Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Hari berganti.
Minggu berlalu.
bulan terus bergulir.
Mentari tetap bersinar tanpa peduli akan apapun yang terjadi di bumi.
Satu tahun berlalu setelah kejadian malam itu, malam dimana Chandra berusaha menekan Radhi dengan meminta Jelita secara terang-terangan.
Sepuluh tahun....
Sepuluh tahun berlalu setelah Jelita pergi dengan membawa luka dan kegetiran hidupnya.
Kini.....
Jelita dan Radhi pergi dengan membawa serta Azkara dan Aridha. Ibu Radhi, nyonya Santika juga ikut serta pergi bersama anak, menantu dan cucunya.
Bagi Santika, Kehilangan Arlan dan Ariana dalam waktu setahun ini membuatnya keberatan.
Meski Arlan dan Ariana bukan darah daging putranya, Namun Santika sangat lah menyayangi anak kembar itu dengan tulus selayaknya cucu sendiri. Santika merawat anak kembar Jelita dengan kasih sayang dan ketulusan.
Sering kali Santika dan Arman berpikir, Malangnya nasib wanita yang di cintai Radhi ini. Harus di campakkan dari keluarga dan di buang begitu saja oleh pria tak bertanggung jawab seperti Chandra.
Di sebuah rumah mungil nan minimalis, Di sanalah Radhi serta Arman dan ibunya tinggal. Jelita dan anak-anaknya juga ikut serta.
Lombok, Mataram.
Di sanalah keluarga kecil Radhi tinggal.
Rumah minimalis dengan kehangatan yang luar biasa, Radhi dan Arman memimpin Jelita belajar beladiri dan menggunakan banyak senjata.
Pistol, beberapa jenis resolver, samurai, busur panah serta katana.... dan berbagai macam senjata lainnya.
Semua Radhi ajarkan pada sang istri.
Setahun sudah berlalu...
Kini Jelita bukan hanya anggun, namun juga Lita bertransformasi menjadi wanita kuat, tangguh dan tak terkalahkan.
Dalam sekali lihat dan sekali nilai saja, bahkan Arman mampu memprediksi, Jelita mampu mengalahkan beberapa pengawal Chandra sekaligus.
Prestasi yang cukup membayangkan.
Arman bahkan berani sesumbar di depan Radhi, bahwa istri saudaranya itu mampu mengalahkan Chandra seorang diri.
"Lihat lah mas Radhi.... Aku bahkan lebih dari sekedar siap untuk membawa Pulang anak-anakku dan melumpuhkan Chandra hanya dengan tangan kosong saja".
Ucap Lita dengan angkuhnya sore itu tatkala ia baru selesai latihan memanahnya.
Setiap kali membahas dan mengingat anak kembarnya, mata jelita penuh dengan kilat kemarahan dan dendam yang menyala-nyala.
"Sayang, bila seandainya kau berhasil melumpuhkan Chandra, mungkinkah kau juga akan melumpuhkan papa Yusman?", Tanya Radhi serius.
Apa yang Radhi takutkan, mungkin saja terjadi. Mengingat istrinya begitu sangat membenci Papa kandungnya itu.
Radhi hanya tak mau, istrinya celaka karna durhaka pada satu-satunya orang tua inti yang masih tersisa.
Biar bagaimana pun buruknya mertuanya, Yusman telah menyesal dan itu sepenggal kisah masa lalu.
Radhi tak mau gagal dalam mendidik sang istri. Radhi mencintainya. Tak kan Radhi biarkan istrinya jatuh dan terperosok ke dalam lubang penyesalan nantinya.
Karna sesal.....
Hadirnya selalu pada akhir cerita.
Bila sesal hadir di awal cerita, bukankah tidak akan ada manusia pendosa di muka bumi ini?
"Tidak tau. Berdoalah saja aku tidak sampai kehilangan kontrol diriku.
Bila itu sampai terjadi, aku tak bisa menjamin tuan Nugraha itu tak mati di tanganku".
Radhi tersenyum getir.
Menyalahkan istrinya?
Tidak mungkin karna istrinya tidak bersalah dalam hal ini. Namun, Radhi terus mengupayakan agar istrinya bisa berdamai dengan masa lalu.
Biar bagaimana pun, Yusman tetaplah orang tua Jelita.
"Tetaplah menjaga harga dirimu dan martabatmu agar kelak, kau juga di parlakukan baik oleh anak-anak kita".
Radhi berkata tenang. Namun siapa sangka bahwa Jelita menangkap sarat akan perintah di dalamnya.
