NovelToon NovelToon
The Ragen: Escape From Zombie Apocalypse

The Ragen: Escape From Zombie Apocalypse

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Duniamasadepan / Zombie / Mutan / Tamat
Popularitas:165.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aria Monteza

(Dalam mode edit)
Tahun 3035. Dunia yang dulunya damai kini berubah menjadi neraka. Virus mematikan, yang mereka sebut Ragen, mengoyak peradaban, mengubah manusia menjadi makhluk buas yang haus darah. Mereka bukan sekadar zombie, bukan sekadar mayat hidup. Mereka adalah Ragen, mimpi buruk terburuk umat manusia. Di tengah kekacauan, sekelompok pemuda berjuang untuk bertahan hidup, mencari perlindungan terakhir. Setiap langkah adalah pertaruhan, setiap pertemuan bisa menjadi akhir. Kehilangan adalah harga yang harus mereka bayar, luka dan duka menjadi teman setia. Mampukah mereka selamat dari kiamat ini? Akankah mereka menemukan harapan di tengah kegelapan? Perjalanan mereka baru saja dimulai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aria Monteza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24. Is Not Good Bye

Sudah seharian Leo menyibukkan diri dengan berkeliling komplek camp Solar City. Dia berusaha menghibur dirinya sendiri mengingat Selena akan segera pergi dan yang terpenting dari semua yang dilakukannya adalah menghindari pertemuannya dengan Selena. Leo tak ingin berpisah dengan Selena karena itu dia berusaha untuk menghindari kata perpisahan yang mungkin akan diucapkan Selena padanya. Sejak siang tadi, teman-temannya mengatakan bahwa Selena sedang mencarinya dan sejak itu pula ia semakin berusaha menghindari pertemuannya dengan gadis itu. Namun tempat itu tetaplah tempat yang sempit untuk tempat menghindar karena sekarang Selena tengah berlari menghampirinya yang sedang melangkah menuju kantin untuk makan malam.

“Leo, kau ke mana saja sih. Aku mencarimu hampir seharian,” sungut Selena sesampainya di dekat Leo.

“Aku melihat-lihat tempat ini. Ada apa mencariku?” Tanya Leo masam. Dia tahu betul Selena mencarinya untuk berpamitan.

Selena tidak begitu menghiraukan suasana hati Leo, ia justru sibuk merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.

“Aku mau mengembalikan ini,” kata Selena sambil menyerahkan kunci mobil pada Leo. Leo menerimanya sedikit bingung.

“Kenapa?” Tanya Leo bimbang.

“Tadi pagi aku menemukan mobilku terparkir di parkiran mobil dekat bengkel,” ucap Selena tampak ceria.

“Mobilmu?” Tanya Leo bingung.

“Heem. Sebenarnya dulu aku memakai mobil, tapi satu minggu sebelum bertemu kalian. Aku kehilangan mobilku.” Kata Selena sambil menggaruk kepalanya. “Lebih tepatnya dirampas.”

“Jadi kau akan pergi dengan mobilmu?” Tanya Leo kembali sedih, setelah tadi sempat merasa senang melihat kunci mobil diserahkan kepadanya.

“Iya begitulah. Hanya saja sepertinya aku mesti menunda lebih lama lagi. Mobilku tak bisa bergerak sama sekali,” keluh Selena.

Selena lalu menceritakan keadaan mobilnya yang tengah mangkrak dekat bengkel. Orang-orang bengkel sudah berupaya memperbaiki mobilnya sejak lama, hanya saja bukan masalah mesinnya yang membuat mobil itu tidak mau jalan. Sistem keamanan yang dimiliki mobilnyalah yang bermasalah. Mobilnya memang dilengkapi dengan teknologi komputerisasi, hampir sama dengan rumahnya. Dan seseorang sepertinya dengan sengaja meretas programnya hingga mobil itu tidak bisa digunakan sama sekali. Leo yang mendengarkan penjelasan Selena justru merasa senang. Ia kini memiliki waktu lebih lama untuk bersama gadis itu. Saat mereka tengah asyik berbincang-bincang, tiba-tiba saja seorang pria menarik Selena dalam rangkulannya.

