NovelToon NovelToon
Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love

Status: tamat
Genre:Mafia / Romansa / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mata-mata/Agen / Tamat
Popularitas:250.5k
Nilai: 5
Nama Author: sayang aku ga?

Mohon maaf, karya sedang dalam revisi agar semakin lebih baik.

--------------------

SINOPSIS :
Hanssel Adamson merupakan pria casanovo yang awalnya tidak menyukai sekertaris kunonya yang menyebalkan. Siapa sangka dia justru mendadak bucin pada Karennina yang ternyata sudah memiliki putra dari pernikahan sebelumnya yang telah gagal.

Siapa yang tahu ternyata Karennina merupakan wanita yang berasal dari keluarga ternama negeri tetangga. Demi menyelesaikan misinya dia menyamar sedemikian rupa untuk menutupi status sosial serta keterlibatannya dalam jaringan hitam.

Yuks kepoin kisah mereka!!!

---------
Please give me some appreciation, don't forget to smash Like, comment, vote, gift and love! Saranghae ♡

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayang aku ga?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25 - Menikah Kilat

Mereka bertiga kini berada di dalam mobil. Hanssel menyetir dengan tatapan fokus, menembus padatnya lalu lintas ibu kota. Di kursi belakang, Jimmy tertidur dengan damai, pelukannya masih memegang balon karakter pemberian tadi.

Nina yang duduk di samping Hanssel mulai heran saat menyadari arah yang mereka tempuh bukan ke rumahnya, bukan pula ke rumah bos pria itu.

"Ini bukan jalur ke rumahku..." gumam Nina curiga. "Hanssel, kita mau ke mana?"

Hanssel hanya melirik sekilas dengan senyum misterius, lalu memastikan Jimmy masih terlelap.

Saat mobil berbelok dan papan besar bertuliskan "Kantor Catatan Sipil Jakarta" terpampang jelas, Nina terperanjat.

"A-APAAN INI?! CATATAN SIPIL?!" pekiknya. "Mau apa kita ke sini?! Jangan bilang..."

"Menikah, tentu saja," jawab Hanssel datar.

"APA?!" pekik Nina kembali panik. "UNTUK APA?!"

"Untuk bisa tidur sama kamu terus!!" sahut Hanssel kesal hingga ubun-ubun.

"OGAH!!!"

Nina makin syok. Otaknya langsung penuh dengan pertanyaan: Kenapa? Dia beneran serius? Apa-apaan ini?! Ini pasti cuma akal-akalan dia!

Sebelum sempat kabur, tubuh mungil Nina sudah diangkat paksa seperti karung beras oleh Hanssel.

"LEPASIN AKU DASAR PSIKOPAT!! INI MELANGGAR HAK ASASI MANUSIA!!"

"Diam, wanita bodoh!"

"DASAR BABI!!"

"Apa kamu bilang?!"

Para petugas administrasi yang menyaksikan drama dadakan itu hanya bisa menganga. Bahkan resepsionis sampai lupa mengetik. Farell yang menunggu sejak tadi di dalam hanya bisa menutup wajahnya dengan map dokumen.

Tanda tangan pun akhirnya ditorehkan. Klik— kamera mengabadikan foto keduanya yang masih berseteru, hasilnya tampak seperti foto penangkapan dua buronan dan semuanya selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya. Secara hukum negara, mereka sah sebagai suami istri.

Sesampainya di pelataran apartemen Piony, Nina masih menatap nanar kertas putih bertuliskan "Surat Nikah" di tangannya. Jemarinya gemetar. Dia tak percaya ini nyata.

“Mengapa… Kamu lakukan semua ini?” bisiknya lirih, seolah bicara pada angin.

Hanssel menghela napas, kemudian membuka suara dalam nada rendah namun dalam.

“Nina… Bisakah kamu sedikit saja peka pada perasaan seseorang?”

“Apa kamu pikir aku cuma iseng?! Apa semua yang kulakukan masih belum cukup nunjukin… betapa aku mencintaimu?!”

Nina tersentak, tapi buru-buru memalingkan wajah. “Ini bukan cinta,” desisnya getir. “Kamu cuma penasaran. Kamu cuma tertarik sementara. Setelah bosan, kamu akan meninggalkan aku… sama seperti yang lain…”

Hanssel terdiam sejenak, menatap Nina dengan sorot yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.

“Karennina…” suaranya pecah. “Kalau aku cuma main-main, aku gak akan nikahin kamu secepat ini.”

“Gak akan ada laki-laki waras yang bikin dirinya ribet menikahi seseorang yang cuma buat pelampiasan.”

“Aku nikahin kamu karena aku yakin… Aku mencintaimu.”

