NovelToon NovelToon
Obsesi

Obsesi

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Komedi / Mata Batin / Tamat
Popularitas:35.9k
Nilai: 5
Nama Author: Roikhatul Jannah

Namaku Kinara Malik Khan.

Terlahir berbeda dari kebanyakan orang membuat hidupku tertekan. Mereka kerap memandangku aneh bila kemampuanku melihat mahluk astral berkerja. Ya, aku seorang gadis indigo. Karena alasan itulah aku menyembunyikan kemampuanku. Aku tahu, tak semua orang akan memandangku biasa saja saat tahu kemampuanku. Karena itulah hanya keluargaku dan Aldan--temanku sejak kecil--yang tahu.

Kalian pikir hidup bertahun-tahun dengan bayangan mahluk astral tak membuatku takut? Kalian salah. Aku takut. Aku selalu berharap kemampuan sialan ini hilang. Tapi aku bisa apa? Aku tak bisa menyingkirkannya.

Suatu ketika ketakutan itu muncul ke permukaan. Ketakutan yang sangat besar selama hidupku. Berawal dari munculnya anak baru dikelasku yang mulai bisa membaur dengan sekitar dan selalu menampilkan senyum manis. Tak ada yang tahu, bahaya apa yang ada di baliknya. Tapi, aku tahu kalau dia awal ketakutan warga sekolah.

Dia.....monster yang haus darah.

Cover by Pinterest

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roikhatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mayat di Sekolah

Entah kenapa, di saat jarum jam masih menunjuk pada angka setengah enam pagi, aku sudah rapi dengan seragam yang kukenakan. Tak lupa tas sekolah sudah aku tenteng di tangan begitu aku memasuki area dapur.

"Tumben udah rapi, sayang?" tanya Mama heran.

Sama. Sebenarnya aku juga heran dengan diriku sendiri. Ini benar-benar bukan seperti aku yang biasanya.

"Sarapan dulu," kata Mama sembari mengangsurkan sepiring nasi goreng di hadapanku.

"Makasih, Ma. Mama gak sarapan juga?" tanyaku ketika hanya melihat seporsi nasi goreng. Biasanya, Mama akan membuat dua porsi makanan saat pagi untuk kita sarapan bersama.

"Mama bentar lagi mau keluar. Kalau udah makan duluan, nanti di sana jadi gak makan," jawabnya.

"Memangnya Mama mau kemana habis ini?"

Mama melepas apronnya, "Mama ada acara sama ibu-ibu persit di asrama."

Aku hanya mengangguk mengiyakan sebelum mulai menyendok nasi di piringku.

Biasa lah, ibu persit memang memiliki banyak acara bersama. Terkadang mereka akan berkumpul untuk membahas sesuatu atau sekedar untuk acara rutin yang biasa mereka lakukan. Dan menurutku itu cukup melelahkan. Karena itu aku sangat berharap semoga jodohku kelak bukan salah satu anggota abdi negara. Yah, aku cukup malas dengan acara-acara seperti itu.

"Ma, aku berangkat, ya!" kataku sambil sedikit berteriak. Kalau kalian bertanya kenapa aku tidak pamitan dengan sopan, jawabannya adalah karena Mama sedang berada di kamar mandi.

Begitu kau keluar dari rumah, sinar matahari belum terlalu tinggi untuk menyinari sebagian halaman. Maklum lah, ini bahkan belum pukul enam pagi. Udara masih cukup dingin. Pun dengan bapak penjual sayur terlihat masih baru saja datang. Biasanya, saat aku berangkat sekolah, bapak penjual sayur itu bahkan sudah pergi.

Naik angkot mungkin bukan alternatif yang bagus untuk berangkat ke sekolah mengingat hari yang masih terlalu pagi. Aku tidak ingin mengambil risiko berlama-lama di dalam angkot yang sedang mencari penumpang. Maka dari itu aku lebih memilih membuka aplikasi ojek online dan memesan saat ini juga. Sembari menunggu ojek yang aku pesan datang, aku menghampiri bapak penjual sayur dan membeli tiga buah roti goreng yang masing-masing hanya seharga seribu perak.

