"Kita pernah diizinkan bersama, tapi tidak ditakdirkan untuk bersatu"
Pernahkah kalian dibuat bimbang akan dua pilihan? Disaat harus memilih salah satu, tapi kalian menginginkan keduanya. Lalu setelah berhasil memilih satu, kalian juga malah menyesali sesuatu yang tidak dipilih itu.
Itulah aku...
Disini,
Di dalam kisah ini!
Selamat membaca, semoga suka! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S,ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
"Jadi dari tadi kalian ngapain si?" tanya Herlin, sembari tangannya mengambil beberapa camilan dari atas meja.
"Emm, ngapain ya kita. Gak tahu deh, antara gabut sama kerasukan mungkin." jawab Rian sekena nya.
Nandra menoyor kepala Rian pelan, "Ck, ngasal aja lu kalo ngomong." ucap Nandra, yang kini sedikit menyentil telinga Rian, karena Rian malah balik meledek Nandra dengan mengikuti perkataannya.
Herlin melempar camilan yang hendak ia makan ke arah Rian, "Jawab yang bener lu kalo di tanya!" ucap Herlin, merasa kesal.
"Hah, apa? Kamu nanya? Kamu bertanya - tanya?" ucap Rian.
Sontak hal itu, membuat Herlin semakin emosi dengan Rian. Ia pun kini melempar sandal nya, dan hampir tepat mengenai muka Rian.
"Astagfirullah! Kaget gue Lin, gimana kalo beneran sampe kena muka coba." ucap Rian, merasa kaget.
"Gak papa biarin, lagian sengaja juga, biar tahu rasa!"
Lucky yang melihat hal itu hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya. Kemudian mencoba angkat suara, dengan menjawab pertanyaan Herlin tadi, "Nggak ngapa - ngapain, cuman ceritanya kita tadi lagi latihan drama buat acara pentas seni. Dikarenakan anggotanya kurang, maksudnya mereka gak pada dateng ke sini. Jadi tadi latihannya tuh cuman iseng - iseng aja, praktekin adegan - adegan gak jelas." tutur Lucky, membenarkan jawaban untuk pertanyaan Herlin.
Kemudian pandangan Lucky teralihkan kepada Sri, yang sedari tadi masih saja diam, tidak mau menggubris pembicaraan mereka.
"Sri, lo kalau mau pulang, ya pulang aja." sambung Lucky.
Sri masih nampak tak berkutik sedikit pun. Ia seperti malas dan kaku untuk berbicara, bahkan untuk bergerak sekali pun.
Melihat hal itu, Nandra memberi isyarat kepada Herlin dengan sedikit mengangkat dagunya, seolah bertanya 'kenapa?'. Tapi Herlin benar - benar tidak tahu Sri kenapa, dan balik membalas isyarat Nandra dengan mengangkat kedua telapak tangannya, sembari sedikit mencebikkan bibirnya, sebagai tanda 'tidak tahu'.
"Rian, emang lo bikin masalah apa sama Sri?" tanya Herlin, karena yang Herlin tahu, sedari tadi Sri memang tidak mau bertemu Rian.
Rian yang tidak tahu apa - apa nampak kaget, kenapa bisa Herlin bertanya seperti itu padanya. Seolah - olah dia lah yang bersalah, dan menjadi penyebab Sri nampak murung dan tidak mood seperti ini.
"Loh, kok jadi nuduh gue sih. Maksudnya apaan coba?" sergah Rian.
"Enggak, soalnya tadi Sri bilang dia gak mau ketemu sama lo. Ya itu berarti lo lagi ada masalah kan sama Sri. Gak mungkin dong, dia tiba - tiba ngomong gitu." ucap Herlin
Rian tampak dibuat bingung, mendengar penuturan Herlin seperti itu, "Masalah? Masalah apaan si, perasaan gue gak ngapa - ngapain si Sri. Iya kan Sri? Lu ngomong dong, gue punya salah apa sama lo? Kenapa tiba - tiba lo males ketemu sama gue?" sambung Rian, yang merasa heran dengan sikap aneh Sri.
Kemudian mata Rian beralih menatap Sri lekat - lekat, dan mencoba mengingat - ingat kesalahan apa yang pernah ia perbuat pada Sri.
Sementara sang empu yang ditatap lekat seperti itu, merasa tidak karuan. Malah semakin dibuat malu sendiri karenanya. Tidak terasa pipinya mulai bersemu merah merona, dan sedikit terasa panas.
Akhir - akhir ini, Sri sering merasa canggung dan malu bila bertemu Rian. Apalagi sekarang ditatap seperti itu, rasa malu nya malah semakin bertambah.
