[Judul sebelumnya: Highest Life]
Taufan Ravael, seorang pemuda yang selalu menebar senyum dan keceriaan pada orang orang di dekat nya. Setidaknya itu yang orang lain lihat dari nya, tanpa mengetahui jika itu hanyalah topeng belaka.
menyembunyikan duka dan rasa sakit karena kehilangan kedua orang tua nya, dan menghabiskan 6 tahun hidupnya tanpa kasih sayang.
Orang tua nya meninggal akibat kebakaran di rumah nya dan kedua saudara nya membenci nya sejak saat itu.
Harus terus bertahan melawan penyakit yang semakin lama kian menggerogoti dirinya, apa Taufan bisa terus bertahan dan kembali mendapatkan kebahagiaan dan kehangatan keluarga seperti apa yang selalu ia impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilaura Callisto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Putus Asa
Biru tergantikan hitam, matahari tergantikan bulan, dan harapan tergantikan keputusasaan. Setiap orang pernah merasakannya, kehilangan yang menciptakan kehampaan dalam jiwa manusia. Tak seorangpun luput dari rasa sakitnya, tak seorangpun bisa menyembunyikan nya.
Pemuda itu memenjarakan diri dalam ruang pribadinya. Tubuhnya merosot terbawa gravitasi usai mengunci pintu kamarnya. Tak ada lagi daya. Tak ada lagi topeng yang membuatnya nampak tegar. Sosok rapuh itu meringkuk di dalam kegelapan, di bawah cahaya rembulan.
"Kenapa kalian semua meninggalkan aku? Kenapa harus aku?" Jemarinya mencengkram rambut legamnya, ia di buat frustasi akan kepergian Yuki yang begitu mendadak. Ia bahkan belum sempat mengucapkan salam perpisahan, dan itu meninggalkan luka tersendiri baginya.
"Apa karena aku? Gara gara aku, Yuki sampai memaksakan dirinya." Taufan mulai menyalahkan dirinya.
Ia tak terima pada takdir Tuhan yang diberikan kepadanya. Ia merasa hidupnya tidak adil. Umurnya baru akan menginjak 17 tahun, namun ia sudah kehilangan banyak hal dalam hidupnya.
'Apa kau sudah sadar bahwa orang orang yang berada di sekitarmu selalu menderita?' sebuah suara muncul dalam keheningan. Entah dari mana namun terdengar jelas, terngiang di kepala Taufan.
Sebuah cermin yang memantulkan dirinya, bayangannya seolah berkata, 'Kau pembawa sial bagi orang-orang di sekitarmu. Kau membunuh kedua orang tuamu, kakek mu mati setelah tinggal bersamamu, Hali dan Ken menderita karena kau. Dan sekarang, Yuki mati karena dirimu. Kau membuat orang-orang di sekitar mu menderita.'
Nafas Taufan tercekat, "Aku pembawa sial?"
Sosok Arga tiba tiba muncul di hadapannya, "Maaf Taufan, aku tak bisa berteman denganmu lagi. Aku tak mau ikut sial karena berteman dengan seorang pembunuh." sorot matanya mengintimidasi seolah memandang rendah pada Taufan.
"Arga! Aku bukan-"
"Kalau saja kau tidak pergi dari rumah. Yuki tidak akan mencari mu, dia tidak akan mati secepat ini." Sevan memandangnya penuh kebencian.
Di sampingnya, Leon menatapnya sendu, terlihat ia menghela nafas nya berat. "Aku menyesal sudah mengenal mu, Taufan."
Bahu Taufan merosot, rasa bersalah. menguasai dirinya, "Sevan Leon! Maaf, maafkan aku!"
"Hiks.. hiks.. Aku sangat merindukan ayah dan ibu! Aku tak butuh kakak tak berguna sepertimu. Hiks, aku sangat membencimu. Hiks, kembalikan orang tuaku!" Di sisi lain, Ken menangis tersendu sendu meminta kembali orang tuanya.
Dan sosok kakak yang sangat Taufan kagumi kini menatapnya dingin dan menusuk tanpa ekspresi, "Kalau saja kau tidak dilahirkan, ayah dan ibu tidak akan meninggal."
"Pembunuh... Kau seorang pembunuh...
Pembunuh..." Semua penghakiman itu tertuju padanya. Semua menunjuknya, menuduh dirinya seorang pembunuh.
"TIDAK! AKU BUKAN PEMBUNUH!"
"Kau itu pembunuh, sekali pembunuh tetap pembunuh! Kau yang sudah menghancurkan semuanya! Semua menderita karena mu!"
Ia menggunakan kedua tangannya untuk menutup telinga, namun suara itu makin keras terdengar, menggema di otaknya.
"TIDAK! HENTIKAN!"
Kepalanya terasa mau pecah, semua suara itu merasuki setiap bagian otaknya. Semua halusinasi itu saling berseru menghakimi nya. Disela celaan itu ia memandangan refleksi dirinya pada cermin, bayangannya menyeringai, "Pembunuh.."
