"Terkadang kita harus merelakan sesuatu hal bukan karena kita menyerah tapi mengerti bahwa ada hal yg tidak bisa dipaksakan."
Itulah yang dipikirkan Devinta Dwi Suseno saat mengetahui pria yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya ternyata kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya .
Namun setelah 5 tahun menghindar , takdir berkata lain . Ia kembali di pertemukan dengan Arnold Prayoga , pria yang paling tidak ingin Ia temui .
Bagaimana kelanjutan lika liku hubungan Devi dan Arnold ? Bisakah Devi keluar dari bayang bayang penghianatan Arnold di masa lalu ? Apakah kisah mereka akan berakhir bahagia bersama ?
" Sebab sepanjang kita berjalan, menghindar, berpura-pura tidak mengetahui atau apapun itu, kita akan tetap akan bertemu apa yang ditakdirkan untuk bertemu . "
"Karena pada waktunya, tanpa kau rencanakan pun, jodoh tak akan pernah tertukar."
( Inilah karya pertamaku , Karena Kamu Jodohku )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShasaVinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Serahkan Pada Takdir
Arnold POV
Sudah lima tahun Devi pergi meninggalkanku.
Sudah hampir lima tahun pula aku hidup dalam penyesalan terbesarku.
Tak pernah kulupa ucapan Daddy bahwa aku telah menukar berlian dengan sebiji jagung.
Kesalahan sama yang kuulangi lagi. Namun kini kesalahan itu tidak hanya menyakitiku. Tapi juga menyakiti orang- orang yang sayang dan cinta padaku.
Tak sekalipun pernah kusalahkan Devi karena telah pergi meninggalkanku.
Itu adalah pilihan yang tepat untuknya .
Wanita itu memang terlalu baik untukku.
Disaat awalnya Aku hanya ingin memanfaatkan dirinya, Ia bahkan menerimaku dengan tangan terbuka.
Disaat aku menghianatinya, Ia bahkan telah memberikan Cinta yang begitu besar untukku yang terlambat kusadari .
Lima tahun terakhir ini Aku hidup dengan semua penyesalan itu.
Jangan tanyakan kemana Angel, karena Aku tak ingin lagi mengingat orang yang membuatku jatuh berkali-kali seperti dia .
Bukannya aku seorang pengecut yang tidak pernah bisa meminta maaf pada Devi setelah semua yang kulakukan.
Namun aku seakan tidak diberi kesempatan untuk bertemu dengannya .
Jika ingin sebenarnya aku bisa saja mencari dan menemukannya.
Terakhir bahkan ku ketahui dari salah satu orangku, kini Devi berada di London.
Bahkan sahabatku sendiri yang mengantarnya ke bandara lima tahun lalu .
Berkali-kali ingin sekali aku berlari untuk segera mencari dan menemui Devi di London hanya untuk mendapatkan maaf darinya.
Namun Aku sudah terikat Janji pada Nanny bahwa Aku akan membiarkan Devi bahagia. Aku telah berjanji untuk tak mendekatinya lagi.
Selama lima tahun terakhir juga sudah beberapa kali kucoba untuk menjalin hubungan dengan wanita lain.
Namun hati dan pikiranku hanya menginginkan Devi.
Mommy juga merasa bersalah pada Devi karena saat itu Ia telah menyalahkannya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi .
Awalnya Mommy sangat marah padaku. Ia bahkan sempat mengusirku dari rumah.
Namun melihatku menjadi terpuruk setelah aku kembali tertipu oleh Angel membuat Mommy memaafkan atas perbuatanku pada Devy.
Bahkan Mommy beberapa kali mengenalkanku pada wanita lain pilihannya.
Namun semua tak ada yang bisa membuatku melupakan Devi.
Bahkan kini Mommy dengan sengaja menempatkan seorang wanita bernama Dasha yang merupakan teman masa kecilku sebagai sekertaris dengan harapan Dasha bisa mendekatiku dan membantuku melupakan Devi .
Namun semua usaha Mommy sepertinya sia-sia. Penyesalan, rasa bersalah, rasa Cinta yang baru kusadari pada Devi ternyata masih sangat besar walaupun lima tahun telah berlalu.
Membuatku tak bisa membuka hatiku pada wanita lain .
Siang ini seperti biasa jika tak ada jadwal meeting dengan klien, Aku akan makan siang bersama sahabat-sahabatku di cafe milik Willi.
Yah... walaupun aku dan willi sempat bersitegang setelah kepergian Devi, namun kini kami telah baik-baik saja.
Sesampaiku di Cafe Willi, kulihat Max duduk seorang diri di meja yang biasanya kami gunakan.
" Sendiri aja Lu ? " tanyaku pada Max .
" Iya.. Gue dari tempat Chelsea langsung kesini ", jawab Max.
Aku, Thomas, dan Dasha mengambil tempat duduk di meja yang sama dengan Max.
Sejak menjadi sekertarisku, Dasha selalu saja berusaha ingin dekat denganku.
Tak lain itu adalah salah satu perintah Mommy.
Aku biarkan saja selama sikap Dasha masih dalam tahap wajar.
Kehadiran Dasha juga lumayan untuk membantu mengusir wanita wanita penggoda lainnya yang seperti ingin memangsaku.
