Seorang wanita Muslim bernama Hannah tak sengaja bertemu dengan idol korea bernama Wobin di bandara, pertemuan itu langsung mencuri hati Wobin, ia terpikat oleh Hannah dan tergerak untuk membantunya keluar dari masalahnya. Wobin, yang ingin menghormati keyakinan Hannah sebagai seorang Muslim, berusaha untuk melindungi dan menjaganya, akankah usaha Wobin untuk melindung Hannah dan membantunya menyelesaikan masalah, mampu meluluhkan hati Hannah?
Informasi Buku:
Setiap halaman berisi 500 kata
Terdiri dari 120 halaman, terbagi dalam 2 bagian cerita
Waktu baca per halaman 3 menit
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Page Number 23 - Apartment Suho
Kalau seandainya ibu mau di ajak ke korea selatan, tapi aku yakin ibu tidak akan mau
"Maaf bgt deh aku gak bisa soalnya kejauhan klo kamu ada bisnis di indonesia dengan gaji yang lebih besar mungkin aku mau" jawabku
"Aku gak akan buka usaha di indonesia, nanti klo di indonesia berubah pikiran bisa hubungi aku" ucap suho
"Iya, btw habis ini kemana? tanyaku
"Ke apartemen" jawabnya
Selesai makan aku dan suho pergi, apartemen suho sangat dekat dari rumah wobin, dan jauh dari klinik hewan young sang, aku harus melewati rumah wobin lagi, setelah beberapa menit, aku dan suho sampai di apartemen suho tinggal, aku ketiduran karna habis makan siang, untungnya bisa bangun sebelum sampai apartemen kalau masih ketiduran pasti dibopong suho
"Ini apartemenku" ucap suho
"Tempatnya bener-bener masih sepi ya" ucapku karna jarang ada orang yang lalu lalang apalagi kendaraan yang lewat
"Iya ini daerah wonju" ucap suho
"Jauh dari seoul?" tanyaku
"Lumayan, hampir 2 jam perjalanan" sahutnya
"Kamu tiap hari pp wonju - seoul" tanyaku lagi
"Perusahaanku ada di wonju, ayo masuk" ajak suho
Suho mengajakku masuk ke hotel dan menyewakan satu kamar untuk 3 minggu karna aku sudah di korea lebih dari seminggu
Setelah dikasih kunci aku dan suho pergi ke kamarku, kamarku persis di depan kamar suho kamar nomer 55, selama aku melihat nomer nomer di kamar apartemen aku sama sekali tidak melihat angka 4 bahkan nomer 40 an tidak ada, loncat ke 50 an, sama seperti di china dan jepang mereka percaya angka 4 adalah angka kematian kalau aku sama sekali tidak percaya angka berkaitan dengan kematian seseorang
"Oiya kok kamarnya gak diatas sih kan lebih bagus?" tanyaku dengan suho
"Memang bagus tapi di lantai 2 juga sudah bagus dan juga aku mikirin aspek keselamatan kalo apartemen ini terbakar kita bisa turun lebih cepat" jawabnya
"Iya juga gak lucu juga klo loncat" ucapku
"Klo butuh sesuatu pencet aja bel kamarku" ucap suho
"Iya aku istirahat dulu ya" ucapku sambil masuk kamar
"Iya" jawab suho
Aku langsung masuk ke kamarku meninggalkan suho yang masih di depan kamar, kalau ditanya kamarnya bagus atau tidak aku jawab dengan jujur sekali sangat bagus bahkan lebih bagus dari kamar hotel tempatku menginap waktu itu, aku langsung memasukkan pakaianku ke lemari dan juga langsung sholat
Setelah sholat aku ingat ibu tapi pulsaku sudah habis akhirnya aku keluar untuk minta tolong ke suho untuk pinjam ponselnya
"Gimana kamarnya" ucap suho, yang masih didepan kamarku, aku kaget karna suho masih belum masuk ke kamarnya, sepertinya suho ingin memastikan apakah aku nyaman di kamarku
"Bagus kok, oiya aku mau pinjam ponsel kamu boleh gak buat nelpon ibuku soalnya pulsaku uda habis" ucapku
"Boleh ini" sahut suho sambil memberikan ponselnya
"Btw telpon luar negeri gpp nih?" tanyaku, sambil memastikan apakah suho membolehkan aku telpon ke jakarta karna biayanya lumayan
"Gpp" ucap suho
Kalau ibu handphonenya android pasti bisa video call aja pake wifi tapi ibu cuma pake hp jadul buat telponan aja sama aku
"Assalamualaikum" ucapku dengan ibu di telpon
"Waalaikum salam, kok baru telpon ibu" sahut ibu
"Maaf bu pulsa hannah belum di isi ini aja pake hp..." seharusnya aku tidak usah menambah pikiran ibu
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Korban Perasaan