Lana, freshgraduated dari salah satu kampus kecil di pinggir kota akhirnya diterima kerja di sebuah perusahaan ternama di kota besar. Itulah awal mula Lana bertemu dengan Cleo, CEO muda pemilik perusahaan tersebut.
Sayangnya, keberuntungan berjalan berdampingan dengan nasib buruk.
Cloe yang selalu bersikap arogan dan dingin merasa tertarik pada Lana. Perlahan Lana mulai mengetahui rahasia besar yang bersembunyi dibalik sosok yang dingin itu. Begitu semuanya terungkap, Lana tak tahu lagi harus berlari ke mana. Karena pria itu selalu bisa menemukannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika SR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 25 : Aku Tak Sanggup Melihatmu Terluka (Lagi)
My Psychopaths Ceo
Bagian 25 : Aku Tak Sanggup Melihatmu Terluka (Lagi)
By Ika SR
Cleo sudah selesai berbenah. Ia menyemprotkan parfum yang diberikan Lana padanya ke sekujur tubuh dan menghirup aromanya dalam-dalam.
Cleo tersenyum puas, ini sama persis dengan aroma ibunya dulu. Tapi, ada yang terasa aneh. Kenapa badannya terasa gatal dan tidak nyaman setelah selesai makan tadi. Seingatnya, ia tidak melanggar pantangan makannya. Ia hanya makan kangkung dan sambal.
Tidak ada ebi di dalamnya. Tapi, kenapa sepertinya alerginya kambuh. Ia merasa sedikit sesak nafas. Tapi, ya sudahlah. Mungkin ia hanya butuh istirahat.
Cleo memandang jam dinding. Sudah pukul 17:19.
Lana mungkin sekarang sudah menunggunya. Cleo ingin segera menemui gadis itu. Ia bergegas pergi keluar dan menyalakan mobil. Tangannya menggenggam ponsel milik Lana. Tadi, sewaktu pulang ia tidak sengaja salah mengambil ponsel. Yang diambilnya adalah ponsel milik Lana yang warnanya hampir serupa dengan miliknya.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hati Cleo. Nampaknya ada sesuatu yang tidak beres. Cleo semakin mempercepat laju mobil yang dikemudikannya.
***
“Pertemukan aku dengan Cleo!”
“Diam!!!” bentak Lana. “Jangan ikut campur!!!” bentak Lana. Teriakan Lana menyulut emosi Reno.
Plak!
Tanpa berfikir panjang. Reno menampar pipi Lana dengan kencang, membuat gadis itu semakin terisak.
Reno yang baru menyadari perbuatannya, bergerak maju. Tapi, Lana terlihat takut padanya. Hal itu langsung mengurungkan niat Reno untuk merangkul gadis itu.
“Lana, maafkan aku. Aku tidak bermaksud berbuat kasar padamu. Aku hanya ... argh!”
Sebuah ketukan di pintu terdengar, mengalihkan perhatian keduanya. Lana merasa sedikit tersentak. Ia menoleh ke dinding. Sudah pukul 17:30 tepat. Itu pasti Cleo.
Pria itu adalah pria yang tepat waktu. Jika, dia mengatakan akan datang pukul 17:30, maka Cleo tidak akan pernah terlambat. Namun, sayangnya ini bukan saat yang tepat bagi Cleo untuk muncul.
“Siapa itu? Apakah itu Cleo?” tanya Reno.
Lana menggeleng dengan cepat. Ia masih memegang sudut bibirnya yang berdarah dan memar dengan sebelah tangannya. Sayangnya, ekspresi wajah Lana terbaca dengan jelas.
Reno melangkahkan kakinya menuju pintu. Tapi, Lana mencegahnya. Ia menarik tangan Reno dan memohon agar pria itu tak menghampiri Cleo.
“Reno! Kumohon jangan!” pinta Lana. Tapi, pria itu tak menghiraukannya.
Cleo menunggu dengan tidak sabar dari balik pintu. Nampaknya, ada yang tidak beres.
Tidak biasanya Lana lama membuka pintu. Cleo memutar gagang pintu. Tidak dikunci.
