NovelToon NovelToon
Lagu Hit Kehidupan Ini Adalah Balas Dendam

Lagu Hit Kehidupan Ini Adalah Balas Dendam

Status: tamat
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Estrellaaya_

Su Qing meninggal dunia. Ia diberi obat oleh sahabatnya hingga kehilangan kemampuan bernyanyi, karyanya dicuri oleh kekasihnya, wajahnya rusak akibat kecelakaan, dan akhirnya meninggal sendirian di rumah sakit tanpa ada yang mengurusnya.

Saat ia membuka mata kembali, ia telah terlahir kembali sebagai peserta pelatihan yang tidak dikenal, berusia 19 tahun, dan tidak memiliki apa-apa.
Namun, ia masih mengingat setiap nada, setiap baris lirik, dan setiap orang yang bertanggung jawab atas kematiannya.

Di kehidupan ini, ia tidak lagi sekadar menciptakan lagu — ia menyematkan kode balas dendam ke dalam melodi, dan menyembunyikan petunjuk bukti di balik liriknya. Ia mengikuti program kompetisi, memperebutkan sumber daya produksi, dan melakukan serangan balik yang tepat sasaran lewat serangkaian “lagu balas dendam”.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Estrellaaya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Puluh Lima

Su Qing tidak menatapnya, tapi dari sudut matanya ia menangkap perubahan itu — sudut bibir Lin Wei turun perlahan, sorot matanya berubah, seolah sedang berusaha memastikan sesuatu yang penting.

Saat baris terakhir, Su Qing membuat suaranya semakin halus, sehalus bisikan untuk dirinya sendiri.

“Aku tak butuh kau mengingat namaku — Kau hanya perlu tahu satu hal — Bahwa setiap baris lagu yang pernah kau nyanyikan — Adalah hasil karya penaku.”

Nada terakhir selesai bergema.

Suara nada piano perlahan menghilang di udara.

Ruangan hening sekitar tiga detik lamanya.

Lalu tepuk tangan bergema kencang. Bukan sekadar tepuk tangan sopan, tapi tepuk tangan yang tulus dari hati para penonton yang merasa tergetar dan takjub.

Ibu Liu adalah orang pertama yang berbicara, suaranya terdengar agak serak. “Lagu ini, aku tidak akan memberi komentar. Aku tidak tahu harus bicara apa lagi.”

Liang Wenbo mengambil mikrofonnya, diam beberapa detik, lalu mengucapkan kalimat yang jauh lebih singkat dibandingkan biasanya. “Kau lolos ke babak akhir.”

Bukan ucapan selamat, bukan pujian bagus sekali, tapi kalimat tegas itu. Nada bicaranya terdengar seolah sedang mengumumkan fakta yang sudah pasti terjadi.

Lin Wei mengambil mikrofonnya, senyumnya kembali muncul di wajah, tapi Su Qing bisa melihat jelas bahwa senyum itu dipaksakan.

“Su Qing, lagu ini kau tulis sendiri ya?”

Su Qing menatapnya. “Ya.”

“Kapan kau menulisnya?”

“Minggu ini.”

Lin Wei mengangguk pelan, lalu meletakkan kembali mikrofonnya, tidak bertanya lebih lanjut.

Su Qing tahu apa yang sedang dipikirkan Lin Wei — ada satu baris lirik berbunyi setiap baris lagu yang kau nyanyikan adalah ciptaanku, Lin Wei pasti sedang menduga apakah pesan itu ditujukan kepadanya.

Dan itulah yang sebenarnya ingin ditanamkan Su Qing di benak wanita itu.

Hasil nilai keluar: sembilan puluh lima.

Nilai tertinggi sepanjang malam ini.

Su Qing berdiri, membungkuk hormat ke arah penonton, lalu berjalan turun dari panggung.

Saat masuk ke ruang belakang panggung, He Siyu langsung berlari dan memeluknya erat.

“Luar biasa! Sungguh luar biasa!” suara He Siyu bergetar kencang. “Kau lihat tidak wajah Lin Wei tadi? Wajahnya berubah pucat dan hijau semua!”

Su Qing melepaskan pelukannya pelan. “Aku lihat kok.”

Cheng Yinuo berdiri di sisi ruangan, kedua tangannya di saku celana, menatap Su Qing dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Lagu itu yang kau bawakan tadi, sebenarnya ditujukan buat siapa?” tanyanya.

Su Qing meliriknya sekilas. “Ditujukan buat diriku sendiri saja.”

Cheng Yinuo tidak bertanya lagi.

Peserta kedelapan selesai tampil dengan nilai delapan puluh tiga.

Urutan akhir kompetisi pun ditetapkan — Su Qing di urutan pertama dengan nilai sembilan puluh lima; Cheng Yinuo kedua dengan delapan puluh sembilan; He Siyu keempat dengan delapan puluh enam; dan Zhao Ruoruo ketujuh dengan delapan puluh dua.

