Pertemuan yang tak pernah mereka rencanakan, tapi justru takdir membawanya semakin dekat. Hingga mereka benar-benar yakin bahwa cinta itu hadir. Tapi ternyata tak cukup hanya Cinta, tapi juga ada perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????" bentuknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demi Putri Kecil
"Joni, ini tolong dirapikan lagi ya."
Pemilik toko itu sedang berdiri di salah satu lorong. Ia sibuk memantau dan memastikan kerapian posisi dari masing-masing jenis buku.
"Astaga, ini harusnya tak disini." Dia memperhatikan susunan rak di depannya, memastikan semuanya tertata rapi dan mudah dijangkau pelanggan.
"Permisi, Pak....." Seorang karyawan datang menghampirinya.
"Iya? Sebentar." Dia meletakkan terlebih dahulu buku yang sedang dipegangnya tadi.
"Ada supplier yang ingin bertemu, Pak."
"Supplier?" pemilik toko buku itu atau dapat disebut sebagai Owner sedikit heran mendengarnya. Dia sebelumnya belum ada buat janji akan hal itu.
"Iya, Pak." Karyawan itu mengangguk sopan.
"Beliau sudah menunggu."
"Baik, saya akan ke sana. Terimakasih dan silahkan kembali bekerja." Dia berjalan ke arah meja kasir di depan. Dari kejauhan terlihat seorang pria berpakaian rapi sedang menunggu sambil membawa map hitam di tangannya.
Suplier itu langsung berdiri saat melihat owner itu berjalan mendekat. Senyum ramah terukir di wajahnya. Ia segera mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi," balas Owner itu sambil membalas jabat tangannya.
Supplier itu tampak cukup percaya diri. Sebelumnya ia pernah menerima kartu nama Owner itu saat sebuah pameran buku beberapa bulan lalu. Dari kartu nama dan beberapa informasi yang sempat ia cari, ia sudah mengenal sedikit sosok yang kini berdiri di hadapannya.
"Senang akhirnya bisa bertemu langsung, Pak Ryan" katanya.
Ryan membalas dengan mengangguk hormat dan senyum ramah.
"Mari kita bahas di ruangan saya saja, Pak." ajak Ryan. Keduanya berjalan menuju ruang kerja utama Ryan.
"Silahkan, Pak." Ryan mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Begini, Pak. Perusahaan kami sedang memperluas kerja sama dengan beberapa toko buku independen." Suplier itu langsung berbicara dengan membuka map yang dibawanya, beberapa lembar katalog dikeluarkannya.
"Kami melihat toko buku Anda memiliki perkembangan yang cukup baik, terutama untuk kategori novel, buku pengembangan diri, dan buku anak." Ia menggeser sebuah katalog ke arah Ryan.
Ryan memperhatikan katalog itu sambil mengangguk. "Lalu bentuk kerja samanya seperti apa?"
"Kami ingin menjadikan toko ini sebagai salah satu mitra distribusi utama untuk beberapa judul baru yang akan terbit dalam beberapa bulan ke depan."
Ryan benar-benar fokus mendengarkan penjelasan itu.
"Artinya, toko Anda akan mendapatkan akses lebih awal terhadap buku baru dari penerbit yang bekerja sama dengan kami." lanjut supplier itu membuka halaman lain.
Ryan tampak tertarik dengan penjelasan itu.
"Apa keuntungan bagi toko?"
"Selain prioritas stok, kami juga menawarkan harga khusus untuk mitra. Margin keuntungannya akan lebih baik dibandingkan pemesanan reguler."
Ryan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dia harus memastikan dengan jelas segala sesuatunya sebelum ingin bekerja sama.
"Bagaimana dengan risiko jika bukunya kurang diminati?"
Supplier itu tersenyum, seolah menduga pertanyaan itu.
"Untuk beberapa judul tertentu, kami menyediakan sistem return dalam jangka waktu yang disepakati."
"Itu artinya buku itu bisa dikembalikan?"
"Dengan syarat dan ketentuan tertentu, bisa Pak." jawab supplier itu cepat.
Suasana diskusi mereka menjadi semakin serius.
"Kami percaya kerja sama ini bisa menguntungkan kedua belah pihak," ujar supplier itu.
Ryan menutup katalog yang sejak tadi dibacanya.
"Tawaran yang cukup menarik."pujinya.
"Kami senang mendengarnya." Supplier itu langsung tersenyum lebar.
"Tapi saya tetap perlu mempelajari proposalnya lebih dulu sebelum mengambil keputusan."
"Tentu, Pak. Kami juga lebih nyaman jika keputusan diambil setelah pertimbangan yang matang."
