Pernikahan sejatinya dilakukan atas dasar cinta sama cinta. Saling mengenal dan saling memahami karakteristik pasangan.
Tetapi bagaimana dengan mereka yang menikah tanpa pacaran?
Akan kah bertahan lama atau malah sebalik nya?
Sepasang suami istri melaksanakan akad nikah tanpa adanya rasa cinta.
Bahkan sang mantan kekasih selalu mengusik kehidupan rumah tangga mereka.
Di awal menjalani hidup bersama suasana terasa hambar. Tetapi setelah sekian lama mereka bersama, akhirnya hubungan mereka pun menjadi harmonis layak nya pasangan suami istri lain nya.
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muni Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana pernikahan Zainab dan Ahkam
Saat tiba dikediaman tuan Ahmad..
Ahkam berjalan lurus melangkahkan kaki nya membawa masuk Zainab ke dalam rumah kedua orang tua nya.
"Ingat ya! Jangan berani macam-macam di depan kedua orang tua ku!" Ahkam kembali mengingatkan Zainab yang ke sekian kalinya.
Zainab hanya menganggukan kepalanya.
Saat Ahkam dan Zainab baru saja tiba mereka segera menghampiri kedua orang tua Ahkam.
"Assalamu'alaikum.." Ucap kedua insan yang tak saling menyimpan rasa.
"Wa'alaikumsalam." Jawab nyonya Ajeng dan tuan Ahmad. Kebetulan mereka sedang bersantai menonton televisi di ruang keluarga.
"Heii Zainab sayang.. Akhirnya kau bisa kembali ke tempat ini." Ucap nyonya Ajeng seraya merangkul Zainab.
Zainab tersenyum manis dan membalas rangkulan calon mertuanya itu.
"Selamat datang kembali Zainab.." Ucap tuan Ahmad.
"Terimakasih umi, abi." Ucap Zainab merasa sangat malu namun juga bahagia karena kehangatan dari kedua pasangan suami istri itu.
"Ahkam.. Ajak Zain untuk makan bersama kita. Sekalian kita bicarakan perihal penting yang akan kalian laksanakan nanti." Ucap nyonya Ajeng seraya melangkahkan kaki nya menuju ruang makan.
"Baik umi." Jawab Ahkam.
Mereka pun telah berkumpul di satu tempat.
Zainab duduk disamping kanan Ahkam. Sedangkan kedua orang tua Ahkam duduk bersebrangan dengan Ahkam dan Zainab.
Tak ada yang berbicara selama mereka menyantap makanan yang mereka nikmati. Hanya bunyi sendok dan piring yang terdengar saling bersahutan.
"Zain.. Apa kau sudah memikirkan soal kemarin? Apa kau sudah mendapatkan jawaban nya?" Tanya tuan Ahmad saat mereka telah selesai menyantap makanan yang berada di piring masing-masing.
Zainab terdiam sejenak kemudian dia menjawab pertanyaan tuan Ahmad.
"Alhamdulillah Zainab sudah memikirkan hal itu abi. InsyaAllah Zainab telah mendapatkan jawaban yang diridhoi Allah." Ucap Zainab dengan lembut dan penuh kehati-hatian.
Senyum mengembang di wajah tuan Ahmad dan nyonya Ajeng.
"InsyaAllah, atas izin Allah Zainab bersedia untuk menjadi istri tuan Ahkam." Sambung Zainab dengan wajah yang tetap menunduk.
"Alhamdulillah.. Umi dan abi sangat bahagia sekali mendengar nya." Ucap nyonya Ajeng penuh kebahagiaan.
"Tenang saja umi, Zainab pasti tidak akan keberatan menjadi istri dari seorang Ahkam yang sangat tampan ini." Timpal Ahkam menyombongkan diri. Seringai licik begitu mengembang di wajah nya.
Zainab hanya menundukan kepalanya.
Dalam hati nya berkata..
"Semoga aku tidak salah dalam melangkah, semoga Allah selalu memberikan karunia kepada ku."
"Baiklah kalau begitu abi akan menentukan tanggal untuk kalian menikah. Lebih cepat akan lebih baik. Jadi abi fikir seminggu lagi abi akan menikahkanmu dengan putra abi." Ucap tuan Ahmad tanpa ragu.
Seketika Ahkam tersentak kaget. Dia terbatuk saat sedang meneguk segelas air mineral.
