Sebuah kecelakaan besar membuat hidup Ajeng berubah total. Karena sebuah balas budi dan intrik dari keluarga Demian dan Mahesa dia harus menikah dengan Raka, laki-laki yang diselamatkannya dengan seorang anak kecil.
Ajeng harus terjebak dalam konflik keluarga kaya. Kehadiran Ajeng membuatnya harus menjadi seorang mama untuk anak kecil yang dia selamatkan.
Apakah Ajeng bisa menemukan kebahagiaan dengan menjadi Mama anak itu. Atau dia justru terperangkap masalah dan konflik keluarga kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van Theglang Town, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Lain Versi Bayu
Ajeng masih terpaku dengan kemunculan Bayu di depannya. Sementara Bayu melihat Ajeng dengan raut wajah yang Ajeng tak bisa pahami.
"Apa kamu ke sini dengan Raka?" tanya Bayu membuka percakapan.
"I-iya, dd-dia sedang di ruang radiologi sekarang." Ajeng mencoba menenangkan dirinya yang terkejut.
"Tolong jaga Gea baik-baik ya!"
"Iya kak, tapi Bukankah lebih baik kakak menemuinya, pasti dia sangat merindukan papahnya?"
"Saat ini, aku belum bisa pulang ke rumah," ucap Bayu sambil berusaha mengalihkan pandangannya.Mungkin tidak mau Ajeng melihat sudut matanya yang sudah mengkristal.
"Kenapa kak? Gea sangat rindu papahnya." Ajeng mencoba meyakinkan Bayu.
"Aku harus fokus mengurus istriku dulu di rumah sakit."
"A-apa, maksud kakak?" Ajeng cukup terkejut ketika mendengar kata istri.
"Nadia, mamanya Gea?" ucap Bayu.
"Bukannya dia sudah ...." Ajeng tidak mau meneruskan ucapannya.
"Dia masih hidup, Raka sudah membohongi kalian semua," kata Bayu mengejutkan Ajeng.
"Kenapa Raka berbohong?" tanya Ajeng semakin tidak mengerti.
"Ikut aku ke dalam!" Bayu kemudian berjalan menuju pintu kamar rawat itu. Ajeng mengekor di belakangnya.
Sampai di dalam Ajeng melihat perubahan ruangan itu. Kalau kemarin Ajeng tidak melihat beberapa buket bunga. Namun sekarang tampak banyak bunga di ruangan itu.
Ajeng melihat pasien yang pernah dia lihat dulu. Sekarang Ajeng tahu siapa pasien itu.
Almira Nadia ternyata. Mama Gea yang pernah dia dengar kalau sudah meninggal karena sakit.
Keadaan pasien itu cukup membuat hati terenyuh siapa saja yang melihatnya. Tubuhnya kurus dengan banyak alat alat yang menempel di seluruh tubuhnya.
"Dia mempunyai penyakit Leukimia dan hampir sebulan ini dia sedang berjuang," ujar Bayu sambil memegang tangan istrinya.
Ajeng melihat betapa Bayu sangat mencintainya. Namun pertanyaan pertanyaan masih menumpuk di otaknya. Salah satunya penyakit Gea yang bisa mengalami amnesia disosiatif itu. Dan pernyataan kalau Bayu menghilang dan semua orang mencarinya. Kalau benar Bayu sudah sebulan di sini dan Randy juga mengetahui keberadaaanya. Kenapa di depan Raka dan Bu Rika, Randy seolah tak tahu keberadaan Bayu. Malah sempat Ajeng menguping kalau Randy berusaha mencari Bayu.
"Kamu rahasiakan kalau kamu bertemu denganku pada ibu Rika, bisa kan?" pinta Bayu.
"Apa, kenapa?bukankah Bu Rika ingin segera menemukan kakak?" tanya Ajeng.
"Aku sudah tidak ada hubungan apa pun dengan mereka semua."
