Assalamualaikum...
Ini karya pertama ku dari penulis pemula seperti ku
Mohon bantuan kritik dan sarannya
Terima kasih
Dua wanita
Dua cincin
Tapi hanya ada satu cinta
Siapakah yang akan dipilih Sameer??
Humaira gadis hijab bercadar lulusan pesantren ataukah Elena gadis cantik dan modis??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pagi menjelang suara kicuan burung bersautan merdu. Humaira dan Elena sedang menikmati waktu kebersamaan mereka di dapur. Humaira menyiapkan makanan sedangkan Elena membuatkan kopi untuk Sameer.
"Sayang" teriak Sameer menghampiri kedua istrinya di dapur.
"Iya" jawab mereka serempak sembari membalikkan tubuh menghadap Sameer.
Sameer hanya meringis kikuk seraya menggaruk tengkuknya.
"Hem...dasi ku yang berwarna navy kemana?" tanya Sameer kikuk. Ia merasa situasinya tidak nyaman apalagi saat ia memanggil 'sayang' kedua istrinya langsung serempak menjawab.
"Kau bertanya kepada siapa Sam?" tanya Elena
"Kalian berdua" jawab Sameer ragu menatap kedua istrinya bergantian.
"Ditempat ku tidak ada dasi warna navy" jawab Elena membawa secangkir kopi untuk Sameer.
"Di kamar Dinda ada dasi navy" jawab Humaira.
"Sebentar ya Dinda ambilkan dulu" lamjut Humaira berjalan menuju kamarnya.
"Aku menyusul Humaira sebentar ya Ele" pamit Sameer berlari kecil menyusul Humaira ke kamar.
Elena hanya menganggukkan kepalanya menatap nanar kepergian Sameer.
Entah mengapa ia mulai merasa tidak ikhlas Sameer membagi perhatiannya dengan Humaira. Ia merasa terabaikan, sejak Humaira keluar dari rumah sakit. Sameer lebih posesif dan lebih perhatian pada Humaira.
Ditambah kini Humaira mengandung anak Sameer yang jelas membuat posisi Humaira lebih kuat. Elena mengelus perutnya pelan.
Drtt...drttt...
Elena menatap layar ponselnya tegang, ia gemetar melihat nama itu. Elena membiarkan ponselnya terus berdering, bahkan kini wajahnya sudah berubah pucat pasi. Rasa takut mulai menyelimuti hatinya.
"Ele" panggil Sameer
Elena tersentak mendengar panggilan Sameer. Ia mencoba menetralkan detak jantungnya yang cepat seperti habis lari maraton.
"Kamu kenapa pucat begitu? Dan itu telpon dari siapa? Kenapa tidak diangkat?" tanya Sameer menatap Elena heran. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Elena pagi ini.
"Tidak apa-apa Sam, itu yang telpon nomornya tidak dikenal" kilah Elena menutupi kegugupannya.
"Mbak Elena sakit? Pucet loh Mbak" Humaira menatap perubahan wajah Elena yang pucat, ia merasa khawatir dengan keadaan Elena. Elena melemparkan senyum canggungnya.
"Tidak apa-apa Mai" Elena mengambil kopi Sameer, saat mengambilkan kopi untuk Sameer. Tangan Elena gemetar.
Pyarrrr..
"Aww.....!!!"ringis Humaira melihat tangannya memerah terkena kopi panas yang dipegang Elena.
"Astagfirullah Mai, Maaf Mbak tidak sengaja" tutur Elena menatap Humaira merasa bersalah.
"Sini Zauya obati" Sameer mengambil tangan Humaira yang memerah tersiram kopi panas. "Ele bereskan pecahan gelasnya, lain kali kamu harus hati-hati" imbuh Sameer.
Sameer membawa tangan Humaira untuk di basuh air dingin, agar luka Humaira tidak melepuh.
"Perih Zauya" keluh Humaira melihat tangannya berwarna merah.
"Sebentar ya sayang, ini Zauya tutup lukanya dulu biar tidak terlalu perih"
Sameer dengan telaten mengobati luka panas ditangan Humaira, sesekali Sameer meniup tangan Humaira untuk menghilangkan rasa panas yang berada di tangan.
Perasaan Humaira menghangat dengan perhatian yang Sameer berikan untuknya. Ia merasa kehamilannya membawa perubahan sikap Sameer menjadi lebih baik.
"Bagaimana Mai luka mu? Maafkan Mbak ya. Mbak tidak sengaja"
"Tidak apa-apa Mbak, nanti juga sembuh" Humaira mengurai senyumnya.
****
Sejak tiba dikantor Sameer sibuk dengan segala urusan perusahaan, ia juga menangani banyak proyek yang sedang dikerjakan. Tiga hari ia tinggal hntuk merawat Humaira yang sakit, kini tumpukan dokumen itu memenuhi mejanya, sesekali ia memijit pelan pangkal hidungnya meredakan rasa lelah yang mulai menyerang kedua matanya.
"Sial!" umpat Sameer saat mengecek ponselnya menemukan foto Humaira dan Akbar yang tengah berada disebuah pusat perbelanjaan. Akbar mendorong troli milik Humaira sedangkan Humaira sibuk memilih sayuran.
Mereka tampak serasi seperti sepasang suami istri dengan senyumannya yang tersungging di bibir mereka berdua.
Sameer mencengkeram kuat dokumen yang sedang dipegangnya, ia tidak peduli dengan dokumen itu. Entah dokumen itu penting atau tidak yang terpenting saat ini hatinya terasa panas seperti ada kobaran api yang membakar.
"Siapa yang mengirimkan foto ini?" Emosi Sameer mulai meluap mendapati beberapa foto Humaira dan Akbar.