"AAAAAAAAAA!!!!"
Prang!
Darah segar mulai merembes dari permukaan tangan nya yang tersayat bagian tanam kaca. Pecahan kaca tersebar di lantai melukai kakinya. Mata nya panas, tubuhnya merosot, jatuh tertunduk lemas. Ia memeluk dirinya sendiri, menenggelamkan wajah di sana. Ia tau semua itu hanyalah halusinasi nya, tapi setelah yang ia alami, rasa takut itu kian membesar. bisa saja semua itu memang akan terjadi.
Semua seruan dan cercaan itu menghilang seketika. Kini tersisa dirinya seorang juga siluet dirinya dibawah purnama. Nafasnya memburu membuat dadanya sesak. Keheningan ini sama sekali tak membuatnya lega, justru ketakutan yang kini menyelimutinya. Ia takut untuk menghadapi kenyataan.
"Kau takkan bisa hidup seperti yang kau inginkan." Suara itu muncul lagi, terdengar seperti berbisik, seolah menghipnotis Taufan.
Taufan kembali menutup telinganya, memejamkan erat matanya berusaha mengabaikan suara itu.
"Tidak," Air mata mengalir dari pelupuk matanya, jatuh melewati pipi, "Jangan lagi. Hentikan." Rintih nya akibat trauma.
Tubuhnya gemetar hebat, ketakutan Taufan menciptakan ilusi yang terasa nyata bagi dirinya.
"Keberadaan mu membuat orang-orang di sekitarmu terluka. Mereka menderita karena dirimu. Semakin lama kau hidup, semakin banyak rasa kehilangan yang akan kau rasakan." Suara itu terus berusaha menghasut Taufan.
"Aku tidak ingin mereka menderita karena aku. Aku tidak mau kehilangan lagi. Lalu aku harus bagaimana?"
"Biarkan aku menghapus seluruh beban mu. Lepaskan rantai yang mengekang di lehermu, dengan begitu kau bisa hidup dengan tenang."
Akal sehatnya perlahan mulai terkikis, pandangannya kosong. Entah iblis apa yang telah merasuki Taufan. Tangannya bergerak meraih lehernya, mengeratkan cengkramannya, mencekik dirinya sendiri yang sudah tak berdaya. Ia berniat untuk bunuh diri.
"Engg-ghhh..."
Dirasakannya nafas yang kian menipis, paru-parunya memberontak karena tak mendapat pasokan oksigen. Tubuhnya lemas, kepalanya mulai berkunang-kunang.
"Hahh.. Uhukk-uhuk! Hah.. hah.. hah.."
Taufan terbatuk hebat, nafasnya tak beraturan. Ia tak sanggup melakukannya. Dia tidak ingin orang terdekatnya terluka lagi, tapi disatu waktu ia tak sanggup melepas kehidupannya saat ini. Pertentangan batin ini membuatnya bimbang.
Namun kemudian ia teringat ucapan seseorang, "A-aku tak bisa, Stella memintaku untuk terus hidup. Tak peduli seberat apapun hidup yang ku jalani."
"Kau mendengarkan orang yang sudah mati?" Suara itu tertawa, "Seseorang yang telah menghilangkan kehidupan orang tuanya sendiri justru mendengarkan perkataan orang yang sudah mati. Setelah semua yang kau perbuat, apa kau masih bisa hidup tenang? Nyawamu tak ada artinya, nyawamu tak akan bisa mengembalikan mereka yang telah mati."
"Kau sudah tak pantas untuk hidup!"
DEG...
Taufan terdiam, sama sekali tak memberikan perlawanan atau menampik semua itu. Dia benar, semua yang dikatakan suara itu tak ada yang salah. Selama ia masih hidup, rasa bersalah dan penyesalan itu akan terus menyiksanya. Bahkan bila Taufan mati sekarangpun, mereka yang telah pergi tak akan hidup kembali.
Netra birunya menatap nanar pada tangannya yang berlumuran darah. "Kau benar. Hidupku memang tak berguna. Aku membunuh orang tuaku sendiri. Aku membuat kak Hali dan Ken menderita. Aku membuat Yuki datang mencari ku, dan sekarang dia juga meninggal. Aku membuat Sevan dan Leon bersedih. Aku.. Aku tak bisa hidup seperti ini."
Ia tak lagi bisa berpikir jernih. Semua tekanan dan penderitaan yang ia rasakan seorang diri telah mencapai batas. Ia ingin segera mengakhirinya.Tangannya bergerak mengambil pecahan cermin yang berserakan di lantai. Pikirannya berkabut, tak ada lagi yang bisa diharapkan. Dengan tangan gemetar, ia mengarahkan sisi tajam cermin itu pada pergelangan tangannya.
"Aku...
...sudah tak pantas lagi untuk hidup."
TBC
hali ravael? atau halilintar ravael?