Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XXX
Mereka pun duduk sambil menikmati teh hangat dan kue yang disajikan pelayan. Namun, Putri Yanxi sepertinya tidak ingin berlama-lama berbasa-basi. Ia menatap Luna dengan tatapan menyelidik, lalu beralih menatap adiknya.
"Haoran..." ucap Putri Yanxi memecah keheningan. "Wanita ini... bukankah dia gadis yang dulu pernah menculikmu?"
Mendengar pertanyaan itu, Pangeran Haoran yang baru saja hendak menyeruput teh langsung tersedak. Wajahnya memerah karena kaget dan panik. Ia segera menepuk-nepuk dadanya sendiri sambil menatap kakaknya dengan pandangan memohon agar berhenti bicara.
"Kakak!" tegur Pangeran Haoran cepat. "Apa yang Kakak katakan? Itu sudah berlalu dan tidak penting lagi. Luna sekarang adalah istriku. Tolong jangan ungkit masa lalu itu lagi."
Sementara itu, Luna hanya menatap Pangeran Haoran dengan wajah datar, tanpa menunjukkan ekspresi kaget atau marah sedikit pun, seolah hal itu memang benar dan ia sudah menerimanya.
Melihat reaksi adiknya yang begitu melindungi istrinya itu, Putri Yanxi hanya mengangkat tangannya. "Baiklah, baiklah. Aku tidak akan membicarakannya lagi. Kau ini sungguh, langsung marah saat aku mengatakannya."
Putri Yanxi kembali meneguk tehnya, lalu mengubah topik pembicaraan dengan nada yang sedikit menyindir.
"Aku juga dengar, kau sampai bertengkar hebat dengan Ayah hanya karena pernikahan ini, kan?" Ia melirik ke arah Luna sekilas, lalu kembali menatap Pangeran Haoran. "Dan yang paling tidak ku terima adalah... kau bahkan tidak datang menemuiku, apalagi mengirimkan undangan pernikahanmu. Lihatlah, Luna. Adikku ini memang tidak tau sopan santun. Betapa teganya dia tidak mengundang kakak kandungnya sendiri ke hari pernikahannya."
Mendengar keluhan kakaknya itu, Pangeran Haoran hanya bisa menggaruk belakang lehernya. Ia sadar dirinya memang salah. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera berlutut di dekat kursi Putri Yanxi, lalu dengan perlahan memijat kaki kakaknya itu sebagai tanda permintaan maaf.
"Maafkan aku, Kak. Saat itu pikiranku sedang kacau karena kesal dengan Ayah, sampai-sampai aku lupa memberitahu Kakak. Aku benar-benar minta maaf," ucap Pangeran Haoran sambil tersenyum memelas.
"Dasar kau ini..." gumam Putri Yanxi sambil memukul pelan kepala adiknya itu. Meski begitu, raut wajahnya terlihat lebih lega dan senang diperlakukan seperti itu. "Sudah, sudah. Jangan manja begini."
Kemudian, Putri Yanxi mengeluarkan beberapa kotak perhiasan yang indah dan memberikannya kepada Luna.
"Luna. Aku tidak membawa banyak hadiah, ini sedikit hadiah dariku untukmu, Terimalah."
"Terima kasih banyak, kak," ucap Luna menerimanya dengan senyum tulus.
Pangeran Haoran segera menuangkan teh kembali ke cangkir kakaknya. "Kak, minumlah dulu."
Putri Yanxi menarik napasnya pelan, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menatap adiknya dengan serius.
"Haoran, kau tahu kapan Putra Mahkota Hao Yu akan kembali ke istana?"
Pangeran Haoran menggelengkan kepalanya. "Kak Hao Yu sudah cukup lama bertugas di perbatasan. Sepertinya dia betah sekali di sana. Kurasa dia tidak berniat kembali dalam waktu dekat ini," jawabnya sambil tertawa pelan.
Mendengar jawaban itu, Putri Yanxi mengerutkan keningnya, tampak kecewa dan cemas. Melihat perubahan ekspresi kakaknya, Pangeran Haoran bertanya heran.
"Ada apa, Kak? Kenapa wajahmu terlihat begitu cemas?"
Putri Yanxi menghela napas panjang, lalu menatap mereka berdua dengan ragu sebelum akhirnya bicara.
"Sebenarnya... aku ingin membicarakan sesuatu dengan Kak Hao Yu. Aku berniat untuk menikah."
