Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 "DIA SUDAH DATANG NISA..."
Singkat cerita...
Dua hari pertama pondok putri ini memulai seluruh kegiatannya...
Alhamdulillah, seluruhnya berjalan dengan baik...
Setiap menjelang shubuh, aku, Ayu, dan Bunga, membangunkan semua santriwati. Mengarahkan mereka untuk segera mandi dan bersih-bersih.
Setelahnya, Bunga bertugas memberikan kajian umum ilmu agama di masjid sebelum shubuh untuk semua santri. Dilanjutkan dengan kegiatan sholat shubuh. Setelah itu, Bunga membimbing mereka semua untuk belajar ilmu Al-Quran, seperti tata cara membaca yang baik dan benar, kemudian tilawah bersama sampai menjelang persiapan mereka semua untuk bersekolah.
Selama waktu itu pula, Ayu bertugas mempersiapkan sarapan pagi, aku pun membantunya.
Di saat para santriwati bersekolah, aku, Ayu, dan Bunga, mengisi waktu luang di pondok bersama. Seperti melakukan kegiatan bersih-bersih sekitar area pondok, melaksanakan sholat dhuha, membaca Al-Quran bersama, dan juga Bunga memberikan ilmu yang telah ia miliki kepada kami berdua. Saling berdiskusi, saling berbagi ilmu. Dan juga kami mengisi waktu dengan mengobrol santai di balkon lantai dua.
Setelah para santriwati pulang dari sekolahnya masing-masing di siang hari, Ayu bertugas untuk mempersiapkan makan siang. Dibantu juga olehku dan Bunga.
Setelah itu, Ayu mengarahkan dan mengajarkan mereka tentang kemandirian selama tinggal di pondok ini. Seperti mengajarkan cara membersihkan kamar masing-masing, membereskan isi kamarnya, mencuci pakaian masing-masing, sampai kepada mengajarkan mencuci piring dan gelas setelah mereka makan.
Ayu, melakukan semua tugasnya itu dengan pembawaan dirinya yang riang dan ceria. Suka bercanda dengan para santriwati, kadang terlihat beberapa kali suka menjahili mereka. Membuat Ayu sangat disukai oleh para santriwati, tak butuh waktu lama.
Dilanjutkan ke kegiatan setelah sholat ashar sampai menjelang maghrib. Diisi oleh Bunga, mengajarkan ilmu Al-Quran dan juga hadits.
Bunga, terlihat jauh lebih lihai dan sabar dalam mengajarkan ilmu kepada mereka. Tutur bahasanya yang sopan, nada bicaranya yang lembut, tertata dan terstruktur. Juga sikapnya yang penyayang serta tenang itu, membuat semua santriwati sangat cepat akrab dan merasa nyaman dalam belajar bersama Bunga.
Sedangkan aku, bertugas untuk mengisi kegiatan malam. Mulai dari sholat maghrib, sholat isya, dilanjutkan kegiatan hafalan dan setoran hafalan para santriwati, sampai menjelang tidur pukul 9 malam.
Aku juga berusaha sebaik mungkin. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan juga beberapa ketegasan untuk semua santriwati. Dan juga, aku memantau seluruh kegiatan dari mulai menjelang shubuh sampai malam hari.
Dan Alhamdulillah...
Aku, Ayu, serta Bunga, lancar melaksanakan semua itu di dua hari pertama pondok putri ini dibuka.
.....
.....
Akan tetapi,
Karena semua kegiatan awal pondok ini yang terasa bahagia, terasa menyenangkan, dan juga terasa tenang,
Aku mulai jadi sedikit tak "waspada"...
Mulai menjadi sedikit tak "awas"...
Aku seperti terlupa dengan "pesan" dari Sekar Mayang dan juga Dayang Putriku...
.....
.....
Terlupa dengan "pesan" sakral...
Tentang...
"Dia" yang akan datang...
.....
.....
🌄🌄🌄🌄🌄🌄🌄
🌳🌳🌳🕌🌳🌳🌳
Terlihat jam di layar HP ku, menunjukkan pukul 5 sore. Satu jam lagi menjelang waktu maghrib.
Tampak keempat santriwati sedang menikmati waktu bersantai mereka di beranda masjid. Mereka saling bercanda, saling bermain, tampak sangat menyenangkan.
