Azalea Carolline, gadis lemah berusia 21 tahun tiba-tiba mendapatkan kesempatan untuk menikmati hidupnya kembali setelah membunuh dirinya sendiri di hadapan sang ayah dan para bangsawan.
Sebagai putri pertama di keluarga Grand Duke ia selalu mendapatkan siksaan dari ayahnya, lebih parahnya lagi ia dituduh melakukan pembunuhan terhadap sang adik dan dihakimi oleh para tamu di aula pesta. Setelah hidup kembali Azalea bertekad untuk membalas dendam kepada ayah dan adiknya dibantu oleh si putra mahkota dari kekaisaran Valcke.
Satu persatu kebenaran mulai terungkap, dari situlah keduanya memanfaatkan satu sama lain. Kini mereka mempunyai tujuan yang jelas yaitu membalaskan dendam kepada satu orang yang sama.
Apakah Azalea berhasil membalaskan dendamnya?
Apakah ia akan mendapatkan akhir yang bahagia?
Original writing by: Queen Neze
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Neze, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 25. Dayang Pribadi
Beberapa menit lalu, sebelum salah satu dayang masuk ke dalam kamar.
"Apa kau tidak apa-apa? Ini hanya sandiwara agar dayang itu—"
"Hanya sandiwara, kan? Untuk apa aku takut, jika kau benar-benar ingin memangsaku sekarang pun..." buru-buru Azalea memotong perkataan suaminya.
Pagi harinya pukul 07.15 mereka berdua sudah terperanjat dari tempat tidur. Kini pasangan itu sedang duduk di sofa sembari merundingkan masalah semalam. Akan tetapi pembicaraan mereka terganggu karena suara-suara dari luar kamar. Azalea mengintip dari celah pintu untuk melihat siapa yang berada di luar.
Lucas yang ikut penasaran pun akhirnya mengintip juga dan meletakkan dagunya di atas kepala istrinya.
"Kenapa saya berpakaian seperti para dayang di istana?" tanya gadis yang sedang berbicara dengan Aaron.
"Katamu kau akan melakukan apa saja, kan? Jadi mulai sekarang kau adalah dayang pribadi Azalea." ucap Aaron.
Keduanya sama-sama membelalakkan mata mereka kemudian saling berpandangan dengan ekspresi wajah kebingungan. Gadis yang mereka lihat adalah Jesslyn yang baru saja keluar dari penjara bawah tanah. Namun, ia tidak dilepaskan begitu saja melainkan menjalani hukumannya untuk menebus semua kesalahannya.
"Jesslyn jadi dayang? Apa dia bisa?" Azalea memelankan suaranya.
"Kalau dia membuat kekacauan, aku akan memasungnya." cetus Lucas sambil berbisik. Mereka kembali mendengarkan percakapan antara Aaron dan Jesslyn sang adik.
"Tetapi, saya tidak mau menjadi dayang!" protes Jesslyn terhadap hukumannya.
"Eum.. aku tidak ada pilihan lain, selain membunuhmu kalau kau tidak mau."
Jesslyn sudah kehabisan kata-kata lalu ia menoleh ke arah pintu kamar pengantin baru itu. Untunglah Azalea dan Lucas memasukkan kembali kepala mereka. Aaron memberitahu tugas gadis itu sebagai seorang dayang di istana putra mahkota secara rinci.
"Pukul 07.30 kau harus membangunkan mereka, menyiapkan baju-baju Azalea, mengikuti kemanapun dia pergi. Dan... jangan membuat masalah disini, mengerti?"
"Saya mengerti, Baginda kaisar."
Sementara kedua pengantin baru itu sedang melepaskan pakaian masing-masing kecuali pakaian dalam. Lucas memakai baju handuk dan hanya memperlihatkan kotak-kotak yang terukir di perutnya. Azalea malu sekali karena ia baru pertama kalinya memperlihatkan bentuk tubuhnya kepada laki-laki.
"Sudahlah tidak perlu malu, lagipula wajar, kan? Aku suamimu dan tubuhmu—"
"Aku tahu aku tahu! Tidak usah di jelaskan lagi."
Azalea melempar pakaian yang sudah mereka lepas dan membuangnya ke lantai. Waktu mereka tidak banyak, beberapa menit lagi Jesslyn akan memasuki kamarnya.
"Buat tanda merah disini." kata Azalea, jari telunjuknya mengarah ke leher putih susunya.
"Apa..? Kau tidak bercanda, kan? Ingat aku ini laki-laki."
"Itu tidak penting sekarang! Cepatlah kita tidak memiliki banyak waktu."
"Baiklah. Tutup matamu, ini tidak akan lama." pinta Lucas.