"Ohok ohok.." Dengan cepat Zainab menepuk-nepuk pundak Ahkam.
"Pelan-pelan dong minumnya Ahkam." Ucap nyonya Ajeng saat melihat putra nya tersedak minuman.
"Apa tidak terlalu kecepatan abi?" Tanya Ahkam pada abi nya.
"Kan tadi sudah abi bilang lebih cepat lebih baik. Abi tidak ingin menunda-nunda kabar baik ini. Jangan sampai kau kembali lagi ke pelukan perempuan licik itu. Abi sungguh tidak sudi mempunyai menantu seperti wanita ular itu!" Ujar tuan Ahmad sedikit menaikan suaranya.
"Tapi abi.. Ahkam ingin.." Belum sempat Ahkam menyelesaikan ucapan nya, tuan Ahmad langsung memotong ucapan Ahkam.
"Kau selalu saja menentang semua perintah abi padamu! Dasar kau anak pembangkang!" Maki tuan Ahmad terpancing emosi.
"Abi sabar.. Jangan terlalu emosi. Kita bicarakan dengan kepala dingin." Ucap nyonya Ajeng mencoba meredam amarah suami nya.
Sedangkan Zainab terlihat sangat tegang dan ketakutan melihat tuan Ahmad yang tiba-tiba memaki Ahkam penuh emosi.
Ahkam hanya terdiam tak segera menjawab ucapan tuan Ahmad pada nya.
"Ahkam.. Sebaiknya kau turuti saja ucapan abi mu. Ini semua untuk kebaikan mu juga. Kami sangat ingin memberikan istri yang soleha untuk mu. Umi yakin kau tak akan menyesali nya." Ucap nyonya Ajeng penuh pengharpan.
Ahkam terdiam sejenak.
"Baiklah! Aku akan segera mengurus segala keperluan untuk acara pernikahan aku dengan Zainab." Ucap Ahkam penuh penegasan.
"Kalau seperti ini kau sangat terlihat bijak dan dewasa nak." Ucap nyonya Ajeng sedikit memuji putra sulung nya itu.
"Baiklah umi, abi. Kalian tenang saja. Aku pasti akan memperlakukan Zainab dengan baik layaknya seorang perlakuan seorang suami pada istri." Ucap Ahkam bersandiwara.
Zainab hanya menundukan kepala nya.
Sedangkan tuan Ahmad dan nyonya Ajeng terlihat tersenyum senang.
Setelah beberapa menit mereka berbicara penting. Akhirnya keputusan tuan Ahmad untuk menikahkan Zainab dengan putra nya telah disetujui oleh kedua insan yang tak saling mencintai itu.
Ahkam meminta pada kedua orang tua nya untuk tidak mengundang banyak orang.
Cukup keluarga dan teman-teman dekat nya saja yang menghadiri pesta pernikahan nya dengan Zainab.
Ahkam sangat tidak ingin kabar pernikahan nya terekspos kemana-mana. Dia sangat tidak ingin mempublikasikan pernikahan nya dengan wanita yang tidak dia cintai.
Tapi walaupun begitu dia akan tetap mengundang Sintia dan Chandra untuk datang menghadiri pesta pernikahan nya.
Setelah kesepakatan itu telah disetujui. Keempat orang itu pun kembali berkutat dengan kegiatan nya masing-masing.
Zainab sudah berpamitan pada tuan Ahmad dan nyonya Ajeng untuk segera kembali ke asrama yang sudah sangat dia rindukan.
Sementara ditempat lain Ahkam sangat tidak bersemangat dalam mengerjakan tugas di kampus nya.
Bayangan Zainab menari-nari di fikiran nya. Konsentrasinya sungguh sangat terganggu oleh lamunan nya sendiri.
Didalam lubuk hati nya dia sangat tidak rela melihat wanita yang sangat dia cintai menikah dengan abang nya sendiri. Apalagi dia sangat tahu akan semua sikap dan sifat Ahkam. Dia sangat takut Ahkam akan terus menyakiti Zainab.
Tapi walaupun begitu dia tak bisa berbuat apa-apa.
Hanya bisa pasrah dan menitipkan Zainab pada Allah swt di setiap do'a-do'a nya.
*****
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
zanab terlalu baik
tidak oleng🙄
tegas gak lemah