Bara Dirgantara, pria berusia 27 tahun ini merupakan seorang pewaris tunggal Dirgantara Grup. Rumah tangga orang tuanya yang tak berjalan mulus sampai ibunya harus dirawat di rumah sakit jiwa karena mengalami depresi berat.
Bara menaruh dendam pada selingkuhan ayahnya yang sempat merusak keutuhan keluarga mereka. Hingga pada suatu hari, Bara mengetahui bahwa anak dari selingkuhan ayahnya adalah bawahannya di kantor bernama Rosaline.
Bara sengaja bersikap manis pada Rosaline, mengajak wanita tersebut masuk ke dalam perangkapnya, dan setelah itu memberikan penyiksaan terhadap Rosa.
Akankah Bara terus menyimpan dendam pada Rosa? Bagaimana akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririn Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Tolong Kembalilah!
"Entah mau kamu dengar atau tidaknya ucapanku, setidaknya aku sudah memberitahukan padamu, tak seharusnya kamu menyalurkan rasa sakit hatimu terhadap menantuku," ujar Amran yang mulai beranjak dari tempat duduknya. Pria itu langsung meninggalkan Bara pergi dari sana.
Sementara Bara, ia masih duduk termagu mencerna ucapan sang ayah. Namun, mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Bara terlalu gelap mata membalaskan dendamnya melalui Rosa, hingga membuat sang istri tertekan batin dan kehilangan gairah hidupnya.
Setelah kepergian ayahnya, Bara kembali ke kamar. Ia mendapati pelayan yang menjaga Rosa tengah mengajak Rosa berbicara, akan tetapi yang diajak bicara tak ada perubahan sama sekali. Hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan yang kosong.
"Tuan," ucap pelayan itu saat menyadari keberadaan Bara. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya dan mempersilakan pada Tuannya itu untuk duduk.
"Bi, ...."
"Iya, Tuan." Pelayan itu menimpali.
"Sering-seringlah ajak dia berbicara, siapa tahu dia akan merespon ucapan bibi nantinya," ucap Bara terdengar lirih.
"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan." Pelayan tersebut pamit undur diri dari hadapan keduanya.
Kini tinggal lah Bara bersama dengan Rosa. Bara membelai rambut Rosa. Entah harus menunggu waktu berapa lama lagi, membuat Rosa bisa kembali seperti semula.
Bara merindukan senyum Rosa, sambutan hangat setiap paginya dari istri cantiknya. Meskipun Bara menunjukkan ketidaksukaannya dengan sambutan Rosa. Namun, dalam hati kecil pria tersebut sangat senang melihatnya. Maka dari itu, saat Rosa mengacuhkannya kemarin, Bara menjadi resah.
Bara membaringkan tubuh Rosa. Pria itu juga berbaring di samping sang istri. Bara memeluk erat Rosa, seakan mengisyaratkan bahwa ia ingin Rosa tetap di sini. Jika tak ada Rosa, mungkin dunianya akan kembali hancur lagi.
Bara cukup bodoh, ingin melaksanakan misi balas dendamnya yang berujung menyakiti dirinya sendiri. Melihat Rosa dengan kondisi seperti ini, membuat hati Bara hancur berkeping-keping.
"Rosa, tolong kembalilah!" lirih Bara disetiap kali dirinya hendak memejamkan mata. Seakan kalimat itu menjadi mantra untuk memanggil Rosa yang tak kunjung merespon ucapannya.
....
Keesokan harinya, Bara menambah rutinitas paginya dengan memandikan sang istri. Sebelum pergi ke kantor, Bara terlebih dahulu mengutamakan untuk mengurus istrinya terlebih dahulu.
Kini Rosa telah berpakaian lengkap, bahkan Bara memberikan pakaian terbaik untuk Rosa. Ia tidak ingin istrinya kembali mengenakan pakaian lusuh seperti kemarin-kemarin.
Dengan telaten, Bara mengeringkan rambut Rosa, sesekali ia mengajak Rosa berbincang meskipun tak ada jawaban dari wanita tersebut.
"Istriku, kamu memiliki rambut yang sangat indah. Sepertinya kemarin kamu sangat landai merawat rambutmu," ucap Bara.
"Tapi tenang saja, kali ini aku yang akan merawatnya. Aku tidak akan membiarkan rambutmu menjadi kotor dan rusak. Akan ku pastikan rambutmu akan terawat dan sehat. Aku juga akan mencuci rambutmu, memberikannya vitamin, supaya rambutmu semakin cantik," lanjut Bara mengembangkan senyumnya.
Setelah selesai menata rambut sang istri, Bara pun meminta pada pelayan untuk menjaga istrinya sebentar, sementara dirinya hendak mandi.