Jelita tak bodoh. Jelita tau itu.
"Aku mengerti suamiku..." Jawab Jelita tersenyum.
Segera saja ia mencium sekilas bibir suaminya dan memeluknya erat.
*****
Di belahan bumi lainnya di ibukota......
Chandra terlihat mondar mandir di sebuah ruang rawat rumah sakit swasta.
Di brankar, Dewi terbaring dengan wajah pucat pasi. Dua jam lalu, Dewi di nyatakan kehilangan bayinya kembali oleh dokter di usia kandungannya yang menginjak angka tujuh bulan.
Ini adalah kali ke tiga belas Chandra dan Dewi kehilangan janin mereka.
Setelah lelah mondar mandir, Chandra duduk diam di kursi di sisi ranjang tempat Dewi tak sadarkan diri.
Chandra meraih dan menggenggam tangan ringkih istrinya yang telah tiga belas kali berjuang.
Chandra menatap intens istrinya. Ada rasa sesal dan kecewa, sakit dan luka.
Dulu, Dewi sangatlah ia puja mati-matian, Ia perjuangkan hingga membuang Jelita Begi saja tanpa rasa iba. Kini, Dewi telah terkena imbas sumpah Jelita yang Chandra sakiti hingga begitu dalam.
Mungkinkah....
Mungkinkah bila Jelita memaafkannya Dewi akan bisa melahirkan keturunannya?
"Aku menyayangimu, sayang. Maafkan aku yang telah membuatmu terluka hingga begitu dalam. Percayalah.... cintaku padamu masih sama seperti yang dulu".
Lantas? Apa yang kau katakan? Kau menginginkan jelita dan mengatakannya setahun yang lalu, Chandra? Kau benar-benar bajingan sejati.
Bunyi pintu kriet pelan. Sukma dan Yusman muncul di ambang pintu.
Kini, Yusman sudah lebih tegar dan lebih menerima kenyataan. Meminta maaf telah ia lakukan pada Jelita. Meski Jelita tak sepenuhnya memberinya maaf, setidaknya....
Yusman telah berkumpul dengan cucunya dan bermain setiap hari bersama mereka.
Arlan dan Ariana lah yang membangkitkan kembali semangat Yusman untuk sembuh. Bahkan, kursi roda tak lagi setia mengiringi kemanapun Yusman bepergian.
"Apa yang kata dokter katakan tentang istrimu, nak?", Tanya Sukma khawatir. Chandra tersenyum tipis menenangkan.
"Dewi baik, ma. Dia wanitaku yang kuat. Dokter berkata seperti biasanya, Dewi sehat.
Mungkin ya.... tuhan saja yang belum merestui kami untuk segera menimang adik Arlan dan Ariana."
"Mama ingin sekali saja bertemu lagi dengan Jelita. Mama ingin bersujud dan bersimpuh di kakinya untuk memaafkan kesalahan mama dan kita semua dimasa lalu. Namun, dimana anak itu sekarang?"
"Aku tidak tau. Bahkan Lita sama sekali tak muncul meski hanya untuk menemui anak-anaknya" Sambung Yusman lirih.
Sejujurnya, Yusman sangatlah merindukan putri sulungnya itu.
"Chandra lah yang memiliki andil besar atas kebencian Lita pada kita semua ma, pa. Awal dari tragedi ini, Chandra lah ya memulai. Chandra ingn mengakhiri ini semua. Namun, bagai mana bisa?".
Chandra putus asa.
Chandra bingung harus kemana lagi ia mencari Lita.
"Aku juga sudah mengerahkan banyak orang-orangku untuk mencarinya, Namun, tak satu pun petunjuk yang Lita dan Radhi tinggalkan. Sejujurnya, aku juga sangat ingin bertemu dengan kedua anak Lita dan Radhi", Tukas Yusman kemudian.
"Bila nanti kami saling bertemu, mungkinkah Radhi dan Lita akan memaafkanku?", Tanya Chandra lirih. Chandra bertanya pada dirinya sendiri.
"Aku bahkan rela menukar nyawaku untuk bisa mendapatkan maaf dari kakakku mama, papa". Sambung Dewi yang rupanya telah sadar.
Bibir Dewi sangat pucat. Chandra tak kuasa menahan air matanya.
Kemana perginya Chandra yang angkuh dan sesumbar bahwa ia mampu melawan dunia untuk mendapatkan cinta seorang Jelita?
Omong kosong.
"Sayang.... Maafkan aku".
Chandra kembali berkata lirih.
🍁🌺🍁