Cleo membuka pintu dan melihat Lana yang sedang menangis berusaha menahan pria yang sama sekali tak ia kenal.
Cleo mengepalkan kedua tangannya. Menahan amarahnya. Tidak ada yang boleh menyakiti wanitanya.
Lana menggeleng pada Cleo. Memberi isyarat agar Cleo menjauh, sebuah hal yang tentunya tak akan pernah dilakukan Cleo.
Reno mengibaskan tangannya, membuat Lana hampir jatuh terjengkang hal itu semakin membuat Cleo tidak terima.
Cleo dan Reno saling beradu pandang.
Sorot mata Reno menampakkan kobaran amarah yang luar biasa. Karena ia adalah seorang detektif yang terlatih, Reno tentunya mahir dalam ilmu seni bela diri.
Dengan cepat ia meninju Cleo, tepat di bagian lukanya. Untungnya, Cleo berhasil menghindar. Lana menjerit melihat perkelahian mereka.
Cleo dan Reno saling serang. Bergantian memukul.
Badan Cleo terasa semakin panas, ia semakin kesulitan bernafas. Ada apa ini?
Karena kehilangan fokusnya, Cleo menjadi lengah hingga Reno berhasil menendang perutnya dan membuat Cleo membentur pintu di belakangnya.
Lana yang melihat hal itu menahan kedua kaki Reno. “Reno, hentikan. Jangan lakukan hal itu. Hentikan!” ucapnya di sela-sela isak tangisnya.
Cleo mencoba bangkit berdiri. Lukanya terasa sakit dan perih. Jahitannya mungkin terbuka lagi akibat tendangan Reno. Cleo berdiri sambil memegang perutnya.
Dibanding rasa sakitnya. Cleo merasa lebih marah lagi melihat Lana memohon sambil memegang kaki Reno.
Ia maju menerjang Reno, menghajar pria itu dengan sekuat tenaga. Menjatuhkan Reno, menindihnya dan memukulnya berulang hingga kedua sudut bibir Reno berdarah.
Reno yang perasaannya berkecamuk. Tidak sanggup melawan amukan Cleo. Ia hanya bisa berbaring tak berdaya menunggu Cleo puas dengan pukulan yang pria itu layangkan.
Cleo baru berhenti begitu Lana memeluknya dari belakang. “Hentikan, Cleo. Jangan diteruskan,” pinta Lana dengan Lirih.
Cleo mengepalkan tinjunya yang terangkat di udara. Ingin sekali rasanya ia langsung membunuh pria di hadapannya. Tapi, ia juga tak kuasa menolak permintaan Lana.
Cleo bangkit berdiri. Melepaskan pelukan Lana. “Kau tak apa-apa?” tanyanya.
Lana mengangguk. “Bibirmu berdarah,” ucap Cleo dengan lembut.
Lana memeluk Cleo dengan erat. Cleo balas memeluk Lana.
Reno hanya bisa berbaring tak berdaya dengan hati yang terluka. Melihat wanita yang diam-diam ia cintai lebih memilih pria lain.
Padahal, Reno melakukan hal ini untuk melindungi Lana. Reno hanya bisa menangis dalam hati. Tanpa air mata dan tanpa suara.
“Cleo? Kenapa badanmu terasa panas?”
Cleo menggeleng. “Tak apa.”
Cleo mengusap rambut Lana. Mencoba menenangkan gadis itu yang masih menangis terisak. “Maafkan aku,” ucap Lana lirih. “Jangan minta maaf. Kau tak salah.”
Reno beringsut, menggeser tubuhnya dan bersandar pada dinding. Memandang Cleo dan Lana yang saling berpelukan dengan hati yang perih.
“Lana?” bisik Cleo dengan lirih. Reno yang ada di seberang masih bisa mendengar bisikan Cleo.
“Ya?”
Lana ingin melepaskan pelukannya. Tapi, Cleo tak ingin melepaskannya.
“Tadi, bumbu apa yang kau pakai untuk menumis kangkung?”