“Hai manis, mau ikut denganku?” kata pria itu menggoda.

Melihat kelakuan kurang ajar pria itu, Leo langsung mendorong pria itu hingga rangkulannya pada Selena terlepas.

“Hai jangan kurang ajar kau ya!” bentak Leo emosi.

Pria yang dibentaknya tampaknya hanya tenang saja dan tersenyum ke arahnya, “Tenang Bung,” ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya ke depan.

Selena yang telah pulih dari keterkejutannya, segera mengenali suara pria tersebut. Tanpa mempedulikan Leo yang terlihat marah, Selena menghambur dalam pelukan pria itu dan berteriak kegirangan.

“Kau di sini?” Tanya Selena setelah melepas pelukannya, tidak percaya melihat orang yang berada di depannya itu.

“Yap, aku telah lama di sini,” jawab pria itu.

Selena yang menyadari Leo masih terpaku di tempatnya, menoleh padanya.  “Tenang saja Leo, dia temanku dan dia memang kurang ajar,” kata Selena tertawa.

Leo mengangguk mengerti, meski masih kesal dengan kelakuan pria itu pada Selena.

“Gerakanmu cepat juga Bung. Kau pantas jadi kekasih Selena,” kata pria itu sambil terkekeh.

“Dia teman seperjalananku, Balthier,” ucap Selena tak nyaman. “Kenalkan, dia Leo. Leo ini Balthier,” lanjut Selena memperkenalkan temannya.

Balthier dan Leo tampak berjabat tangan dan mengenalkan diri mereka masing-masing.

“Aku pikir kau kekasih barunya tadi, kalian tampak serasi.” Balthier sambil tersenyum menggoda. Leo sepertinya tidak keberatan dengan anggapan itu, justru ia tampak senang.

“Berhentilah menggoda, Balthier” gerutu Selena.

Balthier yang mendengar gerutuan Selena hanya tertawa. “Bolehkah aku meminjam gadismu sebentar, aku ingin mengobrol sebentar dengannya,” pinta Balthier tetap saja menggoda mereka.

“Ya, tentu saja,” jawab Leo.

“Aku akan mengembalikannya nanti.” Balthier menggandeng Selena menuju mejanya, dengan seorang gadis yang telah menunggu di sana.

Leo kembali melangkahkan kakinya, ia melihat teman-temannya telah berkumpul disalah satu meja di kantin tersebut. Leo bergabung bersama mereka, dari tempatnya ia bisa melihat Selena dan Balthier yang duduk bersama dengan seorang gadis. Teman-temannya terlihat sedikit penasaran dengan yang bersama Selena di ujung ruangan ikut memperhatikannya.

“Siapa dia?” Tanya Ignis pada Leo.

“Temannya,” jawab Leo singkat.

Leo dan teman-temannya kembali meneruskan acara makan mereka. Sesekali Leo mencuri pandang ke arah Selena yang tengah asyik mengobrol dengan temannya.

***

Balthier membawa Selena ke tempat dia duduk tadi. Banyak hal yang ingin dia tanyakan ada temannya itu terutama tentang teman seperjalanan Selena. Sesampainya di mejanya ia mengenalkan partner kerjanya yang baru dengan Selena. Seorang gadis belia tengah duduk tenang menunggu mereka tadi. Gadis itu tampak memberikan hormat pada seniornya dan juga Selena.

“Kenapa kau suka sekali mentraining perempuan?” Tanya Selena sarkastik.

“Aku hanya tidak suka terlihat seperti seorang gay, jika aku mesti mentraining yang laki-laki,” jawab Balthier sambil tercengir.

“Lucy berhati-hatilah dengannya. Dia ini playboy,” kata Selena kepada juniornya yang baru saja dia kenal.

“Baik, Nona,” jawab Lucy terlihat formal pada Selena.