"Mau berangkat Kinara?" tanya seorang ibu yang saat itu sedang belanja sayur. Ibu ini tetanggaku, rumah beliau berjarak dua rumah dari samping kanan rumahku.

"Iya, bu."

"Tumben pagi sekali?"

"Iya. Dapat tugas piket harian," alasanku.

Tuh kan, apa aku bilang, berangkat sepagi ini memang bukan seorang Kinara Malik Khan banget! Tetanggaku bahkan sampai heran.

"Dengan Mbak Kinara?"

Aku menoleh begitu seorang bapak berjaket hijau khas ojek online berujar. Aku buru-buru mendekati si bapak driver dan menerima helm yang beliau angsurkan. Begitu helm terpasang di kepala dengan benar, aku naik ke boncengan motor. Tak lupa kaca helm tidak aku tutup untuk aku bisa memakan roti yang baru saja aku beli.

👻👻👻👻👻

Aku sampai di sekolah saat suasana masih benar-benar sepi. Namun anehnya, apa ini tidak terlalu sepi untuk jam enam pagi? Satpam penjaga gerbang pun tak ada di tempatnya. Pun dengan keabsenan satu orang siswa pun.

Aku menoleh begitu mendengar suara sirene mobil polisi yang meraung begitu keras. Satpam sekolah berlari dari balik gedung yang pernah aku datangi saat mengikuti Ilham. Satpam berdiri tepat di samping mobil polisi yang ternyata berhenti di depan gerbang sekolahku. Dua orang berseragam polisi keluar dari dalam mobil sebelum berjalan tergesa mengikuti langkah satpam sekolah.

Mengikuti rasa penasaran, aku juga ikut berjalan tergesa ke balik gedung. Begitu melihat bagian depan gudang yang ada di balik gedung dan dua orang siswa juga salah satu polisi yang tadi aku lihat, mataku terbelalak terlebih lagi saat melihat seorang perempuan paruh baya terkapar tak bernyawa dengan leher menganga. Darah di bawah perempuan itu menggenang.

Aku mendekati tempat mayat si wanita dan lebih terkejut saat mengetahui kalau wanita itu adalah salah satu penjaga kantin sekolah. Belum berhenti di situ, aku kembali terkejut saat satpam sekolah keluar dari dalam gudang dan aku sedikit bisa melihat apa yang ada di dalamnya.

Di dalam gudang, satu orang lagi terkapar dengan cairan yang terlihat berkilau saat terkena cahaya dari luar. Dengan langkah ragu, kakiku mulai melangkah mendekati gudang. Dalam batin aku terus berdoa semoga apa yang aku mimpikan semalam tidak menjadi kenyataan.

Aku langsung terduduk lemas kala melihat si korban dari dekat. Tanpa sadar, air mata mulai menetes dari kelopak mataku. Pada saat ini aku merasa sangat tidak berguna.

"Kinara, ayo bangun! Kamu keluar dulu, ya!" seorang pria berseragam guru sekolah mendekatiku. Aku tak tahu siapa pasti beliau karena pandanganku buram oleh air mata.

"Itu..... bukan Anjar, kan Pak?" tanyaku pelan.

"Ayo. Bapak bantu!" guru itu membantuku berdiri dan hendak menuntunku untuk keluar dari dalam gudang. Namun, aku kekeh ingin melihat si mayat dari dekat. Begitu berhasil mengenali mayat yang ada di dalam gudang, air mataku mengalir lebih deras. Mimpiku menjadi nyata. Atau mungkin apa yang aku mimpikan semalam adalah kenyataan?

Aku menunduk sambil memejamkan mata kala melihat sosok Anjar dengan rantai di sekeliling tubuhnya menatapku. Aku benar-benar merasa bersalah. Dalam hati aku berkali-kali mengucapkan kata maaf.

Maaf, aku terlambat.

Selain sosok Anjar, aku juga melihat sosok Ilham yang juga memandangku dengan tatapan datar. Dia seakan-akan menghakimiku meski hanya dari tatapan saja.