“Aku hanya menambahkan saus tiram dan ebi yang telah dihaluskan. Selebihnya aku memakai bumbu biasa. Ada apa?”
Ebi? Ia tadi makan ebi?
Cleo memandang Reno. Mereka beradu tatap. Dengan cepat Reno menangkap maksud Cleo menanyakan hal itu pada Lana. Pria itu alergi ebi.
“Tak apa.”
Wajah Cleo semakin pucat.
Cleo meraba perutnya yang terasa semakin sakit. Begitu, ia melihat tangannya. Ia melihat tangannya telah merah oleh darah. Reno yang melihatnya, tak kalah merasa terkejut.
“Cleo kau tak apa?” tanya Lana.
Cleo tak menyahut. Begitu Lana melepaskan pelukannya , tubuh Cleo merosot ambruk dan jatuh pingsan.
“Cleo!”
Tangan Lana gemetaran begitu melihat darah yang merembes menembus kemeja putih Cleo. Tangan Lana gemetar. Jangan! Tidak lagi...
“Kumohon! Jangan lagi.”
Melihat Cleo terluka 2 kali karena dirinya. Membuat Lana merasa seperti ditusuk ribuan pedang tak kasat mata. Sangat menyakitkan.
Harusnya malam ini, mereka berdua bisa bahagia. Tapi, semuanya malah berakhir menjadi bencana.
Lana memangku Cleo, mencoba menyadarkan pria itu. Lana memeluknya erat sambil menangis.
Reno berdiri dengan susah payah. Mencoba mendekati Lana.
“Hentikan! Jangan mendekat!” teriak Lana.
Reno menyentuh pundak Lana. tapi, gadis itu menepisnya. Seolah jijik dengan sentuhan Reno.
Melihat Lana seperti ini, terluka dan menangis dan membuat hati Reno semakin sakit.
Reno berusaha berbicara dengan suaranya yang parau karena menahan rasa sedihnya. “Kita harus membawanya ke rumah sakit segera.”
Lana semakin memeluk Cleo erat. Ia tahu harus segera membawa Cleo ke rumah sakit. Tapi, kakinya kelu. Seluruh tubuhnya gemetaran. Ia tidak sanggup berjalan.
“Jangan memeluknya terlalu erat. Dia tidak bisa bernafas,” ucap Reno.
Lana tidak memperdulikannya.
“Lana! Cleo-mu alergi ebi. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Kau lihat ruam merah di badannya.”
Perkataan Reno bagai cambuk tak kasat mata bagi Lana. Apa?
Cleo alergi ebi?
Ia hampir sepenuhnya menyalahkan Reno akan kondisi Cleo saat ini.
Ternyata ialah yang membuat Cleo seperti ini.
Mendengar hal itu. Tangis Lana semakin histeris.
“Ayo! Aku bantu bawa.” Reno mencoba mengangkat Cleo. Tapi, Lana mencegahnya.
“Hentikan! Jangan sentuh dia!” teriak Lana histeris.
Lana mencoba mengangkat Cleo sendiri. Tapi, tak bisa. Ia merasa sudah tidak punya tenaga lagi.
“Lana! jangan keras kepala. Sini. Aku bantu angkat. Alerginya akan bertambah parah dan ia akan kehabisan darah. Jika kau membiarkannya terus seperti ini.”
Akhirnya dengan terpaksa. Lana membiarkan Reno membantunya mengangkat Cleo dan menuju ke rumah sakit terdekat.
Reno kelihatan nya aja care tapi aku antang lihat cewek ditampar sama cowok apapun salahnya. kalo nanti Reno nikah sm lana dikit2 main tampar.. lbh ngeri dr Cleo
pdhl ini slh satu novel yg sering q tunggu² up nya ...
sayang sekali klw crta nya gk diteruskan ...
pdhl jln crta nya sangat bgs ...
apapun kesibukan author skrng,smga ntk bisa lagi y ....
seneng bgt pas dpt notif nya ..
berharap nya seh,smga novel nya msh diterusin crta nya ...
pengen tau endingnya gmn ...
gmn nasipnya cleo ..
semangat thor