"Oh iya, gue tahu sekarang alasan lo, kenapa gak mau ketemu sama gue. Hahah, payah!" celetuk Rian, diakhiri dengan tawa renyah ciri khasnya.
"Gue tahu, pasti lo gini cuman gara - gara kejadian waktu itu kan? Hahah, ya ampun Sri, Sri, parah banget sih lo. Padahal udah gue bilangin juga ya waktu itu, kalau gue tuh gak ngeliat hal - hal sensitif apapun dari tubuh lo. Waktu itu gue ngeliat lo udah pakai baju, seriusan, gak bohong gue. Jadi, lo gak usah ngerasa malu, ataupun ngerasa gak enak kalau ketemu gue." ucap Rian kemudian.
Mendengar apa yang Rian katakan, sontak membuat Herlin, Nandra, dan Lucky merasa kaget dan terheran - heran. Mereka dibuat penasaran, sebenarnya apa yang terjadi di antara Sri dan Rian.
"Hah, gimana, gimana? Emang sebenarnya apa sih yang terjadi di antara kalian?" tanya Herlin penasaran.
"Iya, jadi ceritanya gini..." ucap Rian, menghela nafasnya sebentar. Kemudian melanjutkan kembali pembicaraan nya, "Waktu itu, gue disuruh Pak Andri buat mindahin tikar dari ruang aula ke mushola putri. Awalnya gue ragu - ragu buat masuk ke mushola putri, ya takut disangka apaan gitu. Tapi karena gue rasa waktu itu keadaan mushola lagi sepi, jadi yaudah gue masuk aja. Entah kenapa, waktu itu gue punya inisiatif pengen nyimpen tikar di kamar mushola. Padahal kalo di pikir - pikir lagi sekarang, bisa kali ya waktu itu nyimpen tikar nya di pinggir dekat mushaf aja. Sumpah, waktu itu gue bener - bener gak tahu kalau di kamar mushola ternyata ada orang. Lebih parahnya lagi, orang itu lagi ganti baju katanya. Tapi seriusan Sri, waktu itu gue gak ngeliat lo tanpa busana. Padahal juga, kalau waktu itu lo gak bilang lagi ganti baju, gue juga gak bakal nyangka lo lagi ganti baju. Gue ngeliat lo udah rapi, pakai seragam putih abu. Jadi gak usah panik berlebihan Sri, gak usah mikir macem - macem. Waktu itu gue juga ngerasa kaget karena kirain disana gak ada orang, eh ternyata ada." sambung Rian lagi.
Mendengar penuturan Rian seluwes itu, sontak membuat mata Sri membelalak tajam ke arah Rian. Tidak percaya, kalau Rian akan menceritakan semuanya, dengan gampang tanpa beban, dan dengan penuh kepolosan.
Sementara yang lain terlihat biasa saja, mendengar apa yang Rian bicarakan. Karena mereka pikir sudah terjadi hal yang lebih dari itu, diantara Rian dan Sri.
"Euh kirain apaan, cuman gitu doang ternyata." ucap Herlin, sambil sedikit menyiku lengan Sri.
"Tapi aneh sih Si Sri, gitu doang udah panik banget, padahal kejadian nya udah lama. Santai aja kali, gak usah bikin situasi awkward sendiri kalo ketemu gue. Jadi selama ini dia kalo ketemu gue panik sendiri dong ya, padahal gue nya biasa aja, malah udah mulai lupa sama kejadian itu. Hhah, parah lu Sri." pungkas Rian.
Semuanya pun mulai cekikikan, tertawa pelan, menertawakan tingkah Sri yang parno berlebihan.
Lucky mulai merasa bosan dengan pembahasan yang mereka bicarakan, ia pun berusaha mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Eh btw, tadi kalian abis darimana si? Kok bisa - bisanya tiba - tiba nyamperin ke sini." tanya Lucky.
Sontak mereka pun berhenti menertawakan Sri, dan beralih memilih fokus menyimak topik yang diawali Lucky, untuk kemudian mereka bahas kembali.
Merasa dirinya terselamatkan dari tawa ledekan, Sri mulai sedikit menyunggingkan senyum ke arah Lucky. Rasa semangatnya untuk ikut nimbrung berbicara, mulai tumbuh kembali. Namun, saat hendak ingin menjawab pertanyaan Lucky, ponselnya tiba - tiba saja berdering. Sri pun akhirnya lebih memilih mengangkat teleponnya itu, sambil berlari menuju ke bawah balkon.
...✎﹏𝔻𝕊...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
Thanks udah mau mampir😊
Sorry for typo and absurd🙏
Menerima kritik dan saran☺️
Jangan lupa like, vote, and comment🙃
semngat ya semoga sukses buat nerbitin novel karangan sendiri 😊good lock