Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debut Sosial
Deretan kendaraan hitam berhenti di depan panti jompo St. Marianne tepat saat halaman mulai dipenuhi wartawan dan relawan.
Para pelayan rombongan kerajaan segera menurunkan kotak-kotak makanan dari kendaraan belakang, sementara petugas yayasan sibuk membuka jalur masuk di tengah keramaian kamera.
Pintu kendaraan utama terbuka lebih dulu.
Noah turun tanpa tergesa.
Mantel hitam panjang yang dikenakannya langsung menarik perhatian para wartawan di barisan depan. Pin keemasan lambang kerajaan tersemat di kerah kirinya.
“Yang Mulia, ke sini!”
Kilatan kamera mulai menyambar dari berbagai arah.
Namun perhatian mereka segera beralih ketika Lilly muncul beberapa detik setelahnya.
Gaun merah muda lembut yang dikenakannya terlihat sederhana dibanding para wanita bangsawan yang biasa menghadiri acara seperti ini. Rambutnya ditata setengah terikat, membuat penampilannya tampak lebih ringan di tengah suasana formal halaman depan.
“Lady Lillyane!”
“Apakah semua makanan hari ini berasal dari pihak istana?”
Lilly baru saja hendak menjawab ketika salah satu pelayan hampir kehilangan keseimbangan saat membawa kotak besar dari kendaraan belakang.
“Pelan-pelan.”
Pelayan itu langsung membungkuk gugup. “Maaf, Lady Lillyane.”
Lilly mendekat untuk memastikan kotak tersebut tidak jatuh sebelum menghela napas lega.
Noah melirik sekilas ke arah tumpukan kotak makanan.
“Aku rasa jumlahnya terlalu banyak untuk sebuah panti jompo.”
“Tidak hanya untuk penghuni di sini,” jawab Lilly sambil menunjuk beberapa kotak lain yang telah diberi tanda. “Sisanya akan dibagikan untuk relawan dan siapa pun yang datang hari ini.”
Beberapa wartawan saling pandang sesaat me dengar ucapan itu. .ereka tampak tidak yakin untuk mencatatnya.
Debut sosial yang dinantikan publik.
Dan berbeda dari rumor yang selama ini beredar, keduanya justru tampak cukup nyaman berada di sisi satu sama lain.
Sudut bibir Noah terangkat samar.
Kilatan kamera langsung terdengar lebih ramai.
Di sisi lain halaman, beberapa kendaraan lain mulai berhenti tidak jauh dari pintu utama.
Nuansa rombongan yang datang kali ini jauh lebih formal.
Para pria berpakaian jas gelap turun satu per satu dengan pin lambang Dewan Barat terpasang rapi di dada mereka.
Albert muncul terakhir.
Matanya sempat berhenti pada tumpukan kotak makanan di depan panti sebelum beralih pada Lilly.
Mereka saling memberi senyum formal.
“Apakah semuanya berasal dari mansion Putra Mahkota?”
“Tentu,” jawab Lilly. “Kami menyiapkannya.”
“Anda membuatnya sendiri, Lady?”
“Saya hanya membantu.”
“Lady terlalu serius.”
“Segala sesuatu harus dilakukan sepenuh hati, Tuan.”
Lilly menoleh ke arah bangunan panti di belakang mereka.
“Terutama untuk sesuatu yang berkaitan dengan amal.”
Bibirnya terangkat tipis.
“Kurasa mereka sudah menunggu.”
Albert tidak segera menjawab.
Gadis itu tidak lagi berbicara seperti seseorang yang sedang berusaha bertahan.
Salah satu anggota Dewan Barat kemudian melangkah mendekat.
“Silakan lebih dulu, Yang Mulia. Acara akan segera dimulai.”
Dan untuk sementara, percakapan itu pun berakhir.
Begitu pintu utama panti jompo terbuka, suasana hangat langsung menyambut dari dalam.
Aroma teh memenuhi udara. Para relawan sibuk menata meja panjang di tengah ruangan, sementara para lansia telah menunggu di dekat jendela besar yang menghadap taman.
Namun saat Noah dan Lilly masuk bersama rombongan kerajaan, formalitas segera terbentuk dengan sendirinya.
Para sponsor tersenyum lebih rapi.
Beberapa anggota Dewan Barat mulai berbicara dengan nada yang dibuat ramah.
Para wartawan bergerak mencari sudut terbaik.
Potret sempurna kegiatan amal.
Lilly memperhatikan ruangan sejenak sebelum melihat seorang nenek tua di dekat jendela tampak kesulitan meraih cangkir tehnya.
Tanpa banyak bicara, ia keluar dari susunan foto utama dan berjalan mendekat.
“Pelan-pelan.”
Lilly membantu mengangkat cangkir itu sebelum meletakkannya kembali ke tangan sang nenek.
Beberapa kamera langsung beralih mengikuti gerakannya.
Namun kali ini, yang tertangkap bukan pose resmi.
Hanya bantuan kecil yang tampak alami.
Noah, yang sejak tadi berdiri di tengah rombongan sponsor, akhirnya ikut mendekati area para lansia.
