Demi membongkar perselingkuhan istrinya Marfel chandra seorang pengusaha kaya raya terpaksa harus bersandiwara dengan pura pura buta.
Namun siapa sangka istrinya Ariana chandra justru mengenalkanya dengan seorang gadis kampung bernama Laura yang harus di nikahi oleh marfel dengan alasan agar bisa merawat marfel dengan baik.
Laura lusiana datang dan dengan kebesaran hatinya mau di nikahkan dengan marfel demi kesembuhan nenek tercintanya tanpa mengharapkan apapun termasuk cinta.
Seiring berjalanya waktu marfelpun berlahan mulai bisa melupakan rasa kecewa juga sakit hatinya pada ariana berkat kehadiran laura di sampingnya. Hingga akhirnya marfel melupakan misi utamanya berpura pura buta dan terus melanjutkanya demi laura. Istri kecilnya.
Musim ke 2
Cinta berhasil membuat Marfel sadar bahwa tidak seharusnya Marfel terus menghindar dari masa lalu. Dan Trio kembarnya adalah jendela untuk Marfel berdamai dengan masa lalu yang sempat membuatnya terluka dan kecewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Paginya laura bangun dan segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Laura harus bergerak cepat karna pekerjaanya mengurus marfel sedang menantinya. Saat akan membuka pintu kamar mandi laura menoleh pada marfel. Pria tampan itu masih tenang terlelap dengan posisi tengkurap. Tubuh kekarnya juga tidak tertutup oleh selimut. Merasa tidak tega laura pun mendekat. Laura bersusah payah membenarkan posisi tidur marfel kemudian menyelimutinya dengan benar.
“Masih ada 2 jam lagi.” Gumamnya kemudian kembali melangkah menuju pintu kamar mandi dan masuk ke dalamnya.
Pukul 7 tepat marfel terbangun dari tidur lelapnya. Marfel menyipitkan kedua matanya saat cahaya terang mentari pagi yang masuk melalui jendela kaca besar menerpa kedua matanya.
“Silau sekali..” Gumamnya.
Marfel membalikan tubuhnya sambil menaikan selimut yang menutupi tubuhnya sampai batas bahu. Marfel benar benar masih betah bergulung di dalam selimut tebalnya meskipun sebenarnya rasa kantuknya sudah hilang sejak kedua matanya merasakan silaunya mentari pagi.
Marfel mengeryit dengan kedua mata terus terpejam. Marfel membuka selimutnya kemudian bangkit dari berbaringnya. Marfel merasa bingung. Padahal semalam marfel tidur sambil tengkurap karna kesal laura tidak menunggunya.
“Apa ini karna laura?” Gumamnya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka memunculkan laura yang membawa nampan dimana di atasnya terdapat satu piring penuh makanan dan 2 gelas air putih.
“Syukurlah tuan sudah bangun..” Senyum laura saat mendapati marfel yang sudah duduk di atas ranjang king zise nya.
“Jam berapa sekarang laura?” Tanya marfel basa basi.
Laura melirik jam yang menggantung di permukaan dinding bercat putih di seberangnya.
“Sudah jam 7 tepat tuan. Lebih baik sekarang tuan mandi setelah itu kita sarapan.” Senyum laura.
Marfel mengangguk. Hari ini tidak ada jadwal apapun dari kantor. Dan marfel ingin menghabiskan waktunya dengan laura di luar.
Laura meletakan nampan yang di bawanya di atas nakas kemudian berjalan mendekat pada marfel. Laura mendudukan dirinya di tepi ranjang. Senyumnya laura mengembang menatap wajah tampan marfel. Pria itu meskipun rambutnya awut awutan namun ketampananya tetap tidak luntur.
“Biar saya bantu buka bajunya tuan..”
“Tunggu, tunggu dulu laura. Kamu belum memberikan hadiah tebakan semalam padaku..”
Senyum di bibir laura langsung sirna. Baru saja laura memuji ketampanan marfel dalam hati namun sosok menyebalkan marfel langsung membuat moodnya turun.
“Aku mau tau bagaimana wajah kamu.” Lanjut marfel.
Laura berdecak. Bagaimana mungkin marfel bisa tau rupa wajahnya jika marfel saja buta. Apa laura harus masuk ke dalam mimpi marfel dulu?
“Tuan bisa tidak jangan aneh aneh. Tuan itu buta. Tuan nggak bisa melihat. Bagaimana mungkin tuan bisa tau bagaimana rupa wajah saya..” Kata laura sambil menghela napas kesal.
“Ya.. Aku memang buta. Tapi aku masih punya tangan buat menyentuh wajah kamu..”
Laura mengeryit.
“Maksud tuan apa?” Laura benar benar bingung sekarang.
“Begini. Izinkan aku menyentuh wajah kamu. Aku ingin bisa mengenali bagaimana wajah istri aku..” Jelas marfel.
Laura terdiam. Marfel ingin menyentuh wajahnya. Marfel memang suaminya. Dan menurut agama dan negara marfel berhak atas segalanya dari laura.
“Tuan tapi...”
“Aku cuma mau itu laura.. Bukan yang lain..” Sela marfel pelan.
“Hhh.. Baiklah. Tapi nanti setelah tuan mandi dan sarapan. Setelah itu tuan boleh pegang wajah saya. Tapi cuma pegang nggak boleh nyubit. Oke?”
“Oke.” Angguk marfel setuju.
