Penjara cinta yang suaminya ciptakan membuat Firda tak tahan lagi . Ia hidup namun tak bisa hidup dengan bebas seperti manusia pada umumnya . Suaminya itu menyuruhnya melakukan hal hal yang tak ia sukai mulai dari Memakai softlens berwarna biru setiap hari , menghadiri les memasak juga menghadiri les piano .
Bukan hanya itu saja , setiap ia pergi keluar dari rumah .Para bodyguard selalu mengikuti dirinya , ia merasa tak nyaman namun ia berusaha berpikir positif bahwa itu semua suaminya lakukan demi keselamatan nya .
Namun semakin hari ia semakin tak nyaman , ia seperti seorang boneka yang hanya bisa pasrah di mainkan dan di atur oleh orang lain . Kebebasan nya seakan terenggut saat ia menikah dengan suaminya itu . Karena merasa lelah dan muak dengan itu semua akhirnya Firda mulai tak menuruti apa mau suaminya . Ia mulai lupa mengenakan softlens biru yang suaminya suruh pakai setiap hari .
Awal nya ia kira suaminya tak akan marah namun justru ia salah . Suaminya murka dan mengamuk hingga berakibat kekerasan dalam rumah tangga yang ia alami .Hal itu semakin membuat Firda tak kuat lagi menjalankan rumah tangga nya , keinginan nya untuk mengakhiri rumah tangga nya semakin kuat setelah mengetahui fakta bahwa suaminya menikahi dirinya hanya karena ia mirip dengan istri laki aki itu yang sudah meninggal . Hatinya semakin hancur kala mengtahui jika perintah perintah yang suaminya berikan hanya lah agar dia terlihat semakin mirip dengan mendiang istrinya .
Hingga akhirnya wanita itu memilih pergi mulai dari meminta cerai yang suaminya tolak mentah mentah. Hingga memalsukan kematian nya sendiri agar terbebas dengan dari cengkraman sang suami .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 . Ketakutan Firda .
" Sudah ma , jangan nangis lagi . " Ucap Brian tak tega melihat wanita yang melahirkan nya itu menangis .
" Mama gak bakal nangis kalau kamu bisa ikhlas kan istrimu Brian . Ini sudah lebih dari 2 hari dan istrimu masih belum di ketemukan . Apa kamu yakin dia masih hidup ?" Tanya Mona menatap anak semata wayangnya itu dengan mata berkaca kaca .
" Ma ... plis jangan membahas soal itu , sampai kapanpun Brian gak akan ikhlas . Lagi pula Brian sangat yakin kalau Firda masih hidup ma . Polisi belum menemukan jasadnya jadi masih ada harapan untuk Brian berharap kan ma ? , Jangan larang Brian untuk terus mencari Firda . Karena Brian tak akan berhenti sebelum menemukan wanita itu dalam keadaan hidup atupun mati . "
Mona menghela nafas nya sejenak setelah itu ia menatap mata anak nya yang saat ini tengah berkabut dengan kesedihan . Hati Mona hancur melihat itu , ia tak ingin Brian terus berada dalam kesedihannya . Namun ia juga tak bisa menolak keinginan anak nya itu . Jadi Mona hanya bisa mendukung sang anak di saat saat seperti ini .
" Baiklah mama gak akan ngelarang kamu buat cari dia , tapi kamu harus makan nak . Bagaimana kamu mempunyai tenaga untuk mencari Firda jika kamu tak makan . " Ucap Mona mengusap bahu anak nya itu perlahan . Berharap anak nya akan mengerti dan mau mengisi perutnya kembali .
" Tapi Brian tak berselera ma ."
" Sedikit saja Brian , kamu bisa sakit kalau kamu terus terusan menolak makanan . Ayolah mama mohon sekali ini saja , demi mama demi Firda dan juga Iren . "
Mendengar nama istri dan mantan istrinya di sebut . Brian pun seketika mengulas senyum nya , suasana hati laki laki itu berubah hanya karena mendengar nama 2 orang yang sangat mirip wajah nya .
" Baiklah aku akan makan . Kalau Firda dan Iren melihat ku tak mau makan pasti mereka akan memarahi ku sama seperti dulu . Ayo ma , kita ke meja makan . " Ajak Brian sesaat setelah menutup pintu kamar nya rapat . Mona terdiam ia tak menyangka jika anak nya begitu mencintai 2 wanita itu sampai sebegitu nya .
" Ayo ma ..Tunggu apa lagi katanya tadi mau makan ." Ajak Brian menarik tangan ibunya lembut dan membawa ibunya menjauhi kamar milik nya .
" Eh ...papa sudah makan duluan ternyata ." Ucap Brian saat mendapati ayah nya sudah duduk di kursi dan sedang menyantap makanan nya .
" Iya ...duduk lah kita makan sama sama nak . " Brian hanya mengangguk dan memilih duduk di hadapan orang tuanya itu . Semua makan dengan tenang , sesekali dewa menatap anak nya dengan pandangan iba begitu pula dengan Mona .Mereka kasihan pada sang anak yang harus kehilangan istri untuk kedua kalinya .
..
..
..