Seorang kakek tua memanggilnya terlalu akrab hingga salah satu pengawal tampak menegang, tetapi Noah hanya duduk di sisi meja sambil membantu membagikan minuman hangat.
Tawa kecil terdengar di beberapa sudut ruangan.
Para lansia tampak menikmati suasana santai itu—sesuatu yang justru membuat beberapa pejabat dan wartawan saling bertukar pandang.
“Lady Lillyane sangat cantik,” ujar seorang nenek sambil menggenggam tangan Lilly. “Dan Anda terlihat serasi dengan Yang Mulia.”
Lilly tersenyum mendengar itu.
“Saya harap kalian membawa arah yang baik untuk kerajaan ini.”
Ucapan tersebut membuat Noah menoleh singkat ke arah mereka sebelum kembali menuangkan teh ke cangkir di depannya.
Beberapa saat kemudian, para relawan mulai membagikan dessert yang dibawa dari mansion.
Tart cherry kecil ditata rapi di atas meja dekat jendela, aroma butter pastry dan vanila memenuhi ruangan.
“Oh, ini cantik sekali…”
“Sudah lama aku tidak makan dessert seperti ini.”
Lilly ikut membantu membagikannya satu per satu. Ia membungkuk agar seorang nenek lebih mudah mengambil piring kecil dari tangannya.
Noah melihat Lilly merapikan selimut seorang pria tua sebelum menyerahkan tart cherry ke tangannya.
“Silakan.”
Pria tua itu menerimanya, lalu mencicipinya perlahan.
“…Ah.”
Lilly sedikit memiringkan kepala. “Apakah rasanya tidak cocok?”
Pria itu menggeleng.
“Tidak. Hanya saja… sudah lama sekali aku tidak merasakan rasa seperti ini.”
Pria itu menatap tart kecil di tangannya cukup lama sebelum tersenyum samar.
“Ini seperti kue dari wilayah selatan.”
Suasana di sekitar meja perlahan mengecil.
Albert, yang sedang berbicara dengan salah satu sponsor, ikut menoleh ke arah pria tua tersebut.
“Dulu orang-orang di selatan sering membuat rasa seperti ini saat musim gugur,” lanjutnya pelan. “Siapa yang mengajarimu membuat ini, Nona?”
“Ibu saya.”
Jawaban itu keluar tanpa ragu.
Pria tua itu mengangguk pelan.
“Ibumu pasti pandai di dapur.”
Lilly terkekeh kecil.
“Ibuku pandai dalam segala hal.”
Tak lama kemudian, beberapa relawan dan wartawan turut mencicipi dessert yang dibagikan.
“Rasa cherry-nya lembut sekali.”
“Tidak terlalu manis.”
“Saya mulai mengerti kenapa Lady membawa sebanyak ini,” celetuk salah satu sponsor Dewan Barat sambil tertawa.
“Kalau semua resep biasa terasa seperti ini, dapur kerajaan harus belajar ulang.”
Tawa ringan langsung menyebar di sekitar meja.
Kamera yang sebelumnya sibuk mencari pose resmi kini mulai mengarah pada momen-momen kecil yang tidak direncanakan:
Lilly menuangkan teh.
Noah duduk di tengah para lansia.
Tangan renta yang menggenggam piring tart cherry.
Di sisi ruangan, Albert menyadari kamera para wartawan kini lebih sering mengarah pada Lilly dibanding sponsor utama acara.
Awalnya semua berjalan sesuai susunan yang telah dipersiapkan Dewan Barat.
Foto bersama sponsor.
Percakapan formal.
Dokumentasi resmi untuk media kerajaan.
Cukup rapi untuk menjaga citra seluruh pihak yang hadir.
Namun perlahan, kendali acara mulai bergeser.
Lensa kamera terus mengikuti Lilly—
saat gadis itu membantu para lansia,
tertawa bersama mereka,
atau sekadar berdiri di dekat meja dessert sambil menuangkan teh.
Tidak ada pose resmi di sana.
Dan itulah yang mulai mengganggu.
Karena momen-momen kecil yang tidak direncanakan terasa jauh lebih nyata dibanding seluruh susunan acara yang telah dipersiapkan sejak awal.
“Kita mungkin perlu mengubah susunan dokumentasi utama,” ujar salah satu anggota Dewan Barat pelan.
Albert tetap diam.
Di sisi lain ruangan, Noah duduk di tengah para lansia sambil mendengarkan cerita seorang pria tua dengan ekspresi yang jauh lebih santai dibanding biasanya.
Sementara beberapa wartawan masih mengerumuni Lilly di dekat jendela, meminta foto tambahan.
Tanpa benar-benar disadari siapa pun, pusat acara telah bergeser.
Bukan lagi pada sponsor utama.
Bukan pada Dewan Barat.
Melainkan pada calon Putri Mahkota yang bahkan tidak terlihat sedang berusaha menarik perhatian.
“Saya rasa publik akan sangat menyukai Lady Lillyane.”
Ucapan itu terdengar ringan.
Namun Albert memahami implikasinya lebih cepat dibanding yang lain.
Popularitas.
Pengaruh publik.
Dan simpati rakyat.
Hal-hal yang sering kali bergerak lebih cepat daripada kekuasaan politik itu sendiri.