Bunga yang telah mengisi kegiatan sore untuk mereka, tampak bersantai sejenak di balkon. Menikmati waktu sore ini dengan segelas teh manis hangat.
Aku menghampirinya...
"Waaah... Santai-santai kok ngajak Mbak sih?" kataku sambil mulai duduk di sampingnya.
"Eh, hehehe... Aku tadi mau ajak Mbak Nisa minum teh di sini. Tapi kata Mbak Ayu, kamu masih mandi..." jawabnya, dengan senyuman manis khasnya.
"Hehehe... Iya sih... Habisnya gerah banget. Udah gitu tadi juga Mbak baru selesai beresin kamar."
Aku ikut menikmati suasana sore yang terasa begitu syahdu bersama Bunga di balkon.
Hembusan angin sore yang pelan, membuat dedaunan hutan jati di sekitar pondok bergesekan. Ditambah juga dengan suara hewan-hewan malam yang akan memulai aktifitasnya menjelang maghrib ini.
"Bunga..." panggilku.
"Ya Mbak Nisa?"
"Emm... Kamu berapa lama mondok di Gontor?" tanyaku berbasa-basi. Ingin lebih mengenal dirinya.
"Aku mondok di Gontor mulai dari SMP sampai SMA Mbak. Sekitar 6 tahun. Ditambah mengabdi juga di sana sekitar satu tahun."
"Wah, lama juga ya... Pantesan..."
"Pantesan kenapa Mbak?" tanyanya.
"Pantesan kamu banyak ilmunya. Keliatan banget sabar dan tenang kamu tuh."
"Ah, Mbak Nisa bis aja..." jawabnya sambil memukul pelan lenganku.
"Eh, beneran loh... Kamu tuh keliatan banget berilmu. Buktinya kamu bisa lihai dan mahir ngajarin santri-santri. Penjelasan kamu tertata, detail, sampe semua pertanyaan mereka bisa kamu jawab lengkap." jelasku.
"Enggak loh Mbak... Aku juga masih harus banyak belajar."
"Ah, kamu tuh, merendah terus..."
"Hehehe... Merendah itu adalah sikap yang baik loh Mbak. Justru kalau diri kita merasa lebih baik dari orang lain, itu sikap yang gak baik. Kita harus menjadi orang yang tawaduk." jelasnya.
Aku mendengar ucapannya itu, seperti mendapatkan sebuah kajian agama yang sederhana tapi langsung meresap ke dalam batinku.
"Iya Bunga, bener banget kamu." responku.
"Mbak Nisa kelihatan sabar banget orangnya, kelihatan penyayang juga." kata Bunga.
"Masa sih?"
"Iya Mbak. Seperti udah lihai dan terbiasa menghadapi anak-anak." tambahnya.
"Ya sebenernya... Mbak di rumah yang di Bogor itu, emang ngajar ngaji juga. Ya anak-anak desa seumuran SD lah..." jelasku.
"Iya kah Mbak?"
"He'em..." responku sambil mengangguk cepat.
"Oh, iya, aku ingat. Ustadz Furqon juga udah sedikit banyak cerita tentang Mbak Nisa ke saya, sebelum saya dateng ke sini."
"Iya kah? Apa aja yang diceritain sama beliau?" tanyaku sambil menghadapkan tubuhku kepadanya.
"Ya gitu deh... Hehehe..."
"Yeeeh... Cerita dong..."
"Ya yang diceritain sama Ustadz Furqon tentang Mbak, semuanya baik-baik kok..." jawab Bunga.
"Hehehe... Iya deeeh..."
Di saat aku mengobrol ringan itu, tiba-tiba HP ku berdering. Aku lihat, ternyata Ustadz Furqon mengirim sebuah pesan.
Pesan itu bertuliskan...
"Assalamu'alaikum... Nisa, Ayu, Bunga... Insya Alloh setelah Isya malam ini, santriwati yang waktu kemarin saya ceritakan, akan sampai di pondok putri. Dia ternyata diantarkan oleh saudara orang tuanya. Tolong disambut ya. Dan selebihnya saya serahkan kepada kalian bertiga. Terima kasih."
Aku pun langsung membalasnya...
"Wa'alaikumsalam... Siap Ustadz... terima kasih kembali atas informasinya..."
