Dijodohkan dengan lelaki yang lebih muda 5 tahun darimu, apa kamu mau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon athania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 Bulan
Pagi hari, Olivia tengah sibuk dengan bahan-bahan masakan yang ada di depannya, mulai dari sayur-sayuran, bumbu dapur, potongan-potongan ayam dan sekotak daging sapi, ia mencoba untuk memasak.
Tek Tek Tek
Bunyi dari wortel yang tengah di potongnya.
"Kenapa keras sekali" keluhnya memotong wortel dengan banyak tenaga.
Blubup Blupup Blupup
Suara dari air mendidih di dalam panci, sesekali air mendidih itu jatuh menyentuh kompor yang sedang mengeluarkan api sehingga menimbulkan bunyi yang cukup berisik, Olivia segera mengambil potongan ayam yang sudah di cuci dan memasukkannya ke dalam air mendidih tersebut.
"Panas!!" pekiknya ketika hampir menyentuh air yang tengah mengeluarkan buih-biuh berbentuk bundar.
Setelah potongan ayam ia masukkan semua tak lupa ia segera memberikan bumbu siap saji dari dalam plastik, Olivia memgaduknya perlahan. Ayam itu kini berwarna kekuningan dan cukup harum.
"Sepertinya kali ini aku akan berhasil memasak ayam goreng" ucapnya sambil mengulas senyuman, ada sedikit kebanggaan dalam diri Olivia ketika dirinya berusaha dengan cukup keras untuk memasak, sebenarnya ia begitu asing dengan tempat yang bernama dapur. Jika bukan untuk mengambil makanan atau minuman ia jarang masuk ke sana, namun kali ini bak petir di siang bolong Olivia ingin sekali belajar memasak meski hanya makanan sederhana.
Olivia tak dapat berhenti memperlihatkan giginya yang putih sambil sedikit bernyanyi, ia masih mengaduk-aduk ayam kuningnya tersebut.
"Sedang apa?" suara bariton dari arah belakang mengejutkannya, pemuda itu berjalan ke arah samping Olivia, mulutnya terkadang masih terbuka dan menguap.
"Aku sedang memasak" jawabnya singkat kemudian melanjutkan nyanyiannya. "Nananananana 🎶"
"Oh sepertinya kau tampak senang tapi apa kau yakin masakanmu ini bisa di makan oleh manusia?" tanya Rey sambil menenggak air mineral yang sudah di tuangnya ke dalam gelas.
"Aku memasak ini untuk seorang kurcaci!" ledeknya tak terima dengan ucapan Rey.
"Cih!! Awas saja kalau rasanya tidak enak"
"Kalau tidak enak ya tidak usah di makan, biarkan aku yang menghabiskan semua makanan yang aku buat!"
Rey mendudukkan dirinya di kursi sambil memandang punggung Olivia yang ke sana kemari, memeriksa kematangan ayam lalu mencicipinya, memotong sayuran, dan menyiapkan bumbu, nampaknya ia sedikit kerepotan.
"Kau harus kursus memasak" komentar Rey yang melihat keadaan dapur yang jadi berantakan.
"Hem, boleh juga. Lain kali jika aku sempat" Olivia kali ini setuju dengan saran yang di berikan Rey, memasak membuatnya merasa seperti wanita dewasa yang normal, bukankah sebentar lagi ia akan menikah? tidak ada salahnya jika ia mencoba memberikan service terbaik untuk keluarga kecilnya kelak.
Bletakk
Sebuah pisau menekan alas untuk memotong.
Ceeesssss
Air kaldu dari ayam yang tengah di rebusnya menyembur keluar cukup banyak.
"Haiissshhh" ucapnya melempar pisau yang di pegangnya asal. Karena terlalu cepat berlari Olivia hampir terjatuh karena menginjak sampah yang berserakan di lantai, beruntung Rey dapat menghalaunya agar tidak jatuh menimpa kompor.
Rey memutar tuas kompor segera dan mematikan apinya.
"Kau memangnya tidak bisa berhati-hati! ini berbahaya!" tegasnya dengan sorot mata yang tajam, dia tidak percaya bahwa calon tunangannya ini begitu ceroboh.
"Maaf" lirih Olivia pelan, karena malu ia memilih untuk melanjutkan memotong sayuran kembali namun pekerjaannya lagi-lagi berubah kacau dan mengeluarkan suara berisik.
"Bahkan kau tidak bisa memilih sayuran yang tua dan yang muda?" tanya Rey memeriksa potongan wortel yang di periksanya, bentuknya aneh. "Ini wortelnya sudah terlalu tua, akan sulit di olah" Rey memperlihatkan bagian dalam wortel yang berwarna putih dan keras.
"Aku tidak tahu bahwa wortel juga ada yang tua" kilahnya dengan wajah polos.