"Doni siapkan mobil !!" teriak Sameer keluar dari ruangan kantornya penuh emosi, dengan pintu yang terbanting keras membuat Jenny sang sekertaris yang sedang fokus mengerjakan tugasnya terperanjat bangkit dari kursinya.
"Baik Pak" jawab Doni cepat tak kalah takut melihat wajah sang atasan yang diliputi amarah.
"Kenapa dengan Pak Sameer?" tanya Jenny heran menatap kepergian Sameer, karena sudah lama ia tidak melihat sifat Sameer yang pemarah itu.
"Entahlah, aku tidak paham" jawab Doni menggelengkan kepalanya.
Sameer berlari kecil menuju lobby, ia menarik kasar dasinya. Ia merasa dasinya seperti mencekik lehernya erat. Elena yang baru tiba di perusahaan dengan membawa makan siang, heran melihat raut wajah Sameer yang tegang seperti menahan emosi.
"Sam" panggil Elena menghalangi jalan Sameer. "Kamu mau kemana? aku sudah bawa makan siang buat kamu" Elena menyodorkan makan siang yang dibawanya kepada Sameer.
"Tunggu aku dirumah Ele" kata Sameer dingin segera masuk kedalam mobilnya meninggalkan Elena yang hanya bisa termangu menatap kepergian Sameer. Ia merasa heran dengan sikap Sameer, tidak biasanya Sameer mengabaikannya begitu saja.
***
Setibanya dipusat perbelanjaan X, Sameer bergegas mencari keberadaan Humaira. Ia berputar-putar mencari keberadaan Humaira. Sampai akhirnya ia melihat Humaira sedang menikmati sekotak donat. Senyuman menghiasi wajah Humaira.
"Sayang" sapa Sameer menghambur memeluk Humaira sembari mengecup kening Humaira mesra. Wajah Humaira memerah, ia tersipu malu dengan perlakuan Sameer yang tidak seperti biasanya.
Ekkhemmm.... Akbar mengeluarkan suaranya.
"Sejak kapan kau disitu?" tanya Sameer pura-pura bodoh.
"Apa seorang Sameer sudah mulai kehilangan akalnya?" decak Akbar menatap Sameer sinis.
"Zauya" Humaira menyentuh dada bidang sang suami, untuk meredam amarah suaminya yang sudah memuncak.
"Kenapa kalian bersama?" tanya Sameer penuh selidik.
"Kenapa? Tentu saja aku ingin. Memang aku tidak boleh bertemu Humaira?" kata Akbar dengan pandangan mengejek.
"Kenapa kau jadi menyebalkan seperti ini hah?" geram Sameer, giginya sudah bergemeletuk bahkan tangannya sudah terkepal kuat.
"Siapa yang menyebalkan aku atau kau?" tanya Akbar masih bersikap tenang dengan menunjuk dada Sameera dengan sedikit memberikan dorongan.
"Apa kau sedang memancing ku?" tanya Sameer dengan tatapan membunuh. Sameer mencengkeram kerah baju Akbar.
Humaira tampak ketakutan. Sameer sudah di liputi emosi sampai tidak menyadari kalau kini perbuatannya tengah menjadi pusat perhatian.
"Mancing? Ikan kali dipincang. Memang situ ikan?" Akbar tertawa mengecek.
Bugh...
Sameer melayangkan tinjunya, ia sudah sedari tadi menahan amarahnya. Kini ia sudah tidak bisa lagi menahannya dan melayangkan tinjunya tepat di wajah Akbar membuat Akbar sampai jatuh ke lantai.
"Astagfirullah Zauya!!" Humaira menutup mulutnya terperangah akan tindakan brutal Sameer. Humaira segera berjongkok, mencoba mengulurkan tangannya sampai sebuah suara menghentikan pergerakannya, membuat tangan Humaira berhenti diudara.
"Kau berani menyentuh Akbar?" tanya Sameer yang di tujukan pada Humaira. Akbar menggelengkan kepalanya, memberikan isyarat pada Humaira untuk menuruti perintah Sameer.
"Biarkan dia, ayo kita pulang! Zauya tidak mau kamu kelelahan" Sameer menggenggam tangan Humaira erat, mengajak istrinya pergi meninggalkan Akbar yang masih terduduk dilantai.
Setelah matanya tidak mampu menangkap lagi bayangan Sameer dan Humaira. Akbar mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Kita berhasil" Akbar tergelak seraya berbicara dengan seseorang di seberang telpon. Ia tertawa kencang, ia bahagia rencananya berhasil membuat Sameer salah paham sekaligus cemburu.
***
"Bukankah Zauya sudah bilang kalau kamu harus istirahat dirumah saja" Omel Sameer disepanjang perjalanan menuju arah pulang.
"Dinda sudah sehat Zauya, makanya Dinda pergi untuk belanja dan tidak sengaja bertemu Gus Akbar" jelas Humaira. Humaira tidak ingin lagi ada kesalah pahaman diantara mereka.
"Kamu bisa meminta Bi Marni kan sayang, tidak harus pergi sendiri. Zauya tidak suka ada pria lain disisi Dinda"
Humaira menundukkan kepalanya, senyuman tipis terbit di bibirnya. Humaira semakin yakin kalau rasa cemburu Sameer adalah tanda bahwa pria itu telah mencintainya.
"Tapi Dinda pikir tidak ada salahnya kalau Dinda dekat dengan Gus Akbar. Gus Akbar itu..."
Tatapan tajam Sameer layangkan pada sang istri. Seketika itu pula Humaira menutup mulutnya.
"Jangan sebut pria lain!" Tegas Sameer tidak suka.
Humaira mengangguk mengiyakan permintaan Sameer.
***
Kira-kira Akbar berbicara dengan siapa ya di telpon?
Siapa yang mengirim foto Humaira dan Akbar?