“Panggil Selena saja.” Pinta Selena ditanggapi dengan anggukan ragu Lucy.

“Apa kalian di sini sedang bertugas?” Tanya Selena menyelidik.

“Tentu saja. Seorang bangsawan dan anaknya meminta perlindungan dari kami. Sudah sebulan ini kami bersamanya,” jawab Balthier. “Bagaimana denganmu?”

“Aku sedang tidak ada misi. Hanya sedang berusaha mencapai Moonlight,” terang Selena.

“Benarkah?” Tanya Balthier tidak percaya. “Aku lihat bawaanmu orang-orang penting,” lanjutnya sambil memandangi teman-teman Selena.

Selena yang bingung dengan ucapan Balthier ikut memperhatikan teman-temannya. Mereka hanya orang-orang biasa saja, kecuali Matthew yang telah bergabung dengan teman-temannya. Hanya pria itu yang terlihat orang penting mengingat dia menjadi tanggung jawabnya sekarang.

“Aku rasa hanya Prof. Matthew orang pentingnya, dan aku bertemu mereka secara kebetulan,” kata Selena.

Balthier memandangi Selena dengan penuh selidik. Ia tahu temannya itu tidak pernah berbohong, hanya saja apa dia benar-benar tidak mengetahui siapa yang bersamanya selama ini.

“Kenapa kau tiba-tiba menghilang?” Tanya Balthier mengalihkan pembicaraan.

“Aku menghancurkan alat pelacakku saat di hutan Kalaya. El Diablo berhasil meretas pelacakku dan dia memburuku hampir seminggu di tengah hutan itu,” cerita Selena pada Balthier.

“Jadi ini sebabnya beberapa hari yang lalu seseorang bangkit dari kuburnya,” kata Balthier memegangi tangan Selena dan memperhatikan jam tangan yang dikenakan Selena.

Selena hanya mengangguk, dia memang memakai jam tangan milik Sam. Yang membedakan jam tangan miliknya adalah warna milik Sam yang biru, sedangkan miliknya berwarna merah.

Mereka bertiga berbagi cerita perjalanan masing-masing. Balthier dan teman-temannya memang sempat kebingungan saat Selena tiba-tiba menghilang dari pantauan sekitar empat bulan yang lalu, sekarang melihat Selena berada di depannya membuatnya merasa tenang.

Setelah beberapa saat mereka bercerita, Balthier menepati janjinya untuk mengembalikan Selena pada Leo dan teman-temannya. Sebelum beranjak dari kursinya, Balthier sempat memakai jaketnya. Selena yang memperhatikannya terlihat tidak senang dibuatnya.

“Peraturan nomor berapa sebenarnya untuk memamerkan pekerjaan kalian?” Tanya Selena ketus.

“Tidak ada. Tapi kau tahu bagaimana reputasi Guardians kan?” kata Balthier tersenyum. “Bagaimana denganmu, kau tidak mengatakan terus terang pekerjaanmu pada mereka?” Tanya Balthier.

“Dan membuat mereka ketakutan?!” jawab Selena.

Balthier terkekeh mendengarnya, ia tidak terkejut dengan jawaban Selena. Pekerjaan temannya itu memang berbahaya, tidak semua orang bisa menerimanya dengan mudah jika mengetahui yang sebenarnya. Balthier merangkul Selena mengajaknya kembali ketempat teman-temannya.

***

Matthew yang datang paling akhir di kantin setelah seharian membantu diruang medis tampak bingung. Dia tidak menemukan Selena diantara teman-temannya. Selena memang sejak pagi mengurusi mobil yang akan mereka pakai ke Moonlight, tapi Matthew tidak mengira kekasihnya itu akan sampai selarut ini untuk memperbaikinya.

“Di mana Selena?” Tanya Matthew pada teman-temannya.

Leo yang berada dekat dengannya hanya mengarahkan telunjuknya ke tempat Selena berada. Matthew mengikuti arah yang diberikan Leo dan mendapati gadisnya tengah berbincang-bincang dengan seorang pria.

