NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Fajar Kebenaran

Matahari baru terbit di ufuk timur Jakarta, tapi udara di depan gedung Adhitama Corp rasanya udah panas banget, kayak mau ada perang. Suasananya kaku, tegang, kayak semua orang di sana pada nahan napas, nungguin sesuatu yang besar bakal kejadian.

Mobil SUV hitam berhenti mulus tepat di depan pintu kaca besar. Pintu depan terbuka, keluar dulu Faris Arjuna. Bajunya rapi tapi santai, kemeja hitam digulung sampai siku, badannya tegak, matanya jelalatan ngawas ke kiri kanan, atas bawah, nggak ada satu sudut pun yang kelewat dari pandangannya. Tangannya yang kanan nyengklek sebatang rokok Gajah Baru di sela jari, yang barusan dia kertek ujungnya, biar baunya keluar tapi belum dia nyalain. Gayanya santai, jalan pelan tapi berat, kayak orang yang tahu persis bahaya ada di mana dan dia siap ngadepin kapan aja.

Dia nengok sebentar ke dalem mobil, terus buka pintu sebelah kiri. "Ayo, Bu. Jalan tegak, jangan nunduk. Mereka nungguin Ibu takut, jangan dikasih kepuasan itu," katanya pelan, nadanya datar tapi tegas, kayak abang yang ngajak adiknya berani ngadepin masalah.

Viona keluar dari mobil. Pakainya setelan jas putih gading yang bersih banget, rambut disisir rapi, mukanya tenang banget, nggak kelihatan kalau semalam dia baru aja lari nyawa-nyawaan mau dibunuh. Di dalam hati dia deg-degan parah, tapi dia tahu, selama Faris ada di sebelahnya, dia nggak sendirian. Dia ngangguk pelan, narik napas dalem, terus jalan masuk ke dalem gedung bareng Faris.

Pas mereka lewatin lobi, hening seketika. Resepsionis berhenti ngetik, staf yang bawa berkas berhenti jalan, karyawan yang mau naik lift pada diam, terus pada bisik-bisik satu sama lain. Semua orang di sana kemarin denger kabar kalau Bu Viona udah kalah, udah dicoret dari perusahaan, bahkan ada yang bilang dia udah "disingkirkan". Tapi sekarang, dia jalan masuk dengan wajah tenang, tatapan tajam, lebih berwibawa daripada waktu dia masih jadi bos biasa. Dan di sebelahnya ada Faris, si pemuda dari Sidoarjo itu, yang jalannya santai tapi bikin siapa aja yang ngeliat rasanya segan dan takut.

Tujuan mereka cuma satu: ruang rapat besar di lantai paling atas. Di dalem sana, semua orang penting udah kumpul. Di kursi yang seharusnya jadi milik Viona, sekarang duduk Pak Bramantyo. Mukanya cerah banget, senyumnya lebar, kelihatan banget dia lagi puas, yakin banget hari ini rencananya bakal sukses total, dia bakal pegang kendali penuh perusahaan ini. Dia sama sekutunya udah rencanain ini berbulan-bulan, mikir semuanya udah aman, nggak ada yang bisa ganggu.

Tapi pas pintu ruang rapat dibuka lebar, dan Viona muncul di depan pintu bareng Faris yang berdiri tegak di belakangnya, senyum puas Pak Bramantyo langsung beku di bibirnya. Matanya melotot, napasnya berhenti sebentar, kayak ngeliat hantu hidup balik. Wajah yang tadi cerah ceria langsung berubah pucat, keringat dingin mulai nongol di dahinya.

"Selamat pagi, semuanya," suara Viona kedengeran jelas, tenang, dan keras banget, ngerusak keheningan yang tadi ada. Dia jalan lurus ke kursi pimpinan, duduk di sana santai, seolah dia nggak pernah pergi, seolah itu emang tempat dia dari dulu.

