Namaku Hilya Nafisah. Lahir dari keluarga sederhana dipelosok desa. Mendapat jodoh diperantauan dengan orang kaya raya. Hidup berkecukupan, semua yang ku inginkan terpenuhi.
Namun hidup tidak selalu melulu tentang uang. Aku mendapat suami yang kaya harta namun miskin hati. Selalu cuek dan dingin serta selalu mengabaikan ku. Akankah aku kuat untuk terus bertahan? Memilih cinta atau harta?
dimanakah aku akan menemukan kunci bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon an-nashihah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Ilham
"Tidak salah cemburu kok. Aku yang salah." Jawabnya datar masih menatap pada jalanan gelap.
"Salah kenapa?" Penasaran pake banget. Apa yang membuatnya merasa bersalah? Menunggu. Menunggu. Hanya suara jangkrik terdengar bersahutan khas pedesaan.
"Kalo mas merasa bersalah kenapa nggk minta maaf dan menebus kesalahan?" Ucapku pelan,kecewa.Dia yang ngajak bicara dia pula yang mengakhiri. Mas Faris masih diam dengan pikirannya sendiri, tak berniat membalas ucapanku.
Ku lihat mas Faris hanya menghembuskan nafas berat tanpa mau bicara,hingga mobil sudah berhenti didepan rumah kakek. Aku langsung keluar mobil dan membuka pintu yang tak terkunci, masuk kamar, untuk berendam sejenak dengan air hangat, merilekskan badan yang rasanya lelah.
Usai mandi aku keluar kamar sudah memakai baju gamis dan jilbab, siap berangkat lagi kerumah sakit. Ku lihat mas Faris duduk dikursi ruang tamu masih memakai baju yang tadi tanda kalo mas Faris belum mandi, hanya rambutnya yang sedikit rapi,sambil menatap Hpnya.Terdengar ramai sekali, lagi nonton atau apa to?Fokus banget lihatnya.
Aku duduk disampingnya ikut melihat layar smartphone keluaran terbaru yang ada ditangan mas Faris. penasaran ada apa.Ku lihat hanya ada tayangan acara pernikahan sederhana, namun aku tak bisa melihat dengan jelas siapa, karna nampak agak gelap ku lihat dari samping.
"Jadi kerumah sakit lagi nggk mas?" Tanyaku mengingatkan.Mas Faris masih tak bergeming, masih fokus menatap layar Hp,yang terdengar jelas sedang membaca doa bersama.
"Mas.." Ku lihat mas Faris masih tak menyahuti panggilanku. Aku lebih mendekat,mencondongkan tubuhku hingga bisa melihat dengan jelas siapa yang dilihatnya.Ternyata Ilham yang sedang melaksanakan ijab kabul.Ilham melakukan akad nikah hari ini?ya memang dia sudah mengundang kami sebelum ramadhan kalo akad nikah akan dilakukan tanggal 10 ramadhan dan resepsi tanggal 10 syawal.Pasti mas Faris sedih juga karna nggk bisa hadir. Padahal sahabatnya itu selalu hadir ditiap undangannya. Tapi mau gimana lagi?
Kenapa coba memilih menikah pada bulan ramadhan?Aku juga heran saat mendengar rencananya. Namun saat ditanya mereka hanya tertawa.Ingin melakukan moment spesialnya di bulan paling spesial juga, biar enak mengingat anniversary nya,hari ke sepuluh di bulan ramadhan. Apapun alasan pastinya ,yang penting niat mereka baik,yaitu melakukan pernikahan. Daripada pacaran terus kan?
"Kan belum resepsi mas.Besok usahakan datang pada resepsinya, sebulan lagi bukan? 10 Syawal?" Ucapku menyadarkan nya dari lamunan. Nth melamun atau terlalu fokus menatap hp.
"Awalnya aku datang kesini mau menjemputmu untuk menghadiri pernikahannya, tapi saat dijalan aku dapat kabar kalo penyakit kakek sedang kambuh. Aku sudah ceritakan keadaan kakek pada Ilham , jadi dia memaklumi, dia hanya minta aku menyaksikannya meskipun lewat videocall." Jawabnya masih melihat Hp dengan wajah tanpa ekspresi nya.
Aku mengernyitkan kening heran. Kalo mas Faris waktu ditelfon sudah dijalan kenapa sampainya malam sekali, mampir kemana dulu dia? mulai menduga-duga yang tidak-tidak.
"Sebenarnya aku sudah sampai saat kamu baru keluar kamar kakek,aku gantian masuk untuk menemani kakek. sedangkan jam satu itu aku datang kekamar." Lanjutnya, seakan tahu akan kebingunganku.