"Haaaahhh" mendengar perkataan Olivia membuat Rey menarik napas panjang. "Kalau mau memasak lebih baik memilih wortel yang muda, jika kau memasak wortel yang tua maka sama saja kau seperti makan kayu, keras dan tentu saja tidak enak"
"Oohh begitu" Olivia mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti walau sebenarnya ia tidak tahu cara yang benar untuk membedakannya.
"Memotongnya juga tidak seperti ini, lebih baik di potong miring" Rey mengambil pisau dan memberikan contoh memotong wortel. "Ini cobalah"
Olivia melanjutkan, ia mengikuti cara yang di ajarkan oleh Rey namun tangannya kaku dan potongan wortel tersebut masih tebal.
"Tipis saja" tak ada pilihan, Rey melangkahkan kakinya untuk bergeser ke belakang tubuh Olivia, gadisnya ini nampak susah mencerna perkataannya, kedua tangannya berangsur memegang kendali pada tangan Olivia. Perlahan ia menggerakkan tangannya bersama tangan tunangannya, sekali lagi memberi tahu cara memotong sayuran.
Deg Deg Deg
Jantung Olivia berdetak kencang, tubuhnya dengan tubuh Rey tak berjarak, mereka menempel satu sama lain, tepat sekali kepala Rey berada di samping bahunya menunduk. Olivia sendiri jadi tidak fokus dengan apa yang telah di ajarkan calon suaminya. Sesekali ia melirik dan memandang wajah Rey yang begitu dekat dengan wajahnya namun ketika melihat ke bawah dan menatap kaki Rey.
"Su-sudah kalau begitu kau saja yang masak!" hardiknya melepaskan diri, ia menepis tangan Rey dan menjauh.
"Bukankah kau yang ingin memasak?"
"Aku jadi tidak bernafsu, sebaiknya kita buang saja. Sepertinya seorang kurcaci pun tidak mungkin akan memakan masakanku" pipi Olivia terlihat memerah dan menghangat, sebenarnya bukan itu penyebab ia tidak mau melanjutkan kegiatan memasaknya.
"Ini sudah setengah jalan, sayang sekali kalau di buang. Ya sudah biar aku saja yang masak" Rey mengambil celemek yang tergantung di sudut dapur dan memakainya.
"Eh apa kau bisa masak?"
"Bisa, kalau begitu kau duduk saja dan memperhatikan" ucapnya kemudian mengambil alih semua pekerjaan. Olivia menatap Rey yang sepertinya lihai menggunakan pisau dan membumbui. Dia terlihat tenang, semua proses memasak nampak teratur dan cepat selesai.
"Aku yang sudah dewasa ini kalah oleh seorang anak kecil padahal dia seorang laki-laki tapi kenapa dia begitu pintar mengolah makanan, sayang jika saja kau sedikit lebih tinggi mungkin adegan tadi membantuku memotong wortel yang romantis tidak akan aku akhiri, aku benar-benar merasa jadi pedofil barusan. Cepatlah tumbuh cebooolll!!" ronta Olivia dalam hati.
"Jangan melamun jangkung!! cepat makan!!" ucap Rey meletakkan satu piring berisi ayam goreng di atas meja, dia menyelesaikan masakannya cepat.
"Sejak kapan kau selesai?" tanya Olivia merasa heran.
"Barusan, sekarang silahkan cicipilah masakanku" Rey menaruh sayur capcay, ayam goreng dan sambal, sedangkan daging sapi tadi belum sempat dia masak karena perutnya sudah terlalu lapar.
Olivia menyendokkan makanan di atas piring ke dalam mulutnya. Matanya membulat saat ia mulai mengunyahnya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Rey penasaran.
"Enak!! ternyata kau memiliki bakat selain bakatmu yang tidak bisa tumbuh cepat" goda Olivia lagi membuat Rey mendengus.
"Terserahlah kau bilang apa!" cacing di dalam perutnya sudah berdemo ingin segera di beri asupan, sehingga Rey tidak mau menanggapi candaan Olivia kali ini. Mereka makan bersama menikmati masakan rumahan yang di masak mendadak oleh Rey.
Dddrrttt Dddrrtt
Getar ponsel milik Rey yang ia letakkan di atas meja, dia menghentikkan kegiatan makannya dan menyambar benda pipih itu.
"Iya halo kak" sapanya setelah menggeser tombol hijau.
"Rey ayah sakit dan sekarang sedang di rawat" Ucap Daniel langsung tanpa berbasa basi.
"Apa!! ayah sakit apa kak?" tanya Rey panik.
"Kemungkinan penyakit jantungnya kambuh dan sebentar lagi ayah akan melakukan prosedur operasi"
"Kalau begitu aku akan pulang sekarang" jawab Rey segera.
"Iya katakan pada Olivia untuk tenang, dan kamu sebaiknya hati-hati di jalan"
"Iya kak" Rey mematikan sambungan teleponnya, dia segera berdiri dan mencuci tangan.