Faris berdiri tepat di belakang kursi Viona. Dia masih megang rokok Gajah Baru itu, nggak dinyalain, cuma sengklek santai di jari, matanya natap tajam ke Pak Bramantyo, senyum tipis sedikit di ujung bibirnya — senyum orang yang tahu persis rahasia lawan, senyum orang yang udah pegang kendali permainan. Di tangan kirinya, dia pegang flashdisk kecil yang isinya semua bukti yang dia kumpulin semalam.

"Viona? Kok... kok kamu bisa ada di sini?" gumam Pak Bramantyo, suaranya agak gemetar, matanya nyelidik, nyari tanda-tanda kelemahan di wajah Viona. "Kami... kami semua denger kabar kalau kamu nggak bisa dateng, ada urusan penting yang harus diselesaikan. Kami udah siap ambil keputusan demi kebaikan perusahaan ini, lho."

Viona natap Pak Bramantyo tepat di matanya, tatapannya tajam banget, kayak bisa nembus sampe ke dalem hati orang itu.

"Urusan itu udah selesai, Paman," jawab Viona santai tapi tegas. "Dan sekarang, giliran kita bahas urusan perusahaan yang selama ini Paman sama kawan-kawan sengaja sembunyiin rapet-rapet. Urusan yang kotor, yang nyedot duit perusahaan buat kantong sendiri."

Ruangan langsung jadi gaduh banget. Para direktur sama pemegang saham pada bisik-bisik, mukanya kaget, bingung, ada yang mulai kelihatan panik. Faris nggak peduliin keributan itu. Dia jalan santai ke depan, rokoknya masih dia sengklek di jari, terus nyolokin flashdisk ke alat yang nyambung ke layar lebar di dinding.

"Heh! Apa yang kamu lakuin? Siapa kasih izin kamu pegang barang-barang di sini?" teriak Pak Bramantyo, langsung berdiri kasar, mukanya merah padam, tangannya nepuk meja kencang banget. Dia mau maju nyegah Faris, tapi baru satu langkah, dia langsung berhenti kaku.

Faris nengok sedikit ke arah dia, matanya dingin banget, suaranya rendah tapi berat banget, bikin siapa aja yang denger rasanya merinding.

"Jangan gerak lagi, Pak Bram," kata Faris santai, nadanya datar tapi nggak bisa ditawar. Dia malah ngangkat tangannya sedikit, ngeliatin rokok Gajah Baru yang dia pegang, terus kertek sedikit lagi ujungnya biar baunya makin keluar. "Saya nggak mau bikin rusuh di sini, apalagi di depan Bu Viona. Tapi kalau Bapak masih keras kepala, saya nggak jamin tangan saya bakal diam aja. Ingat, Bapak lagi ngadepin orang yang nggak punya apa-apa buat dihilangin, jadi saya nggak takut apa-apa."

Tubuh Pak Bramantyo kaku banget. Dia sadar, pemuda di depannya ini bukan sekadar pengawal biasa yang bisa dia suruh-suruh atau dia takut-takutin. Dia duduk lagi dengan berat, napasnya berat banget, matanya penuh rasa benci tapi juga takut.

Layar besar itu tiba-tiba nyala terang. Satu per satu data muncul di sana: catatan transaksi aneh, rekaman obrolan rahasia, bukti akses sistem yang jelas banget nama Pak Bramantyo sama orang-orang kepercayaannya ada di sana. Semuanya jelas banget, rinci banget, nggak ada cara buat ngeles. Ruangan yang tadi gaduh langsung hening total, sampe suara jatuh jarum pun kedengeran. Semua orang natap layar itu dengan mulut nganga, kaget banget sama apa yang mereka liat.

Viona berdiri pelan-pelan, natap satu-satu wajah orang yang ada di situ. Dia liat ada yang takut, ada yang malu, ada yang panik banget.