Pelayan itu pun menganggukkan kepala, membawa Nyonyanya untuk keluar dari kamar tersebut.
Setelah selesai menghabiskan sekitar lima belas menit berada di dalam kamar mandi, Bara pun keluar dengan kondisi yang segar. Pria itu segera memakai setelan kantornya, bersiap untuk berangkat ke kantor.
Bara menatap penampilannya di cermin. Rambutnya yang sudah tertata dengan rapi, begitu pula dengan penampilannya. Pria tersebut membuka etalase koleksi arloji mahalnya, memasangkan benda tersebut di pergelangan tangan kirinya. Semuanya di rasa cukup, Bara pun langsung keluar dari kamarnya untuk menemui sang istri.
Bara melihat pelayan tersebut membawa istrinya tak jauh dari kamar. "Maaf sebelumnya, Tuan. Saya kesulitan membawa Nyonya turun ke bawah," ungkap pelayan tersebut yang memang tidak bisa menuruni anak tangga sembari menggendong Rosa.
Bara langsung menggendong istrinya, pria itu menggendong tubuh Rosa ala bridal style. Menuruni anak tangga, dengan pandangan menatap lurus ke depan.
Setelah berhasil menuruni anak tangga, Rosa pun kembali di dudukkan ke kursi roda yang dibawa pelayan tadi.
"Bi, kalau saya tidak ada, Rosa diistirahatkan di kamar tamu saja!" titah Bara pada pelayan tersebut.
Pelayan itu pun mengangguk paham. Bara mendorong kursi roda itu menuju ke meja makan. Pria tersebut menyuapi bubur untuk istrinya, agar perut Rosa tetap terisi makanan.
Bara sudah seperti memiliki bayi besar. Namun, ini juga semua karena ulahnya. Jika saja Bara dulunya tidak memiliki ambisi yang besar untuk membalaskan dendamnya, mungkin Rosa tidak akan menjadi seperti ini. Tentunya wanita itu akan selalu memperlihatkan wajah cerianya.
Seusai menyuapi Rosa makan, kini Bara lah yang menyantap sarapannya. Ia sesekali melirik ke arah sang istri sembari mengembangkan senyumnya.
Selama menikah, baru kali ini Bara tidur sekamar dengan istrinya, baru kali ini juga ia menikmati sarapan bersama dengan Rosa.
Menatap makanan yang ada di atas meja, membuatnya kembali teringat saat Rosa memasakkan sesuatu untuknya, Bara membuang makanan buatan Rosa, tak Sudi mencicipi masakan yang dibuatkan oleh istrinya.
Rosa membuatkan kopi, akan tetapi lagi dan lagi Bara menolak kopi tersebut, hingga pada akhirnya kopi itu mengenai tangan Rosa.
Mengingat semua itu, membuatnya tidak berselera untuk makan. Bagaimana dia bisa menjalani kehidupannya dengan sangat baik jika Rosa menderita atas ulahnya.
Bara kembali meletakkan sendok dan garpunya. Ia memilih untuk menyudahi sarapannya. Pria itu beranjak dari tempat duduk, lalu kemudian mendorong kursi roda milik istrinya menuju ke depan. Sementara pelayan yang merawat Rosa hanya mengikuti keduanya dari belakang.
Setibanya di depan, Bara menghentikan langkahnya. Pria itu berjongkok, lalu kemudian menggenggam tangan kurus Rosa dengan begitu erat.
"Rosa, hari ini aku akan ke kantor. Kamu tinggal dulu dengan bibi, tidak apa-apa kan?" tanya Bara.
Hening, tidak ada jawaban.
"Aku tidak akan lama, hanya sebentar dan aku pastikan untuk cepat menyelesaikan pekerjaan ku, agar aku bisa kembali menemanimu," lanjut Bara.
Bara beranjak dari posisinya, lalu kemudian mengusap surai hitam Rosa dengan penuh kasih sayang.
"Bi, saya titip istri saya. Tolong jaga Rosa dengan baik," tegas Bara.
"Baik, Tuan."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Bara pun melangkah pergi meninggalkan keduanya. Pria tersebut berjalan menuju ke mobil. Saat memasangkan sabuk pengaman ke tubuhnya, Bara masih menatap wajah sang istri dengan tatapan kosongnya itu. Bara meneriakkan klaksonnya, lalu kemudian membawa mobil tersebut menuju ke jalanan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu, Bara pun tiba di depan gedung pencakar langit, yang tak lain adalah kantornya. Pria tersebut turun dari kendaraannya, lalu kemudian hendak masuk ke dalam gedung yang ada di hadapannya.
Namun, tiba-tiba tangan Bara di cekal oleh seseorang, membuat Bara pun membelalakkan matanya.
Bersambung ....