Zhao Ruoruo tersisihkan.

Saat mendengar hasilnya, dia tidak menangis, tidak mengamuk, hanya berdiri diam lalu berjalan keluar dari ruang siaran. Tidak ada yang mengantarnya, tidak ada yang menyapanya. Dua orang pengikut setianya duduk diam di kursi, menundukkan kepala pura-pura melihat layar ponsel.

Su Qing menatap punggung Zhao Ruoruo yang menghilang di balik pintu, hatinya sama sekali tidak merasa senang atau merasa kasihan.

Zhao Ruoruo bukanlah musuh sejatinya. Dia hanyalah senjata yang dipakai orang lain. Senjatanya sudah patah, tapi pemegangnya akan segera mencari senjata baru.

Musuh yang sesungguhnya, masih duduk tenang di kursi juri di atas panggung.

Setelah acara selesai, Su Qing berdiri sendirian di lorong menunggu lift.

Pintu lift terbuka, dan Lin Wei berjalan keluar dari dalamnya.

Saat melihat Su Qing, dia tersenyum tipis, tapi senyum itu berbeda dengan senyum di panggung tadi — lebih dingin dan lebih hambar.

“Su Qing, lagu yang kau nyanyikan tadi sangat bagus,” kata Lin Wei. “Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan.”

“Silakan saja, Kak Lin Wei.”

“Baris lirik itu — setiap baris lagu yang kau nyanyikan adalah ciptaanku — itu kau tulis buat aku ya?”

Lorong itu sangat sepi, hanya terdengar suara samar staf yang sedang membereskan peralatan di kejauhan.

Su Qing menatap tajam ke mata Lin Wei. Di sana tidak terlihat rasa marah atau gugup, hanya tatapan dingin yang sedang menilai dan menyelidiki.

“Kak Lin Wei, Kakak terlalu banyak berpikir deh,” jawab Su Qing tenang. “Aku menuliskannya sebagai perwakilan perasaan para pencipta lagu yang karyanya pernah ditiru atau dicuri orang lain, bukan ditujukan buat siapa pun secara khusus.”

Lin Wei menatapnya lekat-lekat beberapa detik, lalu tersenyum kembali.

“Syukurlah kalau begitu,” dia menepuk bahu Su Qing pelan. “Persiapkan dirimu baik-baik untuk babak akhir ya. Aku sangat menantikan penampilanmu nanti.”

Dia berbalik pergi, suara ketukan tumit sepatunya terdengar jelas bergema di lantai.

Su Qing diam di tempat, menatap punggung wanita itu sampai menghilang di ujung lorong.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari L: Lin Wei baru saja menelepon Chen Hao. Dia bilang, sepertinya Su Qing mengetahui sesuatu, dan menyuruh Chen Hao menyelidiki latar belakang identitas serta asal-usulmu.

Su Qing membaca pesan itu, jarinya berhenti bergerak di layar.

Lin Wei mulai curiga.

Bukan karena Su Qing melakukan kesalahan atau tergelincir bicara, tapi karena lagu itu sangat mirip — sangat mirip gaya lagu ciptaan Su Qing di kehidupan dulu. Lin Wei sudah mendengarkan lagu-lagu ciptaan Su Qing selama enam tahun lamanya, jadi dia sangat paham gaya penulisan itu lebih dari siapa pun.

Su Qing mengetik balasan: Seberapa banyak dia sudah tahu?

L: Saat ini baru sekadar curiga saja. Dia menyuruh Chen Hao memeriksa identitas lengkapmu, riwayat latihan menyanyi, dan apakah pernah berhubungan atau bertemu dengan Su Qing dari kehidupan dulu.

Su Qing dari kehidupan dulu sudah meninggal dunia. Su Qing di kehidupan sekarang adalah orang yang berbeda, riwayat hidupnya bersih dan tidak ada cacat atau celah sedikit pun, jadi Chen Hao tidak akan menemukan bukti apa pun.

Tapi rasa curiga itu sendiri sudah sangat berbahaya.

Begitu Lin Wei mulai curiga, dia akan menjadi jauh lebih berhati-hati, lebih waspada, dan jauh lebih sulit untuk didekati.

Su Qing memasukkan kembali ponselnya ke saku lalu masuk ke dalam lift.

Saat pintu lift tertutup, dia menatap bayangannya sendiri di cermin.

Wajah berumur sembilan belas tahun, dengan sorot mata berumur dua puluh enam tahun.

Dia harus mempercepat langkahnya.

1
Murni Dewita
👣
Estrellaaya_: terima kasih banyak ya sygkuu, semoga suka ❤️❤️
total 1 replies
Nur Atika Hendarto
lanjut thor penasaran sangat 😭😭😭😭
Estrellaaya_: siapp sygkuuu ditunggu yaaa, terima kasih banyak udh baca karyakuu❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!