"Maksud kakak, tolong jelaskan!biar aku paham. Dan aku tidak mau menikah dan menjadi bagian keluarga yang seperti ini."
Ajeng cukup emosi mengatakannya. Karena dia merasa sedang dipermainkan oleh sebuah keluarga kaya.
"Mereka mencariku hanya demi keuntungan mereka saja."
Tentu saja membuat Ajeng semakin takut dengan apa yang akan dia hadapi ke depannya.
"Kalau mereka benar menganggap ku masih anggota keluarga mereka. Mungkin aku dan Nadia tidak akan menderita seperti ini."
Bayu pun kemudian menceritakan kisahnya pada Ajeng.
Setelah menikahi Nadia, Bayu memutuskan untuk tidak bergantung lagi pada keluarganya. Dia pun berusaha menghidupi Nadia dengan bekerja di mana saja. Yang penting dia dan Nadia bisa hidup bersama.
Meskipun hidup sederhana dan jauh dari kata cukup tak membuat Bayu dan Nadia patah semangat untuk bisa terus saling mencintai.
Tapi sepertinya keluarga nya tak pernah membuatnya tenang. Mamahnya selalu menyuruh orang untuk memata-matai dan meneror Nadia di kala Bayu sedang bekerja. Sampai akhirnya pun mereka hidup berpindah-pindah.
Sampai pada akhirnya Nadia berada di titik terendah untuk bertahan. Saat itu mereka dalam keadaan sulit. Untuk membeli susu Gea saja, Bayu tidak mampu membelikannya. Suatu hari Bayu diajak berbisnis membuka restoran di Surabaya. Sementara Nadia tidak mau ikut ke Surabaya dengan alasan dia tidak mau bolak balik. Jadi Bayu sebulan sekali pulang menjenguk Nadia di Cilegon.
Bahkan Bayu tidak tahu kalau Nadia menyembunyikan penyakitnya. Dia mengira kalau Nadia dan Gea dalam keadaan sehat.
Merasa sudah lelah. Nadia menghubungi Ibu Rika meminta bertemu tanpa sepengetahuan Bayu. Namun yang datang Raka dan membawa Gea bersamanya.
"Kenapa Raka berbohong kalau Kak Nadia sudah meninggal?" tanya Ajeng.
"Tanyakan saja pada Raka, yang jelas mungkin ada alasannya," jawab Bayu.
"Kenapa bukan kakak saja yang menceritakan!" sahut Ajeng penasaran.
"Aku juga tidak tahu."
"Apa Raka tahu kak Nadia dirawat di sini?" tanya Ajeng.
Bayu menggeleng.
"Hanya Randy yang tahu, karena dia lah yang membawa dan merawat Nadia di sini."
"Bukankah Randy adalah asisten Bu Rika, apa artinya dia juga memberitahu Nadia ada?"
"Tentu saja dia tahu." Jawab Bayu.
"Aku semakin tak mengerti kak, kenapa Bu Rika menginginkan aku merawat Gea?"
"Gea hanya alat untuk rencananya."
"Apa, rencana, rencana apa? Sebenarnya ada apa dengan keluarga kalian. Aku jadi takut karena aku pikir dengan merawat Gea dan menerima lamaran bu Rika menjadi menantu di sana akan membuat runyam di sana."
Bayu kemudian perlahan membalikkan badannya ke depan Ajeng.
"Aku sarankan, kalau kamu mau hidupmu tenang, lebih baik kamu menolak!" kata Bayu terlihat datar.
"Apa?" Ajeng terlihat ragu.
"Dengan begitu Gea akan kembali ke orangtuanya."
"Maksud Kakak, aku harus membatalkan pernikahan kami yang tinggal dua minggu itu?" tanya Ajeng.
"Pikirkan baik-baik saja saranku tadi!" ujar Bayu.
"Kenapa kakak tidak mau kembali saja ke rumah, mungkin itu lebih baik untuk semua?"