Sementara itu dilain sisi Firda baru saja terbangun dari tidurnya , wanita itu segera bangkit untuk mencuci muka nya yang terasa lengket . Setelah di rasa cukup , ia berjalan menuju dapur .
" Kenapa aku bisa kesiangan sih " Ucap Firda yang merasa matahari sudah tinggi dan sedang menyapa paginya .
Wanita cantik itu berjalan menuju lemari pendingin . Saat ia hendak membuka lemari pendingin itu , matanya tak sengaja melihat sebuah kertas kecil yang tertempel di pintu kulkas .
" Aku berangkat kerja Fir , maaf tak pamit karena aku lihat pintu kamar mu masih tertutup jadi aku tak enak jika harus mengganggu tidur mu . Aku juga sudah siapkan roti bakar di meja makan dan segelas susu untuk sarapan mu . "
Senyum langsung terukir di bibir Firda saat membaca pesan tersebut , ia tak menyangka Farel begitu perhatian padanya . Walaupun ia tau perhatian itu tak lebih dari perhatian seorang laki laki pada teman nya . Tak lebih dari pada itu.
Setelah membaca pesan tersebut , Firda berjalan menuju meja makan yang jarak nya tak begitu jauh dari dapur .
Dan benar saja, saat ia tiba di sana sudah ada sepotong roti bakar yang tersaji di atas piring dan juga segelas susu yang berada di samping nya .
" Di makan jangan lupa habiskan ya . " ucap Firda saat membaca sebuah kertas di samping makanan itu .
" Kenapa kamu bersikap manis seperti ini mas , aku tak mau baper dengan segala tingkah dan perlakuan mu kepada ku . " gumam Firda menatap makanan di hadapannya itu dengan pandangan sendu .
Ting tong ...Ting tong . ..
Bunyi bel rumah membuyarkan lamunan Firda , wanita itu berjalan menjauhi meja makan untuk melihat siapa yang bertamu kerumah Farel. Sebelum membuka pintu di hadapan nya , Firda lebih dulu mengintip lewat kaca jendela di samping pintu .
Mata wanita itu melotot saat melihat anak buah ayah nya berada di depan rumah Farel .
" Bagaimana ini , apa yang harus aku lakukan . " Ucap Firda ketakutan . Tubuh wanita itu mulai gemetar sedangkan bibirnya sudah pucat pasi . Keringat dingin mulai membasahi peluhnya , Wanita itu segera bersembunyi di balik sofa ruang tamu .
Ingin rasanya menghubungi Farel dan menyuruh laki laki itu segera pulang namun ia tak memiliki hendphone . Ia juga tak mengetahui berapa nomer ponsel laki laki itu .
" Seperti nya tak ada orang di rumah ini , kita tanya pada rumah yang lain nya saja . Siapa tau kita menemukan petunjuk keberadaan nona Firda . " Ucap salah satu dari orang berpakaian hitam itu pada rekan nya .
" Baiklah . Kita pindah tempat . "
Setelah itu mereka terlihat menjauh dari rumah Farel . Firda masih ketakutan ia tak merubah posisinya sama sekali , ia begitu takut untuk bergerak dan mengeluarkan suara . Sementara air mata mulai membasahi pipi nya karena begitu ketakutan nya .
" Dokter sudah siap berangkat ke seminar ?" Tanya Novi pada Farel yang saat ini tengah sibuk mem bolak balik kertas di atas meja nya .
" Sebentar kertas untuk presentasi saya seperti nya ketinggalan di rumah . Kamu bisa pergi lebih dulu . Nanti saya menyusul , saya harus mengambil berkas itu lebih dahulu sebelum berangkat ke lokasi . "
Mendengar hal itu Novi sedikit kecewa karena tak bisa berangkat bersama dengan Farel . Hatinya sudah berbunga bunga tadi saat Farel mengajak nya untuk berangkat ke lokasi seminar bersama sama . Namun kini rasa senang itu luntur gara gara berkas yang tertinggal di rumah lelaki itu .
" Baiklah saya berangkat dulu ya dok . " Pamit Novi dengan nada lesunya .
" Iya ..tolong sampaikan permintaan maaf saya karena mungkin saya sedikit telat menuju ke lokasi . "
" Baik dok . " Ucap novi setelah itu bergegas pergi meninggalkan Farel sendiri .
" Kenapa bisa ketinggalan sih padahal udah aku ingat ingat tadi malam tapi tetap saja tertinggal , ah aku sudah tua kali ya . Sudah mulai pikun . " Ucap Farel menggaruk hidung nya perlahan setelah itu ia mengambil kunci mobil nya dan bergegas untuk pulang ke rumah .
Jalanan ibu kota yang macet membuat Farel menggerutu dalam hatinya , hari ini ia begitu sial dan ia yakin akan ada kesialan kesialan berikutnya yang terjadi di hari ini . Perasaan nya mengatakan hal itu dan itu tak pernah salah sejak dahulu .
" Siap siap hari ini aku bakal urung uringan kalau sampai itu terjadi . " Ucap Farel berharap tebakan nya salah dan ia bisa melewati hari dengan begitu mudah , seperti hari biasanya .
...
.
. ..
Jangan lupa like komen vaf dan hadiah ya .
Dukungan kalian sangat berarti untuk kami para author .
tapi seru juga ....
semangat otor.