Nathan Anggara seorang siswa SMA Galaksi yang keluar masuk BK karna selalu membuat masalah dan hampir di keluarkan dari sekolah. Tapi karna otaknya yang pintar, pihak sekolah harus berpikir dua kali untuk mengeluarkannya dari sekolah.
Nathan mempunyai geng yang berisi Ryan, Erland dan Dikta. Geng yang sangat menguasai sekolah ini akan mengganggu anak anak yang berpenampilan culun. Semua siswa bahkan takut dengan mereka berempat.
Suatu hari ada siswi baru berpenampilan culun memasuki sekolahnya. Nathan sudah siap siaga untuk mengganggunya dan membuatnya pindah sekolah seperti siswa lain yang ia ganggu.
"Hah! Lu gak bakalan lepas dari genggaman gua culun!" ucap Nathan yakin.
"Ganggu aku sepuas kalian, aku tidak akan melawan karna tujuan ku kemari hanya untuk belajar bukan bertengkar." ucap perempuan itu yakin.
Bagaimana nasib perempuan itu? Apakah Nathan akan berhenti mengganggunya?
Season 2
Silahkan baca bab "S.2 Awal Mula"
Mari simak cerita Nathan dalam novel "Nathan Anggara"
Author :
●Kim Jaenni●
Ig : @kim_jaenni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Jaenni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vampir
Misi Kedua, start! batin Vira.
Pulang sekolah...
"Nih helmnya di pakai." ucap Nathan memberikan Helm yang ia bawa. Vira pun memakai helmnya. Nathan tertawa melihat Vira yang kesusahan memakai Helm. Nathan turun dari motornya lalu memakaikan Vira helm dengan lembut.
"Lain kali kalau ga tau cara pakai helm, kasih tau gua." ucap Nathan. Vira mengangguk. Nathan pun naik ke motornya begitu pun dengan Vira. Vira memberanikan diri memeluk Nathan. Nathan yang mulai terbiasa dengan pelukan dari Vira, hanya diam saja.
Motor Nathan pun melaju dengan kecepatan normal.
"Nath, kamu belum makan siang kan. Gimana kalau kita mampir dulu ke pecel lele langganan aku. Di jamin enak deh." ucap Vira.
"Boleh, gua kebetulan laper juga." ucap Nathan Vira pun menunjukkan jalannya kepada Nathan.
Tak lama, mereka sampai di sebuah tempat makanan yang berada di pinggir jalan.
"Yakin di sini?" tanya Nathan.
"Kenapa? Gak pernah makan di pinggir jalan ya?" tanya Vira. Dengan polosnya Nathan menggeleng.
"Bersih gak?" tanya Nathan.
"Tenang bersih kok. Kalau aku aja ke restoran, mana ada makanan kayak gini." ucap Vira. Nathan mengangguk setuju. Mereka pun masuk dan duduk di kursi panjang.
Nathan yang tidak biasa makan di pinggir jalan merasa agak kurang nyaman.
"Gak nyaman ya? Harusnya bilang dari tadi." ucap Vira.
"Santai." jawab Nathan.
"Pesan apa Neng?" tanya abang-abang penjual pecel lele.
"Pecel lelenya dua, yang satu pedas." ucap Vira. "Nath, mau yang sedang apa pedas?" tanya Vira.
"Sedang aja." ucap Nathan.
"Oke, pedas satu sedang satu ya bang." ucap Vira.
"Siap. Di tunggu ya neng Vira dan pacarnya." ucap abang-abang itu yang memang sudah kenal dengan Vira.
"Maaf ya Nath. Kayaknya kamu gak nyaman dengan kata-kata abang tadi." ucap Vira.
"Santai aja." jawab Nathan berbohong. Sebenarnya sejak sampai di sini, ia sudah merasa tidak nyaman.
2 porsi pecel lele pun datang. Nathan sedari tadi sibuk mencari sendok.
"Nath, cari apa?" tanya Vira.
"Pisau sama garpunya mana?" tanya Nathan.
"Astaga! Nathan, ini makanan pinggir jalan bukan restoran. Gak ada yang begituan. Makannya itu pakai tangan." ucap Vira sambil menunjukkan tangannya yang basah.
"Gimana caranya?" tanya Nathan polos. Ia sama sekali tidak tau bagaimana cara makan pecel lele.
"Makannya itu gini." ucap Vira mempraktekkan cara makan pecel lele menggunakan tangan. Nathan cepat belajar walau masih agak susah karna ia belum terbiasa.
Mereka pun selesai makan. Vira memanggil abang-abang yang jualan pecel lele.
"Berapa bang?" tanya Vira.
"50 ribu neng." jawab Abang itu. Sebelum Vira mengeluarkan uangnya, Nathan terlebih dahulu mengeluarkan black cardnya dan memberikannya kepada abang-abang tadi.
"Nathan! Astaga! Di sini bayarnya cash bukan pakai kartu." ucap Vira.
"Iya kah?" tanya Nathan. Nathan pun mengeluarkan uang 100 ribu selembar lalu memberikannya kepada abang itu. Abang itu pun memberikan kembalian uang Nathan tadi.
Vira sedikit menyesal membawa Nathan makan di pinggir jalan. Nathan sama sekali tidak tau apa-apa tentang cara makan dan cara pembayaran lapak-lapak pinggir jalan.
Mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah Vira. Sesampainya di rumah Vira, Nathan langsung tertawa tanpa sebab.
"Nath? kerasukan?" tanya Vira.