Jawaban itu membuat Ryan mengangguk puas. Orang itu terlihat cukup profesional dengan pekerjaannya.
"Ini, Pak. Kartu nama saya. Bapak bisa hubungi saya jika sudah siap dengan pembahasan yang lebih rinci lagi mengenai peluang kerja sama kita."
Ryan menerima kartu itu dan mengantarkan supplier itu sampai ke depan ruangannya.
Ryan kembali masuk ke ruangannya untuk memeriksa ketersediaan buku di tokonya. Saat ini, tokonya memang sedang bekerja sama dengan beberapa supplier juga.
Ryan mengamati data stok buku di layar.
"Minggu ini buku yang masuk dari supplier ini tidak ada......" gumamnya sambil menandai di catatannya.
Papa Ada telpon..... Papa Ada telpon
Nada dering itu terdengar tepat di depan Ryan. Dari nada dering itu saja sudah memberitahu siapa yang sedang menelponnya.
Ryan dengan cepat meletakkan berkas yang sedang diperiksa tadi dan langsung melangkah sedikit ke arah jendela.
"Halo, Nak?" sapanya lembut sambil melambaikan tangannya saat video call itu terangkat.
"Papa, aku sudah pulang sekolah...." Lapor putrinya.
"Bagus....." Ryan tersenyum. "Sudah makan siang?"
"Belum. Ini kan Fiska baru sampai. Oh iya, Pa, jangan lupa hari ini jadwalku ke dokter gigi."
Ryan seketika teringat. Ia melirik kalender kecil di mejanya yang memang sudah diberi tanda sejak minggu lalu.
"Iya.... Papa ingat. Jam empat kan, Nak?" ucap Ryan pura-pura. Padahal sebenarnya dia sendiri lupa akan hari ini. Tapi supaya putri kecil tetap ceria ia akan melakukan apapun itu.
"Iya, Pa."
"Oke. Papa masih di toko. Nanti sebelum jam empat, Papa akan jemput Fiska."
"Okey, Papa." jawab putrinya, memberikan hp itu pada susternya.
"Sus, jangan lupa dikasih makan siang dulu." ucap Ryan pada pengasuh Fiska. Selama ia bekerja di toko, Ryan mempercayakan Fiska pada suster itu. Mulai dari mengurus jadwal makannya, perlengkapan ke sekolah, hingga menemani bermain sampai Ryan pulang.
Ryan menepuk dahinya pelan setres menutup telepon dari putrinya.
"Astaga....., bisa-bisanya aku lupa," gumamnya.
Ryan segera meraih hpnya dan menghubungi Frans, salah satu karyawan yang paling ia percayai selama ini. Bisa dikatakan Frans sebagai asisten sekaligus manager di Lentera Kata.
"Frans, bisa ke ruangan saya sebentar?"
"Tentu, Pak." jawab Frans dari seberang.
Tak lama, terdengar ketukan di pintu. Frans masuk sambil membawa sebuah buku catatan kecil.
"Duduk dulu, Frans." tunjuk Ryan ke kursi di depannya.
"Terimakasih, Pak."
"Sesuai jadwal kerja kita kemarin, sore ini sebenarnya saya ikut memantau pengiriman dan pengecekan stok di gudang, tapi ternyata sore ini saya ada urusan penting. Jadi saya tidak bisa ikut."
Frans memperhatikan setiap kalimat itu dengan teliti.
"Ada keperluan mendadak yang bisa saya bantu, Pak?"
Ryan tersenyum tipis. Dia tak salah memilih Frans jadi tangan kanannya. Dia orang yang sangat peduli dan lihai dalam pekerjaannya.
"Bukan soal pekerjaan. Jadi saya minta tolong kamu yang mewakili saya ke gudang. Periksa semua jumlah buku baru yang masuk, cocokkan dengan data pengiriman, lalu laporkan hasilnya kepada saya malam ini."
"Baik, Pak. Saya akan periksa semuanya dengan teliti."
Ryan mengambil sebuah map dari mejanya lalu menyerahkannya kepada Frans.
"Di dalam sini ada daftar judul buku yang harus diperhatikan. Beberapa stok mulai menipis, jadi sekalian cek apakah jumlahnya masih sesuai dengan catatan."
"Siap, pak Ryan. Saya akan kirimkan laporan lengkapnya." Frans menerima map itu.
"Saya percaya sama kamu, Frans." Ryan memuji kerja Frans karna memang dia pantas menerima hal itu selama ini.
Mendengar itu, Frans tersenyum kecil. "Terimakasih, Pak. Saya akan usahakan semuanya berjalan lancar."