Dan aku langsung memberi tahu kabar kedatangan santriwati ke lima itu kepada Bunga yang ada di sebelahku. Dan ia pun tampak bersyukur juga.
Akhirnya, Bunga meminta izin untuk turun, dan membantu persiapan kegiatan maghrib sampai jam 9 malam nanti.
Tapi sebelum ia turun, aku berkata...
"Eh, Bunga, berarti nanti setelah Isya, gantian kamu dulu ya yang isi kegiatan santri. Mbak mau urus santri baru ini."
"Oh, tenang aja Mbak Nisa. Siap kok... Hehehe... Ya udah, aku turun dulu ya Mbak."
"Iya Bunga, makasih banyak ya..."
"Sama-sama Mbak..."
.....
.....
.....
🌙🌙🌙🌙🌙🌙🌙
🌳🌳🌳🕌🌳🌳🌳
Setelah Isya malam ini, Bunga langsung menggantikan diriku untuk mengisi kegiatan belajar malam para santriwati, dibantu pula oleh Ayu. Kegiatan mereka di masjid.
Sedangkan aku, bersiap untuk menyambut kedatangan santriwati ke lima tersebut.
Aku sudah berdiri di depan gerbang pondok yang terbuka. Berdiri sendirian menunggu kedatangannya.
Akan tetapi...
Entah apa yang kurasakan malam ini...
Sedikit berbeda dengan malam-malam sebelumnya...
.....
.....
Semilir angin berhembus pelan, akan tetapi hawanya lebih dingin dari biasanya...
Seolah-olah hembusan angin itu seperti berbisik sesuatu yang aku tak paham...
Dan juga...
Terasa agak lebih sepi malam ini...
Jangkrik dan hewan malam lain seperti enggan bersuara...
Seolah-olah ada sesuatu yang memerintahkan mereka untuk diam...
.....
.....
"Tumben... Suasana malam ini kok beda ya?" gumamku dalam hati, sambil menatap ke arah jalan menurun itu.
Lalu... Beberapa kali...
Dengan jelas ku lihat sebuah lampu jalan yang menyinari jalan menurun itu, berkedip-kedip cepat. Seakan-akan hampir putus lampunya.
Di saat aku sedang diam berdiri, dengan semua kondisi aneh yang kurasakan itu, tiba-tiba...
"Nisa... Dia sudah datang..." suara Dayang Putriku berbisik pelan di telinga kananku. Namun tanpa wujudnya muncul di dekatku.
Aku sedikit terkejut mendengarnya, bercampur dengan rasa heran.
Ketika aku ingin bertanya pada Dayang Putri, perhatianku seketika teralihkan dengan kemunculan sebuah mobil di ujung sana.
"Alhamdulillah, mungkin itu mobil yang anter santriwati ke lima ya..." ucapku.
Seolah kedatangannya membuatku kembali terlupa dengan semua kondisi aneh yang kurasakan.
Semakin dekat mobil itu menuju depan gerbang pondok...
Dan akhirnya berhenti tepat di depanku...
.....
.....
Tak lama kemudian, turunlah seorang bapak-bapak paruh baya dari kursi kemudi. Dia langsung memperkenalkan diri.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
"Bu, saya Pak Anto, saudara dari Pak Diki dan Bu Fitri. Saya ditugaskan buat anter anaknya mondok di sini Bu."
"Oh, iya Pak... Salam kenal Pak Anto, saya Nisa." jawabku.
"Oh, Bu Nisa ya..."
"Iya Pak..."
Sepersekian detik, aku seperti merasakan sesuatu yang agak janggal dengan Pak Anto ini.
Dia tampak sedikit terburu-buru, dan juga seperti menutupi sesuatu. Akan tetapi aku tepis semua perasaan itu. Mungkin hanya firasat yang terlalu ku besar-besarkan saja.
Lalu, tak lama kemudian, ia menuju bagasi belakang, menurunkan dua buah tas cukup besar. Sepertinya itu adalah barang-barang milik santriwati yang masih ada di dalam mobil.
Aku memperhatikan ke kaca mobil yang gelap itu, sambil bertanya-tanya, mengapa si santriwati tak kunjung turun?
Setelah dua buah tas itu di taruh di sebelahku, Pak Anto langsung menuju pintu mobil bagian tengah.