“Kamu— juga Jimmy, kalian sudah aku anggap rumah bagiku...”

Nina tidak tahan lagi. Air matanya pecah, jatuh satu per satu di atas dokumen pernikahan itu. Tangannya bergetar saat meremas kertas tersebut.

"Aku sudah terlalu banyak terluka, Hanssel..." suaranya nyaris tak terdengar. "Aku takut ini cuma luka baru dengan bungkusan yang lebih manis..."

Hanssel menggenggam tangannya erat. “Kalau kamu jatuh... Aku akan jadi yang pertama menangkapmu.”

“Maukah kamu... setidaknya mencoba percaya padaku?”

Nina tidak menjawab. Dia hanya memejamkan mata, mencoba meredam gemuruh di dadanya.

“Sekarang... kita temui Jimmy?” bisik Hanssel pelan.

“Aku kan papa sambungnya sekarang…” Tambahnya dengan senyum kecil.

“Terserahlah,” jawab Nina pelan, tak mampu menyembunyikan senyumnya yang mulai muncul di balik air mata.

Hanssel tersenyum penuh kemenangan, lalu mereka berdua turun dan berjalan beriringan masuk ke dalam apartemen.

***

Nina sibuk menatap layar laptop di pangkuannya. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard, fokus penuh mencari informasi tambahan. Matanya menyipit, menelusuri satu demi satu data yang berkaitan dengan keluarga Shin atau musuh lama yang kini mulai mengusik kembali.

Dari dalam kamar mandi, terdengar suara pintu terbuka. Hanssel melangkah keluar dengan handuk melilit pinggangnya, rambutnya masih basah, air menetes di sepanjang leher dan dada bidangnya.

"Apa yang sedang kamu kerjakan?" tanyanya sambil mengeringkan rambut.

"Aku sedang mencari rumah baru…" jawab Nina tanpa menoleh, suaranya tenang. "Aku gak mungkin terus tinggal di apartemen ini. Jimmy butuh ruang terbuka, tempat dia bisa berlari bebas dan main sepeda."

Hanssel mengangguk pelan, lalu mendekat. "Kamu bisa pakai salah satu rumahku di PIK. Besok Farell akan urus semuanya, tinggal kamu pilih yang kamu suka."

Nina menutup laptopnya, lalu menoleh. “Tidak.”

Hanssel menaikkan alis. “Tidak?”

"Aku akan beli rumahku sendiri," jawab Nina mantap.

Hanssel mendecih pelan sambil menggeleng, ekspresinya campur aduk antara kagum dan pasrah. "Sulitnya punya istri yang mandiri..." gumamnya sambil tersenyum kecil.

Nina tertawa, suaranya renyah. "Tapi... Aku butuh bantuanmu juga, sayang. Bisa carikan di PIK atau kawasan Summarecon yang deket sekolah internasional, ya?"

Hanssel mengusap dagunya yang masih basah. "Oke. Aku suruh Farell siapkan beberapa opsi, kamu tinggal pilih."

"Terima kasih... Suamiku yang super kaya," ucap Nina sambil memeluk pinggang pria itu. Hanssel balas merangkul bahunya dengan lembut.

Tiba-tiba, Nina menyerahkan beberapa lembar kertas. "Nih..."

"Apa ini?" Hanssel mengerutkan dahi, menatap dokumen yang terlihat resmi.

"Surat pra-nikah," jawab Nina santai.

Hanssel menatapnya sebentar, lalu mengambil pulpen dari meja. "Oke, aku tandatangani."

Nina langsung menahan tangannya. “Kamu gak mau baca dulu?”

Hanssel menggeleng sambil tersenyum. "Aku percaya padamu, Nina. Kalau pun isi surat itu lebih menguntungkan kamu dan merugikan aku... aku tetap rela. Asal kamu dan Jimmy bahagia, aku pun ikut bahagia."

DEG!

Nina terpaku. Hatinya yang keras seperti mencair seketika. Tak pernah dalam hidupnya ada pria yang berkata sejujur dan setulus itu.

"Hanssel..." bisiknya.

"Hmm?"

Hanssel tengah duduk, membuka laptopnya sendiri. Dia juga membawa pekerjaan kantor hari ini karena memutuskan ikut libur menemani Nina dan Jimmy.

Nina menatapnya lama. “Kenapa kamu memilih aku?”

Hanssel terdiam. Pandangannya kosong sejenak, seolah menelusuri memori.

"Entah..." gumamnya. "Mungkin karena kamu dulu si itik buruk rupa yang tiba-tiba berubah jadi angsa putih yang memesona..."

