NovelToon NovelToon
Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:625
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.

Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.

Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.

Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.

Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan yang Dirindukan

Sore itu, seperti biasa, Alto sedang bersiap-siap membuka kafenya saat dia melihat seorang wanita berdiri di area parkir sambil menatap ke arahnya. Alto mengerutkan kedua alisnya. Dia memutuskan untuk mendekati wanita itu.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Alto. Wanita itu tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Alto memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, bingung.

"Anda sedang menunggu seseorang? Anda bisa duduk di pelataran kafe kalau mau. Sebentar lagi kafe akan buka," kata Alto. Wanita itu menaikkan kedua alisnya.

"Boleh?" tanya wanita itu. Alto tersenyum.

"Tentu saja," jawab Alto.

"Tapi, saya belum bisa membuatkan minuman," lanjutnya. Wanita itu menggelengkan kepala sambil tersenyum.

"Tak apa,"

"Kalau begitu, silakan," kata Alto sambil berjalan menuju kafe. Wanita itu mengikutinya.

"Alto," kata Alto sambil mengulurkan tangan.

"Sabrina," kata wanita itu sambil menjabat tangan Alto dan tersenyum.

"Duduk aja dimana kamu nyaman. Aku tinggal siap-siap dulu," kata Alto sambil berlalu masuk ke kafe.

Sabrina tersenyum lalu duduk di kursi yang ada di outdoor area kafe. Dia menatap Alto yang kembali keluar menuju teras sambil membawa alat-alat musik dibantu beberapa pelayan kafe.

Sabrina tahu, mengakhiri hubungannya dengan Abas demi untuk mengejar cintanya yang belum tentu sampai adalah tindakan bodoh dan gegabah. Namun, sejak dia melihat Alto sebulan yang lalu, dia tak bisa berhenti memikirkannya. Meskipun tampaknya Alto sudah melupakannya.

Sabrina masih mengingatnya. Sebulan yang lalu saat Abas mengajaknya untuk menginap di villa, Sabrina memutuskan untuk ke minimarket terdekat membeli pembalut. Sabrina menolak saat Abas ingin mengantarnya. Sabrina ingin jalan kaki sambil menikmati pemandangan sekitar villa sore itu. Selain itu, Sabrina paham bahwa Abas sedang ada telepon penting. Dia hanya tidak ingin mengganggunya.

Setelah selesai membeli kebutuhannya, Sabrina berjalan pulang. Saat keluar dari minimarket, langit sudah terlihat begitu mendung. Sabrina berusaha berjalan secepat mungkin. Namun, sial. Hujan tiba-tiba turun begitu deras membuat Sabrina langsung berteduh di sebuah pelataran toko.

"Wah! Bener-bener kejutan!" seru seorang pria di sampingnya yang juga sedang beteduh.

"Aku kira bakal sempet sampai sebelum hujan," lanjutnya.

Sabrina memperhatikan pria itu. Rambutnya yang agak gondrong sedikit basah karena hujan. Rahangnya tegas, namun wajahnya begitu lembut. Matanya berbinar saat menatap hujan yang menghalanginya sampai tempat waktu ke tujuannya. Pria itu menoleh, menatap Sabrina yang membawa kantong plastik, lalu tersenyum.

"Hujan seperti ini nggak lama. Sebentar lagi juga reda," kata Alto. Sabrina mengangguk sambil masih mengagumi sosok pria itu.

Benar saja. Tak sampai sepuluh menit, hujan benar-benar berhenti bagai tak pernah turun. Sabrina mengulurkan tangannya dari tempat berteduhnya untuk memastikan hujan benar-benar sudah berhenti.

"Tenang aja," kata pria di sampingnya sambil berjalan keluar dari emper toko.

"Udah beneran berhenti kok. Buruan pulang! Hati-hati!" kata pria itu sambil melambaikan tangannya pada Sabrina.

Sabrina tertegun beberapa saat sambil menatap punggung pria asing yang terus berlalu itu. Ada perasaan aneh yang menjalar dalam dirinya. Sabrina tertunduk. Satu bulan lagi dia akan menikah dengan Abas. Dia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa menikahi teman masa kecil akan membawa kebahagiaan dalam hidupnya.

Namun, entah mengapa, saat dia bertemu pria tadi, hati Sabrina terasa berdenyut. Dia memikirkan, apa yang Abas akan katakan padanya jika tiba-tiba hujan turun seperti tadi. Sabrina mencoba menebak meski Sabrina tahu, Abas hanya akan diam menunggu hujan reda.

Selama ini Sabrina selalu meyakinkan dirinya bahwa rasa nyaman yang dia dapat dari Abas sudah cukup untuk melangkahkan kaki ke jenjang hubungan yang lebih serius. Namun sore itu, perhatian kecil dari pria asing yang baru saja dia temui menyadarkannya bahwa hal-hal seperti itulah yang selama ini dia cari.

Sejak saat itu, Sabrina mulai menanyakan hatinya tentang keputusannya untuk menikah. Bisakah dia tetap bertahan dengan semua itu? Sabrina mendongak. Punggung pria asing itu sudah tak terlihat.

