Pikiran Nara masih saja penuh dengan ajakan menikah dari direktur gilanya itu, Nara jadi tidak begitu konsen dalam bekerja.
Kenapa aku bisa sesial ini pergi ke perjodohan malah ketemu sama bos sendiri?!
Masalahnya Nara hanya wanita yang menyamar sebagai sahabatnya.
Akankah perjalanan cinta Nara dengan statusnya sebagai janda berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duajempol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa dia hebat sekali...
Natha meminta supir ayahnya untuk menepikan mobilnya tepat di depan gedung Gior Group, ini sudah jam pulang kantor jadi dia berharap melihat Bastian. Namun matanya membola dengan apa yang di lihatnya, Nara masuk kedalam mobil Rey. "Katanya urusannya sudah selesai, kenapa mereka pergi berdua?? Tapi dibanding itu dimana Bastian?? Dia sama sekali tidak angkat telepon dariku." Gerutu Natha.
Dia mencoba lagi untuk menelpon Bastian, namun hasilnya tetap nihil. Bastian benar benar tidak mengangkat telepon darinya. "Ugh! Kenapa sih dia? Harusnya dengar penjelasan aku dulu!"
"Anu.. nona, tuan besar meminta nona untuk segera pulang kerumah." Supir pribadi sang ayah menoleh kearah Natha yang duduk di belakang.
"Memangnya ada apa papa meminta aku untuk segera pulang?"
"Saya tidak tau nona."
Natha memajukan badannya untuk menatap wajah supir ayahnya. "Memangnya aku kenal paman baru satu dua hari??" Mata Natha memicing.
"Anu.. itu biar tuan besar yang menyampaikan langsung saja pada nona."
"Kasih aku petunjuk atau tidak aku turun sekarang." Ancam Natha.
"Sepertinya soal perjodoh..."
"Ahh itu Bastian!!!!" Natha tergelak melihat Bastian berjalan keluar kantor dan segera keluar dari mobil.
"Nonaaa tunggu!! Aduh saya bisa dimarahi tuan besar." Tentu saja teriakan dari sang supir diabaikan Natha.
Natha berlari untuk menghampiri Bastian, "Kenapa jarak dari jalan ke gedung kantor jadi terasa jauh begini sih??" Memakai sepatu hak dan berlari ternyata memang tidak semudah kelihatannya. "Eh dia mau pergi kemana yah??" Natha melihat Nastian berbelok dari arah parkiran mobil, jadi dia bersembunyi disamping tiang jalan untuk mengamati.
Natha sempat merasakan sesuatu berdesir dalam hatinya ketika melihat ada seorang wanita disana, "Itu... hah?? No.. nona Jessie?" Gumam Natha tidak percaya karena dia benar benar melihat putri dari CEO tempatnya bekerja sedang bersama Bastian. Natha mencoba menajamkan telinganya untuk mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.
"Bagaimana kabar anda?" Bastian berbasa basi.
"Kabar saya?? Sangat tidak baik." Jessie bersidekap sambil tersenyum, "Sulit sekali yah untuk menemui tuan Bastian, untungnya anda menghubungi saya duluan."
"Maaf saya tidak langsung menjawab semua pesan dari anda."
"Jadi tuan Bastian sudah memikirkan tawaran saya?? Tawaran untuk mencoba berpacaran dengan saya." Jessie tersenyum penuh percaya diri.
Natha menutup mulutnya, dengan jelas dia mendengar itu semua. Apa maksud semua ini??!
Dia mengabaikan teleponku dan menghubungi Jessie, terlebih lagi mereka akan berpacaran?? Lalu aku apa?!
Jessie menarik tangan Bastian, sepertinya wanita itu berencana untuk mengajak Bastian pergi ketempat lain agar pembicaraan mereka berjalan baik. Natha menggigit bibir bawahnya, air matanya meleleh begitu saja. Dia berjalan cepat menuju mobil dan supirnya yang masih setia menunggu.
"Nona.."
"Paman, ayo temui papa!!"
****
"Dua bangku VIP." Rey membawa Nara menuju private dinning disebuah gedung hotel, setelah masuk dan meminta menu kini Nara menangis dalam hati.
Satu porsi makanan termurah disini seharga 250.000 itupun hanya kentang tumbuk dan irisan daging super tipis disertai sayuran tidak berarti!!!
Aku pasti sudah gila!!!!
Kenapa aku harus ciuman dengan direktur sih? Kenapa tidak muntah saja? Atau tidur di jalanan saat mabuk?! Atau ciuman dengan tiang listrik!!
Eh sebentar... ciuman itu kan...
Nara berdehem, "Anu pak direktur, itu kan.. hmm."
