IG. suliani_cucu
Warning 18+
Kekurangan harta membuat Aldo rela menjadi pemuja Nyai Ratu, siluman ular hutan terlarang.
Semua terjadi karena sebuah penolakan yang terjadi saat Aldo ingin meminang kekasih hatinya, pak Didi bukan hanya menolak lamaran dari Aldo. Namun, dia menghina dan mencaci maki Aldo yang memang hanya orang biasa.
Akankah dia mendapatkan kebahagiaan dengan cara sesat yang dia tempuh?
Yuk kepoin kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan
Sore hari pun telah menjelang, langit yang terlihat begitu terang dan juga cerah kini berubah menjadi berwarna jingga.
Yuni berjalan keluar dari tempat dia bekerja dengan wajah sumringah, uang yang Aldo berikan masih banyak sekali sisanya.
Sebelum pulang, Yuni menyempatkan diri untuk berbelanja buah-buahan dan juga makanan sehat untuk ibunya.
Tentu saja yang ada di pikiran Yuni saat ini hanyalah kesembuhan ibunya, tidak ada yang lain lagi yang lebih utama dari itu.
Tiba di rumahnya, dia disambut dengan senyum sumringah dari ibunya. Karena Yuni terlihat menenteng dua kantong plastik besar di tangannya.
"Assalamualaikum, Bu." Yuni langsung mencium punggung tangan Ibunya.
"Waalaikum salam, kamu pulang telat, Nak?" tanya Ibunya Yuni.
"Iya, Bu. Maaf, Yuni pergi belanja dulu. Yuni belikan buah-buahan dan juga makanan sehat dulu buat ibu, dimakan ya, Bu. Biar Ibu cepat pulih lagi, Yuni juga membelikan susu untuk ibu. Agar tulang Ibu tambah kuat, Ibu membutuhkan kalsium," kata Yuni.
"Iya, Nak. Terima kasih, tapi... kenapa kamu sudah belanja sebanyak ini? Bukankah kamu belum gajian?" tanya Ibunya Yuni.
"Yuni memang belum gajian, tapi... alhamdulillah Yuni mendapatkan rezeki." Yuni tersenyum hangat.
"Kamu dapet orderan atau nyari upahan?" tanya Ibunya Yuni.
"Nyari upahan, Bu. malam ini Yuni akan pergi mengantarkan teman ke luar kota, jadi sebagai upahnya Yuni diberikan uang ini," kata Yuni.
"Tapi, kenapa harus pergi malam-malam? Bukankah besok kamu harus bekerja?" tanya Ibunya Yuni.
"Aku sudah izin kepada pak bos, lagi pula siang hari aku sudah pulang lagi. Ibu jangan khawatir," kata Yuni.
"Ya, Nak. Ibu selalu do'akan yang terbaik untuk kamu, semoga yang kussa selalu memberikan perlindungan sama kamu, Nak." Dia elus dengan lembut lengan putrinya.
"Terima kasih, Bu. Kalau begitu aku madi dulu, bentar lagi mau maghrib," kata Yuni.
"Ya," jawab Ibunya Yuni.
Setelah berpamitan kepada Ibunya, Yuni langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia mandi dan langsung melaksanakan shalat magrib.
Sebenarnya dia merasa gundah dan juga gelisah, namun dia tidak bisa mengabaikan permintaan dari Aldo.
Karena dia sangat takut jika Aldo akan marah dan itu akan berimbas kepada kesehatan ibunya.
"Bu, aku pergi dulu. Kalau sudah ngantuk, Ibu langsung tidur saja," pamit Yuni.
"Ya, hati-hati, Sayang." Ibunya Yuni langsung memeluk putrinya dengan erat, entah kenapa dia merasa begitu berat untuk melepas kepergian putrinya.
"Ya, Assalamualaikum," kata Yuni.
"Waalaikum salam," jawab ibunya Yuni.
Setelah berpamitan kepada Ibunya, Yuni langsung keluar dari rumah sederhana tersebut.
Dia memesan ojek online untuk pergi menemui Aldo, sesuai dengan perjanjian awal. Yuni menunggu Aldo di pos satpam komplek.
Baru saja dia hendak duduk di bangku yang ada di dekat pos satpam tersebut, sebuah mobil mewah sudah berhenti tepat di hadapan Yuni.
Yuni sangat tahu siapa pemilik mobil mewah tersebut, tentu saja itu adalah mobil milik Aldo, lelaki yang mengajaknya untuk pergi malam ini.
"Masuklah!" titah Aldo seraya membuka pintu mobilnya dari dalam.
Untuk sesaat Yuni terdiam, di dalam otaknya berputar banyak pertanyaan. Haruskah dia ikut dengan Aldo? Atau haruskah dia membatalkan perjanjian mereka?
Namun, lagi-lagi bayangan Ibunya terlintas di matanya. Hanya ibunya yang selalu menjadi alasan untuk Yuni.