Keesokan paginya, Sabrina mulai penasaran dengan pria itu. Dia bangun pagi-pagi sekali untuk menyusuri jalanan ke minimarket, berharap bertemu pria asing itu lagi. Sabrina berdiri cukup lama di emperan toko tempat dia berteduh kemarin sore. Sepi. Tak ada tanda-tanda orang lewat. Sabrina memutuskan untuk kembali sore hari nanti.

Sore harinya, Sabrina kembali berjalan-jalan menyusuri jalanan minimarket. Dia masih berharap dapat melihat pria asing itu. Lagi-lagi, Sabrina tidak melihatnya. Sabrina memutuskan untuk mengambil jalan memutar untuk kembali ke villa Abas. Dia melewati tepi pantai yang sudah sepi. Tak banyak orang disana. Warna cantik langit pantai sore itu membuat Sabrina berhenti sesaat.

"Jreng... Jreng..."

Suara gitar membuat Sabrina menoleh ke arah sumber suara.

"Rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi

haruskah aku lari dari kenyataan ini?

pernah ku mencoba tuk sembunyi

namun senyummu tetap mengikuti..."

Mata Sabrina terpaku. Dia melihat pria yang dari tadi pagi dicarinya tengah bernyanyi diiringi gitar oleh seorang gadis. Suaranya indah. Hati Sabrina semakin berdenyut saat melihat pria itu tertawa sambil mengacak rambut gadis bergitar di sampingnya.

"Rambutku, Bang!" teriak gadis itu sambil merapihkan rambutnya. Pria itu tertawa makin lepas sambil berdiri.

"Udah! Ayo bantuin buka kafe. Keburu disatronin pelanggan," kata pria itu.

"Ogah! Aku mau pulang aja,"

"Eh?! Berani melawan perintah kakakmu ya?"

"Emang kenapa? Weeek..." gadis itu berlari menuju ke arah Sabrina sambil membawa gitarnya.

"Melodiiii!!!" pria asing itu hanya berteriak dari kejauhan dan membiarkan gadis itu pergi.

Sabrina mengamati pria asing yang kemudian berjalan menuju sebuah kafe yang tak jauh dari tempatnya tadi duduk sambil bernyanyi. Dia terlihat merogoh kunci lalu membuka pintu pagarnya. Tak lama kemudian beberapa orang datang, menyapa pria itu dengan sangat akrab. Sabrina memperhatikannya sejak hari itu. Dan hari-hari setelahnya saat Sabrina dan Abas masih menghabiskan waktu di villa, Sabrina mencuri waktu untuk berjalan ke pantai dan memperhatikan Alto dari jauh.

Kini Sabrina menatap Alto yang terlihat sibuk seperti beberapa waktu yang lalu saat dia memperhatikannya dari jauh. Tatapannya masih hangat. Senyumnya masih ramah. Tawanya masih lepas. Hal-hal kecil yang selama ini dia coba untuk lupakan, malah semakin sering hadir mengisi ruang pikirannya, membuat hatinya yang selama ini cukup mantap dengan Abas, mulai goyah perlahan.

Sabrina menarik napas dalam-dalam. Dia masih menatap Alto yang sibuk dan sama sekali tidak terganggu dengan kehadirannya. Jantung Sabrina tiba-tiba berdegup sedikit lebih kencang. Satu pertanyaan mulai terbesit dalam hati kecilnya.

'Akankah perasaan ini berbalas?'

***

1
Ne Ajja
tanya langsung sama orangnya, Bas...
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
Purnamanisa: kepo banget emang si Abas, tapi sok cool 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ne Ajja
ada yg panas tapi bukan kompor 😂
Purnamanisa: apa tuuuh 😅😅🤣🤣
total 1 replies
Ne Ajja
belokin dong, Bar...
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
Purnamanisa: Kalo dibelokin langsung Abasnya ngambek, Kak... biarkan dia belok sendiri 😅😅😅
total 1 replies
Ne Ajja
ngga, Bas...
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Purnamanisa: 😅😅
Melodi dimana2 🤣🤣
btw, video Senja Dalam Diam sudah ada di tiktok Purnamanisa ya, kak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Suka sama lagunya.
Hafal bagian reffnya🤭
Purnamanisa: senjaaa... katakan padanya...🤭🤭
total 1 replies
Ne Ajja
"rasa" hadir tanpa butuh alasan...
eaaa....🤭
Purnamanisa: terimakasih kakaaak... biasanya kalo udah eps 20 keatas baru rame kak 😅😅 bantuin up dan share ya kalo menurut kakak ceritanya keren 🙏🙏 terimakasih udah selalu baca karya2 author 😊😊
total 3 replies
Ne Ajja
arahin, Mel 🤭
Purnamanisa: lupa ga bawa kompas, Kak 😅😅
total 1 replies
Ne Ajja
ohhh....astaga...
bener2 plot twist nya..

jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
Purnamanisa: daripada nikah tapi kebayang2 cowok lain kan yaa 😅😅😅
total 3 replies
Ne Ajja
aku udah vote + gift...
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪
Ne Ajja: sami2 ka...
total 2 replies
Ne Ajja
👍👍👍👍👍
Ne Ajja: okeh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!