“Bagus, baru sehari di sini dan gadisku telah diculik pria lain,” batin Matthew masam.

Ia tidak melepas pandangannya pada Selena dan pria itu. Dan saat pria itu memegang tangan Selena, Matthew hanya bisa mendengus kesal. Dia memang pecemburu dan sangat tidak suka melihat Selena tampak akrab dengan pria lain, apalagi jika ada seseorang yang menyentuhnya seperti itu.

Tak selang berapa lama, Selena dan pria itu tampak mendekat ke arah mereka berada. Matthew bertambah masam melihat pria itu merangkul Selena seperti itu.

“Hai, sesuai janjiku tadi. Aku mengembalikan Selena padamu lagi,” kata Balthier tersenyum pada Leo.

“Terima kasih,” jawab Leo.

“Tidak, aku yang berterima kasih pada kalian telah menjaga Selena. Aku dan teman-temanku sudah lama mencarinya,” kata Balthier. “Oh ya kenalkan, aku Balthier,” lanjutnya memperkenalkan diri pada teman-teman Leo.

Mereka saling bersalaman memperkenalkan diri. Balthier melirik ke arah Matthew yang berada di samping Selena sekarang.

“Selamat malam Prof. Matthew,” sapa Balthier menyalami Matthew diurutan terakhir.

“Just call me Matthew please.” Matthew membalas jabatan tangan Balthier.

“Oke,”

“Apa kau ini Guardians?” Tanya Ignis melihat jaket yang dipakai Balthier. Di sana terdapat lambang Guardians di lengannya.

“Siap melayani anda,” jawab Balthier memberikan hormat ala Guardians dengan menyilangkan tangan kanannya di depan dada.

Ignis dan teman-temannya hanya tercengang dibuatnya.

“Selena tidak berbuat nakal kan selama bersama kalian?” Tanya Balthier melihat teman-teman barunya tampak terdiam.

“Tidak. Justru dia banyak membantu kami,” jawab Ignis.

“Syukurlah.” Balthier merasa lega yang dibuat-buat.

“Sudah cukup. Pergilah. Kau akan, merusak selera makan mereka jika kau terus-terusan meracau di sini,” sela Selena dengan ketus mengusir Balthier.

“Baiklah.” Kata Balthier, dia memang sudah biasa dengan sikap ketus Selena padanya. “Aku pergi dulu. See you latter,” pamit Balthier.

Semuanya membalas dengan anggukan dan senyuman terlihat segan pada Balthier kecuali Selena. Selena justru mendengus kesal melihat tingkah temannya itu.  Sepeninggal Balthier, Selena dihujani tatapan menyelidik dari teman-temannya.

“Apa?” Tanya Selena bingung melihat tatapan teman-temannya.

“Kau seorang Guardians juga?” Tanya Ignis tajam.

“Bukan,” jawab Selena pendek.

“Tapi temanmu Guardians dan dia tadi bilang dia dan yang lainnya sedang mencarimu?” selidik Ignis.

“Apa aku terlihat seperti seorang Guardians?” Tanya Selena balik.

Ignis dan Tony tampak berpandangan, Selena memang tidak terlihat seorang Guardians. Jauh dari kesan angkuh dan sombong yang biasa dilakukan para Guardians.

Teman-temannya yang lain pun tampak berpikir mengenai itu. Matthew yang terlihat tidak nyaman segera mencairkan suasana.

“Berhentilah bertanya. Biarkan Selena makan,” ujar Matthew mengalihkan pembicaraan. Ia menyodorkan makan malamnya pada Selena.

“Makanlah,” kata Matthew pada Selena.

Selena menerimanya dengan senang hati, sedari tadi siang dia memang belum makan dan pengalihan Matthew menyelamatkannya dari pertanyaan dari teman-temannya. Melihat Selena makan, Ignis mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi. Dia memang belum puas dengan jawaban Selena tadi. Dan dia semakin penasaran dibuatnya. Selena memiliki teman polisi elit dan sekarang Guardians juga mencarinya belum lagi Ignis sempat melihat gadis yang bersama Balthier tadi memberikan hormat pada Selena.