“Ya sudah sini saya bantu buka baju tuan..”
Marfel menurut saat laura membantunya membuka kaos oblong putih yang di kenakanya. Pria itu benar benar merasa bersyukur karna mendapatkan istri yang baik dan telaten mengurusnya yang di anggap sedang tidak berdaya.
“Eemm.. Laura..” Panggil marfel setelah bertelanjang dada.
Laura menoleh. Jika saja laura tidak terbiasa melihat marfel bertelanjang dada di depanya mungkin laura akan sangat malu. Tapi itu sudah tidak berlaku. Di awal mungkin laura malu tapi setelah terbiasa semuanya terasa biasa saja bagi laura.
“Ya tuan..”
“Terimakasih yah. Kamu udah baik banget sama aku. Kamu mau mengurus aku yang super merepotkan ini..” Senyum marfel.
Laura tertawa pelan. Marfel memang sangat merepotkan. Tapi mengurus marfel sudah menjadi kewajiban baginya. Selain karna memenuhi syarat dari ariana, laura juga merasa berkewajiban mengurus marfel yang notabenenya adalah suaminya sendiri.
“Sudah menjadi kewajiban saya mengurus tuan. Tidak perlu berterimakasih tuan. Tuan kan juga suami saya. Sudah seharusnya bukan seorang istri mengurus suaminya.”
Marfel tersenyum dan menganggukan kepalanya. Beruntung ariana menyuruh laura yang menjadi istri keduanya bukan gadis lain.
“Sudah lebih baik sekarang tuan mandi.”
Laura bangkit dan meraih lengan kekar marfel. Laura menuntun marfel menuju kamar mandi dan menunggunya di depan pintu. Sebelumnya laura juga sudah menyiapkan semuanya seperti sabun dan sampo di tempat yang bisa dengan mudah di jangkau oleh marfel.
Laura menghela napas. Tiba tiba laura berpikir apakah dirinya masih akan di butuhkan jika marfel sudah dapat melihat kembali.
“Sadar laura.. Kamu di butuhkan karna tuan marfel buta.. Kamu tidak berarti apa apa jika tuan marfel bisa melihat kembali nanti. Mungkin juga kamu akan di buang.”
Laura tersenyum miris. Laura sadar siapa dirinya. Laura juga sadar sebagai apa posisinya di samping marfel.
20 Menit berlalu marfel telah selesai membersihkan dirinya. Laura pun segera membantu marfel mengenakan baju, mengeringkan rambut bahkan sampai menyisir rambut marfel sebelum akhirnya membantu marfel sarapan pagi dengan menyuapinya.
Marfel, pria itu tersenyum. Pagi ini mereka makan sepiring berdua. Bahkan sendok yang mereka gunakan pun sama. Laura sepertinya tidak merasa risih meskipun mengenakan sendok yang juga laura gunakan untuk menyuapi marfel.
“Tuan.. Ini kita makanya sepiring berdua yah.. Sendoknya sama juga. Nggak papa kan?”
“Kan kamu istri aku. Jadi nggak papa dong kita makan sepiring berdua. Sesendok berdua juga aku nggak keberatan.” Jawab marfel.
Laura tersenyum geli mendengarnya. Gurauan marfel lumayan lucu menurutnya meskipun sedikit menyentuh ke dalam hati kecilnya.
Selesai sarapan bersama laura pun segera membereskan piring juga gelasnya kemudian membawanya keluar untuk di cuci.
“Laura.”
Laura yang saat itu hendak menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya menoleh mendengar suara ariana yang memanggilnya.
“Nyonya..” Lirih laura menelan ludahnya. Laura merasa sedikit tidak enak. Ariana pasti mempunyai tujuan memanggilnya.
Ariana mendekat pada laura yang berada di depan tangga dengan gaya angkuhnya.
“Kamu jangan besar kepala dan menganggap diri kamu nyonya di rumah ini. Ingat laura, kamu ada disini karna saya !”
Laura mengeryit. Seingatnya laura tidak melakukan kesalahan apapun. Laura juga tidak bersikap layaknya nyonya di rumah itu.
“Maksud nyonya apa? Dan apa salah saya?” Tanya laura bingung.
“Tidak usah pura pura polos di depan saya laura. Saya tau bagaimana kelakuan liar orang miskin seperti kamu.” Tekan ariana.
Laura mengepalkan kedua tanganya. Ingin sekali laura melayangkan tinjunya pada wajah menyebalkan ariana saat itu juga.
“Dengar laura, Nasib nenek dan adik kamu ada di tangan saya. Jadi jangan pernah membuat saya marah lagi.”
Ariana mengatakanya dengan penuh penekanan. Bahkan ariana mendorong dada laura sebelum berlalu menaiki anak tangga meninggalkan laura yang hanya bisa diam memendam amarahnya.
si Ariana itu selingkuh kenapa gak terciduk coba. malah seperti tidak terjadi apa2.
harusnya si Jo itu selidiki setiap ariyana selingkuh dan rekam juga perbuatannya buat bukti.
Abis itu ya gimana kek si Marfel bertindak tegas gitu loh.
ceraikan sekaligus penjarain si David karna nidurin istri org🤦
plis deh Thor yg tegas gitu loh ceritanya jgn di situ2 mulu
mosok daffa pria yg hampir sempurna koq bisa bisanya di tolak jd menantu..
trus, yg mo dijodohin sm klara cowok yg sperti apa.