"Anda mau berbicara apa?" Rey melihat Nara yang terbata bata.
"Cii.. ciii.. ciu...m."
"Tsk! Ciuman??" Rey tersenyum menatap Nara sambil menopang dagunya.
"I.. iya itu, kalau bertepuk tangan saja harus dua tangan agar bersuara. Tapi kenapa ciuman hanya.. hanyaa.. saya saja yang.." Nara menjadi gugup.
Dipikir pikir ini sangat tidak adil.
Rey kembali tersenyum dengan tampannya, "Kenapa hanya nona Naranika saja yang bertanggung jawab??"
"Iya itu! Bingo!" Nara senang Rey mengerti maksud hati kegalauannya.
"Kalau begitu saya juga harus bertanggung jawab??" Rey tersenyum smirk sambil mendekatkan wajahnya pada Nara, "Apa boleh saya bertanggung jawab dengan nona Naranika??" Rey menatap Nara dan terus tersenyum sambil tetap menopang dagunya.
Ap.. apa??? Tanpa sadar wajah Nara merona karena ditatap seperti itu oleh Rey.
Deg deg deg! Aaah tunggu!
Direktur bertanggung jawab \= Menikah!!
"Ti.. tidak!! Hahaha biarkan saya yang bertanggung jawab penuh! Bibir saya yang rendah ini yang biasa bersentuhan dengan sumpit, sendok, garpu, sikat gigi dan bolpoin ini berani beraninya bersentuhan dengan bibir direktur yang berharga! Haha haha!"
"Tsk!" Rey menahan senyumnya dan mengusap tangannya dengan tisu basah, "Padahal saya mau bertanggung jawab dengan membelikan set plater makanan disini. Baiklah jika nona Naranika tidak mau."
Hah??? Apa? Set platter? Bukan menikah?!!
Bodoh!!! Direktur kan tidak tau kalau aku Narnia! Mana mungkin dia membahas soal menikah! Ini karma karena mengatakan bibirku yang pemberian dari Tuhan tidak berharga.
"Selamat makan." Rey mengambil sendok saat pelayan selesai menyajikan hidangan untuk mereka.
"Nona Nara juga, makan yang banyak supaya uang anda tidak sayang sudah dikeluarkan." Rey menipiskan bibirnya menahan senyum.
"Iya selamat makan!" Nara menangis dalam hati.
Aku tidak bisa menahan air mataku! Kenapa juga makanan ini terlihat berkilau?? Makanan mahal memang beda huhu!
Nara menyuap sesendok besar makanan yang tersaji, dia membelakkan matanya lebar lebar!!
Inikah.. rasa dari surga itu??! Enak sekali!!
Apa bibir (berharga) direktur selembut ini??
Apa lidah (berharga) direktur lebih lembut dari ini??
Aku sesih tapi ini enak sekali!!!
Tanpa banyak bicara Nara makan dengan lahap hingga piring itu bersih dan tandas membuat Rey tersenyum memperhatikan Nara makan dengan senang. Setelah sadar makanannya sudah habis Nara tersentak,
Saldo tabunganku ada berapa yah???? Kali ini saldoku juga akan tandas dan bersih selayaknya piring ini!!
"Aku ke toilet sebentar yah." Nara bangkit berdiri dan tersenyum canggung.
Setelah mencuci tangan, Nara membuka ponselnya untuk mengecek mobile banking miliknya.
"Hampir habis gajiku bulan ini!" Nara bergidik tidak percaya melihat saldo gajinya yang tersisa di rekening. "Setelah membayar tagihan restoran ini berarti sampai gajian bulan depan aku harus bertahan dengan makan mie instan! Apa aku kabur saja yah, makan tanpa membayar?" Nara melihat jendela di toilet sangat kecil, "Mana muat!"
Nara keluar dari toilet, "Okeh dari pada aku di pecat dan tidak bisa menerima gaji lagi seumur hidup, hanya 2 sampai 3 juta saja itu sedikit untuk mengakhiri hubungan yang rumit ini! Tidak apa apa Nara, semua tidak apa apa." Wanita itu berjalan menuju kasir berusaha menenangkan dirinya.
"Aku mau bayar untuk meja nomor xx." Dengan tangan bergetar Nara menyerahkan kartu debit miliknya.
"Tadi teman anda sudah membayar semua." Kasir itu tersenyum ramah dan memberi informasi setelah mengecek tagihan.
Nara membelakkan matanya dan menyusul kearah meja dan bertemu pelayan yang membereskan meja berpesan bahwa Rey menunggu di pintu depan.
"Di.. direktur? Kenapa anda membayar semua??" Nara berjalan tergesa menghampiri Rey yang sudah berdiri disamping mobilnya.
