NovelToon NovelToon
Bidadari Untuk Pria Pendosa

Bidadari Untuk Pria Pendosa

Status: tamat
Genre:Romantis / Fanfic / Contest / Tamat
Popularitas:85.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mei_Mei

Jalan takdir seseorang tidak ada yang tau, kita selalu berdo'a meminta yang terbaik tapi takdir Allah yang menentukan.

Dua hati yang memiliki rasa namun tidak bisa bersatu. Salah satu hati selau menolak untuk membalas perasaan itu. Ada alasan dibalik penolakannya, namun ia tak mau mengatakan alasan itu dan memilih memendamnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membantu memasang sabuk pengaman

"Makasih ya udah anter pulang. Kamu gak mampir dulu?" tawar Raina pada kekasihnya.

"Enggak. Besok aja kita janjian lagi, aku udah ditunggu papa," tolak Gibran dengan berbohong.

"Terus dia? Kamu anter pulang juga?" Raina melirik kursi belakang, di mana ada Aisyah yang pura-pura asik memandangi bangunan berlantai tinggi. Seperti sebuah apartemen.

"Rumah dia emang searah sama aku, jadi gak apa kan?" tanya Gibran.

"Oke gak apa, dia bukan saingan buatku," jawab Raina yang punya arti lain dari ucapannya. Dari segi penampilan Aisyah memang mengenakan baju longgar juga jilbab panjang sebatas perut. Sangat berbanding terbalik dengan Raina yang mengenakan kemeja tak ada lengan, hanya sebatas bahu. Sedangkan rok yang dipakai sangat minim yaitu di atas lutut.

Raina mendekatkan wajahnya pada wajah Gibran, tanpa aba-aba keduanya berciuman dengan saling me *****, bahkan tangan Gibran mengelus paha putih bersih milik Raina yang tak tertutup, karena rok yang dipakai menggulung ke atas.

"Astagfirullah halladzim!" pekik Aisyah langsung memejamkan mata. Perempuan itu membuka pintu mobil dan segera keluar.

"Bangsat! Lupa kalau ada dia," umpat Gibran setelah ciumannya dengan Raina disudahi.

"Huh," Raina mendengus. "Dah lah, aku masuk dulu. Kamu hati-hati! Jaga pandangan dan juga jaga cintamu hanya untukku!" pesannya.

"Iyes, Baby. Tenang aja, pacarmu ini gak akan tergoda dengan cewek manapun, dan secantik apapun. Karna bagiku hanya kamu yang paling cantik," rayu Gibran.

"Haha ... lucu deh kalau gombal gitu. Imut. Udah, aku masuk dulu, ya. Dah dah ... Sayang." Raina membuka pintu mobil dan keluar. Langsung saja pandangannya bertemu dengan Aisyah.

"Hei, Ustadzah! Jangan kecentilan sama pacar saya, ya. Dia milikku. Awas kalau kamu rayu-rayu!" ancam Raina.

"Ih ... saya gak doyan sama pria modelan pacar, Mbak. Baca iqra saja gak hapal, hobinya bikin orang kesel. Mbak tenang aja, kalau saya tadi gak dipaksa nebeng, saya juga gak mau bareng Mas Gibran!" Aisyah tak bisa menutupi kekesalan hatinya. Perempuan bernama Raina itu tak kalah menyebalkan seperti Gibran. Tak tahu sopan santun, juga terlihat angkuh. Jadi, sangat cocok berpasangan dengan Gibran. Sama-sama angkuhnya.

"Wah ... nyolot nih cewek kuno! Ngeselin kamu!" Raina memelotokan mata di depan Aisyah. Namun Aisyah sendiri tak menanggapi, memilih mengalihkan pandangan dari pada kekesalan hatinya bertambah, dan itu tidak baik untuknya.

Din ... din ...!!!

Gibran membunyikan klakson agar Aisyah segera masuk. Saat Aisyah kembali membuka pintu mobil dan akan masuk, pandangan Raina begitu horor mengintimidasinya. Aisyah seolah merinding ditatap seperti itu. Tetapi segera menutup kembali pintu mobil.

Raina masih berdiri di halaman parkir depan apartemen tempat tinggalnya, melambaikan tangan saat mobil Gibran mulai melaju ke jalan raya. "Dasar perempuan kuno! Ngeselin!" umpatnya masih kesal dengan Aisyah.

Beberapa meter dari apartemen Raina, Gibran menepikan mobil dipinggir jalan. "Turun," perintah Gibran.

Aisyah yang masih kesal dengan pria itu tanpa basa-basi segera turun dari mobil. Perempuan itu memilih jalan dipinggir trotoar untuk menyetop kendaraan umum daripada nebeng lagi di mobil Gibran.

Manik Gibran memperhatikan gerak-gerik Aisyah yang justru berjalan menjauh. "Dasar gadis oon!" desis Gibran menyusul keluar dari mobil.

"Eh, lu mau kemana?" tanya Gibran berdiri di samping pintu mobil.

"Mau nyari angkutan umum, ojek, bis, atau apapun yang bisa saya tumpangi."

Gibran mendekus kasar. "Gue nyuruh lu turun buat pindah ke kursi depan, wahai gadis oon!"

"Seenak mulut Mas aja ngatain saya oon! Memang ada yang bisa mendeskripsikan satu kata turun menjadi pindah ke kursi depan? Namanya turun semua orang bakal ngiranya disuruh turun gitu aja, gak ada penjelasan untuk pindah ke kursi depan."