Nina tersenyum, matanya berbinar, tak lama Hanssel kembali mengutarakan katanya. "Atau mungkin karena kamu nenek sihir menyebalkan yang selalu ngajak ribut— terutama di ranjang," tambah Hanssel sambil tersenyum menggoda.

"Brengsek!" umpat Nina sambil melempar bantal ke arah Hanssel.

Tawa Hanssel pecah memenuhi ruangan. “Kamu tahu… Suara umpatanmu itu, cuma kamu satu-satunya orang di dunia yang bisa ngatain aku tanpa aku marah.”

“Aku gak tahu kenapa... Tapi, setiap kali kamu maki aku... rasanya hangat.”

Nina tertawa pelan, lalu merebahkan tubuh di sofa. Tak lama, matanya terpejam, rasa kelelahan mengambil alih tubuh mungilnya.Hanssel menatapnya lama, lalu menutup laptopnya pelan. Dia menghampiri Nina, menaikkan selimut ke bahu wanita itu, lalu mengecup keningnya penuh kasih. "Selamat tidur, istriku."

Tring.

Ponselnya bergetar, notifikasi pesan masuk ke ponselnya.

[ Hans, aku kembali ke Indo minggu depan… See you next week. I miss you so badly!! ]

Hanssel menatap layar ponselnya. Matanya membulat, tubuhnya membeku sejenak. Lalu perlahan, pandangannya bergeser pada Nina yang sudah tertidur lelap, wajahnya damai seperti malaikat.

Hanssel menghela nafas panjang. Pelan, ia menekan tombol delete pada pesan itu. Lalu memeluk Nina dari belakang, membiarkan dirinya terjebak dalam hangatnya tubuh wanita yang tak ingin ia lepaskan. "I'm sorry... But I've already found my home."

***

Siang itu, langit Jakarta tampak mendung seolah ikut menyerap ketegangan yang menyelimuti Pengadilan Negeri tempat Nina dan Erick kembali bersua. Meski tanpa Hanssel kali ini, Nina melangkah anggun, percaya diri, dan kemenangan jelas didapatinya sekarang.

Sidang berjalan lancar. Erick, untuk pertama kalinya, menepati janjinya. Hak asuh penuh atas Jimmy kini resmi beralih pada Nina. Tak ada banding, tak ada konflik. Hanya sebuah kesepakatan: Erick boleh menemui Jimmy dua kali dalam sebulan. Demi perkembangan anak mereka, Nina menyetujuinya.

Namun seperti dalam drama yang tak pernah benar-benar selesai, badai datang setelah matahari bersinar.

Di luar ruang sidang, Soraya berdiri di ambang pintu dengan gaya mencolok, riasan wajah setebal tembok dan ekspresi sinis yang tidak bisa disembunyikan. Rangga, sang kuasa hukum, nyaris tersedak tawa.

“Setelah membuang berlian, dia malah pelihara arang bakar,” celetuknya setengah berbisik.

“Hush!” Nina mengingatkan, namun senyumnya tak bisa ditahan. Rasa geli dan puas menyelinap bersamaan.

Langkah Nina terhenti ketika Soraya tiba-tiba menghadang dengan suara melengking.

“Denger ya, Karen! Sekarang Jimmy bukan bagian dari keluarga Shin, jadi jangan pernah berharap satu rupiah pun untuk biaya hidup atau sekolahnya dari keluarga kami!!”

Nada sinisnya menggema, mengundang tatapan dari para pengunjung sidang lainnya.

“Soraya!!” Erick membentak, namun Soraya tak berhenti.

“Kau pikir setelah diusir, kau bisa hidup layak? Sok kaya! Sok mandiri! Padahal dulu numpang hidup dari keluarga kami!”

Nina mengangkat dagunya. Anggun. Tapi matanya menyala. Dia melangkah pelan, hingga berhadapan langsung dengan Soraya.

“Aku tidak butuh sepeserpun dari keluarga kalian. Jimmy adalah anakku. Dan hanya aku yang berhak menentukan masa depannya.”

Lalu, suaranya meninggi—datar tapi menusuk, “Dan kamu, Soraya... Wanita yang menggantung hidup pada harta suami, mencoba menginjak harga diri perempuan lain?”

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Soraya, membuat seisi halaman gedung pengadilan terdiam.

Soraya terguncang, “K-Kau... Ja-lang!!”

Nina mencengkram pergelangan tangannya, menunduk sedikit ke arah wajah Soraya yang terkejut. “Terima kasih untuk pujianmu. Tapi— kalau aku ja-lang, maka kamu adalah ratu para ja-lang. Haruskah aku ingatkan siapa yang masuk rumah tangga orang lain duluan?”