Rey tersenyum, "Naik, saya antar pulang."
Dalam perjalanan Nara ragu sedari tadi ingin bertanya, namun dia terlalu penasaran. "A.. anu ditektur, kenapa tadi anda membayar semua? Padahal saya ingin bertanggung jawab."
Rey melirik sekilas kearah Nara, "Anda cukup lama di toilet, saya pikir anda kabur."
"Apa?" Nara tergelak dengan tuduhan Rey, "Sa.. saya bukan orang seperti itu!"
Meskipun aku sempat memikirkan hal itu! Rutuk Nara dalam hati.
"Habis lama sekali anda di toilet."
"Saya mencuci tangan!"
"Benaran? Bukan sedang membuat alasan untuk kabur?" Goda Rey.
"Tidak! Sungguh!"
Rey menaikkan sebelah alisnya, "Kalau kabur juga aku tak peduli." Katanya yang lebih mirip menggumam.
Karena pasti akan ku kejar!!
"Karena tadi saya yang membayar, jadi nona Naranika membayar makanan yang lain saja untuk lain kali. Apa makanan kesukaan anda?"
"Apa?!" Nara terkejut bukan main,
Apa dia masih berniat menemui aku lagi??
Namun tanpa sadar Nara menjawab pertanyaan Rey.
"Saya suka makan bakso." Tentu saja Nara akan memilih makanan murah berdasarkan insting.
"Aah tidak perlu makan bakso." Nara tersenyum mengibaskan tangannya, "Saya akan transfer sejumlah pembayaran tadi saja pada anda!"
"Sudah sampai." Rey mengabaikan usulan Nara.
"Jadi kapan kita akan makan bakso?" Pria itu bersidekap dan tersenyum.
Nara melepas seatbeltnya, "Aahh anu pak direktur, saya.."
"Apa? Anda berniat kabur tanpa membayar ganti rugi bibir saya?"
"Bukan begitu!" Nara melengos, "Saya kan hanya karyawan, tapi pergi makan dengan direktur terus itu rasanya... agak canggung dan terbebani." Nara menggaruk keningnya.
Aku mohon, aku benar benar tidak ingin berurusan dengan anda lagi direktur!!
"Kalau merasa terbebani tapi tadi anda makan lahap sekali."
"....." Nara malu dan kesal bersamaan, "Apa tidak ada cara lain untuk membayaranya?"
"Kalau anda tidak suka dengan transaksi uang bisa memakai cara yang lain." Rey tersenyum dan melepas seatbeltnya.
"Ada cara lain?? Bagaimana?" Nara terdengar antusias.
Rey mencondongkan badannya kearah Nara, memegang dagu Nara dan tersenyum manis. "Cara untuk membayar bibir yah dengan bibir juga." Tanpa aba aba Rey langsung mencium bibir Nara, tangan Rey berpindah meraih tengkuk Nara dan mendorong pertautan bibir mereka lebih dalam.
Aneh sekali!! Padahal harusnya aku dorong dia menjauh!! Ini kan pelecehan, kita juga tidak berpacaran. Ini pertama kalinya juga buat aku berciuman sampai seperti ini. Tapi... direktur... aduh... kenapa.. dia.. hebat.. sekali...
Rey melepas tautan bibir mereka, keduanya saling menatap sayu dan tergugu, degup jantung mereka seakan seirama. Nafas keduanya terengah bersamaan, berdasarkan dorongan insting Nara memajukan badannya dan memeluk leher Rey. Mereka kembali menyatukan bibir mereka, lebih lama, berhasrat dan intens.
..dalam berciuman!!!
Epilog!
Setelah selesai berciuman dalam keadaan sedikit canggung dan malu, Rey tersenyum. Pria itu menyandarkan kepalanya pada kemudi mobil menghadap Nara. "Oke jadi kapan kita makan baksonya? Bagaimana jika akhir pekan ini?" Rey tersenyum lebar.
Nara membolakan matanya, "Ta.. tadi kan sudah ci.. ciuman membayar bibir anda." Nara terbata malu.
"Ciuman yang saya lakukan tadi memang untuk membayar yang kemarin. Tapi tadi nona Naranika mencium lagi, itu juga harus dibayar."
Nara membuka mulutnya tidak percaya,
"APA??!!!!!"
Aku tidak percaya dengan pria ini!!! Meski dia pandai berciuman harusnya aku bisa menahan diri!!!!!!!
Nara menangis dalam hati.
aku baca bab ini pas lagi makan Ampe keselek,gara2 Nara baca UUD.
KK jgn sampe Nara dan Natha musuhan karna cowo.