Ririn, seorang gadis sederhana yang tiba-tiba mendapat lamaran dari Devan yang merupakan direktur perusahaan tempat Ririn bekerja.
Devan, seorang direktur perusahaan sekaligus seorang suami dari wanita bernama Citra.
Citra, seorang istri yang baik tetapi malang nasibnya. Dokter telah memvonisnya mandul, tidak bisa mempunyai anak. Karena rasa sayang luar biasa pada suaminya, Citra menyuruh suaminya yaitu Devan untuk menikah lagi agar bisa mempunyai keturunan.
Bagaimana kelanjutan cerita Ririn, Devan dan Citra? Yuk baca novel ini sampai tamat😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Baru
Hari ini, sesudah breakfast di restoran, Devan dan Ririn check out dari hotel. Ririn senang akhirnya bisa pulang ke rumah, sudah terbayang wajah ibu dan kedua adiknya.
Dibantu petugas hotel yang membawa barang-barang yang merupakan hasil belanja dadakan, gara-gara nggak bawa perbekalan untuk menginap di hotel.
Devan yang memasukkan dan menyusun barang-barang ke dalam bagasi mobil. Setelah semua dirasa beres, mereka pun akhirnya meninggalkan hotel tersebut.
"Mas kita mau kemana nih?" Ririn bertanya keheranan karena jalan yang dilalui jelas-jelas bukan menuju rumahnya.
"Tadinya kupikir kita mau ke rumah Mbak Citra... tapi ini kok terus ke Dago Atas..."
Devan terus tersenyum. "Sabarlah, nanti juga tahu..." Devan menjawab, tapi penuh teka-teki.
Akhirnya mobil berbelok memasuki pekarangan dari sebuah rumah yang cukup besar. Tadi ada seorang laki-laki yang sigap membukakan gerbang. Ia memberi hormat pada Devan dan Ririn dengan membungkukkan badannya. Dari dalam rumah keluar seorang perempuan, sama ia pun memberi hormat pada Devan dan Ririn.
"Rin, ini rumah baru untuk kita, sengaja aku tidak memberi tahu sebelumnya, supaya ini jadi kejutan untukmu." Devan tersenyum lalu merengkuh bahu Ririn.
"Rumah? untukku?" Ririn masih membelalak. Rumah itu terlihat ceria dengan paduan warna lembut yang senada.
"Rin, ini Pak Memet yang akan menjadi sopirmu, ini Bi Isah yang akan membantu pekerjaan di rumah." Ririn hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Devan. Tetapi kemudian ia tersadar, ia menyalami keduanya sambil tersenyum.
"Pak Memet tolong keluarkan barang dari dalam mobil, taruh di depan kamar saya." Devan memberi perintah pada Pak Memet sambil memberikan kunci mobilnya.
"Baik Pak."
Devan menuntun Ririn ke taman yang ada didepan rumah. Terlihat jelas tamannya belum lama dibuat, rumput-rumput, bunga-bunga seperti baru ditanam. Ada kolam kecil yang sudah diisi ikan koi.
"Seperti keinginanmu, pengen kolam ikan didepan rumah. Katanya kalau ikan koinya berjumlah delapan melambangkan kekayaan dan kemakmuran sedangkan kalau ikan koinya berjumlah sembilan melambangkan keabadian."
"Kalau kolam ini berisi berapa ekor ikan koinya Mas?"
"Dua belas ekor," jawan Devan sambil tersenyum tak berdosa.
"Hah?" Ririn keheranan.
"Jadi apa maksudnya tadi menerangkan perlambangan jumlah ikan koi didalam kolam?" pikir Ririn sambil mengernyitkan dahinya.
"Tambah banyak kan tambah bagus dilihatnya." Devan seolah mengerti apa yang dipikirkan Ririn.
"Sekarang ayo kita masuk ke dalam, kita lihat kejutan yang lainnya." Devan berbisik di telinga Ririn.
"Waw... rumahnya bagus sekali..." Ruang tamu berwarna krem, kursi tamunya berwarna coklat. Kursi ruang keluarga berwarna hijau pear, dindingnya hijau lime. Pada dindingnya terpasang televisi dengan ukuran cukup besar, mungkin 58 inchi. Nah, yang lucu ruang makan, semua warna pink dengan macam-macam gradasi, salmon, coral, peach. Dapur tak kalah meriahnya, semua gradasi dari warna ungu, lavender, lilac, orchid..., termasuk alat-alat masak.
Di dapur Bi Isah terlihat sedang sibuk memasak. Ririn mendekatinya.
"Masak apa Bi?"
"Semur daging, telor balado, sambal sama lalapan, tahu goreng, tempe goreng... ah yang Bibi bisa aja Bu... tadi Bapak nelpon supaya Bibi masak tapi nggak bilang harus masak apa." Bi Isah menjawab sambil mesem-mesem.
"Itu semua sepertinya lezat," Ririn berusaha memuji usaha Bi Isah.
"Ikut kesini ayo..." Devan menuntun tangan Ririn kebelakang rumah. Di teras belakang rumah ada ayunan gantung rotan sintetis dan di taman belakang rumah ada ayunan besi swing chair.
"Aku menyewa jasa desainer interior, karena kamu ingin rumah penuh warna... Kalau asal mengecat rumah berwarna-warni takutnya malah jadi jelek."
