribadiku. Kamu nggak berhak tidur disini!" jawab Asih ketus.
Ibrahim tak perduli. Dia malah terus melangkah ke ranjang tempat Asih tidur.
"Suka nggak suka, aku harus tetap tidur disini," Ibrahim masih Keukeh dan duduk di sisi tempat tidur Asih.
Asih refleks mendorong tubuh Ibrahim dengan sebelah kakinya, membuat laki-laki itu oleng dan hampir saja jatuh.
"Sudah kubilang..aku nggak suka..pergiii!!!" teriak Asih mengusir Ibrahim.
"Terserah kamu Asih. Tapi kalau kamu mau protes, silahkan temui Bapak. Ini perintah Bapak. Bapak yang nyuruh aku tidur di kamar ini. Beliau khawatir, kamu bakal keluar lagi kalau nggak aku awasi," ucap Ibrahim terus terang.
Asih melengos dan menepiskan tangannya.
Ucapan Ibrahim membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Percuma menyuruh Ibrahim keluar dari kamarnya. Nggak bakal laki-laki itu nurut apa kata Asih. Ibrahim terlampau patuh pada perintah bapak mertuanya.
"Kalau begitu, kamu tidur di lantai..atau... di sofa itu aja. Aku nggak mau seranjang sama kamu, !" Asih membuang bantal ke arah Ibrahim dan mengenai wajahnya.
Ibrahim menghela napas panjang mendapat perlakuan kasar dari Asih. "Astaqfirullah hal adziim. Ampunilah dosa Istriku yaa Allah," bisik Ibrahim pelan sembari mengelus dadanya yang terasa sesak.
Tak ingin berdebat lagi, Ibrahim akhirnya mengambil tikar yang ada dibalik pintu kamar dan menggelarnya di lantai. tak lupa dia mengambil salah satu selimut bersoh dilemari pakaian Asih.
Maafkan aku asih. Aku terpaksa melanggar perjanjian kita agar aku bisa mengawasi dan melindungi kamu !, batin Ibrahim.
"Aku sengaja memakai nama bapak agar kamu nggak nolak keberadaanku di kamar ini. Cintamu kepada Prabowo telah membutakan mata dan hatimu. Kamu nggak lagi perduli dengan norma dan aturan agama Asih,"
Ibrahim membaringkan tubuhnya diatas tikar yang dingin. Kepalanya menumpu pada kedua telapak tangannya diatas bantal. Pikiran Ibrahim menerawang.
"Andai Asih bisa mencintaiku seperti dia mencintai Prabowo..mungkin...!!"...Ah , sudahlah. Aku terlalu banyak berharap. Padahal aku tau betul bagaimana perasaan Asih kepadaku. Aku terlampau mencintainya hingga mengabaikan kebahagiaanku sendiri. Apa aku terlalu bodoh dan naif!?" tanya Ibrahim pada dirinya sendiri.
Asih terlihat gelisah. Beberapa kali perempuan itu membolak balikkan tubuhnya di atas ranjang tua antik yang terbuat dari besi.
Karena tak tahan, Asih beniat untuk keluar. Namun saat dilihatnya Ibrahim yang tidur diatas tikar tak jauh dari ranjangnya langkahnya terhenti.
Perhatiannya tertuju ke wajah Ibrahim yang polos dan terlihat sangat tenang seolah laki-laki itu sedang mimpi indah.
"Kalau diperhatikan baik-baik, Ibrahim ternyata ganteng juga ya..," celetuk Asih. "Sayang...aku tidak bisa mencintai dia. Aku sudah terlanjur cinta mati sama Prabowo,"
Seulas senyum tersungging di sudut bibir Asih. Tiba-tiba Asih tersadar. Perempuan itu menepuk jidatnya sendiri.
"Sinting......apa-apaan aku ini. Ada-ada aja deh..!". Asih tertawa.
Ibrahim yang pura-pura tidur menggeliat, membuat Asih kalap dan membekap mulutnya sendiri. Hatinya bersorak..
"Apa aku ga salah dengar ?" batin Ibrahim senang. "Asih bilang aku ganteng !?"
Asih berjingkrak hendak keluar kamar. Saat melewati Ibrahim, tak sengaja kaki Asih kesandung kaki Ibrahim.
Tubuh Asih jatuh tepat diatas tubuh Ibrahim.
______________