Soraya mencoba melepaskan tangannya, namun cengkeraman Nina terlalu kuat.

“Buka matamu, Soraya. Karma punya cara kerja elegan. Dan percayalah, aku akan duduk tenang sambil makan popcorn ketika kamu menyaksikan hidupmu runtuh satu per satu.”

Dengan satu hentakan, Nina melepaskan tangannya dan melangkah anggun meninggalkan Soraya yang terduduk gemetar.

Erick berdiri terpaku. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia melihat sosok Nina bukan sebagai istri lemah yang terjebak, tapi sebagai perempuan kuat yang telah dibentuk oleh luka dan pengkhianatan.

Mengapa aku kembali terpesona dengan aura Karennina saat ini? Aku benar-benar bodoh!! batinnya getir.

Tapi semua sudah terlambat, kini Nina bukan miliknya lagi dan dia sendiri bukan pria yang pantas untuk berada di sisi wanita sekuat itu.

Bersambung…

1
Aunty
bru mulai baca ni kak
Sayang Aku Gak?: Terima kasih sudah mampir di cerita receh othor kak 🥰🥰🥰

jangan lupa mampir di karya lainnya...
Ada Gadis Kecil milik Mr. Mafia, ini tentang Farah dan Keenan yang gak kalah seruuu 🥰😬
total 1 replies
Wina Rti
seru bagus ceritanya
Sayang Aku Gak?: Terima kasih kak sudah mampir 🙏🌹🌹
total 1 replies
Toko john 125
😭😭😭 so sweet,, tisyu mana....???? 😭😭😭😭
Toko john 125
Keenan emang tiada tanding, tiada banding, bikin merinding 😁😁😁
Toko john 125: akoh donk 🤭🤭
total 2 replies
Toko john 125
biarin aja napa klo mirip namanya juga keluarga, yg penting jangan cengos kaya Keenan 🤭🤭🤭
Toko john 125: 🤣🤣🤣 ini cerita bikin ampun DJ Semakin lama semakin seru 👍👍👍🥰🥰
total 2 replies
Toko john 125
mau di sini, mau di sana, di mana2 Keenan emang Jagonya di Jaringan hitam 😎😎😎
Toko john 125: kan enak nya sambil nyanyi 😁🤭
total 2 replies
Toko john 125
hehehe,,, Karen emang HEBAT,, demi kebenaran & keadilan ada ya bini yg jebak lakinya sendiri 😁😁😁
Toko john 125: mantul 👍👍👍🥰🥰
total 2 replies
Toko john 125
seru bangettttttt
Toko john 125
aseeeeek,,, pesta lagi 😁😁😁 pasti bakal dibikin kacau lgi sm duo Kaviandra ini 🤭🤭🤭
Toko john 125: 🤦🏻‍♀️ trouble maker 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Toko john 125
jadi di sini Farah udah jdi sekertaris pribadi Karen ya,, trus Farah sm Keenan belum.ada kontak Fisik, goood,, Lanjut... 😉😉
Toko john 125: oke,, lanjuuut... 💪💪❤❤
total 2 replies
Toko john 125
🤣🤣🤣🤣🤣🦏🦏🦏
Toko john 125
hohoho,,, tuan Hansel cemburu berat gingkat dewa 😂😂😂😂😂
Toko john 125: gimana atuh da Karen direbutin sm orang2 elite 🤑🤑🤑
total 2 replies
Toko john 125
😂😂😂 mantap,, paling suka nih yg mengacaukan pesta orang 🤭🤭🤭
Toko john 125: e beneran lo kak, di sini Keenan ga jaim 😚😚🥰
total 2 replies
Toko john 125
assseeeekk... 💃💃💃
Toko john 125
hayo mama,, anaknya nakal tuh 😁😁😁
Toko john 125
huuuhhhffft,,, bikin tegang 😱 mudah2an rencana caterina gagal...
Toko john 125: absolutely ❤❤❤🥰
total 2 replies
Toko john 125
itulah yg namanya cinta tak ada logika. Teu kaharti tapi nyata 😔
Toko john 125: rahasiz umum ya 🤣🤣
total 2 replies
Toko john 125
calon bakal babang Jade nih 🥰🥰
Toko john 125: 🤦🏻‍♀️ mungkin karena di dunia novel ga ada bidan 🤣🤣🤣
total 4 replies
Toko john 125
panas,, panas,, panas,, panas,, hati ini 😡
pusing,, pusing,, pusing,, pusing,, kepala ini 🤕
Toko john 125
aaaaaarrrgh,,,, 😍😍😍 akhirnya si ayang kasep ku nongol 😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!