Ya, aku tahu. Aku bersalah dalam hal ini. Tapi hantu berkepala bolong itu seharusnya juga sadar diri kalau semua ini tidak sepenuhnya salahku. Kalau saja dia mau memberitahu secara langsung siapa pembunuhnya--ah tidak. Kalau saja Ilham memberi tahu orang seperti apa yang akan dijadikan korban, kejadian saat ini tidak mungkin terjadi.

Ah, nasi sudah menjadi bubur. Kejadian ini sudah menjadi kenyataan dan nyawa Anjar tidak akan bisa kembali lagi ke raganya. Meski merasa tidak berguna dan sangat menyesal atas kejadian ini, aku tidak boleh berhenti di sini. Aku masih harus memecahkan misteri dan menghentikan teror ini. Ya, aku harus.

Aku sekali lagi memandang sosok Anjar yang ada di pojok ruangan. Ia hanya diam sambil sesekali menahan kesakitan akibat rantai menyala di tubuhnya.

Menghembuskan napas perlahan, aku menatap mata Anjar dengan tatapan tegas.

"Aku janji akan melepaskan rantai itu dari tubuh kamu dan mengakhiri semua ini."

"Ini bukan salah kamu. Ini mungkin memang sudah menjadi takdirku. Jadi, jangan pernah merasa bersalah. Ya?"

👻👻👻👻👻

1
Ayu Wulandari
apa hubungan Ilham sama Bagas ya 🤔
mocha217: siap😂
total 3 replies
tintakering
kunti nyebelin😊
tintakering
biarin aja kin. mungkin dia mo belajar😁
mocha217: hahaha...
total 1 replies
tintakering
teror jin... serem amat. dah aku vote thor.
mocha217: makasih....
total 1 replies
tintakering
kalo ada waktu mampir juga di ceritaku thor. siapa tau suka 👍
tintakering: makasih ya...
total 2 replies
tintakering
bocilnya anteng😊
mocha217: 😂iya, eh
total 1 replies
tintakering
cerita yang menarik thor
mocha217: Terima kasih...
total 1 replies
HARTINA SYAM
baca juga karyaku " Stempel Tanda Cinta" makasi😁😁😁
HARTINA SYAM
singgah di karya pertamaku ya " pernikahan dua cincin'
HARTINA SYAM
author,lanjutannya lagi donk,lagi seru serunya nihhh...
sksnsjdndn
kapan lanjut Thor ?
mocha217: wkwk... nanti cicil ngetik lagi ya
total 1 replies
Charalin
halllo kakak,mampir yuk ke novel saya
mocha217: siap kakak
total 1 replies
Oh Dewi
mampir ah, mana tau seru.
Demi apa, sesusah itu nyari novel yang seru. Btw, mau sekalian rekomendasiin novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, wajib search pakek tanda kurung.
Bagus banget novelnya, tapi ya gitu minim pembaca😈
HARTINA SYAM
ya ampun, kirain Al pelakunya, jadi gak enak hati, maafkan kita ya Al... hihihi... ketawa kuntilanak
mocha217: wkwk 😂
total 1 replies
Ayu Wulandari
hah si Bagas duh Gusti kaga nyangka kirain di Al, maap Al 😁✌️
mocha217: wkwkwk😂
total 1 replies
Ayu Wulandari
tuh kan aku curiga sana si Al, setiap Kinara d deketin cowo tu cowo mati, aduh jgn mati ya Bagas
Ayu Wulandari
yg d bunuh cowo semua sbl meninggal mereka ngobrol sama Kinara, apa si Alfan ya yg bunuh kak aduh clue dong kak 😁
mocha217: 😂😂😂tebak aja kak
total 3 replies
💎hart👑
👣👣👣
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "bangkitnya pria terhina" makasih kak😃
total 2 replies
Ayu Wulandari
lanjut Kaka
mocha217: Terima kasih sudah mampir, Kak☺🙏
total 1 replies
Cheonma
itu daripada ribet mending pake "ekstrakulikuler" biar enak.

btw.. up thorrr...
mocha217: makasih kak sarannya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!