Zico Revan Pradipta, pemuda berusia 21 tahun yang jatuh cinta pada sosok wanita yang usianya tiga tahun lebih tua darinya. Ia bernama Aluna, seorang piatu yang ditinggal pergi ibunya sejak balita sampai akhirnya ia hanya tinggal berdua dengan ayahnya yang begitu galak dan sangar. Rasa kesepian ayahnya itulah yang membuat Aluna begitu di jaga ketat sampai tak ada satupun pria yang berani mendekati Aluna.
Tapi tidak dengan Zico, ia begitu gigih memperjuang kan cintanya meski sang calon mertua begitu keras menentang. Hingga akhirnya Ayah Aluna mulai memberi syarat syarat konyol demi bisa mejadi menantunya.
Apa saja syaratnya?
Bisakah Zico menjalankan semua yang di inginkan ayah Aluna?
Hingga akhirnya ia harus memilih antara maju atau mundur?
Ini kisah comedi romantis..
InshaAllah konflik gak berat alias ngikut alur aja.
Siapkan cemilan di pojokan ya 😘😘
Yang mungkin baru mampir dan marathon jangan lupa like komen, poin Vote dan koin ya 🤣🤣🤣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tubruk.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Tapi, ada hotel gak disini?" tanya Zico pelan sedikit berbisik.
"Hotel?" gumam Aluna yang langsung di balas anggukan kepala oleh Zico sambil tersenyum penuh harap jika jawabannya adalah ADA.
Tapi sayang, gadis cantik di sebelahnya itu malah menggelengkan kepala dengan mantap dan yakin.
"Huft, terus aku tidur dimana!" lirih Zico sambil menyandarkan tubuh ke punggung kursi.
"Tidur disini saja, bareng-bareng dengan kami" suara seorang wanita berjilbab coklat membuat Zico kaget. Keduanya pun bangun dan mencium kembali punggung tangan wanita tersebut.
"Ini istrinya MangMun, panggil saja BiDar " ucap Aluna memperkenalkan bibinya.
"Hah? hahaha iya, BiDar." kekehnya yang merasa lucu dengan nama nama saudara Aluna.
"Mari makan, BiDar sudah siapkan makanan di dalam" ajaknya kemudian yang di iyakan oleh Aluna tapi Zico diam mematung tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
"Ayo, Zee. Emang kamu gak laper?" tanya Aluna sambil mengajak pria tampan itu masuk kedalam rumah menyusul BiDar yang sudah masuk lebih dulu.
Bapak, MangMun dan BiDar sudah sudah duduk di ruang tengah dengan makanan yang terhampar di atas tikar, Aluna yang ikut duduk mulai menarik Zico agar tak terus berdiri.
"Al... " bisik Zico pelan di telinga kanan Aluna.
"Apalagi?"
"Emang gak punya piring? kok makan di daun" tanya Zico masih berbisik.
Aluna tersenyum simpul, ia paham betul dengan sikap bosnya di Resto, Zico yang hidup bergelimang kemewahan sedari masih dalam perut Mommy nya tentu tak pernah tahu nikmatnya rasa sambil terasi.
"Kalo makan bareng emang gini, cobain aja dulu"
Zico hanya tersenyum kecil, ia yang memang sebenarnya lapar akhirnya tergoda juga untuk mencicipi.
"Ikannya keasinan" ucapnya tiba-tiba yang langsung menjadi pusat perhatian empat orang yang duduk bersamanya.
"Itu memang ikan asin, rasanya tentu asin" balas Bidar sedikit terkekeh.
"Oh, gitu, maaf. Saya gak tahu kalo ada ikan yang emang sengaja di asinin soalnya yang saya tahu tuh di cuekin" sindirnya pada Aluna.
Gadis cantik yang duduk di sebelah Zico pun membuang pandangannya pura pura tak mendengar.
Suapan demi suapan Zico masukan ke dalam mulutnya, lidahnya bergoyang menikmati nasi liwet hangat yang bercampur dengan ikan asin, tahu, tempe goreng dan sambal ditambah lalapan timun, kini semua ia kunyah dan siap masuk kedalam perutnya.
#AstagfirullahPuasOey, Lapar!
"Enak, ini enak banget" ucapnya dengan mulut penuh yang kembali menjadi pusat perhatian lagi.
"Habiskan jika enak, Nak" balas MangMun tersenyum senang karna hidangan sederhana yang di sajikan sang istri ternyata begitu di sukai oleh pria keturunan konglomerat di ibu kota.
Semua makanan kini tandas tak tersisa kecuali kerupuk karna ia langsung ingat dengan kakak sepupunya yang begitu suka dengan makanan tersebut, entah di apartemen atau di rumah utama Kerupuk wajib ada di meja makan khusus untuk Tuan Muda Air Rameza Rahadian Wijaya.
"Kenyang, Al"
"Percaya! karna kebangetan kalo kamu sampe gak kenyang" jawab Aluna sambil menyodorkan minuman di mug besar pada Zico.
"Ini aer apa?" tanyanya lagi karna bau dan warnanya begitu aneh menurut Zico
"Teh tubruk hangat, ini pas banget buat ilangin rasa pedes sambal tadi."
"Tehnya tabrakan, gitu?"
Mendengar pertanyaan Zico nyatanya membuat semua orang tertawa, sekaya dan sepintar apapun seseorang terkadang mendadak menjadi bodoh jika datang ke pedalaman kampung.
.
.
.
"Iya, di tabrak sama Air panas dalam teko!"
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Mom... anakmu sekola dimana sih? 😜😜
Hampura ah, lagi lagi bikin cerita gak jelas begini 🤧