Ku lihat acara ijab sudah selesai, bahkan pemberian selamat dari para tamu yang hadir juga sudah selesai, maklum cuma acara akad nikah aja, hanya keluarga besar yang hadir, tidak banyak tamu undangan,dilakukannya pun malam hari di bulan ramadhan yang pada sibuk untuk sholat tarawih.
"Makasih kawan, sudah menyempatkan menjawab panggilan ini. Gimana kabar kakek?" Kata Ilham yang mulai fokus untuk melihat kami lewat gawainya didampingi istri barunya. Nampak yang menyaksikan ijab Kabul pada cerita sendiri sambil menikmati jamuan sederhana dibelakang pengantin baru itu.
"Maaf aku nggk bisa hadir. Dan selamat menempuh hidup baru,semoga menjadi keluarga harmonis hingga maut memisahkan."Mas Faris nampak tersenyum samar saat mengucapkan selamat."Kakek Alhamdulillah sudah mulai membaik, meskipun masih harus dirawat. doain moga segara bisa sehat dan bisa pulang lagi."Lanjut mas Faris lagi.
"Amien." jawab Ilham dan Sinta.
"Selamat ya, semoga selalu bahagia dan segera dapat momongan."Ucapku tulus.
Ilham yang diberi selamat malah tertawa keras. Ku lihat istrinya tak enak dan mencubit suaminya untuk menghentikan tawa. Nampak bahagia sekali. Sedangkan aku malah bingung sendiri kenapa dia tertawa. Apa ada yang salah dengan kata-kataku?Perasaan itu ucapan selamat yang umum diucapkan untuk pengantin baru.
"Tenang Hilya, aku akan bahagia untuk segera membuat anak. Meskipun kamu nikah duluan, tapi aku yang akan berhasil punya momongan duluan." Jawab Ilham masih dengan tertawa mengejeknya. ku menoleh untuk melihat mas Faris.Dia hanya diam tak menanggapai.
"Siapa yang bisa jamin?" Tanyaku mengerucutkan bibir, cemberut.
"Takdir yang menjamin lah. Kalian lo tidak pernah memprosesnya. Nunggu bulan purnama merah to?" ucap Ilham masih diselingi tawa. Ternyata teman-teman mas Faris itu humoris semua, hanya suamiku itu yang kaku.
"Ah tidak ada jaminan bagi yang sering membuat anak akan dapat lebih dulu, banyak juga contohnya. Apakah yang menikah belasan tahun belum punya momongan tak ada usaha? Belum tentu kan?" Timpalku yang langsung dapat tatapan mas Faris, tanda dia tak suka dengan pembahasan yang ada.
"Maaf mbk Hilya, ni mas Ilham nggk disaring dulu kalo mau ngomong, asal mangap aja." Ucap Sinta istrinya Ilham memukul pelan suaminya.Nampak bahagia sekali dia,romantis. Aku hanya tersenyum melihatnya, tanpa ada rasa iri.
Bukankah kita tidak boleh iri dengan kebahagiaan orang lain? karna kita tak tahu cobaan dan kesedihan apa yang sudah didapatnya. Dan kita juga tidak boleh putus asa dengan cobaan yang kita dapatkan, karna kita tidak tahu kabar gembira apa yang sudah Allah siapkan.
"Nggk papa, semoga kalian selalu sakinah mawadah wa rahmah, bersama hingga ke syurga, hidup setelah mati."Doaku untuk pasangan baru itu.
"Amien. InsyaAllah besok aku akan kesana menjenguk kakek, semoga cepat sembuh agar resepsi nanti kalian bisa hadir langsung, bukan cuma lewat hp." Wajah Ilham mulai sendu tak ada tawa lagi, serius.
"Amien." Jawab kami bertiga serempak.
"Yaudah aku tutup dulu mau kerumah sakit lagi, kasian jika anak-anak yang harus tidur disana." Ucap mas Faris untuk mengakhiri panggilannya, masih dengan wajah datar tanpa senyuman.
"Iya. Trimakasih kawan. Kami juga ada urusan lagi." Jawab Ilham sambil merangkul istrinya, pamer kemesraan.
"Sok sibuk lo." Ucapku mencibir.
"Ini bukan sok sibuk. Namanya pengantin baru itu selalu sibuk, apalagi malam pertama." Nampak Ilham sengaja mencium pipi istrinya didepan kami. memanas-manasi, yang membuat mas Faris langsung memitus panggilannya dan meletakkan hp dimeja.
"Aku mau mandi dulu baru kerumah sakit." berjalan kekamar untuk membersihkan diri.