" Willi lagi nganter Stefi fitting baju pengantin. Tuh anak udah mau nikah tapi masih aja repotin abangnya ", Max memberitahu alasan ketidak hadiran Willi diantara kami .
Setelah menyantap makan siang . Kami melanjutkan mengobrol ringan , sampai aku ijin kepada yang lainnya untuk merokok diluar cafe Willi.
Dasha memiliki riwayat penyakit asma dan sangat sensitif terhadap asap rokok, itulah mengapa aku memilih keluar untuk merokok.
Walaupun tak memilik perasaan lebih padanya tapi Aku tetap peduli pada kesehatan Dasha .
Saat sedang menikmati rokokku, aku melihat ada sebuah mobil yang melintas masuk di area pertokoan, kemudian mobil itu memasuki halaman cafe Willi dan berhenti tepat didepan Cafe.
Saat melihat mobil itu Aku langsung tertarik untuk mengamatinya. Aku coba mengingat-ingat sepertinya Aku pernah melihat mobil ini. Tapi dimana pastinya aku tak ingat.
Setelah beberapa saat mobil itu berhenti tak ada seorangpun yang keluar dari dalamnya.
Jika diperhatikan dari siluet yang nampak dari mobil itu , sepertinya didalam mobil ada seorang wanita yang duduk di kursi kemudi dan seorang pria yang duduk di kursi penumpang tepat disampingnya .
Aku masih menikmati rokokku dengan pandangan terus mengarah kemobil yang sudah sejak tadi kuperhatikan.
Tak lama pintu mobil terbuka, dan aku terkejut melihat sosok Willi yang turun mobil itu .
Kulihat sebelum masuk kedalam cafe, Willi sempat berbalik sekali lagi dan melambaikan tangannya kearah mobil tadi.
Bahkan setelah mobil itu melaju meninggalkan halaman cafe Willi masih terus saja mengarahkan pandangannya kepada mobil itu.
Willi tidak menyadari kehadiranku karena memang posisiku saat ini terhalang oleh sebuah standing banner milik cafe Willi.
Setelah Willi masuk dan aku menghabiskan dua batang rokok, aku kembali masuk ke dalam cafe dan ku lihat Willi telah bergabung bersama kami.
" Wahh Willi nganterin Stefi fitting baju pengantin tapi malah dapat calon pengantin nih ", aku mulai menggoda Willi .
" Calon pengantin apaan ? " tanya Willi terlihat bingung .
Yang lainnya juga terlihat bingung.
" Gue lihat kok tadi. Lu tadi datang dianterin cewek kan ? " tanyaku .
" Lu tahu dari mana ", tanya Willi balik .
Tapi yang aneh karena wajah Willi terlihat sangat terkejut dan sedikit panik mendengar ucapanku .
" Gue lihat sendiri tadi. Lu turun dari mobil yang di dalamnya ada seorang wanita ", Aku menjelaskan apa yang kulihat .
" Lu juga lihat siapa wanita itu ? " tanya Willi lagi, masih dengan wajah terkejutnya.
Aku hanya menggeleng.
Dapat kulihat Willi menghembuskan nafas lega.
Seperti orang yang baru saja hampir ketahuan menyembunyikan sesuatu .
" Iya.. dia akan jadi calon pengantin. Tapi sayangnya bukan calon pengantin Gue . Mudah- mudahan aja nanti jadi calon Gue beneran ", Willi mulai bercanda .
Max, Thomas, dan Dasha tertawa mendengar lelucon Willi.
Tidak denganku yang semakin penasaran dengan wanita itu .
" Terus dia siapa Will ? Kenapa enggak lu ajak masuk kenalin ke kami ", tanya ku yang masih penasaran .
" Adalah... Lu gak kenal juga , dia orangnya sibuk jadi gak sempat mampir ", jawab Willi seperti menghindari pertanyaanku .
" Tapi kok Gue sepertinya kenal sama mobilnya yah... " gumamku yang tidak mendapat tanggapan dari siapapun.
Mereka berempat kini sedang sibuk berbincang perihal rencana Max yang ingin memberi kejutan ulang tahun pernikahan kepada Chelsea .
Disaat mereka tengah sibuk berbincang, Aku semakin memikirkan mobil tadi.
Tapi mengapa tiba-tiba saja pikiranku tertuju pada Devi.
" Ahhh tidak mungkin. Devi berada di London. Dan Aku yakin Willi tak akan membohongiku dua kali perihal keberadaan Devi. Tak mungkin Willi sengaja menyembunyikan keberadaan Devi lagi dariku " batinku .
Karena tiba-tiba mengingat Devi, aku jadi rindu padanya .
Aku ingat dulu beberapa kali kami berdua makan bersama di cafe Willi dan diakhiri dengan pertengkaran kecil karena aku yang cemburu melihat kedekatannya dengan Willi .
" Aku sudah pasrah. Kuserahkan semuanya pada takdir. Jika memang ditakdirkan, maka suatu saat kami berdua akan bertemu ", pikirku .
.
.
.
.
.
.
“*Aku merindumu seperti ini, seperti seekor kupu kupu yang terbang ke sana kemari, mencari kelopak bunga matahari, namun tak jua ditemui*.”
.
.
.
.
.
. To be continue .
Semoga Willi dapat rumah ya