Dari dahulu dia selalu ingin menikmati masa remajanya, dia ingin merasakan yang namanya berpacaran sama seperti wanita remaja lainnya.
Sayangnya sedari remaja Yuni sudah sibuk mencari rupiah sembari bekerja, bahkan dia rela sekolah sembari berjualan gorengan.
Tidak ada kata malu untuk Yuni, semua itu tentu dia lakukan untuk membiayai kehidupannya dan juga Ibunya.
Karena sedari dulu ibunya memang sudah sakit-sakitan, makanya ayah Yuni pun meninggalkan mereka.
"Ya, Kak," jawab Yuni.
Yuni langsung melangkahkan kakinya dan langsung duduk di samping Aldo, dia memakai sabuk pengamannya lalu melirik sekilas ke arah Aldo.
"Aku sudah siap, Kak." Yuni kembali memalingkan wajahnya.
Aldo tersenyum kemudian dia mengambil sebotol minuman berwarna orange dan memberikannya kepada Yuni.
"Minumlah! Ini minuman penambah stamina, agar kamu kuat begadang. Biar kamu bisa menjadi teman ngobrol aku di sepanjang perjalanan," kata Aldo.
Yuni hanya diam saja mendengar apa yang dikatakan oleh Aldo, dia bingung. Haruskah dia menuruti ucapan Aldo?
"Kenapa diam saja? Minumlah, ini bukan racun." Aldo menyodorkan minuman tersebut.
Dengan tangan gemetar Yuni menerima botol minuman tersebut dari tangan Aldo, dia benar-benar ragu. Haruskah sekarang ia meminumnya atau menolaknya?
'Ya Allah, kenapa aku tiba-tiba merasa takut. Aku harus bagaimana ini?' tanya Yuni dalam hati.
"Hey! Kenapa melamun? Minum!" kata Aldo lagi.
"I--iya, Kak. Aku ak--"
Dret! Dret!
Telepon milik Aldo bergetar di dalam sakunya, Aldo terlihat merogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya.
Dia melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut, dia tersenyum sinis lalu dia keluar dari dalam mobilnya. Aldo mengangkat telponnya lalu menjauh dari mobilnya.
Yuni mengelus dadanya karena akhirnya dia mempunyai kesempatan untuk membuang minuman tersebut, dia buka pintu mobil milik Aldo dengan sangat perlahan dan membuang isi dari minuman berwarna orange tersebut.
"Maafkan hamba ya Allah, karena sudah membuang minuman ini. Namun, entah kenapa perasaan hamba tidak enak. Semoga engkau selalu melindungi hamba," kata Yuni lirih.
Dalam hati ia menjerit, dia tidak tahu apakah yang dilakukan salah atau benar. Yang dia tahu, ini semua demi Ibunya.
Tak lama kemudian, Aldo nampak masuk kedalam mobilnya. Dia duduk di balik kemudi lalu memakai sabuk pengamannya dan mulai menyalakan mesin mobilnya.
Tanpa banyak bicara dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali dia terlihat mendesah kesal.
Yuni hanya terdiam, sesekali dia terlihat melirik ke arah Aldo. Aldo seolah lupa jika kini ada Yuni di sampingnya.
Mobil yang Aldo kendarai semakin lama semakin masuk ke dalam perkampungan terpencil, jalanannya plterlihat gelap.
Yuni semakin gelisah, karena takut dia menepuk pelan lengan Aldo lalu bertanya.
"Kita sudah sampai mana, Kak?" tanya Yuni.
"Ya ampun! Kamu mengagetkan aku!" keluh Aldo dengan jantung yang berdebar.
'Bodoh kenapa aku bisa lupa jika di sini ada Yuni, lalu... kenapa dia belum tidur juga? Bukankah dia sudah meminum-minuman yang aku berikan?' tanya Aldo dalam hati.
Aldo terlihat menepikan mobilnya, Yuni semakin takut dibuatnya. Aldo kemudian bertanya.
"Kenapa kamu terlihat gelisah seperti itu? Kenapa kamu tidak tidur saja?" tanya Aldo.
"Bukankah tadi kata Kakak aku harus meminum-minuman tadi, biar sepanjang perjalanan aku tidak tidur karena harus menemani Kakak?" tanya Yuni.
Aldo terdiam mendengar jawaban dari Yuni, dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Karena sebenarnya dia sengaja memberikan obat tidur kepada Yuni, agar Aldo bisa lebih mudah membawa Yuni memasuki hutan terlarang.
Jika Yuni tidak juga tidur, lalu... bagaimana cara Aldo membawa Yuni menemui Nyai Ratu?
Aldo terlihat memutar otaknya, dia memikirkan cara untuk membawa Yuni dengan mudah tanpa hambatan.
*
*
Masih berlanjut....
Yuk do'ain Yuni, biar selamet dari ancaman tumbal perawan pertama.