Dia buka pintunya...
Dan berbicara pada santriwati itu...
"Ayok Gendis, kita sudah sampai..." kata Pak Anto.
Aku langsung tahu dari ucapan Pak Anto itu, ternyata nama santriwati itu adalah Gendis.
Akan tetapi, sosok Gendis itu tak langsung turun, justru aku melihat Pak Anto mengeluarkan sebuah tongkat.
"Loh? Apakah..." gumamku dalam hati sambil terus memperhatikan.
Dan tak lama setelah tongkat itu dikeluarkan, terlihatlah sebuah tangan anak gadis yang langsung memegang tongkatnya itu.
Kemudian turunlah ke dua kakinya yang dibalut rok panjang. Tinggi badannya tak jauh beda dengan santriwati lain yang sudah datang duluan. Badannya juga terlihat langsing.
Dan...
Ketika dirinya sudah turun...
Langsung terlihat jelas di bawah sinar kuning lampu depan gerbang...
Mata sosok Gendis itu memiliki kelainan...
Mata bagian tengahnya bukanlah berwarna hitam selayaknya manusia normal...
Akan tetapi pupilnya itu berwarna putih keabu-abuan...
"Loh? Apakah matanya buta?" gumamku dalam hati.
Di tengah perhatianku pada sosok Gendis itu, tiba-tiba Ayu datang. Dan dengan sigap ia membantu membawakan dua tas besar milik Gendis.
Lalu, Pak Anto berkata padaku, sambil menuntun tangan kiri Gendis...
"Bu Nisa, perkenalkan, ini namanya Gendis. Anaknya Pak Diki dan Bu Fitri."
"I-iya Pak... Salam kenal ya Gendis, saya Bu Nisa..."
Gendis, hanya tersenyum...
Tak menjawab sepatah kata pun...
Akan tetapi, terlihat senyumannya cukup manis dan tulus...
"Dan, maaf Bu, matanya Gendis ada penyakit katarak lumayan parah. Jadi dia gak bisa lihat."
Ternyata benar... Gendis mengalami kebutaan karena penyakit katarak di ke dua matanya itu.
Lalu Pak Anto berjongkok di samping Gendis yang tatapannya lurus saja.
"Gendis, Pakde sudah santer kamu ke sini. Pakde langsung pulang ya Nak..." ucapnya pada Gendis.
Dan, dengan tangan kirinya yang sedikit meraba-raba wajah Pak Anto itu, Gendis bicara...
"Iya Pakde, terima kasih banyak ya udah anterin aku kesini. Pakde hati-hati di jalan ya." ucapnya dengan suara lembut namun sedikit lirih.
"Iya Gendis. Kamu selama mondok disini, jaga diri baik-baik. Dan belajar yang benar ya Nak... Jangan nakal..." kata Pak Anto sambil mengusap kepala Gendis yang ditutupi jilbab warna cokelat itu.
"Iya Pakde..." jawab Gendis.
Kemudian Pak Anto, dengan sedikit buru-buru, meminta izin padaku untuk segera pamit. Dan ia menitipkan Gendis padaku.
"Bu Nisa, saya pamit dulu. Tugas saya sudah selesai sampai di sini."
"Iya Pak Anto, terima kasih banyak."
Namun, aku sedikit merasa aneh dengan kalimatnya itu.
Mengapa Pak Anto berucap bahwa tugasnya sudah selesai sampai disini?
Apa maksudnya?
Lalu Pak Anto segera berpamitan pulang. Dan kini aku bersama Gendis, masih berdiri di depan gerbang pondok.
Aku berinisiatif ingin menuntun tangan kiri Gendis. Karena tangan kanannya berpegangan pada tongkatnya itu.
"Ayok Gendis, masuk yuk bareng Ibu..."
Gendis pun langsung menyodorkan tangan kirinya untuk kutuntun.
Akan tetapi...
Ketika aku menyentuh tangannya itu...
Tiba-tiba saja, angin yang sedari tadi berhembus pelan, kini lebih kencang...
Dan...
Tercium sebuah aroma yang halus namun jelas di hidungku. Sebuah Aroma yang seharusnya tak muncul di daerah seperti ini.
Aroma itu...
Adalah...
Aroma anyir darah...