Lucas memulainya dengan pelukan hangat, ia mengambil selimut lalu menutupi bagian tubuh belakang istrinya. Lelaki itu memberanikan diri mencium leher Azalea sesuai permintaannya tadi, tak lupa ia meninggalkan sebuah tanda merah di sana. Setelah itu mereka berdua membaringkan tubuh di atas kasur seolah-olah Jesslyn menganggap Azalea dan Lucas masih tertidur tanpa busana.
***
Saat ini, di kamar yang ditempati oleh sepasang pengantin baru.
"Mereka berzina? Benar-benar memalukan, ini tidak bisa dibiarkan." tukas Jesslyn panik melihat kamar yang berantakan seperti kapal pecah.
"Berzina matamu." gerutu Lucas dan Azalea dalam hati.
Jesslyn yang berlagak seperti penghuni kamar langsung memukul wajah Azalea dan Lucas memakai kain yang biasanya digunakan untuk mengelap meja. Mereka terperanjat bukan karena kain lapnya tetapi bau dari lap tersebut. Nafas Lucas menderu menhan emosi ia bisa saja membalas pukulan Jesslyn. Tapi, istrinya mengusap punggungnya agar emosinya meredam.
"Kakak, tidak tahu malu! Sudah gagal nikah tetapi masih saja mengejar Putra Mahkota." tukas Jesslyn lagi.
"Gagal menikah bukan berarti menyerah mendapatkan seseorang yang dicintainya." Azalea berdiri dari duduknya. Tangannya mengambil kemeja putih milik suaminya dan memakainya.
"Bukankah itu namanya.. kakak ditolak? Apa keluarga kekaisaran Valcke tidak menerima keberadaan anak haram?" sindir Jesslyn tersenyum puas.
Azalea mencengkram erat rahang bawah adiknya. "Aku peringatkan sekali lagi, bersikaplah selayaknya dayang disini." katanya melepaskan cengkraman tangannya dari rahang Jesslyn.
Jesslyn malah menarik rambut Azalea sekencang-kencangnya. Emosi Lucas meluap-luap karena Jesslyn tidak bisa menjaga etiketnya sebagai Putri Duke, ia yang sudah kalap pun terperanjat dan mendekati adik kakak itu.
Lucas menarik kembali rambut Jesslyn dengan tatapan tajam. "Lepaskan tanganmu dari rambut istriku! Cepat!!" teriaknya.
Jesslyn melepaskan tangannya, ia tertegun ketika mendengar kata 'istriku' pandangannya tertuju pada sepasang cincin kawin yang melekat di kedua jari manis mereka.
"Apa kau tahu sekarang kau sedang berada dimana! Kau tidak puas karena mengacaukan pernikahan kami? Masalahmu apa sih, sebenarnya?! Hah?" bentak Lucas.
"Aku..."
"Pergi bantulah dayang lainnya di dapur." perintah Azalea.
Prang!
Lucas mengusap wajahnya dengan kasar ia mengambil gelas kaca berisikan air putih dan melemparnya ke dinding. Lucas sebenarnya masih ingin mencecar gadis itu tetapi Azalea menyuruh adiknya pergi membantu para dayang yang bekerja di dapur.
"Kenapa kau membiarkan dia pergi? Apa kau tidak tahu betapa kurang ajarnya anak itu?!" Lucas meninggikan suaranya.
Azalea menghela nafasnya, tanpa rasa takut ia memeluk tubuh lelaki itu. Emosi Lucas yang meluap-luap sekarang meredam karena pelukan hangat sang istri. Ia membenamkan wajahnya di pundak Azalea.
"Maafkan aku... aku tidak bisa menahan diriku sendiri." ucap Lucas mengeratkan pelukannya.
"Tidak apa-apa, kau sudah bekerja keras, Luke."
Belum tentu gadis lain bisa membuat Lucas setenang ini, hanya Azalea lah yang mempu mengendalikan amarah lelaki itu. Walau sempat lepas kendali tetapi Azalea bisa menghadapi Lucas yang penuh amarah di dalam dirinya.
"Lucas itu anak yang temperamental, dia bisa mengerikan saat amarahnya tidak bisa terkontrol lagi. Azalea, ibu minta tolong padamu jaga anak itu."
Pesan terakhir Sabrina Luvena sebelum pergi menghembuskan nafas terakhirnya, kini terngiang-ngiang di kepala gadis itu. Dulu ia penasaran sekali dengan seseorang yang mempunyai sifat tempramental seperti Lucas. Ia perlahan jadi tahu melalui kebiasaan Lucas yang tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.
"Kau tidak perlu sampai marah-marah seperti tadi."
"Bagaimana bisa kau mudah melepaskan anak itu?" tanya Lucas melepaskan pelukannya.
"Karena aku sudah punya rencana."
***
ini bener kan?
jd Bapaknya jelas PSIKO kan?
kirain pas dia dilindungi itu jadi baik, malah ttp jahat gak ngaruh, wah
amit2 dah, mending jauh2 MC kita dari keluarga ngeri ini
ayo mampir di karyaku: Istri Diatas Kertas.
lanjut