"HAH?!" Pangeran Haoran langsung kaget. Matanya membesar menatap kakaknya tak percaya. "Menikah? Siapa pria yang berani menikahi singa betina sepertimu, Kak?"
Belum sempat Putri Yanxi marah karena ejekan itu, Pangeran Haoran menyadari ekspresi wajah kakaknya yang benar-benar serius dan penuh kekhawatiran. Tawa Pangeran Haoran pun seketika terhenti.
"Maaf, Kak. Aku bercanda," ucap Pangeran Haoran pelan. "Tapi kenapa kau harus menunggu Kak Hao Yu? Jika kau ingin menikah, bukankah seharusnya kau meminta izin langsung kepada Ayah dan Ibu? Bukan dengan Kak Hao Yu."
"Masalahnya tidak semudah itu, Haoran," jawab Putri Yanxi dengan nada berat. "Pria yang ingin kunikahi ini bukanlah orang dari kalangan bangsawan seperti kita. Dia hanyalah seorang tabib, namanya Zhang Jun. Aku takut Ayah tidak akan pernah memberikan restu kepada kami karena perbedaan status ini. Itulah sebabnya aku ingin berbicara dengan Kak Hao Yu terlebih dahulu. Ayah sangat menyayangi dan menghormatinya. Jika Kak Hao Yu yang membujuk, mungkin Ayah mau mendengarkannya."
Pangeran Haoran mengerti kekhawatiran kakaknya. Ia menatap kakaknya itu. "Kak, menurutku kau sebaiknya yang berbicara sendiri pada Ayah. Kau adalah putri kesayangan Ayah. Jelaskan semuanya dengan jujur. Aku yakin Ayah pasti akan mengerti perasaanmu."
Pangeran Haoran kemudian menunjuk dirinya sendiri dan Luna yang duduk di sampingnya.
"Lihatlah kami. Awalnya kami juga tidak mendapatkan restu Ayah, bahkan dia sangat menentang. Tapi pada akhirnya, saat dia melihat ketulusan kami, dia datang sendiri dan memberikan restunya. Ayah memang keras dan tegas kak, tapi di dalam hatinya dia sangat menyayangi kita. Dia hanya ingin kita bahagia."
Putri Yanxi menarik napas panjang lagi dan menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan pikirannya. "Aku tahu... tapi aku tetap merasa ragu."
Saat suasana hening, tiba-tiba Luna yang sedari tadi hanya mendengarkan, angkat bicara dengan suara lembut namun tegas.
"Maaf jika aku lancang, kak... Tapi bolehkah aku bertanya satu hal?"
"Tentu saja, tanyakanlah," jawab Putri Yanxi menoleh padanya.
"Apakah kakak sangat mencintai pria itu? Apakah dia juga sangat mencintai kakak?" tanya Luna menatap tajam ke dalam mata Putri Yanxi.
Mendengar pertanyaan itu, mata Putri Yanxi membesar. Wajahnya yang tadi ragu kini berubah menjadi tegas.
"Tentu saja! Aku sangat mencintainya, dan dia juga mencintaiku." jawab Putri Yanxi tanpa ragu sedikit pun.
Luna tersenyum tipis, seolah-olah sudah menemukan jawabannya. "Kalau begitu, jika kalian saling mencintai, kalian harus datang berdua menghadap Kaisar. Hadapilah bersama-sama."
"Tidak bisa," tolak Putri Yanxi cepat. "Jika aku membawanya, Ayah mungkin akan semakin marah dan mengusir kami berdua. Aku takut keselamatan Zhang Jun mungkin akan terancam."
Pangeran Haoran kembali menyela dengan nada meyakinkan. "Kak, dengarkan kata Luna. Justru dengan datang berdua, Ayah akan melihat keseriusan kalian. Kalian harus berani menghadap Ayah dan Ibu untuk meminta izin. Biarkan masalah apa pun yang terjadi setelahnya kita hadapi bersama. Yang terpenting adalah kalian berjuang demi cinta kalian."
Putri Yanxi terdiam, memikirkan saran itu. Perlahan, keteguhan mulai tumbuh kembali di hatinya. Akhirnya, ia mengangguk pelan.
"Baiklah... Aku akan mencobanya. Aku akan membawanya menghadap Ayah dan Ibu. Apa pun hasilnya nanti, setidaknya kami sudah berusaha memperjuangkan perasaan kami," ucap Putri Yanxi dengan penuh keyakinan sambil tersenyum.