"Mereka hanya butuh tulang sumsumku untuk didonorkan, dan itu sangat menyakitkan buatku. Mereka lupa kalau mereka sudah membuat kami menderita. Dan di saat papah butuh, mereka baru membentangkan tangannya pada kami."
"Bukankah itu kewajiban anak pada orang tua."
"Bukankah orangtua juga wajib membuat anaknya bahagia dengan pilihannya," tukas Bayu.
Ajeng sadar dari ucapan Bayu, kalau dia merasakan ketidakadilan. Tapi tetap saja menurut Ajeng, sikap Bayu harusnya tidak seperti itu.
"Bukankah itu orang tua kakak, apa kakak mau mereka meninggal?" tanya Ajeng.
Bayu terlihat tak mampu menjawab. Mungkin dasar hatinya yang paling dalam masih menyayangi kedua orang tuanya.
"Pergilah, mungkin Raka sudah mencarimu!"
"Pulang lah Kak, kakak tidak tahu kalau mereka juga mengkhawatirkanmu," tambah Ajeng.
"Aku tidak mungkin menjilat ludah ku kembali."
Ajeng pun sedih mendengarnya.
"Pikirkan lagi yang aku katakan tadi!" ucap Bayu membuat hati Ajeng seperti dilubangi.
💔 💔 💔 💔
Ajeng meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang gontai. Mencoba mengulang lagi perkataan Bayu tadi.
"Pikirkan lagi kalau mau menjadi menantu di sana, kalau tidak mau berakhir menderita seperti Nadia." Ajeng mengingat perkataan Bayu tadi.
Kemudian dia pun mengingat kembali ucapan Raka saat pertemuan keluarga. Raka tidak akan membuat Ajeng mengalami hal yang serupa dengan Nadia. Haruskah Ajeng mempercayai Raka atau haruskah dia mengikuti saran dari Bayu. Ajeng menjadi bingung.
Sampai di depan ruang radiologi, saat itulah berbarengan Raka keluar.
"Sudah selesai?" tanya Ajeng dengan wajah yang masih terlihat tegang.
"Sudah, ayo kita pulang!" ajak Raka menggapai tangan Ajeng dan menggenggamnya. Terlihat Raka sudah agak bisa berjalan dengan normal namun masih dalam tempo yang lambat.
"Hhehe, jalan lambat seperti ini serasa kita mau menuju ke pelaminan," Raka kembali tertawa dengan suara tawanya yang khas.
Sementara Ajeng nampak memikirkan sesuatu.
"Haruskah aku membatalkan pernikahan ini? tapi aku sudah jatuh hati padanya," batin Ajeng.
"Kok diam?kamu marah ya, aku kelamaan di dalam?" tanya Raka.
"Kamu jangan curiga ya, aku sama Dokter Friska di dalam tadi cuma ngobrol biasa aja, jadi jangan tegang gitu dong kayak habis lihat hantu?"
"Apa, dokter Friska. Tadi kamu berduaan sama dia di dalam?" tanya Ajeng tanpa sadar menampilkan sisi cemburunya.
"Tuh kan." Raka kembali tertawa.
Ajeng mencubit pinggang Raka karena kesal. Namun tak lama Raka pun memegang pinggang Ajeng dengan mesra menuju pintu lift.
Bersambung....
Author menunggu like, komen, dan vote para reader sambil makan ramen buatan Arya.
"Gimana enak ga thor?" tanya Arya menunggu ulasan author sambil menyilangkan tangannya di dada. Gayanya kayak Chef Juna aja.
"Enak sih, cuma ada yang kurang yaa?" jawab author mengambil gaya Chef Renata.
"Apa itu?"
"Kuraaanggg aseeeeeemm loe, ni kuah ramen apa air Oralit, asiiiiin," Author melempar Arya dengan sendok dan garpu.
Sementara Arya hanya ketawa ketiwi puas.
***Maaf garing...✌✌✌
Like
komen
vote
😍😍***
mungkin dengan raka jujur di awal ajeng akan mengerti tidak salah paham begini