"Ngomong seenak jidat lu! Gua merasa lucu sama diri gua sendiri, gak tau apa-apa tentang makanan pinggir jalan." ucap Nathan.
"Makanya sekali-kali merakyat! Jangan jadi sultan terus." ucap Vira.
"Ya aku mana di bolehin makan makanan pinggir jalan sama Mama." ucap Nathan.
"Gak boleh? Maaf ya aku udah bawa kamu. Nanti kalau di marahin sama Mama kamu, bilang aja aku yang ajak ya." ucap Vira.
"Hahaha, Mama pasti langsung maafin gua kalau dengar nama lu." ucap Nathan. Vira tersenyum.
"Helm gua balikin dulu." ucap Nathan memimta helm yang di pakai Vira. Vira pun berusaha membuka helm, membuat Nathan kembali tertawa.
"Bukan cuman gua yang lucu. Lu juga lucu, masa buka pasang helm gak bisa." ucap Nathan membukakan helm yang di pakai Vira.
Deg deg deg
Tiba-tiba jantung Nathan merespon. Baru kali ini ia bersentuhan kulit dengan Vira dan jantungnya langsung merespon dengam detakan cepat.
Nathan pun memgambil helm yang di pakai Vira lalu pulang tanpa sepatah kata pun.
Misi kedua finish! Misi ketiga juga Finish. Lanjut misi Keempat. batin Vira.
•••
Detak jantung Nathan tidak kembali normal, padahal ia sudah jauh dari Vira.
Kok tumben jantung gua kayak gini? Apa gua punya penyakit jantung? kayaknya gua harus ke dokter spesialis. batin Nathan. Nathan melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata agar ia bisa cepat sampai kerumah lalu merebahkan dirinya.
Tak lama ia sampai di rumahnya. Nathan dengan cepat menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Melempar tas, dasi, dan sepatunya sembarangan.
Nathan kembali membersihkan apa yang ia lempar tadi. Ia tidak suka melihat barang berantakan.
Saat ingin melepaskan baju seragamnya, Nathan terkejut melihat kulitnya yang putih seperti kulit manusia pada umumnya berubah warna menjadi warna putih susu.
"Nathan bodoh!" ucap Nathan kesal. Ia lupa memakai hoodienya, membuat kulitnya terkena panas matahari. Kulit Nathan sensitif dengan panas matahari. Terkena sinar matahari lebih dari 10 menit, kulitnya akan memutih seperti warna susu. Semakin lama kulitnya menangkap panas matahari semakin putih pula kulitnya. Makanya, tidak sembarang orang bisa menyentuh kulit Nathan. Penyakit ini bernama Vitiligo
"Kak Nathan udah pulang?" tanya Auri. "Astagfirullah Vampir pucat!" teriak Auri.
"Vampir apa? ini kakak, Nathan Anggara! Lagian Vampir kan emang pucat." ucap Nathan. Ken dan Kinan yang mendengar teriakan Auri langsung datang ke kamarn Nathan.
"Kamu kena panas?" tanya Kinan.
"Lupa pakai hoodie Ma. Hoodienya malah Nathan letak di tas." ucap Nathan. Auri, Kinan dan Ken serentak menepuk jidat mereka.
"Besok kamu gak bakalan bisa sekolah." ucap Kinan.
"Rajin banget Nathan Ma, hari minggu pun sekolah." ucap Nathan.
"Besok hari Minggu ya?" tanya Kinan.
"Iya Ma, Papa kan hari sabtu pulang cepat. Masa mama lupa." ucap Nathan.
"Yaudah kamu baring dulu. Mama panggil dokter kulit." ucap Kinan. Nathan mengangguk. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Kelainannya ini membuat dia seperti Vampir.
Tak lama dokter kulit pun datang dan mengechek Nathan. Ia memberikan resep obat untuk mengembalikan lagi warna kulit Nathan.
"Gimana Dok?" tanya Kinan.
"Di bandingkan dengan kasus 6 tahun lalu, ini tidak terlalu parah. Rawat saja sesuai prosedur yang telah saya kasih dan jangan lupa minum obat untuk mengurangi warna putih pada kulit tuan muda." ucap Dokter. Kinan pun memgangguk mengerti. Dokter itu keluar dari kamar Nathan.
"Udah tau kulit kayak gitu, masih aja nekat pakai motor." ucap Ken.
"Ya iyalah Pa. Terus Nathan berangkat sekolah pakai apa? Jalan kaki? Kan mobil Nathan sama Papa." ucap Nathan.
"Eh iya, mobilnya Papa jual karna Papa kesal banger sama kamu." ucap Ken.
"Pa, papa jual? Itu ferrari pengeluaran terbaru Pa! baru aja 5 bulan lalu Nathan beli!" ucap Nathan.
"Oke pilih. Mau Ducati atau Lamborgini pengeluaran terbaru?" tanya Ken.
"Lamborgini Pa!" jawab Nathan.
"Besok sampai!" ucap Ken.
Yes! Sebenarnya gua pengen banget mobil Ducati. Tapi kalau di suruh pilih antara Lamborgini sama Ducati, udah pasti gua milih Lamborgini! batin Nathan.
Ducati gua akan beli lu juga. Tunggu aja! batin Nathan lagi.
•••Bersambung...
Penjelasan :
Vitiligo adalah penyakit yang menyebabkan warna kulit memudar
Vitiligo terjadi karena berkurangnya melanin secara lokal hanya di daerah kulit tertentu. Biasanya, perubahan warna muncul pertama kali pada daerah yang terpapar sinar matahari, seperti tangan, lengan, kaki, wajah dan bibir.