Putri Yanxi segera bersiap untuk berpamitan. Sebelum melangkah pergi, ia mendekati Luna dan memeluk adik iparnya itu dengan hangat.
"Kau dan kakakmu harus datang ke pernikahanku nanti, ya," ucapnya sambil tersenyum lebar, lalu berbalik melangkah pergi.
Melihat kakaknya yang berjalan begitu saja, Pangeran Haoran segera berteriak memanggilnya, "Kak! Apakah kau tidak mengundangku juga!"
Namun, Putri Yanxi hanya melambaikan tangan tanpa menoleh sedikit pun, ia meninggalkan Pangeran Haoran yang hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. Putri Yanxi segera menuju rumah Zhang Jun, langkahnya penuh semangat dengan tekad yang bulat.
Di Rumah Zhang Jun
Di rumahnya, Pemuda itu sedang sibuk menyiapkan dan meracik berbagai jenis obat-obatan. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang cukup cepat dari luar.
"Sebentar!" seru Zhang Jun dari dalam. Ia segera mencuci tangan dan berjalan membukakan pintu.
Baru saja pintu terbuka sedikit, sosok Putri Yanxi langsung menerobos masuk dan memeluknya erat-erat seolah takut kehilangannya. Zhang Jun terkejut, namun dengan sigap ia membawa Putri Yanxi masuk sepenuhnya dan menutup pintu kembali agar tidak menarik perhatian orang luar.
Zhang Jun berusaha melepaskan pelukan itu perlahan, namun Putri Yanxi justru mempererat pelukannya.
"Tunggu sebentar... Jangan lepaskan dulu. Biarkan aku memelukmu lebih lama lagi," ucap Putri Yanxi dengan suara yang terdengar lega dan penuh perasaan.
Mendengar permintaan itu, Zhang Jun pun luluh. Ia kembali membalas pelukan hangat itu, membiarkan mereka berdua berdiri dalam keheningan yang penuh kasih sayang yang cukup lama itu.
Setelah hatinya tenang, barulah Putri Yanxi melepaskan pelukannya. Ia menatap Zhang Jun dengan tatapan yang sangat serius.
"Jun, kita harus pergi sekarang. Kita akan menemui Ayah dan Ibu di istana. Kita akan meminta izin dan restu mereka secara langsung," ucapnya tegas.
Zhang Jun tertegun sejenak, matanya mengerut tanda heran sekaligus ragu.
"Kau yakin, Yanxi? Kau benar-benar ingin membawaku bersamamu menghadap Kaisar dan Permaisuri?" tanyanya memastikan.
"Tentu saja aku yakin," jawab Putri Yanxi tanpa keraguan sedikit pun. "Kita akan memohon restu mereka bersama-sama. Aku yakin kali ini aku pasti bisa meyakinkan Ayah."
Melihat keteguhan hati wanita yang dicintainya itu, senyum percaya diri pun terukir di wajah Zhang Jun.
"Baiklah. Jika itu keinginanmu, kita akan pergi bersama. Kapan kita akan pergi?" tanyanya.
"Sekarang," jawab Putri Yanxi singkat namun tegas.
"Sekarang juga?" Zhang Jun memastikan kembali, takut salah dengar.
"Iya, sekarang. Bersiaplah, kita akan pergi hari ini juga," perintah Putri Yanxi antusias.
Tanpa membuang waktu, Zhang Jun segera membersihkan diri dan mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya. Tak lama kemudian, ia kembali menghadap Putri Yanxi.
"Ayo kita pergi," ucap Zhang Jun sambil mengulurkan tangannya.
Mereka pun berangkat menuju istana dengan hati yang berdebar namun penuh harapan. Sesampainya di sana, mereka berjalan beriringan menuju aula utama tempat Kaisar biasa bekerja.
Sebelum melangkah masuk, Putri Yanxi berhenti sejenak. Ia mengulurkan tangannya, merapikan baju Zhang Jun agar terlihat rapi dan sopan di hadapan ayahnya.
"Sudah, kau terlihat sangat tampan," bisik Yanxi sambil tersenyum. Ia lalu menggenggam tangan Zhang Jun erat, saling menguatkan, sebelum melangkah masuk aula bersama untuk menghadap Kaisar.