"Apa keadaan Om Alex sangat parah?" tanya Olivia setelah mendengar pembicaraan Rey tadi, ia cukup mengerti.
"Ayahku akan di operasi, aku harus segera kembali ke Indonesia" ucapnya kemudian dengan terburu-buru dia mengemasi pakaiannya.
"Aku akan ikut pulang denganmu"
"Tidak! kau tetaplah di sini, selesaikan dulu skripsimu. Aku yakin ayahku akan baik-baik saja." cegahnya menatap Olivia yang menampakkan mimik wajah khawatir.
"Tapi. ."
"Aku akan mengabarimu secepatnya tentang kondisi ayahku, tugasmu di sini belum selesai" jelasnya kembali memasukkan pakaiannya asal.
"Baiklah" jawab Olivia lesu.
***
Olivia dan Rey kini berada di bandara, keberuntungan sedang berpihak pada Rey. Penerbangan untuk ke Indonesia ada tepat setelah dua jam dia menerima kabar ayahnya yang sakit. Rey menarik koper di sampingnya, pemberangkatannya akan di mulai sebentar lagi.
"Aku pulang ya" pamit Rey memandang Olivia yang sedih, ada rasa bersalah dan khawatir yang bersarang dalam lubuk hatinya.
"Iya jangan lupa kabari aku tentang keadaan ayahmu" Rey menganggukkan kepalanya.
"Cepat selesaikan tugas akhirmu jangan menundanya terus agar kau kembali ke Indonesia segera. Susul aku!" nasihat Rey dengan wajah murung, dia masih ingin menghabiskan sisa liburannya di Singapura bersama calon istrinya tersebut namun keadaan berkata lain.
"Iya" Olivia tak lagi mampu berkata apa pun, sedih. Kenapa ia jadi tidak ingin berpisah dengan kekasih kecilnya ini, padahal selama bersama Rey mereka sering terlibat pertengkaran namun saat jarak memisahkan bahkan belum seujung kuku kepergian Rey Olivia sudah sangat merindukannya.
Rey dapat membaca ekspresi itu dari dua bola mata Olivia. Dengan Refleks dia merengkuh dan memeluknya, meski tinggi badannya masih tumpang tindih, Rey dan Olivia bersikap acuh. Mungkin orang lain berfikir mereka ini sepasang adik kakak.
Buliran air mata menetes sedikit demi sedikit dari mata gadis berambut panjang tersebut.
"Aku benar-benar harus pergi" bisik Rey pelan.
"Eem!!" Olivia menyeka air di sudut matanya, Rey melepas pelukannya meski hatinya terasa berat, dia berjalan mundur dan melangkahkan kaki meninggalkan Olivia sendiri jauh semakin jauh.
"Tunggu!!" teriak Olivia sambil berlari ke arah tunangannya tepat sebelum dia memberikan tiket pesawatnya pada penjaga.
"Apa ap. ." mulut Rey terkunci tidak dapat menyelesaikan pertanyaannya. Olivia mengecup bibir Rey dan ******* bagian bawahnya. Pemuda tersebut terdiam mematung tak berbuat apa-apa selain membulatkan mata.
Ciuman itu pun terjadi sekitar 5 detik, kemudian Olivia melepaskan bibir ranum Rey.
"3 bulan, aku berjanji 3 bulan lagi akan pulang" pungkas Olivia kemudian berjalan menjauhi Rey dan melambaikan tangan sambil tersenyum manis. Rey sudah di peringatkan penjaga agar segera lekas menuju pesawat tak memberinya kesempatan untuk berlama-lama.
"Tepati janjimu!!" teriak Rey yang di balas dengan anggukan kepala Olivia.
Kini Olivialah yang melepas kepergian Rey, ia menatap jendela besar. Jauh dari sana sebuah pesawat sedang lepas landas dan terbang.
"Sebentar lagi aku pasti pulang" lirihnya memegang dada karena merasa cukup sesak di sana.
***
Tap tap tap
Langkah kaki seorang gadis dengan sepatu highells nya yang runcing. Ia menapakkan kakinya menuju ruang kantor.
"Selamat datang Ibu" sapa beberapa pegawai yang di lewatinya. Gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepala lalu tibalah ia di depan pintu yang bertuliskan Manager Perusahaan. Ia perlahan mendorong gagang pintu tersebut dan masuk, seseorang telah menunggunya.
"Anda terlambat ibu Manager" dengan nada penekanan.
"Berhenti memanggilku ibu, aku belum menikah!" tegasnya sambil meletakkan tasnya di atas meja.
"Lalu kamu mau di panggil apa?"
"Manager Olivia" gadis itu mengangkat satu sudut bibirnya dengan bangga.
kangen sma pasangan ini
keknya seru
seru soalnya
senangnya..
see u Rey dan Oliv...🥰🥰🙏💪
cukup. Rey dan Oliv aza
Daniel di novel lain aj kak