"Lihat ada pohon buah yang sudah berbuah meski pohonnya masih pendek... jadi nanti anak-anakku nggak perlu kamu ajarin buat naek pohon ya... kayak kamu dulu..." Ririn tertawa mendengar perkataan Devan. Karena dulu ia pernah berkata pada Devan akan mengajari anak-anaknya manjat pohon.
Pohon-pohon buah tersebut memang ditanam didalam pot-pot berukuran besar. Ada jambu bangkok, mangga dan jeruk. Ada juga yang tanaman strawberry yang disusun dalam rak besi.
"Mas, kalau ini buah apa ya?" Ririn menunjuk beberapa tanaman dalam pot yang berbuah berwarna merah.
"Oh itu miracle fruit atau orang sini menyebutnya buah ajaib. Asalnya sih dari Afrika. Buah ini bisa mengubah makanan yang rasanya asam menjadi manis, jika memakannya terlebih dahulu sebelum makanan yang rasanya asam." Devan menerangkan pada Ririn seolah dia seorang yang expert dalam hal tanaman, padahal dia juga baru tahu ketika diterangkan oleh penjual tanamannya.
"Bagus jadi tanaman hias, buahnya imut-imut berwarna merah terang." Ririn seperti terpesona.
"Nanti yang merawatnya biar Mang Nono aja, suaminya Bi Isah. Jadi kamu nggak repot, kamu cukup menikmati hasilnya aja," kata Devan sambil memeluk Ririn.
"Sekarang kita lihat kamar tidur kita," Devan kembali berbisik di telinga Ririn.
Kamar tidurnya berada di lantai dua. Dinding dan furniturenya memadukan warna putih dan abu-abu. Didalamnya ada kamar mandi minimalis modern, sangat nyaman, ada pancuran dan bathtub, ada wastafel dengan kaca pada dindingnya sedangkan closet tempatnya agak terpisah ada di pojok ruangan.
Kembali ke dalam kamar tidur, terdapat dua buah jendela berukuran besar, ada pintu diantara jendela tersebut. Devan membuka pintu tersebut, dibalik pintu tersebut ada balkon yang dipenuhi tanaman anggrek dengan bunga yang berwarna-warni. Anggrek-anggrek tersebut disusun sedemikian rupa dalam rak besi.
"Ini sudah disediakan juga alat-alat pendukung untuk merawatnya. Ada semprotan tanaman, ada pupuk, nah.. ini ZPT katanya untuk memicu pertumbuhan, cara pakainya ditambahkan air kelapa dulu sebanyak 150 ml lalu disemprotkan kepada bagian luar anggrek dan media tanam... dan yang ini nih adalah obat anti hama." Devan menerangkan dengan penuh semangat.
"Kalau kamu bingung, lihat nih disini... sudah aku tempel cara merawatnya." Devan menunjuk pada dinding yang terdapat kertas yang sudah dilaminating. Ririn membacanya, 'Cara Merawat Anggrek'.
"Wow...hebat," Ririn mengacungkan dua jempol tangannya. Devan tersenyum bangga.
"Minta bonus dong... cium," Devan menunjuk bibirnya.
"Pipi aja ya..."
Devan menganggukkan kepalanya. Ririn berjinjit hendak mencium pipi Devan, tapi secepat kilat Devan memeluk Ririn lalu mencium bibirnya.
"Mmm... ahh... sesak nih Mas." Ririn mendorong dada Devan agar ia bisa bernafas.
Devan membawa Ririn masuk kembali ke kamar tidur mereka.
Ada tempat tidur berukuran king size dengan nakas dikedua sisinya. Ada meja rias besar berwarna putih. Ada lemari pakaian besar berwarna putih juga. Ririn membuka lemari itu, didalamnya sudah ada beberapa pakaian laki-laki... pasti milik Devan... dan apa ini? ada baju tidur kurang bahan, tipis, menerawang... untukku?
Ririn mengambil gantungan berisi baju tidur itu, "Apa ini untukku?" sambil membelalak pada Devan.
Devan mengangguk sambil tertawa. "Nanti malam pakai ya?! Aku pengen lihat kamu pakai itu," ia lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Gak mau... sama aja nggak pakai baju."
"Pake aja... paling cuma sebentar... nanti juga dibuka lagi." Devan tertawa terkekeh.
"Duduk sini Rin", Devan menepuk-nepuk tempat tidur dimana ia sudah mendudukinya terlebih dahulu.
Ririn menggeleng sambil tertawa, "Wah... sepertinya bahaya kalau aku duduk disitu."
"Ayolah kita coba kasur baru kita." Devan mengedipkan sebelah matanya.
"Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Tadi kulihat Bi Isah sudah selesai masaknya." Ririn mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Mmm, baiklah... kita makan dulu, tapi... sesudah makan kita lanjutkan lagi urusan kita," Devan mengultimatum.
*********************************************
terima kasih sudah membaca novel ini, mohon beri dukungan author dengan memberikan rate, vote, comment n like ya 😘😘😘
*********************************************
ceritanya kyk keseharian bagus 👍
mampir juga di karya ku ya Tangis Gadis Tegar dan Dikhianati tapi Dicintai karya Fiwanaka
terimakasih
yg maksa minta devan nikah lagi sopo,,, devan jelas² saranin adopsi, citra ngeyelll !!!
akh sumpah kasian aku mah sama Ririn, sekolah yg tinggi Rin, trus berkarier, buka usaha ato apa,,, hempaskan lah Devan n Citra,,, seumur hidup makan ati klu kayak gitu ceritanya,,,