“Tony, selidiki lebih dalam,” bisik Ignis di sebelah Tony.

Tony yang mendengar bisikan Ignis mengangguk menyetujuinya. Ia sama penasarannya dengan Ignis dan dia akan mengerahkan segala cara untuk hal itu. Semua kembali terlihat sibuk menyelesaikan makan malam yang sempat tertunda karena kehadiran Balthier tadi. Sesekali mereka terlihat bercanda.

“Makan malam kali ini aku yang traktir,” ucap Matthew memecah suasana.

“Makan di sini gratis tahu,” seloroh Austin mendengar perkataan Matthew.

“Aku tahu. Aku hanya ingin bersikap formalitas saja karena aku ingin merayakan sesuatu,” kata Matthew menanggapi Austin.

“Kau terlalu kuno merayakan ulang tahun dengan cara makan-makan,” sahut Jimmy.

“Aku tidak merayakan ulang tahunku,” kata Matthew sambil tersenyum, diam-diam dia merangkul Selena yang berada di sebelahnya. “Aku merayakan hari jadianku dengan Selena,” lanjut Matthew dengan sumringah.

Selena yang mendengar kata Matthew hampir tersedak karena terkejut dengan keputusan Matthew mengungkapkan terang-terangan tentang status mereka. Ignis yang biasanya paling tenang menghadapi segala sesuatu, menjadi tersedak makanannya mendengar pengakuan Matthew. Sedangkan yang lain tampak terkejut dengan berita itu. Leo langsung menghentikan makannya dan menatap Selena, berharap apa yang dikatakan Matthew hanya main-main.

“Kau serius?” Tanya Jimmy tidak percaya.

“Tentu saja aku serius, tanyakan saja pada Selena jika tidak percaya,” jawab Matthew menatap mesra Selena.

“Benar itu, Selena?” Tanya Austin.

“Ya, kami pacaran.” Selena merasa kurang nyaman terutama pada Leo yang berada di depannya.

Leo yang mendengarnya berusaha bersikap setenang mungkin dan segera menghabiskan makan malamnya. Ia bisa melihat sekilas tatapan Selena padanya tadi. Ia tahu Selena tidak nyaman mengatakan langsung di depannya. Pukulan demi pukulan sepertinya menghampiri hatinya belakangan ini dan itu karena dia mencintai Selena. Dengan sikap seacuh mungkin Leo meninggalkan meja makan setelah berhasil menghabiskan makannya dengan penuh siksaan.

Matthew yang melihat kepergian Leo tampak senang, ia merasa telah memukul telak temannya itu. Bagaimana pun juga Leo satu satunya saingan yang perlu disingkirkan. Setelah selesai makan malam, Matthew mengantar Selena kembali kekamarnya. Kali ini dia hanya meninggalkan ciuman kecil pada Selena sebelum dia meninggalkan kamar Selena. Setelah itu dia pergi keluar.

***

Selena merebahkan tubuhnya ditempat tidur, pikirannya masih berputar-putar dengan kejadian makan malam tadi. Ia masih tidak percaya Matthew mengungkap secara terang-terangan hubungan mereka dan dia tidak mungkin memprotes keputusan Matthew mengingat hubungan mereka cepat atau lambat pasti akan diketahui teman-temannya. Baru saja Selena mendapat posisi nyaman saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan memunculkan sosok Sania yang langsung menghambur ke tempat tidurnya. Dari raut wajahnya terlihat Sania sangat tidak puas dengan perkataan Matthew saat makan tadi.

“Apa kau benar-benar serius jadian dengan Matthew?” Tanya Sania.

Selena yang masih terkejut melihat Sania yang tiba-tiba masuk kamarnya hanya mengangguk pelan.

“Ya ampun Selena. Aku tidak percaya ini,” geram Sania.