"Yang kalian liat ini semuanya bukti asli," kata Viona tegas, suaranya bergetar dikit karena emosi. "Saya udah laporin semuanya ke polisi pagi ini. Sekarang mereka lagi jalan ke sini, sepuluh menit lagi mereka sampe. Siapa aja yang namanya ada di data ini, atau yang terlibat, nanti jangan bilang saya nggak kasih kesempatan buat ngaku."

Wajah Pak Bramantyo yang tadi merah sekarang jadi pucat banget, kayak orang yang baru aja ketakutan setengah mati. Dia nyoba mundur, mau lari keluar pintu, tapi pas dia nengok, di depan pintu udah berdiri dua orang satpam yang masih setia sama keluarga Viona. Mereka natap dia tajam, nggak ngasih dia lewat sama sekali.

"Viona! Kamu bodoh banget!" teriak Pak Bramantyo, suaranya pecah, panik banget. "Kamu nggak tahu siapa yang ada di belakang saya! Kamu nggak tahu seberapa besar kekuasaan mereka! Kalau kamu terusin ini, kamu bukan cuma nyelakain diri sendiri, tapi juga nyelakain semua orang yang kerja di sini! Perusahaan ini bisa hancur total!"

Faris maju satu langkah lagi, berdiri sejajar sama Viona. Dia senyum tipis, terus ngangkat rokok Gajah Baru yang dia pegang, kertek lagi ujungnya, biar suaranya kedengeran jelas di ruangan yang hening itu.

"Kami nggak butuh tahu siapa mereka, Pak Bram," kata Faris santai tapi tajam banget. "Yang kami tahu, hari ini permainan Bapak berakhir di sini. Bapak sama kawan-kawan udah kerakusan, udah ngelakuin hal yang nggak bener, sekarang saatnya nanggung akibatnya. Di Jakarta ini, orang kuat emang banyak, tapi kebenaran itu kalah sama sekali sama uang sama kekuasaan. Dan hari ini, saya sama Bu Viona ngenalin lagi hal itu ke Bapak."

Nggak lama kemudian, dari luar kedengeran suara sirine polisi makin lama makin deket, makin keras, terus berhenti persis di depan gedung. Suara itu bikin Pak Bramantyo langsung lemas, jatuh duduk lagi di kursinya, mukanya kosong banget, sadar kalau semua rencana ambisinya udah hancur lebur gara-gara bukti yang dikumpulin sama anak kampung dari Sidoarjo ini.

Viona nengok ke Faris, matanya basah dikit, kelihatan banget rasa lega dan terima kasih yang nggak bisa dia omongin pakai kata-kata. Selama ini dia merasa sendirian, lemah, takut, tapi sekarang dia sadar, selama Faris ada di sebelahnya, dia nggak bakal kalah. Faris cuma ngangguk pelan, terus nyimpen rokoknya lagi ke saku baju, nggak dia nyalain juga. Dia tahu, masalah yang sebenernya belum selesai. Orang-orang besar yang nyuruh Pak Bramantyo pasti masih ada di luar sana, bersembunyi, nungguin kesempatan buat nyerang balik. Tapi buat sekarang, langkah pertama udah dimenangin.

Faris natap keluar lewat jendela kaca yang besar. Di luar sana, matahari udah bersinar terang banget, langitnya biru bersih, kayak ngerayain kemenangan mereka hari ini. Dia senyum dikit, terus ngomong dalem hati: Ini baru awal, Faris. Masih panjang jalan yang harus ditempuh, masih banyak bahaya yang nungguin. Tapi selama napas ini masih ada, selama kamu masih pegang janji sama diri sendiri, kamu nggak bakal mundur.

Dia nengok lagi ke arah Viona yang lagi ngomong sama orang-orang yang ada di ruangan itu, mukanya tegar banget. Faris tahu, perjuangan mereka belum kelar. Tapi dia siap, dia udah bertekad, apa pun yang terjadi, dia bakal nemenin Viona sampe tuntas.

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!