Perempuan dengan kemeja putih itu menerutuki pertemuannya dengan dua pasang kekasih yang sama-sama angkuh dan membuat suasana hatinya muram.

"Dah, males debat ma lu. Cepetan naik!"

"Makasih, tapi saya nunggu angkutan umum lewat," tolak Aisyah.

"Sampek garing, sampek malam juga gak bakalan bisa pulang. Ini bukan kawasan umum, lu gak bakal nemuin angkot atau sejenisnya."

"Mas cuma nakut-nakutin saya aja!"

"Heh ... buka mata lu. Liat ... ada enggak angkot lewat!" Gibran menunjuk jalanan yang dipenuhi kendaraan pribadi. Tanpa ada angkutan umum atau bis yang lewat.

Kini Aisyah mau tidak mau harus percaya dengan pemuda itu. Begitupun dengan langit yang seakan mendukung karena hujan kembali mengguyur dengan lebih deras. Akhirnya mereka berdua kembali ke mobil.

"Aku bisa naik di belakang seperti tadi, Mas," ucap Aisyah saat Gibran tadi membukakan pintu dan mendorong bahunya.

Gibran yang memasang sabuk pengaman, melirik Aisyah yang masih bebas belum membelitkan sabuk pengamannya. "Pakek sabuk pengaman lu, keluar dari kawasan ini banyak polisi patroli buat ngecek keamanan kendaraan."

Aisyah menuruti perintah Gibran, namun ia kesulitan untuk memasang sabuk pengaman yang berbeda dari mobil-mobil biasanya yang sering ia tumpangi.

Gibran memperhatikan Aisyah, perempuan itu terlihat kepayahan. "Gitu aja gak bisa!" ujarnya melepas sabuk pengaman miliknya untuk membantu Aisyah. Dengan begitu posisi Gibran mendekat pada tubuh Aisyah, bahkan hanya jarak keduanya seperti tak berarti.

"Mas, tolong jangan seperti ini! Saya bukan seperti cewek, Mas tadi!" sentak Aisyah terkejut sekaligus marah dengan Gibran yang benar-benar dekat dengannya.

"Apa maksud lu! Gue cuma bantu lu masang sabuk pengaman, pikiran lu kemana!" Gibran berbicara tepat di depan wajah Aisyah, perempuan itu bisa mencium bau parfum Gibran yang memenuhi indera penciumannya.

Aisyah membuang muka, ditatap oleh Gibran entah mengapa jantungnya berdebar. Ini pertama kali perempuan bernama Aisyah itu sangat dekat dengan seorang pria, biasanya tak pernah ada yang mendekati ataupun menyentuhnya. Seolah ada batasan di mana ia hanya bersentuhan dengan mahramnya. Tetapi Gibran beberapakali melanggar batasan itu. Pria itu beberapa kali memegang tangannya, bahkan tadi juga mendorong punggungnya. Semua dilakukan tanpa izin.

"Sok jaim!" desis Gibran.

"Saya memang jaim sama lawan jenis, apalagi dengan Mas. Pasti Mas udah sering melakukan seperti tadi," cibir Aisyah.

"Heh, lu tuh belum pernah ngerasain aja. Bakal ketagihan, deh."

"Maaf, pikiran saya gak sampek ke sana. Bahkan tadi pertama kali liat orang berciuman. Insyaallah, ciuman pertama hanya untuk suami saya kelak."

"Ciuman doang dijaga buat calon suamimu nanti? Haha ...." Gibran menertawai ucapan Aisyah. Ketika tawanya sedikit mereda, ia berkata lagi, "ciuman itu nikmat dan gak ada bekas, gak perlu dijaga. Kayak keperawanan aja," cibir Gibran dengan sudut bibir menyisakan tarikan ke atas. Seperti ekspresi orang merendahkan.

Aisyah melirik sinis dengan menggelengkan kepala. Makin kesal dan risih dengan Gibran. Pergaulan pemuda itu benar-benar berbanding terbalik dengannya.

1
Laila Purnama sari
baru juga mau di mulai konflik ny mlh gantung
Laila Purnama sari
kakak ihh lanjut dong cerita nyyaaaa penasaran tauuu ihhh
mastura librae
bagus cerita nya
Lintang Salsa
bagus bnyak pesan moralnya...👍
Aliya Jazila
cerita nya udah tamat
AR Althafunisa
tapi udah end koq ceritanya tak berujung 😂😂😂
Akak Mei: Iya, ceritanya gantung. Jadi belum nemuin ujung.🤭
total 1 replies
sakinah febriani
is thebest👍
Agus Susanto
😍😍😍
Tutik Yunia
status sudah tamat tapi gantung.
Sumi Sumi
akak certa ini d lanjut dong penasaran ama kisahny Aisyah
Sumi Sumi
lanjut
Sumi Sumi
penasan sama ais
Sumi Sumi
lanjut akak mei
Sumi Sumi
lanjut
Sumi Sumi
ga aneh aneh umi cuma lancang
Sumi Sumi
ya ampun gibran lancang banget kamu
Sumi Sumi
maksudnya apa tuh ngomong asal nyablak ,,
Sumi Sumi
ayo lo abang Gibran nanti keduluan sama abang faris nyesel lo
Sumi Sumi
awas lo nanti bucin
Sumi Sumi
mantan itu sesuatu yg udah d lepeh jangn d jilat lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!