“Ada apa?” Tanya Selena bingung melihat sikap Sania.

“Apa kau jadian dengannya karena merasa berhutang nyawa?” Sania tampak sidikit marah.

“Tidak. Aku mencintainya, Sania,” jawab Selena, sebenarnya apa yang dikatakan Sania ada benarnya. Ia menerima Matthew karena salah satu alasannya dia merasa berhutang nyawa pada Matthew.

Sania tampak menggeleng kesal dengan jawaban Selena. “I don’t believe this,” ucapnya pelan.

“Kau tahu, Leo sangat mencintaimu. Dia dulu bahkan frustasi melihat kau sekarat waktu itu,” terang Sania. “Aku juga berharap kau bisa jadian dengan Leo.”

Selena hanya bisa diam membisu mendengar perkataan Sania, sulit sekali memilih diantara ke duanya. Namun Matthew adalah prioritasnya yang utama.

“Bagaimana Selena, bagaimana dengan Leo?” Tanya Sania membuyarkan lamunan Selena.

Selena menjadi salah tingkah mendengar pertanyaan Sania. “Aku rasa, aku tidak mungkin berhasil dengan Leo.”

“Kenapa?” Tanya Sania bingung.

“Aku akan meninggalkan tempat ini, Sania,” terang Selena.

“Apa kau tidak bisa tetap tinggal di sini?” pinta Sania.

“Tidak Sania, aku harus mencari keluargaku,” kata Selena memberi alasan.

“Kau bisa saja jadian dengan Leo dan membawanya ke Moonlight. Kami pun pasti akan bersama kalian,” desak Sania.

“Aku tidak bisa Sania. Kalian telah mendapat tempat aman di sini dan aku tidak ingin melibatkan kalian dalam bahaya lagi,” kata Selena putus asa.

“Jadi kau akan pergi sendirian?” Tanya Sania.

“Matthew akan menemaniku ke sana,” jawab Selena.

Sania tampak kecewa mendengar pengakuan Selena. Dia memang berharap temannya itu jadian dengan Leo, Namun kini mereka justru akan segera berpisah. Sania tahu saat ini Leo sedang patah hati tapi dia tidak menyalahkan Selena. Ia merasa Selena sebenarnya mencemaskan keselamatan Leo sehingga Selena memutuskan meninggalkan Leo di sini bersama yang lain.

--- TBC ---

1
Nuraishah❤💚
👍🏻
blueby
Itu tiap paragrafnya kenapa gitu., susah dibacanya.
Aria Monteza: nggak tau kak, soalnya dulu masih rapi
nggak mencar² kayak gitu paragrafnya
total 1 replies
Kaka Raffiana
keren bet ceritanya... maaf bru baca thor😅

season 2nya kak lanjutin
Kaka Raffiana
cloud adalah matthew yg dicuci otaknya
Kaka Raffiana
cool amat si leo ya!!! diliat dri foto visualnya
Kaka Raffiana
lebih suka sikap leo yg terlihat cool dan lebih santai...
Kaka Raffiana
keren sih respon Leo pas berantem ama si matthew.
Yurnita Yurnita
Thor nama visual nya
Aria Monteza: visual yg mana ya?
total 1 replies
Ahza Ahsanul
gue sukaaaaaaaaaaaaaa..
moon
he eh sepi
Z3R0 :)
yosh novel zombie lagi lanjut
RyanZxD
Lanjutt
Desi BA
hampir sama kayak zombie ya
moon
mattahew kah
moon
tegang tp seru
moon
waw pengendalian yang bagus mat
moon
jangan bilang klw selena dan sam yang bantai orang tua leo🤔🤔🤔🤔
Esriyana Noviani
kapan publish novel ke duanya thor.....
NauraNazifaNauzan
gantung ini...
NauraNazifaNauzan
k 3x q baca novel ini... tp blm juga ada part 2 nya... sayang sekali pdahal cerita nya kereeeen....
Aria Monteza: lagi ngumpulin mood nulis 😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!